Posted in kyky belajar, Mari Membaca

Jangan Putus Asa!

PKS Nongsa — Di media massa diberitakan beberapa ibu membunuh anaknya (kemudian bunuh diri) hanya karena khawatir tidak bisa membahagiakan anaknya.

Di AS ada seorang bapak yang dikenal baik kemudian membunuh 2 putri kembarnya. Seorang psikolog di acara Oprah Winfrey mengatakan bahwa itu terjadi karena bapak tersebut menderita depresi. Diperkirakan 20% penduduk AS pernah menderita depresi. Yang paling berbahaya adalah jika penderita depresi sudah kehilangan harapan (hope) atau putus asa. Orang seperti ini bukan hanya bisa bunuh diri tapi juga bisa membunuh orang yang dia cintai.

Dalam Islam kita dilarang putus asa dan harus beriman kepada takdir. Kita menerima semua ujian karena yakin itu semua sudah ditetapkan oleh Allah.

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” [Al Hijr:56]

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az Zumar:53]

Ustad Agung menyatakan sebab putus asa itu ada 2: 1. Tidak tahu tujuan hidup itu apa, 2. Tidak tahu cara mencapainya. Nah tujuan hidup kita sebenarnya adalah mencari ridho Allah. Jika Allah sudah ridho dengan kita, insya Allah seluruh keinginan kita akan dikabulkan oleh Allah. Cara mendapatkan ridho Allah bisa kita ketahui dengan mempelajari Al Qur’an dan Hadits.

Allah tidak menginginkan kita jadi dokter, kaya raya, atau yang lainnya. Yang dinginkan Allah dari kita hanya takwa. Yaitu mematuhi aturannya dan menjauhi larangannya. Toh ketika manusia mati, segala harta, jabatan, dan istri yang cantik sudah tidak bermanfaat lagi baginya.

Kita jangan takut dan sedih jika ditimpa musibah berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Itu adalah cobaan. Ucapkanlah bahwa kita semua adalah milik atau ciptaan Allah dan kepada Allah kita kembali.

Jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita dan surga adalah imbalannya.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al Baqarah:155-157]

“…Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf :87]

Kita harus yakin bahwa dibalik kesulitan yang menimpa kita, insya Allah akan ada kemudahan. Percayalah karena ini adalah janji Allah yang Maha Benar!

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

“sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Alam Nasyrah:5-6]

“…Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]

Allah tidak Membebani Cobaan di luar Kemampuan Kita

Yakinlah bahwa Allah tidak akan membebani kita cobaan di luar kemampuan kita. Segala macam cobaan insya Allah bisa kita atasi selama kita dekat dengan Allah SWT.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al Baqarah:286]

“Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya”. [Al Mu’minuun:62]

“Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” [At Taghabun:16]

Berusaha Mencari Karunia Allah

Meski kita beriman kepada Takdir Allah, tidak berarti kita jadi fatalis dan tidak berusaha melakukan apa-apa.

“Jika telah shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [Al Jumu’ah:10]

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qashash:77]

Ada beberapa pengamen yang meski masih sangat muda begitu putus asa sehingga berkata: “Kami mengamen karena terpaksa. Tidak mungkin kami bekerja di kantor seperti bapak-bapak dan ibu-ibu…” Menyedihkan. Jika putus asa seperti itu dan tak mau berubah, Allah pun tak akan mengubah nasib mereka.

KH Muhammad Arifin Ilham lewat Facebook mengaku dulu sempat dagang Indomi, ngamen, dan juga jadi kenek. Namun semua itu beliau jalani dengan KESUNGGUHAN IKHTIAR,DOA,OPTIMIS & TAWAKKAL. Aa Gym dulu juga sempat jadi supir mikrolet, sementara Ustad Yusuf Mansur yang dulu juga pedagang asongan di terminal sempat mendekam di penjara. Namun mereka semua tak pernah menyerah. Tidak pernah berputus asa. Senantiasa belajar agar lebih baik. Senantiasa berusaha/berikhtiar, berdoa, dan selalu optimis dan tawakkal. Akhirnya mereka pun jadi orang besar seperti sekarang yang kita kenal.

