Posted in Melancholische Seite

tertulis untukmu dari hatiku

Wahai Pria yang pernah mengisi hatiku
sekian lama hati menanti seseorang tuk menjadi pengisi kehidupan ini… dan dari sekian hati yang menghampiri, melalui sujud panjang permohonanku, hatimulah yang terpilih tuk jadi pertama dalam hidup

Wahai Pria yang pernah mengisi hatiku
sambil berucap basmallah, kita mencoba untuk menjalin sebuah komitmen… walau ku tahu komitmen itu tidaklah kuat dari sebuah janji suci sebuah akad pernikahan… tetapi bersama kita membuat perencanaan hidup yang muaranya pada ikatan janji kepada Illahi… meletakkan harapan kepada Allah agar kau menjadi yang terakhir dalam hidup

Wahai Pria yang pernah mengisi hatiku
bersama menjalani hari di ranah kehidupan masing-masing, raga yang terpisah di 2 benua yang berbeda, berjuang tuk berdiri di atas komitmen yang belum dikokohkan, berharap restu orang tua kan diraih dengan menata kembali kedekatan hati kepada beliau berdua..  karena yang sama-sama kau dan aku yakini bahwa ridho Allah berada dalam restu orang tua

Wahai Pria yang pernah mengisi hatiku
saat rasa letih fisik melanda, saat rasa putus asa akan suatu cita begitu nyata di depan mata, saat rasa bimbang melanda kemana arah kaki tuk melangkah… bersandarlah kepada Tuhan kita… karena hanya Dia tempat kita kembali menata hati-hati kita, memperbaiki kembali langkah-langkah kita… seperti yang tertulis indah dalam kandungan Surah Al Fatihah

Wahai Pria yang pernah mengisi hatiku
sampai detik inipun, kita sama-sama tidak tahu, siapakah nama yang tertulis indah di Lauh Mahfudz, yang akan menjadi penggenap agama kita… Apakah namaku yang ada di takdirmu, Apakah namamu yang ada di takdirku.. berpegang teguhlah pada Surah An Nur

Wahai Pria yang pernah mengisi hatiku
sebuah keikhlasan, kesabaran dan tawakkal yang menjadi penghias manis komitmen yang pernah ada… berharap hanya Allah saja yang menjadi penggerak hati, kemana hatimu melakukan perjalanan panjangnya, dan hati siapakah yang akan aku terima sebagai takdirku.. berharap Allah mengampuni segala khilaf yang pernah ada

Wahai Pria yang pernah mengisi hatiku
hiasilah hati dengan ayat-ayat Al Qur’an… karena ia yang seharusnya menjadi pedoman untuk kamu dan aku… penuhilah hak diri dengan mencapai cita-cita kita… Untukmu hapalan juz 29-mu, untukku hapalan juz 30-ku… karena itulah yang akan mengkokohkan setiap langkah perjuangan hidupmu di sana, dan perjuangan hidupku disini…

Semoga Allah menjaga hati kita sebagai generasi yang hatinya terpaut dengan Al Qur’an dan insya Allah kita akan bertemu kembali dalam kondisi kehidupan terbaik

Didedikasikan untuk seorang Pria yang pernah menjadi pengisi hati

Posted in Mari Membaca

Mengenal arti CINTA #Al Qur’an Kitab Cinta

Dalam hidup, yang aku yakini bahwa tidak ada yang namanya KEBETULAN,,, karena semua yang terjadi dalam hidup ini sudah dalam garis takdir Allah SWT. Bahkan gugurnya satu helai daunpun sudah tertulis dalam garis takdir Allah, apalagi kehidupan seorang manusia

Dua hari yang lalu, papa membeli sebuah buku yang berjudul Ensiklopedia Manajemen Kepemimpinan Rasulullah yang ditulis oleh Ust. Muhammad Syafi’i Antonio. Sebelumnya papa menelepon dari Cirebon, apakah aku mau dibelikan buku itu atau tidak. Ketika beliau memberikan informasi mengenai harga buku itu, aku tercengang! 2,5 million IDR!!! It’s so expensive,papa! Tapi karena tidak ingin mengecewakan dan memadamkan semangat papa membelikan buku itu, aku mengiyakan keinginan papa.

Ternyata membeli buku itu, papa mendapatkan bonus buku plus plus. Ada 2 buku yang beliau dapatkan sebagai bonus, yakni mengenai kehidupan umat muslim Cina dan Al Qur’an Kitab Cinta. Papa memberikan aku buku Al Qur’an Kitab Cinta sebagai bahan bacaan tambahan.

Buku dengan judul menarik “Al Qur’an Kitab Cinta” Menyelami Bahasa Kasih Sang Pencipta. Penulisnya adalah Dr. M. Said Ramadhan Al Buthy, seorang penulis sirah yang terkenal. Dalam cover buku tersebut tertulis sebuah notifikasi dari Dr. Ahmad Lutfi Fathullah, M.A, seorang pakar hadist. Beliau menyebutkan bahwa beliau (Dr. Al Buthy) mengajak untuk mengenal cinta dalam bahasa Al Qur’an dengan pendekatan nalar dan hati.

