Posted in Cerita Hidup, Nasib Gadis di Rantau Orang

Cerita dari Gedung Tinggi Kota Jakarta

Demo kemarin bikin suasana ngantor jadi deg-degan.. takut macetlah, takut rusuhlah, takut apalah dll dst etc… tanya ke teman-teman kosan jadwal demo jam berapa ajah, bisi pas ngantor kejebak macet.. yaa walo kantor dan kosan dalam perjalanan lancar itu cuma butuh 15 menit, tapi kalau udah macet, masha Allah.. bisa nyampe 1 jam ke kantor! >__<

Tapi berangkat kerja kemarin alhamdulillah lancar-lancar ajah.. berasa ga akan ada kejadian apa-apa.. tapi bedanya beberapa hari ini kopaja gak terlalu rame penumpang.. yaa bisa dihitung adalah 2-3 kali saya dapet tempat duduk di kopaja (biasanya gelantungan, hihihi) :p   Tiba di kantor, saya tanya-tanya ke Pak Satpam perihal jadwal demo.. kata Pak Satpam demo baru mulai ba’da jum’atan..

Jelang pukul 2 siang, tiba-tiba saya dapat sms dari sahabat saya, Fitrasani, yang bilang kalau dia dipulangkan setengah hari dari kantor.. Kebetulan kantornya bertempat di Pertamina Pusat, deket Monas.. Punya kantor yang akses masuknya bisa dari Gatsu dan Sudirman bikin deg-degan juga sebenarnya.. tapi alhamdulillah sekuriti Kawasan SCBD sudah siap siaga jika sewaktu-waktu massa melebar masuk ke kawasan.. Jadi demo di Senayan benar-benar gak berasa dari kantor..

Saya cari-cari informasi mengenai kondisi Jakarta hari ini.. Ternyata Busway Koridor IX tidak beroperasi, jalan menuju senayan ditutup, bahkan akses tol kota yang melewati Gedung MPR DPR juga ditutup,, lalu saya lihat suasana jalanan dari lantai 15 gedung kantor yang mengarah ke jalan Gatot Subroto.. aseli… sepi!

Ingat Busway Koridor IX saya tiba-tiba teringat sahabat saya Zia! Rumahnya kan di daerah Slipi Jaya dan kantornya di Kemen LH.. Akses jalan zia yaa Jalan Gatot Subroto! Langsung saya samber HP, sms zia.. nanya dia naik apa pulang ke kantor, dia lagi dimana.. smsnya lamaaa banget dibalesnya.. bikin saya makin deg-degan.. lalu zia balas, “Aku bawa mobil, emangnya jalanan ditutup yah ky?” Aduh! Tepok jidat deh! Zia gak tau suasana Jakarta hari ini.. yasudah, saya kasih info aja mengenai kondisi jalan ke rumah dia.. Saya juga tawarkan kalau-kalau dia gak bisa pulang, dia belok aja ke kosan saya lewat Kuningan.. dan lagi-lagi zia belum membalas..

Hari semakin sore, beberapa kantor sebenarnya sudah memulangkan karyawannya.. tapi kantor saya masih pada kerja, hehehe.. Saya masih menunggu balasan sms dari Zia.. apa dia pulang cepat juga atau ga, karena jalan menuju rumahnya total ditutup. Saya telepon juga gak diangkat.. makin khawatirlah saya.. tapi yasudahlah, mungkin Zia lagi nyetir, bisi ganggu.. Saya memilih untuk menunggu telepon atau sms dari Zia..

Jelang pukul 6 sore, saya baru pulang dari kantor. Jalanan sepii… Jalan Gatot Subroto sepi.. Jalan Sudirman yang sebagai akses saya pulang ke kosan yang biasanya macetnya minta ampun juga lumayan sepi.. hanya gak sesepi Gatsu.. Walau jalanan sepi dan waktu yang dibutuhkan buat ke kosan juga lebih pendek, tapi aura kota saat itu rasanya tegang.. Kalau kemarin-kemarin ketika saya pulang malam, saya sering banget dengar suara sirine polisi, klakson besar disana sini.. kek mau perang.. Hari Jum’at kemarin berbeda banget.. sepiii.. karena massa terpusat di depan Gedung MPR DPR.

