Posted in Cerita Hidup

Ujian Kematian dalam Skenario Allah

“Rasanya baru kemarin melihatnya mengenakan kebaya putih,,duduk manis di depan cermin, sambil merasakan gegap bahagia bahwa akan ada seorang pria yang akan mengucapkan janji suci kepadanya… Sambil tersenyum manis ia berkata “waah,,teh kyky datang jugaa….” kalimat sederhana, namun penuh makna…”

Yaah, itulah potongan memori indah saat aku menghadiri salah satu pernikahan adik kelas. Malam sebelumnya aku mendapatkan sms dari Dina, adik angkatan di biologi, untuk dimintai tolong hadir di acara akad salah seorang sahabatnya yang adik angkatanku di biologi juga. Dina minta aku untuk membantu merias para panitia dan pagar ayu.. “Waah..kenapa dia kepikiran buat minta aku yang ngerias yah? padahal aku cuma bisa dandan buat diri sendiri,hehehe” Dan tawaran itu aku setujui.

Pukul 7 pagi, datang ke salman untuk berangkat bersama-sama panitia yang lain menuju ke rumah sang mempelai wanita. Sudah dapat ditebak, aku adalah angkatan tua sendirian! (yang lainnya 2005 semua,heuheu). But, it’s ok! toh juga usianya ga jauh-jauh amat..mengingat aku kan lahirnya bulan-bulan akhirnya tahun 86, hehehe..

Rumah sang mempelai wanita tergolong jauh..daerah cimahi..yang pastinya aku akan tersesat kalau berangkat sendirian dari rumah.

Setiba di rumah mempelai wanita, hiruk pikuk orang sekeliling begitu ramai. Setiap orang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Aku yang baru tiba disana, langsung masuk ke rumah (calon) mempelai wanita dan bertemu teman-teman panitia akhwat lainnya yang akan aku “dandani”. Ketika masuk ke kamar mempelai wanita, sang mempelai wanita terlihat begitu surprise dengan kehadiranku yang udah pagi-pagi sekali datang ke rumahnya… yaa wajarlah, aku kan ga masuk dalam daftar panitia,,cuma dimintai tolong ngerias temen-temen panitia akhwat,hehehe… Aku ngerasa kehadiranku biasa-biasa saja, tapi di luar dugaan sang mempelai wanita berkata “Waaah… teh kyky datang jugaa…” dengan senyum manis yang mengembang. Uh! ntah kenapa rasanya dapet penghargaan banget waktu dia bilang gitu, hehehe…

Prosesi akad yang terbilang sederhana namun penuh keberkahan tersebut berjalan lancar. Pada saat prosesi akad, aku dapat kesempatan duduk tepat di samping sang (calon) mempelai wanita. Sambil menunggu prosesi akad, dia sedikit bercerita tentang suasana hatinya. Dia bilang orangtuanya kaget saat dia mengajukan izin untuk menikah. Pacaran aja ga pernah, tiba-tiba ada seorang pria datang untuk melamarnya. Semua proses terasa cepat hingga menuju hari H. Rasanya campur aduk katanya… dan begitu aku sentuh tangannya.. yaaah…dingin, hihihi… terlihat sekali dia sedang deg-degan…

Ketika akad berlangsung, sang ayah mempelai wanita terlihat sangat gugup, sempat meneteskan air mata. Yaah..mungkin sang ayah merasakan rasa campur aduk juga,,, bahagia, senang karena sang putri pertama akan menggenapkan setengah Diennya, sedih karena akan melepaskan tanggung jawab putri pertama kesayangannya kepada seorang pria dihadapannya.