Mendapatkan buku ini dari papa, mengajakku berpikir, pasti Allah punya suatu skenario untukku… Karena papa tergolong orang yang jarang sekali “menyentuh” masalah “sensitif” putri-putrinya, selalu general-general saja yang menjadi topik pembahasan kami dalam berdiskusi…dan begitu papa memberikan buku itu, berasa dapet semacam “pesan” tersembunyi… Tampaknya papa menyadari bahwa putri pertamanya sudah dewasa dalam bersikap,,papa ingin mengajarkanku untuk mengenal CINTA… bukan hanya sekedar CINTA,, tapi CINTA SEBENARNYA…

Tersenyum memandang langit, ketika buku itu aku terima. Pesan tersirat dari Allah melalui tangan papa agar aku belajar bagaimana jalan Allah mencintai hambaNya, mencintai aku. Allah Maha Tahu titik sensitif hamba-hambaNya..buku CINTA itu Allah takdirkan untuk papa berikan kepadaku..seketika aku teringat dengan hadist ini:
” Barang siapa mempunyai 2 anak perempuan dan diasuh dengan baik, maka mereka akan menyebabkannya masuk surga” (HR Al Bukhari)
Hadist yang pernah aku baca ketika SMA, yang memiliki maksud bahwa seorang putri adalah sebagai salah satu jalan orang tuanya untuk masuk ke surga. Tugas yang berat untuk kedua orang tua, namun akanlah menjadi suatu kebanggaan ketika beliau berdua dapat membesarkan putri mereka menjadi seorang muslimah sholehah. Bagiku, hadist ini menjadi sebuah amanah, amanah yang diemban untuk mengantarkan kedua orang tuaku ke surga.. dengan berakhlak baik, menjadi muslimah dan anak sholehah untuk keduanya. Melalui buku ini, papa berharap agar putrinya memahami betul apa itu arti CINTA, risalah CINTA, dan berharap putrinya tidak tersesat karena CINTA…

Lagi-lagi Allah membuat suatu skenario untukku. Skenario indah yang sangat terasa sekali alur ceritanya akan berujung ke arah mana… yang dimulakan pada pernyataanku untuk berserah dan tawakal terhadap apa yang ada di dalam hidup ini. Doa untuk mendapat ketenangan dan kekuatan hati sedikit demi sedikit mulai tampak proses dikabulkannya.

Ada satu bahasan menari dari buku ini, yakni mengenai apa itu CINTA? Dalam konteks cinta manusia terhadap manusia adalah “Kebergantungan hati kepada sesuatu sehingga menyebabkan kenyamanan di hati saat berada di dekatnya atau perasaan gelisah saat berada jauh darinya.” Namun dalam konteks Cinta Allah kepada hambaNya tidaklah demikian. Cinta Allah memiliki makna yang hakiki, terlepas dari makna kasih sayang dan ampunan, jauh dari persamaan dan perlawanan.

Sebagai buktinya, Allah memuliakan manusia tanpa melihat bentuk dan jenisnya.Muara cinta Allah bergantung pada cara penyikapan seseorang terhadap ajaran dan syariat Allah kepadaNya. Bagi mereka yang taat kepadaNya, menjalankan semua perintah dan menjauhi laranganNya, cinta Allah kepada hambaNya itu kian bertambah, lalu diberikan kehormatan dan kemuliaan yang tinggi sebagai balasan dan komitmen kuat terhadap ajaran dan ketentuan yang telah ditetapkanNya. Bagi mereka yang berpaling, mereka akan merugi dan tidak akan mendapatkan cintaNya.

Namun, cinta Allah tidak hanya dikhususkan kepada hambaNya yang memang dari awal hidupnya lurus, senantiasa menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Cinta Allah juga berlaku kepada hambaNya yang bertaubat. Dalam firmanNya, Allah berkata:
Sungguh, Allah menyukai orang yang taubat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)
“Katakanlah (Muhammad) Jika kamu mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)
Bagi seorang hamba, cinta Allah tidak hanya diterima oleh mereka yang “terjaga dari dosa-dosa” tetapi juga untuk setiap pelaku maksiat yang bertaubat dan kembali ke jalan Allah.

Allah memuji hamba-hambaNya yang saleh dengan ridha dan cinta sekaligus. Seorang hamba yang mengetahui Allah dan hakikatnya pasti tahu bahwa pahala yang ia dapatkan dariNya berbeda dengan anugerah cinta yang ia dapatkan dariNya. Keduanya tidaklah sama, bahkan jika ia meyakini adanya cinta Allah kepadanya, semua musibah yang menimpanya akan terasa ringan, sebab ia meyakini adanya kenikmatan surga setelah itu.