Dalam perjalanan pulang, saya putuskan untuk menelepon Zia lagi.. Eee.. dilalah kok yo pas mau mencet nama Zia, Zia malah nelepon saya.. Alhamdulillah!!! Zia bilang masih di kantor, lagi nunggu 3in1 sampe jam 7 malam.. Zia pilih ke Plaza Indonesia dan EX sebagai tempat transit sambil nunggu kondisi jalan ke rumahnya aman.. Yaa saya cuma bilang kalau dia mau ke kosan yaa monggo.. Setidaknya sore itu saya tahu posisi Zia dimana..

Setiba di kosan, saya berpapasan dengan salah satu teman kosan, Tante Kamida namanya.. Tante bilang beliau dipulangkan jam 4 tadi, tapi teman-temannya yang keturunan Tionghoa udah pulang duluan sekitar jam 2 siang.. Mereka khawatir kejadian 1998 terulang lagi.. diskriminatif antara warga pribumi dan warga keturunan yang bikin efek trauma hingga sekarang. Saya malah jadi ingat cerita salah seorang rekan kerja yang juga turunan Tionghoa.. gimana seramnya kejadian 1998 saat itu buat dia.. Yaa.. semoga kejadian 1998 gak terulang lagi untuk warga Indonesia dari etnis manapun, aamiin!

Jam 9 malam saya sms Zia lagi, memastikan apakah Zia sudah pulang ke rumah atau belum.. dan lagi-lagi Zia balasnya lamaaa.. tapi alhamdulillah jam 10 malam Zia balas sms saya.. Zia sudah di rumah dengan selamat.. Zia bilang dia datang bersama TNI dan melewati daerah demo… dia bilang seram karena di daerah Slipi Pejompongan banyak polisi… Tapi walau bagaimanapun tetap Alhamdulillah karena Zia sudah di rumah dengan aman.. ^__^

Hari itu juga saya sebenarnya ditelepon papa dan tante.. karena daerah kosan dan kantor dekat sekali dengan pusat demo. Tapi saya bilang Alhamdulillah semuanya aman.. gak ada yang perlu dikhawatirkan walau sebenarnya beberapa hari ini saya juga khawatir sih.. Kalau saya cerita rasa kekhawatiran saya ke salah seorang sahabat saya, dia pasti bilang, “Bukannya ente dulu tukang demo?!” hahahahhaa… kena deh!!! Kalau sudah gitu, saya berdalih saja seperti ini, “Tapi sekarang kondisinya benar-benar berbeda… Kalau waktu jadi mahasiswa dulu kan jadi peserta demo… melihat suasana demo dari sudut pandang mahasiswa, kalau sekarang saya dalam posisi melihat suasana demo dari sudut pandang rakyat biasa, hehehe… :p ”

Tapi apapun itu, saya masih menganggap demo atau aksi sebagai salah satu bentuk perjuangan.. penyampaian aspirasi.. saya sangat menghargai orang-orang yang menjadi peserta demo dengan catatan tidak sampai merusak Fasos dan Fasum.. mereka berjuang agar aspirasi suara mereka didengar.. siapa sih yang mau panas-panasan?? udah itu kehujanan.. haus, laparr, kadang harus bentrok sama polisi dan nasibnya juga gak jelas.. apalagi rakyat miskin.. gak tau besok bisa makan apa gak.. nasib berasa bukan lagi di tangan Tuhan, tapi di tangan penguasa.. huff!

 

Posted in kyky belajar, Mari Membaca

Tips mendukung EARTH HOUR dengan keluarga

Besok lagi kita akan sama-sama melakukan aksi mematikan lampu selama 1 jam untuk mendukung kegiatan EARTH HOUR.. Tadi ibu atasan saya mengirimkan beberapa tips hal-hal yang bisa dilakukan di rumah pada saat lampu dimatikan dari WWF. Bermanfaat banget buat teman-teman yang udah jadi ibu-ibu atau bapak-bapak, hihihi… Berikut tipsnya…