Iwan Fals, ST12, Kangen Band, dan sebagainya dulu juga pernah jadi pengamen. Namun mereka mengamen dengan sungguh-sungguh dan senantiasa belajar sehingga lagu mereka enak di dengar. Tidak seperti sebagian pengamen sekarang yang nyanyi asal-asalan sambil setengah mengancam penumpang. Akhirnya para pengamen yang sungguh-sungguh itu pun menjadi penyanyi yang terkenal.

Jadi jangan putus asa dan bermalas-malasan. Tetap terus belajar, berusaha, berdoa, dan optimis serta tawakkal.

Sumber: Jangan Putus Asa!

Posted in kyky belajar, Mari Membaca

Wahai Jiwa- Jiwa Yang Ikhlas…

Betapa banyak orang yang terpenjara dalam sempitnya sangkar hati yang begitu sangat membelenggunya. Sedangkan kunci untuk memerdekakan hidup dan batinya tersebut hanyalah dengan ikhlas. Namun keadaannya masih juga belum berubah. Semua karena keengganan atau rasa separoh hati yang menuruti perhitungan untung rugi yang dikatakan logikanya. Maka ditangguhkannya kemerdekaan jiwanya tersebut dan dinikmatinya kesakitan yang berkepanjangan. Jika semua sudah sampai pada titik puncak, sayang sekali bahwa dia lalu melanjutkan kemarahan dan penghujatan tiada henti kepada Allah,karena merasa telah didholiminya. Tidak, sama sekali tidak, Allah adalah sang maha penyayang atas hambaNya.

Sejenak lihatlah betapa telah jelas terbukti bahwa alangkah kerugian dan kesempitan yang menyita batin manusia jika dia tidak mau atau tidak mau tahu tentang keberadaan aturan tuhannya. Dan betapa pandai manusia ketika dia dapat menghebatkan batinnya untuk tertuntun dalam keteduhan jalan Allah. salah satu nilai kehebatan itu terkandung dalam Ikhlas. Bukan hanya kesediaannya menyerahkan jiwa kepada tuntunan kehendak Allah, namun ikhlas adalah tentang memohon untuk yang terbaik,berusaha untuk hasil terbaik sampai batas akhir sebuah kekuatan yang kemudian hasilnya kita terima dengan penuh syukur,dan atau kemudian lebih berusaha lagi demi yang lebih baik.

Jiwa yang ikhlas tidak terlalu cerewet bertanya tentang keberlakuan takdir Allah atasnya, melainkan jiwanya berkata bahwa Allah yang paling tahu atas kebutuhan hidupnya. Dibesarkannya pemikiran positif atas sang maha pengatur hidupnya itu, karena kepastian diberikan dan dipenuhinya kepentingan atas hidup dan keberlangsungannya.

Jiwa yang ikhlas tidak akan berhenti hanya bertanya, tanpa bersungguh-sungguh mencoba. Dipertebal rasa malunya untuk memerintah sang maha kuasa guna mengharuskan mudahnya kebaikan itu datang baginya, sebelum dia ikhlas berupaya.

Jiwa yang ikhlas akan menghentikan rengekan atas permintaan jaminan penghargaan oleh para makhluk ataupun dari penciptanya, karena kuatnya keyakinannya bahwa kebaikan adalah jaminan kepastian bagi yang ikhlas.

Jiwa yang ikhlas tidak akan gampang menyalahkan Allah atas kelemahan dan kealpaannya. matanya akan melihat dan kemudian berpikirbahwa ternyata banyak orang lain yang tidak sekuat dia namun akhirnya lebih berhasil dari padanya karena keikhlasannya.

Jiwa- jiwa yang ikhlas menyadari dan mengakui serta menetapkan hati bahwa Allah subahanahu wata’ala adalah maha dalam segalanya. sungguh, ketetapan itu tidak diterimanya kecuali dengan damai.diperkuatnya kesungguhan,maka batinnya akan berkata bahwa Allah yang akan menghebatkan sekecil-kecil kekuatan,untuk merampungkan sebesar-besar tugas dan kepentingan hidupnya.