Sekilas aku membayangkan gimana yah prosesi akadku nanti? Papa yang begitu terlihat sangat berwibawa akankah meneteskan air matanya saat akad nanti? Akankah segugup ayah sang pengantin wanita? Sebagai putri pertama papa, aku memikirkan gimana yah nanti minta izin menikah ke papa? Ada rasa tanggung jawab lebih yang diemban sebagai putri pertamanya papa,,yang pasti tanggung jawab di porsi yang lebih dalam hal memilih pendamping hidup yang bisa meyakinkan papa untuk melepasku kelak.. (ngehayal sambil mikir ceritanya )

Secara keseluruhan, prosesi akad dan walimahan berjalan lancar. Prosesi pernikahan yang sederhana namun sarat dengan makna…sangat bahagia melihat keduanya berbahagia di hari itu…

Sekitar pukul 21.00 WIB di angkot Margahayu bersama Rosma, aku mendapatkan berita duka atas meninggalnya seorang bayi dalam usia kandungan 7 bulan. Bayi dalam kandungan adik mempelai wanita yang aku ceritakan di atas. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… rasanya gak percaya banget! tapi ini terjadi… Baru saja beberapa hari yang lalu aku melihat senyum sumeringah sang adik yang menanti kelahiran bayinya…memegang perutnya sambil mengucap syukur dan doa… dan baru saja kemarin aku berjumpa dengan suaminya yang tersenyum bahagia.. Ya Allah..rasanya ga tega pastinya jika aku melihat kondisi keduanya saat ini. Rasa yang paling tidak bisa aku bayangkan adalah perasaan adik kelasku. Berat! pasti berat! menanti buah hati yang didamba, namun Allah panggil ketika kandungan menginjak usia 7 bulan…belum sempat melihat raut wajahnya, belum sempat mendengar teriakan tangisnya… Ntah kenapa sosok yang terbayang saat itu adalah wajah senyum manis adik kelasku…sebagai sesama perempuan, walau belum pernah merasakan bagaimana rasanya hamil, aku tahu pasti berat sekali menghadapinya.

Kedua pasangan muda itu mendapatkan ujian Allah yang tak diduga oleh siapapun.. Duh, Allah… rasanya ingin sekali memeluk adikku yang satu itu… berikan pasangan itu kekuatan dan ketabahan dalam menjalani setiap ujian yang Engkau berikan pada mereka…

Dari ujian yang Allah berikan kepada kedua adik itu, aku tersadarkan bahw tidak hanya ujian saja yang Allah kasih dalam hidup, tidak hanya berita kehilangan saja yang akan Allah ujikan kepada kita,, tapi harus ingat juga bahwa ruh ini akan kembali ke sang pemiliknya.. Yaah.. Allah tidak hanya Maha Berkehendak akan suatu kisah hidup manusia, tetapi Allah juga Bekehendak akan jatah hidup seorang manusia di bumi ini. Yaah..Allah sedang mengingatkanku tentang hari kematian. Bercermin kepada diri, apa yang akan aku persembahkan kepada Allah jika aku dipanggil nanti..? Diri yang penuh dengan dosa kah atau diri yang tenang dan tersenyum bahagia karena akan berjumpa dengan Pemiliknya?

Allah..jatah hidup ini semakin berkurang, namun amalan yang aku punya tidaklah bertambah…kerjaannya masih menambal untuk menutupi keburukan yang pernah aku lakukan… Allah..cita-cita hidup bukanlah hanya mencapai suatu kesuksesan nyata di dunia, tapi cita-cita hari akhir yang Husnul Khatimahlah yang aku dambakan… Mohon diberi kesempatan untuk memperbaiki amalan diri,,mohon dikabulkan cita-cita hari akhirku nanti,, mohon diberi kelapangan di alam qubur nanti,,keteduhan di Padang Mashyar nanti, mohon diberi kemudahan melalui jembatan Siratal Mustaqim nanti.. dan mohon dikumpulkan bersama orang-orang yang aku cintai di SyurgaMu nanti…aamiin.

dan lagi-lagi teringat moto hidup…” Mengingat kematian adalah orang mujarab untuk melembutkan hati…

Author:

Life is adventure, fun and fabulous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s