Terasa sekali..skenario menuju proses memudarnya cemburu Allah ke diri ini telah disusun rapi oleh Allah.

Ketika hati memutuskan untuk meletakkan CINTA kepada hambaNya yang  lain di bawah naungan CINTA kepada Allah, keikhlasan, tawakal dan ketenangan hati akan diperoleh.

Allah, lagi-lagi hamba berkata Engkaulah Maha Pemilik Segala Hati, hamba pasrahkan semua dinamika hati hanya kepadaMu… tidak hanya mengharap ridhoMu saja, tetapi CINTA-MU jualah yang aku harapkan tuk liputi segala CINTA yang dimiliki hati ini

Posted in Cerita Hidup

Ku Pinang Engkau Dengan Al Qur’an

Kupinang engkau dengan Al Quran
Kokoh dan suci ikatan cinta
Kutambatkan hati penuh marhamah
Arungi bersama samudra dunia

Jika terhempas di lautan duka
Tegar dan sabarlah tawakal pada-Nya
Jika berlayar di sukacita
Ingatlah tuk selalu syukur padaNya

Hadapi gelombang ujian
Sabarlah tegal tawakal
Arungi samudra kehidupan
Ingatlah syukur pada-Nya

By Gradasi

Sepanjang di walimahan salah satu seorang sahabat yang merupakan seorang Hafidz, saya mendengarkan lagu ini dengan seksama. Sangat tepat sekali lagu ini dialunkan di walimahan beliau. Beliau yang seorang Hafidz mendapatkan seorang Hafidzoh sholehah (insya Allah)

Lagi-lagi Allah membuktikan janjinya dalam Al Qur’an, QS An Nur 26
“…Perempuan-perempuan yang  baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula…”

Subhanallah…setelah khatam Al Qur’an kemarin, jadi terpacu untuk segera mengkhatamkan hapalan juz 30.. yang dijadikan sebagai prinsip untuk mengajukan izin nikah kepada mama papa. Yang diyakini, prinsip ini akan dipegang sebagai bekal kekuatan kelak dalam mengarungi bahtera rumah tangga, bekal untuk mendidik anak-anak kelak (insya Allah), dan sebagai hadiah yang akan dipersembahkan untuk kedua orang tua dan suami di akhirat kelak.

Sebelum Allah membuka tabir sosok pria yang akan menjadi pendamping hidup yang namanya tertulis indah di Lauh Mahfudz, sangat baik sekali jika mempersiapkan diri dengan menambah jumlah hapalan dan memperbaiki akhlak..

Yang diyakini, jodoh adalah cermin dari diri kita… ketika kita sedang semangat dalam memperbaiki diri, maka insya Allah ia juga sedang bersemangat dalam memperbaiki diri. Dan berharap Allah akan mempertemukan kami dalam kondisi terbaik dalam hidup kami, aamiin!

Sulit! tapi yakin pasti bisa! (insya Allah)
SMANGAT! SETENGAH JUZ LAGIII!!!! bismillahirrahmannirrahiim…

NB: yang jadi penyemangatnya bukan krn nikahnya, tapi ketika hapalan Qur’annya bisa dipegang teguh sebagai pedoman hidup

Posted in Cerita Hidup

Do’a Khatam Al Qur’an

Allahummar hamna bil Quran
waj’alhu lana imaamau wa nuurau wa hudaw wa rahmah
Allahumma dzakkirna minhu maa nasiina
wa ’allimna minhumaa jahiilna
warzuqna tilaawatahu
aana al laili wa athrofannahar
waj’alhu lana hujjatan
Yaaa rabbal ‘alamiin

artinya:

Ya Allah Kasih Sayangilah daku
dengan sebab AlQuran ini
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai pemimpin
sebagai cahaya
sebagai petunjuk
dan sebagai rahmat bagiku

Ya Allah ingatkanlah daku
apa-apa yang aku lupa dalam AlQuran
yang telah Kau jelaskan
dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui
Dan karuniailah daku
selalu sempat membaca AlQuran
pada malam dan siang hari
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai hujjah bagiku

Ya Allah Tuhan semesta alam

(artinya dikutip dari blog: http://muhammad.yuqi.web.id/blog/allahummarhamna-bil-quran-doa-khatam-al-quran.html )

Posted in Cerita Hidup

alhamdulillah…. KHATAM!

Sujud syukur aku sembahkan kepada Allah SWT… alhamdulillah akhirnya aku mengkhatamkan kembali Al Qur’an-ku… Di tengah-tengah aktivitas kerja yang lumayan banyak, aktivitas hati yang  juga bekerja sangat ekstra (hehehe…) alhamdulillah Allah masih ngasih kesempatan untuk ngerasain senangnya Khatam Qur’an! 