Lihatlah, jiwa- jiwa yang ikhlas terlihat tampil lebih besar dari ukuran kemanusiannya. Sendirian dia bisa melakukan tugas dari seribu orang. Dia melihat yang tiada mampu dilihat manusia lain, dan dia dapat mendengar atas sesuatu yang tak tersuarakan. dia dapat mempelajari dan mengambil hikmah lebih banyak dari pada para batin manusia lain yang terlalaikan. Kelebihan kesaktian tersebut pasti akan dilebihkan oleh Allah sebagai sebuah harga yang lebih dari pantas. Jiwa yang ikhlas adalah jiwa yang sakti.

Dan sesungguhnya Allah tidak akan pernah mencukupkan satu bahasa cukup untuk menggambarkan keindahan kehidupan bagi jiwa yang ikhlas, karena ikhlas adalah bagai sebuah siklus tanpa akhir yang membahagiakan dan memerdekakan manusia.

Sumber: Wahai Jiwa-jiwa yang Ikhlas

Posted in kyky belajar, Mari Membaca

Jangan Bersedih! Yakinlah Allah Lebih Tahu Tentang Kebutuhan Kita

Terkesima dengan judulnya, setelah dibaca, ya Allah… saya malu!

—-

PKS Nongsa – Kadang kita memaki keadaan karena tidaklah sesuai dengan selera kita.Kadang kita menyalahkan Allah atas sesuatu hal buruk yang menimpa kita.

Seperti ketika sepasang suami istri yang sedang berkonflik. Mereka akan dengan mudah menyalahkan satu- sama lain. Si suami mungkin tidak menyenangi salah satu sifat istri, pun demikian halnya dengan sang istri. Rasanya hati sudah penuh sesak dengan amarah, kesedihan dan kesempitan.

Ingin rasanya memaki, atau paling tidak mengeluarkan uneg- uneg yang ada. Namun sering kali kemauan itu masih tertahan dengan masih adanya iman.

Sejenak mari kita renungkan. Di dunia ini ada bermilyar manusia yang mungkin bisa menjadi pasangan kita. Namun, Allah akhirnya mempertemukan kita dengan pasangan kita saat ini, dan bukan dengan yang lain. Pastilah semua itu bukan hanya karena kebetulan belaka.

Ada skenario dan pelajaran takdir yang bisa sama- sama kita pelajari. Hal tersebut tidak lain adalah untuk menjadikan diri kita lebih baik dari pada sekarang ini.

Kekurangan yang dimiliki istri ataupun suami, adalah pelengkap bagi kelebihan yang lain. Namun sering kali batin manusia menyeru untuk melirik kelebihan manusia lain selain istri atau suami mereka.

Hal itu karena mereka mungkin sejenak ingin meredakan diri dan mendamaikan hati atas sebuah kekesalan. Maka ada istilah, “Rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput sendiri”.

Pernahkah kita membaca, padahal jika hati kita telah ikhlas menerima ketetapan Allah, “Rumput sendiri” yang mungkin tidaklah lagi hijau, justru yang telah berjasa “menghijaukan” kita.

Betapa tidak, dari kekurangan pasangan kita, kita belajar lebih bijaksana, kita belajar sebuah pemakluman dan belajar sebuah kesabaran. Dan dari kelemahan diri kita sendiri, kitapun belajar sebuah perbaikan, kita belajar meminta maaf dan belajar menghindari kesombongan.

Dan Allah lah yang paling tahu tentang kebutuhan kita, kebutuhan untuk menjadikan kita manusia lebih baik, kebutuhan untuk menjadikan kita sangat lebih baik dari pada hari ini. Dan kebijaksanaan Allah tersebut hanya dapat dipahami oleh para jiwa- jiwa yang ikhlas,hati- hati yang lembut, dan para hamba yang mau belajar dan mempelajari hikmah kehidupan.

Cerita lain yang seringkali menghinggapi batin kita dengan kegelisahan adalah ketika kehidupan disudutkan pada sebuah kekurangan terutama dalam hal materi. Terkadang, karena hal itu pula, aturan halal dan haram pun menjadi sangat susah sekali untuk tetap digenggam erat. Tak jarang, segala cara kita lakukan demi sebuah kelebihan dan keluasan untuk memerdekakan hati yang sedih.

Saudaraku, percayalah kesempitan atau keluasan itu, bukan terletak dari seberapa banyak atau sedikit materi yang kita punya, tapi hanyalah masalah tentang penyikapan hati kita. Banyak dari saudara kita yang sekarang dalam keluasan rejeki, namun mereka pun masih gusar tentang bagaimana cara bahagia untuk sesuatu sangat simple.