  1. Matikan  lampu,  komputer,  televisi,  video  game,  dan  pemutar  CD.  Nyalakan beberapa  lilin.  Gunakan  waktu  tersebut  untuk  menceritakan  hal-hal  lucu tentang  anak-anak  Anda  ketika  baru  lahir,  tentang  bagaimana  orang  tua awalnya berkenalan, atau mungkin tentang kakek nenek mereka. Bisa juga dengarkan anak-anak Anda  bercerita mengenai pengalaman mereka atau  bagaimana mimpi mereka  untuk mengubah dunia jika mereka bisa.
  2. Ajak  anak-anak  untuk  membuat  makan  malam  menggunakan  bahan-bahan yang bukan hasil impor atau bahkan bahan organik. Makan malam keluarga dengan  menggunakan  cahaya  lilin  akan  membuat  malam  terasa  spesial. Kesempatan ini bisa digunakan untuk membicarakan lingkungan dan hal yang bisa kita lakukan menyelamatkan planet kita.
  3. Ijinkan  anak-anak  Anda  untuk  menyelenggarakan  pesta    “tanpa  lampu” bersama  teman-teman  mereka  sambil  makan  pisang  goreng,  rujak  atau makanan lokal lainnya dengan ditemani cahaya lilin atau senter.
  4. Undang  para tetangga untuk  pesta  “tanpa  lampu”  dan  sajikan  makanan dan  minuman  lokal  dan  tanpa  menggunakan  kantong  plastik  &  styrofoam
  5. Mainkan permainan tebak-tebakan, kartu, atau ular tangga bersama keluarga sambil ditemani cahaya lilin.
  6. Biarkan  anak-anak  Anda  melakukan  penelitian  sebelumnya  mengenai  apa yang dilakukan keluarga pada “masa lampau” sebelum adanya listrik. Apakah akan  seperti Laura Ingalls dalam  “Little House in the Prairie” atau Abraham Lincoln dalam kabin kayu? Bagaimana keluarga  pada masa itu bersenang-senang di malam hari?
  7. Berkemah di halaman rumah dengan kantong tidur ditemani cahaya lilin atau api unggun. Buat minuman teh atau susu coklat panas beserta jagung bakar.
  8. Bermain tebak-tebakan bayangan senter atau berbagi cerita seram.
  9. Pergi keluar rumah atau naik ke atas loteng untuk melihat langit dan bintang.
  10. Ambil foto, video, atau tulis cerita Anda tentang bagaimana keluarga Anda menghabiskan waktu pada Earth Hour dan jadikan foto dan video keluarga anda sebagai inspirasi orang lain dengan mengirimkannya ke halaman social media Earth Hour.

 

Selamat mencoba…. ^___^

Sumber: WWF

Posted in kyky belajar, Mari Membaca

Ajarkan Anak Menjadi Pendengar Yang Baik

oleh Komaruddin Hidayat

Be a good listener,” kata sebuah ungkapan bijak. Nasehat ini sederhana namun sangat berharga dan dalam kandungan maknanya. Ketika punya anak kecil, dengan penuh kasih sayang dan perhatian kita mengajari dia berjalan, makan, berpakaian dan berbicara. Namun hampir tidak terpikir untuk melatih bagaimana agar nantinya dia tumbuh menjadi pendengar yang baik. Di beberapa sekolah pun diselenggarakan lomba berpidato, tetapi tidak pernah ada lomba mendengarkan.

Saya seringkali mengamati dan menghadiri forum di DPR, di perkantoran dan forum ceramah lain, selalu saja ada orang yang ngobrol ketika ada pembicara yang tengah menyampaikan pikirannya. Bahkan mereka asyik ngobrol sendiri. Bagi seorang pembicara, situasi seperti itu sungguh tidak nyaman. Merasa tidak dihargai dan bisa mengganggu konsentrasi.

Pendeknya, ternyata untuk menjadi pendengar yang baik itu tidak mudah, sehingga memerlukan pendidikan dan pembiasaan sejak kecil. Kita semua sependapat, terlebih sebagai guru atau orang tua, pasti akan kecewa ketika berbicara tidak diperhatikan dan didengarkan dengan baik. Tetapi, pernahkah secara sadar dan sistimatis kita mendidik anak-anak menjadi pendengar yang baik?

Mendengarkan secara baik, sesungguhnya juga mengasah kecerdasan dan daya ingat. Lebih dari itu, menjadi pendengar yang baik berarti kita membuka telinga, hati dan  pikiran untuk menerima dan menghargai martabat kemanusiaan lawan bicara. Ada sebuah kisah yang menarik betapa menjadi pendengar secara tulus itu bisa menyelamatkan nyawa seorang teman dan merubah jalan hidupnya.

Di sebuah sekolah, ada seorang siswa yang sangat disayang oleh teman-temannya karena dikenal sebagai pendengar yang baik dan tulus. Sebut saja Ani namanya. Teman-temannya merasa aman dan nyaman curhat kepadanya. Suatu hari Ani tidak melihat teman karibnya, sebut saja Anna, masuk sekolah, sehingga dia sengaja mampir ke rumahnya sepulang sekolah. Setelah puas ngobrol Ani pulang ke rumah. Setelah itu aktivitas belajar dan persahabatan berlangsung seperti biasa, tak ada yang istimewa.