Siang hari ba’da Sholat Dzuhur.. di tengah teriknya matahari yang menggoda untuk tidur… yaah..akhirnya aku putuskan untuk memejamkan mata…sejenak

Begitu bangun dari aktivitas memejamkan mata (tidur sejenak), aku langsung mengambil Qur’an…hhmm… biasanya setiap ba’da Dzuhur aku pakai untuk tilawah QS Yassin, karena perkiraan kalau nunggu tilawah di rumah pasti badan udah letih banget.. Jadi jadwal tilawahnya digeser. Sudah beberapa hari ini lagi suka baca QS Yassin..surah itu sangat menenangkan untuk jiwa yang sedang lelah, karena di dalamnya terkandung janji Allah yang Maha Dahsyat.. tapi siang ini rasanya ingin membuka sesi tilawah harian terakhir,,dan halaman terakhir tilawah harianku jatuh pada Juz 30.

Dihadapkan dengan Juz 30, membuat jantung berdetak kencang. Yang aku tahu, di juz 30 ini, banyak sekali peringatan, ancaman untuk umat muslim,,dan diakhiri dengan kepasrahan seorang hamba untuk berlindung kepada Allah dari segala bahaya yang menimpa. Momen mendapatkan juz 30 aku jadikan sebagai ajang untuk mengkhatamkan Qur’an sekaligus muroja’ah hapalan.. (jadi ingat targetan pribadi )

Surah demi surah aku lafadzkan, dilatih lagi lidahnya untuk melafadzkan huruf demi huruf secara benar, agar tidak hanya hapal saja, tetapi lafadznya juga tepat. Mulut terasa berat untuk melafadzkan ketika memasuki Surah At Takwir, Al Infithor, Al Mutaffifin, Al Insyiqaq, Al Buruj,, makin berguncang ketika memasuki Al Gasyiyah, Az Zalzalah dan Al Qari’ah… “Ya Allah…berasa tercambuk hati ini ketika semua surah itu aku lafadzkan…apa yang sudah aku persiapkan untuk hari akhir nanti?”

Hati terasa kesepet banget waktu baca QS Al Ma’un…apalagi ketika ayat ke-5 dan 6 dilafadzkan… “…orang-orang yang melalaikan sholatnya dan berbuat riya…” sembari memohon ampun agar semua amal kebaikan yang tampak tidak bernilai riya…

Tersungkur tak berdaya ketika Al Ikhlas dilafadzkan…hanya 4 ayat.. hanya 4 ayat, ya Allah! tapi hati ini gak kuasa untuk menahan air mata.. yang aku tahu, air mata kepasrahan dan ketidakberdayaan diri dihadapanMu. Melanjutkannya dengan Al Falaq,, berlindung dari segala macam kejahatan sihir dan bahaya di luar kuasa diri,, dan An Nas untuk memohon perlindungan dari segala prasangka buruk yang bersemayam di hati…

ALHAMDULILLAHI RABBIL’ALAMIIN… KHATAM!

Duh Allah, rasanya senang sekali.. kesenangan tiada tara hingga melepaskan semua beban jiwa yang melanda (lebay, tapi benar!) kebahagiaan yang tiada tara ketika satu mahkota telah aku siapkan untuk kedua orang tuaku di akhirat nanti… Yang aku pelajari dari tarbawi, seorang anak akan memberikan mahkota penghargaan kepada kedua orang tuanya melalui amalan tilawahnya… Berhayal bahwa di akhirat kelak, aku bisa mempersembahkan mahkota kebanggaan kepada kedua orang tuaku di akhirat kelak, rasanya pasti senang sekali… dan jika Allah menghendaki usiaku untuk hidup berumah tangga kelak… di akhirat kelak juga tampak suamiku mengenakan mahkota kebanggaan dari amalan tilawah istrinya yang sholehah.. (semoga kesampaian ya Allah…aamiin yaa robbal’alamiin…)

Setiap habis khatam, selalu ada perasaan cemas, takut dan rindu.. Cemas kalau aku ga bisa khatam lagi, karena urusan duniawi.. Takut kalau semangat untuk mengecap khatam menjadi luntur di tengah jalan… Rindu ingin merasakan kembali nikmatnya Khatam Qur’an…

Selepas khatam, orang yang pertama aku kabari adalah Mbak Rini, pegawai Salman… ntah kenapa ingin sekali rasanya berbagi rasa bahagia itu ke Mbak Rini… mungkin karena selama ini Mbak Rini selalu memberi nasehat dan mengajarkanku kesederhanaan kali yah.. dan orang selanjutnya adalah Mama… aku ingin mama tahu, kalau putrinya khatam Qur’an… ingin sekali menyematkan rasa bangga di hati mama diantara kebanggaan yg belum aku berikan…

Allah…pautkanlah hati ini selalu dengan Al Qur’an… jadikanlah ia menjadi pedoman dan pegangan hidup ini hingga akhir hayat… Yang aku yakini janjiMu adalah pasti.. Tak ada keraguan sedikitpun di hati ketika hati ini tunduk pada perintah-perintahMu yang Kau tuangkan di dalam Al Qur’an… Allah, istiqomahkan aku… aamiin!