Berkumpul dengan keluarga misalnya. Mungkin mereka menilai bahwa kita yang biasa- biasa sekarang ini adalah lebih beruntung dan bahagia. Sadarkah kita jika saja saat ini kita diberi kelebihan dan keluasan dalam hal apapun oleh Nya, apakah masih akan ada waktu tersisa untuk sekedar menyapa Allah sang Maha Rahman, apakah masih ada sejenak akses untuk mengingatnya seperti dalamnya kemohonan kita saat kita memanjatkan doa SAAT sempitnya kehidupan?.

Sungguh Allah lah pencipta kita, dan Dia lebih tahu detail pastinya tentang apaun dari kemampuan kita, melebihi diri kita sendiri. Subhanallah, dalam hal apapun, yang negatif dalam pandangan kita sekalipun, ternyata disana tersimpan kasih sayang dari Sang Maha Mencintai.

Jangan pernah sesali apa yang telah kita dapatkan atau yang telah lepas dari genggaman. Jika sebelumnya kita telah melakukan usaha yang terbaik, maka hasil akhir yang Allah beri itulah, upah yang terbaik untuk kita.

Tidak semua keinginan di dunia ini terpenuhi atau dipenuhi secara sempurna oleh Allah sang maha rahman. Semua tentu bukan berdasar tidak adanya kasih sayang dari NYa. Namun semua adalah pasti dan tentu saja yang terbaik untuk kita. Allah yang memegang ukuran atas kita. Dan hal itu hanya dapat dipahami oleh batin yang percaya dan tetap percaya pada Allah dalam keadaan apapun.

Saudaraku yang dirahmati Allah, sungguh, Allah lah yang maha penyayang atas hamba- hambaNya.

Dan Allah lah yang paling tahu tentang kebutuhan kita, kebutuhan untuk menjadikan kita manusia lebih baik, kebutuhan untuk menjadikan kita sangat lebih baik dari pada hari ini. Dan kebijaksanaan Allah tersebut hanya dapat dipahami oleh para jiwa- jiwa yang ikhlas,hati- hati yang lembut, dan para hamba yang mau belajar dan mempelajari hikmah kehidupan.

Sumber: voa-islam.com dan PKS Nongsa

Posted in Pulang ke Rumah Allah

Tiga Hari Bersama Rasulullah #3

“Allah, aku ingin bertemu Emak di RumahMu nanti.. bahkan kalau bisa bertemu nenek-nenekku yang lain juga”

Itulah pintaku ke Allah ketika akan berangkat Umroh.

Sejak Emak meninggal, entah kenapa aku selalu menghibur diri dengan keyakinan kalau Emak masih hidup. Bahkan ketika berangkat Umroh tanpa Emak, aku beranggapan Emak sudah berangkat duluan.. Pakai kendaraan yang super cepat, yang khusus Allah sediakan buat Emak. Makanya aku dengan optimisnya meminta ke Allah agar bertemu dengan Emak disana. 🙂

Saat memasuki masjid menuju Raudhoh, aku sempet bingung mau ngapain. Namanya juga bertamu, harus ada kesan khusus buat pemilik rumah, apalagi yang punya rumah adalah seorang Rasul. 🙂

Suasana menuju Raudhoh padat orang. Jama’ah wanitapun dibagi berdasarkan Negara (kalau aku bilang sih ras,hehehe). Mungkin demi kenyamanan ketika beribadah di Raudhoh nanti. Kasian juga kalau ras melayu yang kecil-kecil dibarengin sama jama’ah timur tengah yang badannya gede-gede,hehe.. Jadi rombongan kami berkumpul di kelas Jama’ah melayu, bareng dengan saudari-saudari yang berasal dari Malaysia dan Singapura.

Sambil menunggu giliran, aku isi dengan sholat Tahiyatul Masjid dan baca buku pinjaman milik Ibu Sarah (salah satu jama’ah travel Raihan). Baca bareng dengan Teh Lenny dan Ibu Santi. Setelah itu kami menyusun strategi dan antisipasi jikalau nanti di dalam rombongan kami terpisah.