Namun setelah sekian tahun berselang dan keduanya sudah menjadi sarjana serta memiliki pekerjaan yang mapan, Ani dibuat kaget ketika suatu saat Anna datang ke rumah memberi hadiah mobil baru untuk Ani. Setelah panjang lebar ngobrol, Anna akhirnya bercerita dia melakukan hal yang diluar dugaan Ani. Bahwa dia sewaktu SMU hampir saja bunuh diri karena tidak tahan menanggung beban hidupnya. Di saat hendak bersiap bunuh diri itulah Ani berkunjung ke rumah dan Anna pun kemudian curhat pada Ani yang dia kenal sebagai pendengar yang baik dan tulus. Sebagai tanda terima kasih padanya, Anna yang kemudian sukses hidupnya lalu memberikan hadiah mobil padanya.

Sekarang ini rasanya orang lebih senang dan pandai berbicara, berteriak dan mengkritik, tetapi belum tentu bisa menjadi pendengar yang baik. Kita lupa, salah satu sifat Tuhan pun Maha Pendengar. Dulu sewaktu masih sekolah di SD saya senang kalau ada pelajaran “mencongak”. Ibu Guru melatih murid untuk mendengarkan, tidak boleh pegang pulpen. Kelas hening, suasana meditative. Lalu Bu Guru memberi soal berhitung secara lisan, sejak dari yang paling mudah lalu berkembang agak panjang dan susah. Setelah dianggap cukup mencerna soal, anak-anak dianjurkan pegang pulpen untuk menuliskan jawabannya.

Lain kali mencongak itu berupa menulis ulang apa yang diucapkan Ibu Guru, dimulai dari kalimat pendek sampai yang panjang. Bahkan satu paragraf pendek. Adakalanya Ibu Guru hanya sekali mengucapkan, dan ada yang sampai tiga kali. Dengan metode ini kami dilatih untuk memperhatikan wajah dan bibir Ibu Guru, tempat keluar kata-kata. Mata, telinga dan pikiran fokus memperhatikan apa yang diucapkan, lalu kami menuliskan di atas kertas. Dengan metode ini kami dilatih untuk menjadi pendengar yang cerdas, teliti dan penuh empati.

Kesan saya sebagian politisi di DPR tidak memiliki ketrampilan dan mental sebagai pendengar yang baik. Kalau ada sidang, mereka senang bertanya dan menyoal, setelah itu pergi, atau ngobrol, atau asyik mempermainkan hand-phone. Ada juga beberapa pejabat tinggi yang dikenal maunya didengarkan, tetapi enggan mendengarkan. Hal ini mungkin dianggap sepele, tetapi bagaimana etika mendengarkan lawan bicara, dalam pergaulan internasional sangat vital. Juga dalam pergaulan sehari-hari. Mari kita belajar sambil mengajari anak-anak kita “to be a good listener”. Dan itu memerlukan ketulusan dan kelapangan hati

 

Sumber: Tips Untuk Guru dan Orang Tua

Posted in Melancholische Seite

just write-10

Usaikan kisahku

letih ku arungi hidup

tak dapat ku pilih

karena aku tlah kehilangan hak untuk memilih…

 

Namun ringankanlah

kakiku untuk melangkah

Tak ingin sakiti

lebih baik ku tinggalkan semua

sendiri lagi…

 

Jika detak jantungku berhenti

hilang semua cemas hati

dalam hati biru ku bertanya…

 

Jika dapat aku memilih

cinta mana yang ku pegang

jauh jika ku gapai hatimu…

Posted in kyky belajar, Mari Membaca, Melancholische Seite

Hakikat Kehidupan -by Hasan Al Banna

Untuk hati yang sedang bingung,,, Untuk jiwa yang sedang hampa…

Selamat membaca 🙂

——————————————————————————————————————————————————————-

oleh Hasan al-Banna
Pada awal suatu tahuh saya pernah berkata kepada seseorang, “Berilah aku cahaya yang dapat aku jadikan pelita dalam menelusuri alam kehidupan yang ghaib dan majhul ini. Karena saya dalam kebingungan”. Lalu orang itu menjawab, “Letakkanlah tanganmu di tangan Allah, niscaya Dia akan menunjukkan ke jalan yang lurus”.