NB1: dan hadiah khatam dari Allah hari ini via ibu dosen adalah jalan-jalan ke Kebun Buah Naga bersama Ibu Melok Besari besoookk…. it means L I B U R! alhamdulillaaaaaahh….

NB2: mudah-mudahan tulisan ini tidak menjadikan diri riya akan kebaikan, tapi hanya ingin berbagi hikmah agar bisa dirasakan untuk pembaca

Posted in Cerita Hidup

Ujian Kematian dalam Skenario Allah

“Rasanya baru kemarin melihatnya mengenakan kebaya putih,,duduk manis di depan cermin, sambil merasakan gegap bahagia bahwa akan ada seorang pria yang akan mengucapkan janji suci kepadanya… Sambil tersenyum manis ia berkata “waah,,teh kyky datang jugaa….” kalimat sederhana, namun penuh makna…”

Yaah, itulah potongan memori indah saat aku menghadiri salah satu pernikahan adik kelas. Malam sebelumnya aku mendapatkan sms dari Dina, adik angkatan di biologi, untuk dimintai tolong hadir di acara akad salah seorang sahabatnya yang adik angkatanku di biologi juga. Dina minta aku untuk membantu merias para panitia dan pagar ayu.. “Waah..kenapa dia kepikiran buat minta aku yang ngerias yah? padahal aku cuma bisa dandan buat diri sendiri,hehehe” Dan tawaran itu aku setujui.

Pukul 7 pagi, datang ke salman untuk berangkat bersama-sama panitia yang lain menuju ke rumah sang mempelai wanita. Sudah dapat ditebak, aku adalah angkatan tua sendirian! (yang lainnya 2005 semua,heuheu). But, it’s ok! toh juga usianya ga jauh-jauh amat..mengingat aku kan lahirnya bulan-bulan akhirnya tahun 86, hehehe..

Rumah sang mempelai wanita tergolong jauh..daerah cimahi..yang pastinya aku akan tersesat kalau berangkat sendirian dari rumah.

Setiba di rumah mempelai wanita, hiruk pikuk orang sekeliling begitu ramai. Setiap orang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Aku yang baru tiba disana, langsung masuk ke rumah (calon) mempelai wanita dan bertemu teman-teman panitia akhwat lainnya yang akan aku “dandani”. Ketika masuk ke kamar mempelai wanita, sang mempelai wanita terlihat begitu surprise dengan kehadiranku yang udah pagi-pagi sekali datang ke rumahnya… yaa wajarlah, aku kan ga masuk dalam daftar panitia,,cuma dimintai tolong ngerias temen-temen panitia akhwat,hehehe… Aku ngerasa kehadiranku biasa-biasa saja, tapi di luar dugaan sang mempelai wanita berkata “Waaah… teh kyky datang jugaa…” dengan senyum manis yang mengembang. Uh! ntah kenapa rasanya dapet penghargaan banget waktu dia bilang gitu, hehehe…

Prosesi akad yang terbilang sederhana namun penuh keberkahan tersebut berjalan lancar. Pada saat prosesi akad, aku dapat kesempatan duduk tepat di samping sang (calon) mempelai wanita. Sambil menunggu prosesi akad, dia sedikit bercerita tentang suasana hatinya. Dia bilang orangtuanya kaget saat dia mengajukan izin untuk menikah. Pacaran aja ga pernah, tiba-tiba ada seorang pria datang untuk melamarnya. Semua proses terasa cepat hingga menuju hari H. Rasanya campur aduk katanya… dan begitu aku sentuh tangannya.. yaaah…dingin, hihihi… terlihat sekali dia sedang deg-degan…

Ketika akad berlangsung, sang ayah mempelai wanita terlihat sangat gugup, sempat meneteskan air mata. Yaah..mungkin sang ayah merasakan rasa campur aduk juga,,, bahagia, senang karena sang putri pertama akan menggenapkan setengah Diennya, sedih karena akan melepaskan tanggung jawab putri pertama kesayangannya kepada seorang pria dihadapannya.