Raudhoh hanya dibatasi dengan karpet berwarna hijau, tempatnya gak terlalu luas, makanya masuknya digilir. Begitu giliran jama’ah melayu diperbolehkan masuk, kami langsung mengambil posisi, mencari karpet warna hijau. Karena begitu kita menginjakkan kaki ke karpet warna hijau, berarti udah masuk Raudhoh. 🙂

Saat masuk Raudhoh, rasanya… “haaa…. Susah nulisnya!” $^$%^#$%#%#$^

Kayaknya kalau digambarkan, gini yah rasanya hati lagi dicuci. Dada kerasa sesak, kek ada sesuatu yang dicabut dari dada. Mendadak gak bisa ngomong apa-apa, padahal sebelumnya udah dipikirkan doa apa saja yang akan diucapkan saat masuk Raudhoh. Tapi ini bener-bener speechless! Mendadak gagap! Cuma bisa ngeluarin air mata dan nangis terisak-isak.

Akhirnya setelah bisa menstabilkan diri, baru bisa berdoa, “Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui apa saja yang ada dalam diriku, apa saja yang aku alami, apa saja yang ada dalam hatiku, bahkan Engkau paling memahami diriku.. Aku pasrah ya Allah.. Aku Tawakkal kepadaMu. Hanya memohon ampunan dariMu, hanya memohon keridhoanMu atas diriku, ampunilah aku dan orang yang aku cintai, jangan jatuhkan aku lagi dalam kehinaan, dan berikan hari akhir yang Khusnul Khatimah” batinku.

(Kalau aku gak sadar, kalau gak ingat ada mama dan ade yang harus dijaga dalam desak-desakan di Raudhoh, mungkin aku udah pingsan saat itu 😀 )

Alhamdulillah Allah masih memberi kesadaran untukku. Kemudian aku, mama dan Indita bergantian sholat sunnah 2 rakaat di Raudhoh. Khawatir kepala mama terinjak, maka aku dan Indi bikin border buat jaga mama yang sedang sholat.

saat sedang memborder mama, tiba-tiba…. “Akhirnya saya ketemu kamu juga!” ucap seorang nenek jama’ah asal Indonesia yang tiba-tiba menggenggam lenganku dengan erat. “Saya dari tadi nyariin kamu, tapi kamu gak ada.” Kata nenek tersebut. Terkejutnya aku saat sang nenek berkata sambil menggenggam erat lenganku. Sambil berpikir keras, “Ini neneknya siapaa?? Ketemu dimana pula?? Perasaan di jama’ah Raihan gak ada nenek ini deh!” batinku.

Karena takut salah, aku bertanya balik ke nenek, “Nenek tadi datang ke sini sama siapa?”

“Tadi bareng jama’ah ke sini.. kita satu rombongan kan?!” jawab nenek optimis. Denger jawaban optimis nenek, aku makin bingung. Sempet kepikiran “Apa aku yang lupa ingatan yah kalau nenek ini emang salah satu jama’ah Raihan.. tapi, jama’ah Raihan yang berangkat cuma 21 orang dan cuma ada 2 nenek disana dan gak ada nenek ini di rombonganku.” batinku.

Posisiku bener-bener membingungkan. Satu sisi lagi jaga mama yang sedang sholat, satu sisi sang Nenek masih memegang lenganku dengan erat dan berharap kalau aku benar-benar rombongannya dan kami bisa kembali ke rombongan bersama-sama (padahal seingatku kami gak serombongan.. kami beda travel). Untuk memastikan kembali apakah nenek ini satu jama’ah denganku atau tidak, aku menanyakan apa ada ID card atau tanda jama’ah milik nenek. Dan ternyata sang nenek gak memakai atribut jama’ahnya.. ya Allah… makin bingung deh! Akhirnya pertanyaan pamungkasku adalah menanyakan hotel tempat nenek menginap. Begitu nenek menyebutkan nama hotelnya, ternyata hotel yang berbeda denganku. Dengan penuh kehati-hatian dan berusaha supaya nenek gak kecewa, akhirnya aku bilang kalau kami beda rombongan. Aku minta agar nenek mengingat lagi atribut apa yang dikasih dari travel nenek, kemudian lihat siapa tahu ada jama’ah yang memakai atribut yang dimaksud. Dengan berat hati aku bilang gak bisa antar nenek untuk cari, karena aku sedang memborder mama dan khawatir makin menyesatkan nenek karena aku gak tau kota Madinah selain masjid dan hotelku. Mendengar kalimatku, kemudian nenek melepaskan genggamannya perlahan dan pergi. Aku melihat guratan kekecewaan di wajahnya… bisa jadi kecewa karena aku bukan rombongan travelnya, bisa jadi juga karena aku tidak bisa antar beliau mencari rombongannya. “Ya Allah, mudahkanlah sang nenek untuk bertemu dengan rombongannya.” pintaku di Raudhoh. 🙂