Dan di sebuah persimpangan jalan berhentilah seorang musafir kelana yang berjalan mengarungi padang kehidupan. Ia menoleh ke belakang melihat jauhnya perjalanan yang harus ditempuhnya lagi.

Wahai orang yang sedang kebingungan di padang kehidupan, sampai kapankah engkau hidup dalam petualangan dan kesesatan. Padahal di tanganmu ada pelita yang bersinar cemerlang.

“Telah datang kepadamu Cahaya dan Kitab yang terang dari Allah. Allah membimbing dengannya. Siapa yagn mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan membawa mereka dengan izin-Nya keluar dari kegelapan menuju cahaya. Menunjuki mereka jalan yang lempang”. (QS : Al-Maidah : 15-16)

Wahai orang-orang yang kebingungan, yang telah letih dan kehilangan haluan, hingga tersesat jalan dan menyimpang dari jalan yang lempang, sambutlah oleh panggilan Allah Azza Wa Jalla.

“Wahai hamba-hamba-Ku ya g melanggar batas hingga merugikan diri sendiri, janganlah berputus asa rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni segala dosa, karena Ia Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan kembalilah kepada Tuhanmu, berserahlah kepada-Nya, sebelum datang kepadamu siksaan. Sebab sesudah itu tiada beroleh pertolongan.” (QS : Az-Zumar : 53-54)

Dan nantikanlah sesudah itu ketenteraman jiwa, balasan yang baik dan ketenangan hati.

“Dan orang-orang yang setelah melakukan perbuatan keji atau menganiaya dirinya sendiri, ingat akan Allah dan memohon ampun atas segala dosa-dosanya. Dan siapakah yagn memberi ampun atas segala dosa kecuali Allah? Dan tiada meneruskan perbuatannya karena mereka sadar. Bagi mereka balasannya ialah ampunan dari Tuhannya.Dan surga-surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai. Mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya . Alangkah nikmat pahala orang yang beramal”. (QS : Ali Imron : 135-136)

Wahai saudara yang sedang penat dan letih, yang tersungkur di bawah tindihan beban noda dan dosa, kepadamu kusampaikan bisikan kata bahwa pintu ampunan Tuhanmu luas terbuka. Dan ratap tangis orang yang bersalah lebih disukai daripada doa orang yang patuh.

Duduklah engkau di malam suny, berbisik kepada Ilahi, menghadap dengan sepenuh hati. Teteskanlah air mata penyesalan dan kesedihan, ucapkanlah kalimat istighfar dan kata taubat. Semoga Allah mengapuskan semua noda dan dosamu dan mengangkat tinggi derajatmu. Dan semoga pula engkau menjadi orang yang didekatkan kepada-Nya.

Rasulullah bersabda :

“Semua anak Adam pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah ialah yang bertaubat”. (HR :Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim dan Darimi)

Firman Allah Ta’ala :

“Sungguh, Allah cinta orang yang taubat.Dan cinta orang yang bersuci diri”. (QS : al-Baqarah : 222).

Alangkah dekatnya Tuhanmu kepada dirimu, sedangkan engkau tak mau mendekati-Nya. Alangkah cintanya Dia kepadamu, sedangkan engkau tak mau mencintai-Nya. Alangkah besarnya kasih sayang-Nya kepadamu, sedangkan engkau melupakan kasih-sayang-Nya. Sesungguhnya Ia telah berkata dalam hadist :

“Aku menuruti keyakinan hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku selalu menyertainya bila ia mengingat-Ku. Maka jika ia mengingat Daku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya didalam diri-Ku, dan jika dia mengingat-Ku ketika dia sedang berada di tengah-tengah khalayak ramai, niscaya Kuingat dida di dalam kumpulan orang yang lebih baik daripada mereka itu. Bila ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan bila ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka aku mendekat sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari”.(HR : Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Dan dalam hadist qudsi yang lain :

“Wahai anak Adam! Berdirilah engkau untuk mendekati Aku niscaya Aku akan berjalan mendekatimu, dan berjalanlah untuk mendekati-Ku niscaya Aku akan berlarimendekatimu”. (HR : Ahmad).

Rasulullah Shallahu alaihi wassalam bersabda :

“Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla membuka tangan-Nya pada waktu malam, supaya bertaubat orang yang melakukan kesalahan pada siang hari, dan Ia membuka tangan-Nya pada waktu siang supaya bertaubat orang yang melakukan kesalahan pada malam hari. Begitulah hingga matahari terbit dari barat.” (HR : Muslim).