Sekilas aku membayangkan gimana yah prosesi akadku nanti? Papa yang begitu terlihat sangat berwibawa akankah meneteskan air matanya saat akad nanti? Akankah segugup ayah sang pengantin wanita? Sebagai putri pertama papa, aku memikirkan gimana yah nanti minta izin menikah ke papa? Ada rasa tanggung jawab lebih yang diemban sebagai putri pertamanya papa,,yang pasti tanggung jawab di porsi yang lebih dalam hal memilih pendamping hidup yang bisa meyakinkan papa untuk melepasku kelak.. (ngehayal sambil mikir ceritanya )

Secara keseluruhan, prosesi akad dan walimahan berjalan lancar. Prosesi pernikahan yang sederhana namun sarat dengan makna…sangat bahagia melihat keduanya berbahagia di hari itu…

Sekitar pukul 21.00 WIB di angkot Margahayu bersama Rosma, aku mendapatkan berita duka atas meninggalnya seorang bayi dalam usia kandungan 7 bulan. Bayi dalam kandungan adik mempelai wanita yang aku ceritakan di atas. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… rasanya gak percaya banget! tapi ini terjadi… Baru saja beberapa hari yang lalu aku melihat senyum sumeringah sang adik yang menanti kelahiran bayinya…memegang perutnya sambil mengucap syukur dan doa… dan baru saja kemarin aku berjumpa dengan suaminya yang tersenyum bahagia.. Ya Allah..rasanya ga tega pastinya jika aku melihat kondisi keduanya saat ini. Rasa yang paling tidak bisa aku bayangkan adalah perasaan adik kelasku. Berat! pasti berat! menanti buah hati yang didamba, namun Allah panggil ketika kandungan menginjak usia 7 bulan…belum sempat melihat raut wajahnya, belum sempat mendengar teriakan tangisnya… Ntah kenapa sosok yang terbayang saat itu adalah wajah senyum manis adik kelasku…sebagai sesama perempuan, walau belum pernah merasakan bagaimana rasanya hamil, aku tahu pasti berat sekali menghadapinya.

Kedua pasangan muda itu mendapatkan ujian Allah yang tak diduga oleh siapapun.. Duh, Allah… rasanya ingin sekali memeluk adikku yang satu itu… berikan pasangan itu kekuatan dan ketabahan dalam menjalani setiap ujian yang Engkau berikan pada mereka…

Dari ujian yang Allah berikan kepada kedua adik itu, aku tersadarkan bahw tidak hanya ujian saja yang Allah kasih dalam hidup, tidak hanya berita kehilangan saja yang akan Allah ujikan kepada kita,, tapi harus ingat juga bahwa ruh ini akan kembali ke sang pemiliknya.. Yaah.. Allah tidak hanya Maha Berkehendak akan suatu kisah hidup manusia, tetapi Allah juga Bekehendak akan jatah hidup seorang manusia di bumi ini. Yaah..Allah sedang mengingatkanku tentang hari kematian. Bercermin kepada diri, apa yang akan aku persembahkan kepada Allah jika aku dipanggil nanti..? Diri yang penuh dengan dosa kah atau diri yang tenang dan tersenyum bahagia karena akan berjumpa dengan Pemiliknya?

Allah..jatah hidup ini semakin berkurang, namun amalan yang aku punya tidaklah bertambah…kerjaannya masih menambal untuk menutupi keburukan yang pernah aku lakukan… Allah..cita-cita hidup bukanlah hanya mencapai suatu kesuksesan nyata di dunia, tapi cita-cita hari akhir yang Husnul Khatimahlah yang aku dambakan… Mohon diberi kesempatan untuk memperbaiki amalan diri,,mohon dikabulkan cita-cita hari akhirku nanti,, mohon diberi kelapangan di alam qubur nanti,,keteduhan di Padang Mashyar nanti, mohon diberi kemudahan melalui jembatan Siratal Mustaqim nanti.. dan mohon dikumpulkan bersama orang-orang yang aku cintai di SyurgaMu nanti…aamiin.

dan lagi-lagi teringat moto hidup…” Mengingat kematian adalah orang mujarab untuk melembutkan hati…

Posted in Cerita Hidup

Edisi Keikhlasan dalam Skenario Allah

Hari senin ini menjadi hari yang melelahkan sekaligus penuh hikmah. Kenapa? karena skenario yang Allah buat untuk aku mainkan hari ini menguras tenaga otot dan saraf,hehehe 

Di buku agenda kerja, hari ini aku harus masuk kembali ke lab, mengulang kembali analisa TPH yang sempat didebatkan mengenai metode dan perhitungannya… dan keputusannya adalah mencoba untuk bermain di volume hexane dengan pengulangan sebanyak 2 kali sajah! (alhamdulillaaahh cuma 2 kali! ) tapi karena alatnya terbatas, jadinya nyicil, hihihihi

Selepas bereksperimen di lab, iseng-iseng nyalain YM! tujuannya sih cuma pengen majang doank..tapi malah nyapa salah seorang teman yang sedang berulang tahun untuk menagih traktiran, huehehee… Dari obrolan traktiran, ntah kenapa obrolan berlanjut dengan bahasan proses hidup dalam menggenapkan agama alias bahasan proses pernikahan.

Mulanya rada risih juga kok objek pertanyaannya ke aku melulu, padahal kan dia yang insya Allah akan memasuki gerbang itu.. tapi lama-lama aku mulai menikmati perbincangan sore kami dan sadar bahwa ada hikmah yang akan aku ambil dari pembicaraan itu.