Di Raudhoh, aku ulangi lagi permohonanku “Allah…aku ingin ketemu Emak di rumahMu..”

Posted in Pulang ke Rumah Allah

Tiga Hari Bersama Rasulullah #2

Hari pertama menjalani ibadah di kota Rasulullah menjadi awal dimulainya petualangan hati. Walau kondisi fisik sedang demam, gak mengurangi rasa deg-degan, senang, penasaran yang bercampur aduk! Udah pasrah aja dengan apapun yang  akan terjadi di kota ini. Mengingat datang dengan beban dosa yang  menumpuk, hati yang hampir letih dengan ujian tiada henti, rasanya perjalanan Umroh ini menjadi hadiah dan liburan dari Allah buat aku. Kalaupun terjadi sesuatu, baik itu kejadian baik atau buruk bahkan akan tetap diambil hikmahnya dan akan tetap dihadapi sembari melatih kesabaran 🙂

Aktivitas di hari pertama di kota Rasulullah diawali berkunjung ke Makam Rasulullah dan Makam Baqi’. Seperti kata Ustadz Abur (Abu Robbani .red) “Perbanyak Sholawat saat di kota Rasul..apalagi ini mau berkunjung ke rumahnya.” Jadi sepanjang jalan dari Hotel menuju Masjid Nabawi aku baca sholawat. Begitu tiba di gerbang yang berhadapan langsung dengan Kubah Hijau, kemudian jalan mendekat.. rasanya deg-degan banget… “Ini kita mau namu lho di rumah Rasul..” rasanya campur aduk.. deg-degan, malu, segan, tapi pengen banget masuk 😀

Ketika tiba di area dekat dengan Kubah Hijau, Ustadz Abur menceritakan sedikit kisah tentang Rasulullah.. tentang bangunan Kubah dan gambaran apa yang harus kami lakukan ketika “bertamu” di rumah Rasul. Saat itu, aku mulai memberanikan diri memandang Kubah Hijau itu.. memandangnya tiada henti..  seperti ada panggilan dari hati untuk terus memandang Kubah Hijau tersebut. Setelah Ustadz Abur selesai bercerita, kami mulai melangkahkan kaki untuk “bertamu” ke rumah Rasul.

Seperti yang diceritakan Ustadz Abur, Makam Rasul dan Rumah Rasul itu jaraknya dekat, bahkan bersebelahan.. Siti Aisyah r.a. yang mendiami rumah Rasul pasca Rasulullah wafat. Kemudian ketika Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. wafat dan dimakamkan di sebelah Rasulullah, Aisyah tetap tinggal disitu, karena Abu Bakar adalah ayahnya. Lalu Umar bin Khattab r.a. pun meminta izin kepada Aisyah agar ketika meninggal nanti, beliau dimakamkan di sebelah Rasul. Dan ketika Umar wafat, Aisyah memberikan tabir (pembatas) antara area makam dengan rumahnya.

Area pemakaman terbatas untuk dikunjungi. Pada saat itu hanya golongan Ikhwan saja yang boleh masuk ke area pemakaman, sedangkan kami rombongan akhwat hanya bisa masuk ke Raudhoh (rumah Rasul). Melalui pintu yang berbeda, rombongan kamipun terbagi menjadi dua.