Pembicaraan sore itu mengulas tentang keridhoan diri akan ketetapan yang Allah kasih. Menyiapkan hati untuk belajar dalam management worst case dan berpikir berapa lamakah hati akan merecovery dirinya… dan lagi-lagi terjadi perbincangan monolog..
diri: “Uuuh, Allah! kenapa bahasan itu dilontarkan kepadaku??”
hati: “Untuk menguji kekuatan mental kamu dan menguatkan kembali niatmu yang akan berjalan hanya untuk mencari ridho Allah.. Kan kalau kamu ucapkan, justru akan membuatmu tertantang untuk memenuhi ucapan itu..
Yaaah..ternyata hati tahu bahwa kekuatan niat diri akan kembali kuat ketika niat itu dilafadzkan..

Dari temanpun saya mendapatkan pelajaran bahwa yang sudah mendekati akad saja masih harus mempersiapkan kemungkinan terburuk yang terjadi, apalagi yang belum…. Perbincanganpun diakhiri dengan saling menasehati dan memberi semangat untuk menjalani takdir yang Allah berikan

Selepas chatting, aku pergi ke S28 menemui dua sahabatku, katakanlah E dan R. Sore itu E mengajak kami makan malam untuk sekedar silaturahim (sebenarnya esoknya E ulang tahun, hihihi) Karena ketemu dengan R, Sang Pengantin Baru, jadi isi kumpul-kumpulnya pastilah berkaitan dengan kehidupan barunya R…biasa, gadis-gadis single yang kerjaannya mau tauu ajah kehidupan baru sahabatnya, hihihihi…

Dari ngobrol-ngobrol dengan R, R bercerita tentang rasa syukur dan rasa luar biasanya telah melalui tahap demi tahap proses menuju pernikahan yang luar biasa ujiannya. kira-kira begini cerita dari R:

“Gwa ngerasa luar biasa banget sampai bisa menikah dengan Uda. Lu bayangin ajah! gwa ngeceng dia dari TPB! Suatu hari gwa sempat bilang sama dia kalau gwa punya hati sama dia, tapi itu cuma ungkapan isi hati gwa aja, selebihnya udah..cuma pengen ngomong itu aja. Kami sempat berkomitmen selama 1 tahun dan hanya komitmen antara kami berdua, mengalami hubungan jarak jauh, pernah ga dihubungi Uda selama 1 tahun juga. Kondisi saat itu Uda sedang dijodoh-jodohkan dengan orang lain. Waktu gwa konfirmasi ke Uda, dia memang mengiyakan bahwa ada proses perjodohan itu, tapi Uda berpegang pada ucapannya ke gwa. Gwa bingung harus gimana, mau nuntut apa juga..toh gwa belum ada ikatan resmi secara agama, gwa bukan siapa-siapa dia, semua kemungkinan bisa terjadi antara gwa dan Uda. Pada saat itu gwa memilih diam dan jalani aja kondisi saat itu.. yaah, pasrah sama Allah saja. Gwa tetap berlaku baik dengan Uda, tetap ngucapin Selamat Ulang Tahun, sms dia buat mohon doa waktu gwa mau sidang

Setelah itu, tiba-tiba Uda menelepon untuk mengajak nikah. Uda bilang lagi bangun rumah, 1.5 tahun lagi jadi, kita nikah setelah itu. Tapi kan waktu selama sebelum menikah kan panjang, gwa tetap dalam kondisi pasrah sama Allah dan jalani saja. Waktu lamaran, Uda sempet nyasar, sangking jarang ketemunya kami. Setelah prosesi lamaran, 1 bulan jelang pernikahan adalah masa tersulit buat gwa. Gwa dihadapkan dengan perbedaan kultur dan budaya. Gwa gadis Sunda dan Uda Padang Pariaman. Gwa sebagai gadis Sunda merasa butuh untuk dekat dengan calon keluarga gwa, akhirnya gwa bilang ke Uda, dan Uda mengatur pertemuan gwa dan keluarga Uda.

Rasa egois, fluktuasi emosi datang ke gwa jelang pernikahan, tapi gwa lebih banyak memilih untuk mengalah dan jalani saja proses itu. Teringat kata kakak gwa “dek, mengalah itu bukan berarti kamu kalah.” Jelang pernikahan juga gwa dihadapkan dengan cerita salah seorang teman gwa yang pernikahannya hampir batal, namun tetap berlangsung dengan posisi calon mempelai pria yang seharusnya tidak jadi menikahi calon pengantin wanita dan digantikan dengan pria yang lain. Lu tahu rasanya gimana?? pasti sakit! Tapi yang gwa temukan dalam prosesi pernikahan teman gwa itu, semuanya berjalan lancar, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dan mendengar cerita itu, gwa langsung banyak-banyak istighfar. Gwa ingat salah satu materi di Sekolah Pra Nikah, kalau menjelang proses akad, setan semakin gencar untuk membuatnya gagal. Kita mempersiapkan sebaik mungkin semua prosesi pernikahan kita agar berjalan lancar, tetapi setan juga ga kalah mempersiapkan sebaik mungkin juga untuk membuat prosesi pernikahan itu gagal total. Dan ketika akad terjadi, luar biasa sekali rasanya gwa! Gak nyangka! Alhamdulillah pokoknya! Temen-temen gwa juga pada gak nyangka gwa bisa melalui ini semua!

Pasca akad, gwa harus menjalani rangkaian prosesi resepsi 3 kali dengan adat sunda dan 2 kali adat minang. Gwa harus makai suntiang yang beratnya 3kg! Gwa juga dihadapkan perbedaan kultur budaya. Kan kalau di Sunda, cewek itu yang dianak emaskan, kalau di Padang itu anak cowok, dan cewek yang banyak bekerja. Waah..penyesuaian diri gwa dengan keluarga Uda juga luar biasa, mulai dari bahasa sampai kebiasaan-kebiasaan keluarga.

Dari situ gwa belajar, ky… Pasrah dan berserah sama Allah itu luar biasa! Allah akan memberikan sesuatu yang diluar perkiraan kita. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita. Kalau Allah bilang Jadi, Maka Jadilah..apapun ujiannya!”

Denger cerita R, ngerasa ada cermin yang harus diteladani. Sempet bilang “Duh, Allah..apa maksud Engkau membiarkan hamba mendengar cerita ituu??” Tapi disamping itu mendengar cerita R membuat keyakinan aku semakin kuat. Yaah.. jalani saja hidup ini sesuai dengan koridor Allah. Hanya mencari Ridho Allah.. Kalau Allah sudah menetapkan sesuatu, maka jadilah… Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita.

Melihat R adalah sosok sahabat yang mungkin penampakannya preman, pokoknya anak lapangan banget! tapi ternyata hatinya luar biasa kokoh. Jadi berpikir, rata-rata cewek lapangan itu walau terlihat urakan, preman, dekil, kucel, mereka punya prinsip dalam hidupnya. Yaah..kami dididik oleh alam untuk survive,, alam yang membentuk hati kami juga untuk menjadi sosok yang berprinsip kuat. Yaah…ga salah kalau dulu waktu masih kuliah sempat bikin slogan “Cewek Biologi ITB itu Mahal!” karena kami tangguh dan bisa diajak hidup susah, hihihihi

monolog:
hati: “boro-boro mau masuk gerbang pernikahan, wong prinsip buat masuk ke gerbangnya ajah belum kamu penuhi, noy!”
diri: “heuheuheu..betul betul betul! fokus! fokus! fokus!”

Habis denger cerita R, kita langsung nostalgia mengenai kepasrahan hidup selain masalah percintaan. Aaah..masa-masa mau kuliah! Kalau E dulu ga kebayang bakal masuk ITB, masuk UNPAS aja udah sujud syukur… R memilih tidak kuliah dan milih kerja kalau ga masuk negeri, karena udah ga ada tanggungan dari orang tua lagi… Kalau aku memilih untuk tidak kuliah dan kerja juga kalau tidak masuk negeri, karena pada saat itu keuangan keluarga pasca akang tabrakan hancur. Papa mama meminjam kesana kesini untuk biaya ganti rugi dan biaya pengobatan semua korban tabrakan. Aku akan memilih bekerja apapun untuk membantu keuangan keluarga, walau papa dan mama gak pernah meminta. Yaah.. itulah edisi kepasrahan kami dalam hidup dan sekarang masih ada edisi kepasrahan lainnya yang harus kami hadapi. E dan aku dengan kehidupan kami menjadi pekerja dan the single girl dan R sebagai seorang istri. Kami akan banyak belajar dan banyak melalui ujian hidup. Mudah-mudahan Allah tetap ridho dengan setiap langkah hidup kami bertiga, aamiin! aamiin! aamiin!

Hari ini pun ditutup dengan sms dari salah seorang sahabat yang bertanya:
“Kymuu, adakah suatu saat nanti ada yang bilang, “aku mencintaimu bukan karena aku memilihmu, tapi aku tak punya pilihan lain selain engkau. Maka aku tak akan memilih siapapun selain engkau, dan tak aakan meninggalkan siapapun karena engkau”?” #galauLady

dan akupun berkata: ” Sayang, coba buka terjemahan An Nur dan resapi artinya. Wanita pezina saja sudah Allah tetapkan pasangannya, apalagi wanita sholehah seperti kamu… 🙂 Yakinlah akan ketetapan Allah. Selalu ada kemudahan yang Allah berikan asal kita tetap pada koridor Allah..”
habis ngetik itu, ngerasa aku gak akan nulis seperti ini kalau gak ada yang nuntun hati ini untuk mengetiknya…
Allah……berkahi setiap langkah hidup kami semua….aamiin.