Pintu menuju Raudhoh untuk akhwat letaknya dekat dengan area Makam Baqi’. Disanalah Aisyah r.a., Fatimah r.a. dan para pejuang syahid dimakamkan. Waaah… rasanya makin campur aduk begitu tau kalau disana ada makam 2 idolaku! Sejak mengenal Islam (pakai jilbab) waktu SMA, aku sangat mengidolakan sosok Aisyah. Karakternya yang kuat, cerdas, mudah bergaul namun tetap terjaga.. Sangking mengidolakannya sampai-sampai waktu pembuatan Jaket Himpunan, nama Aisyah yang aku pilih sebagai identitas kalau itu jaket milikku. ^__^

Sedangkan sosok Fatimah r.a. yang aku idolakan adalah sosok anak perempuan yang begitu cinta kepada ayahnya. Anak yang santun, pandai menyenangkan hati ayahnya, telaten menggantikan posisi ibunya (Khadijah r.a.) saat sang ibunda telah wafat. Bahkan Fatimah kecil berani membela sang Ayah saat sang Ayah dilempari kotoran dan batu dalam perjalanan da’wahnya. Kalau aku bandingin, rasanya jauuuuh banget! Aku ajah kalau dititipin papa saat mama pulang ke Balikpapan rasanya kelabakan! Gak tau selera makan papa, gak tau pantangan makanan papa apa, papa sukanya apa, pokoknya parah banget! Yaa.. sering aku berpikir mungkin ini karena sejak kecil bahkan sebelum lahir hingga saat ini aku jarang banget satu atap (tinggal) lama dengan papa. Papa yang kerja di lapangan membuat papa selalu berada di luar kota dalam waktu yang lama. Kalau dulu papa 2 minggu di lapangan dan 1 minggu off, sekarang (sampai detik ini bahkan) papa dikenal dengan julukan PJPA (Pergi Jum’at Pulang Ahad). Makanya mendekati kelulusan, aku pernah minta sama Allah buat fokus jadi anak papa dengan tinggal di Mundu. Bertukar peran dengan mama untuk menyiapkan kebutuhan makan dan mengurus rumah dinas papa disana.

Selain sosok anak perempuan yang sayang kepada Ayahnya, Fatimah r.a. aku idolakan karena pandai menjaga isi hatinya dan memiliki keikhlasan dan ketaatan yang luar biasa kepada suaminya.. Sebelum menikah, beliau jatuh cinta kepada Ali bin Abi Tholib r.a., tapi beliau tidak menunjukkan rasa itu kepada Ali. Beliau tetap menjaga dan mempertahankan kehormatannya sebagai muslimah. Beliau hanya mencurahkan perasaan itu kepada Allah semata. Bahkan dari kisah yang pernah aku baca, sangking rapatnya beliau menjaga isi hatinya, sampai-sampai syaitan tidak tahu kalau beliau cinta banget sama Ali. Allah menutup rapat-rapat tabir hati itu dari belenggu syaitan! Subhanallah… dan Allahu Akbar, beliau memang ditakdirkan hanya untuk Ali. Menjadi pendamping hidup dunia akhiratnya Ali. Yaa…memang kalau segala urusan diserahkan dan dipasrahkan ke Allah, insha Allah endingnya akan manis sekali. Itulah wujud ketaqwaan seorang hamba kepada Tuhannya (seorang muslimah terutama). 🙂 🙂 🙂

Pokoknya rasa mimpi bisa berada di dekat Makam Baqi’! Sayangnya makam ini tertutup untuk kalangan akhwat, untuk menghindari “ratapan”, mengingat kondisi psikologis rata-rata akhwat yang terlalu perasa. 🙂  Tapi walau gak boleh masuk ke pemakaman Baqi’, rasanya gak berubah! Tetap senang! Dari buku kisah Fatimah r.a. yang aku baca, Rasulullah pernah bilang “Siapa saja yang menziarahi makam Fatimah, seolah-olah dia menziarahi aku. Siapa saja yang mencintai Fatimah, maka dia berarti juga mencintai aku.” Jadi hari ini dapet dobel! Memandang Kubah Hijau dan merasakan wisata hati ziarah ke Makam 2 idolaku! Subhanallah! Allahu akbar!

Dan sepanjang jalan menuju Raudhoh disisipi dengan ucapan salam “Assalamu’alayka yaa Rasulullah… Assalamu’alayka yaa ahli Qubur..” 🙂

Posted in Nasib Gadis di Rantau Orang

Pengujian Jalan

Uti: “Duh, sebenarnya gw males banget kalau kepilih buat ikut pengujian di Surabaya..”

Kiya: “Huiiiy.. asik donk bro ke Surabaya! Jalan-jalan! Ahahaha…” XD (ekspresi senang tanpa tau jenis pengujian apa yang dilakukan :p ) “Eh, lu pengujian apa sih?”

Uti: “Lu pikir gw hepi apa ke Surabaya?! Gw pengujian jalan, dudul!”

Kiya: “Haaaaa…. I see… hehehe..” (udah gak bisa komen, karena tau pasti bakal menderita banget disana, wekekekk…)

Uti: “Bayangin donk puasa-puasa gini, gw harus pengujiaaaaann!!! Dengan partner dominan pria yang mending kalau bisa kerja, kalau ndak? Mending kalau bisa di-bully, kalau ndak?? Berasa gw yang ngerjain sendiri! Huwee… brasa mau mati ajah gw pengujian di siang bolong!” (nasib cewek lulusan Sipil :p)

Kiya: “Tapi kan enak, bro! Lu pengujian kan dibayar.. setaralaah jerih payah lu disana dengan bayarannya.. beda sama gw… swasta mah mau lu dinas kemana juga atau pengujian kemana juga yaa that’s part of your job! Gak ada penghasilan tambahan,cuy! Hehehe..”

Uti: “Iyaa siih…ada penghasilan tambahan.. Tapi bo’ yaa jangan bulan puasa tooh! Mana peralatan yang bakal dipake berat-berat semua lagi! ”

Kiya: “Hueee.. justru disitu bro tantangannya! Paling pengujian cuma 1 kilometer..”

Uti: “1 kilometer dari Hongkong! Berkilo-kilo meter, cuy!”

Kiya: “Ahahaha.. iya, iya.. maap,maap!” :p  “Tapi kan yang penting dibayar, bro! ayolah semangat!”

Uti: “Iyaa siih.. dengan uang itu aku bisa membeli berpuluh-puluh es teh manis untuk buka puasa.” XD

Kiya: “hahaha.. betul sekali!” (heu…aneh bener ni anak! Kok motivasinya es teh manis! Heuheu… (-__-“) )

Kiya: “Eh, beidewei, pengujian jalan yang lu lakukan itu jalan buat jalur mudik bukan?”

Uti: “Iyah… rencananya jalanan yang gw uji itu nantinya dipakai buat jalur mudik. Makanya sebelum dipakai jalur mudik diuji dulu..”

Kiya: “Nah! Harusnya lu bersyukur donk bro kalau lu dikirim ke Surabaya! Gila! Jasa lu dipakai sama jutaan manusia pemudik jalur Jawa Timur! Kalau pengujian lu sukses kan berapa banyak nyawa yang selamat tiba di kampung halamannya?!! Itu berkat jerih payah lu! Bayangkan bro! pahala lu gede banget! Apalagi ini bulan Romadhon! Berkali-kali lipat pahala yang lu dapet disamping uang tambahan dari departemen tentunya! Mantap, gan!” (ekspresi berapi-api semangat 45 XD )

Uti: “Haaa… iya yah! Bener lu! Tapi.. nah itu dia, ya! Gw tuh takut kalau-kalau karena pengujian gw ada kejadian-kejadian yang tidak gw inginkan dari para pemudik itu…”

Kiya: “Makanya, pengujiannya dikerjain dengan bener donk! Biar peluang itu gak terjadi!”

Uti: “Iya, iyaa! Kita lihat saja apa gw kepilih buat ikut pengujian atau ndak.”

Kiya: “Sip,sip! Smangat!” …. “Asiikk… kalau lu pengujian, gw dapet traktiran dooonk… hihihi…”

Uti: “Hahahaha… dasar kau! Iya, iya.. gw traktir lu di tempat seperti biasa.. pas buka puasa.”

Kiya: “Asiikk… Soto Kudus Daging Nasi Pisah sama Lemon Panas yo! Hihihi…”

Uti: “Siipp!! Beres itu! Asal lu datang dengan membawa Papa Bread isi Green tea buat gw! Hahahaha…”

Kiya: “Ealaaah… itu mah namanya barter! Heuheu..” (-__-“)

Uti: “Hahahahaha….” :p