Yang demikian itu menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang melebihi kasih ibu kepada anak tunggal yang disayanginya.

Firman-Nya :

“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”. (QS : al-Hajj : 63)

Barangsiapa yagn mengerti hakikat waktu, maka ia telah mengetahui nilai kehidupan, sebab waktu adalah kehidupan.

Ketika roda zaman berputar, melintasi tahun-tahun kehidupan untuk menyongsong tahun yang baru lagi, kita berhenti di persimpangan jalan. Dan alangkah perlunya pada kesempatan yang hanya sebentar ini. Kita melakukan koreksi diri terhadap masa-masa lalu dan menilikkan pandangan ke depan sebelum datangnya hari hisab (perhitungan). Karena hari perhitungan itu pasti datang.

Saat masa berlalu, kita hanya bisa sesali dosa-dosa. Maka, kita perlu mengatur langkah sebaik-baiknya agar tak tergelincir lagi. Kita luruskan yang bengkok, dan kita kejar yang terluput. Senyampang masih ada kesempatan, senyampang masih ada umur.

Dan untuk menghadapi masa yang akan datang, kita buat persiapan berupa hati yang bersih, niat yang suci, dan kemauan yang kuat untuk melakukan kebijakan. Al-Qadhi Abu Nashr Muhammad bin Wad’an meriwayatkan dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallahu alaihi wassalam bersabda dalam satu khutbahnya :

“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu mempunyai rambu petunjuk jalan, karena itu ikutilah petunjuk (rambu-rambu), dan kamu mempunyai batas, karena itu berhentilah pada batas akhirmu. Sesungguhnya orang mukmin itu berada diantara dua ketakutan, antara waktu yang telah lampau di mana ia tidak tahu apa yang diperbuat Allah terhadap dirinya dalam waktu yang lampau itu, dan antara waktu yang masih tersisa di mana ia tidak tahu apa yang ditetapkan Allah dalam sisa waktu (usianya) itu. Karena itu, hendaklah seseorang hamba memanfaatkan dirinya dengan sebaik-baiknya demi keselamatan dirinya sendiri nanti, menggunakan kehidupan dunianya sebaik mungkin demi untuk kepentingan akhiratnya, menggunakan masa mudanya sebelum datang masa tuanya, dan memanfaatkan masa hidupnya sebelum ajalnya tiba. Demi Dzat Allah, yang jiwa Muhammad bearda di tangan-Nya, sesudah kematian tak ada kepayahan, sesudah kehidupan dunia tak ada kehidupan, melainkan surga atau nereka”.

Maka :

“Tiada suatu hari pun yang fajarnya menyingsing melainkan Ia berseru : “Wahai anak Adam! Aku adalah makhluk yang baru, dan Aku menyaksikan segala amal perbuatanmu, maka ambillah bekal dari pada-Ku, karena sesungguhnya Aku tidak akan kembali lagi hingga datangnya hari kiamat nanti”. (HR : Abu Nu’aim).

Wahai saudara-saudaraku yang telah letih, yang tersungkur di bawah tindihan noda dan dosa-dosa, janganlah anda berputus asa dan jangan pula putus harapan. Inilah saat pengampunan yang datang bersamaan dengan datangnya tahun baru hijriyah. Tinggalkanlah segaka kemaksiatan dan dosa, menuju kehidupan baru yang lebih bersih.

Sumber: Era Muslim

Posted in Cerita Hidup, Sein Seit

Just write- 9

Ketika aku kurang membuka diri dengan datangnya ibrah dan pelajaran

Logikaku terlalu banyak bermain

Hingga nurani tidak tersentuh..

Keringlah hati jadinya

Itulah yang menyebabkan terjadinya

Mad scientist…

(sbejuzb)

 

vielen dank…

Posted in Berbagi Tidak Merugi, Mari Membaca

Kisah Seorang Pengrajin Seni

Cerita ini diinspirasi oleh kisah nyata seorang gadis, sebut saja namanya Nila. Cerita bagaimana sebuah nadzar yang ia ambil untuk berqurban di tengah-tengah keterbatasan ekonomi yang ia miliki menjadi penolong jalan hidupnya.

Keseharian Nila bekerja sebagai seorang pengrajin dan pekerja seni. Dia ingin sekali memberikan sesuatu kepada orang yang dianggapnya sangat berharga. Karena dia seorang pengrajin, maka dia ingin memberikan suatu karya dari tangannya sendiri untuk orang tersebut. Orang yang dianggap sangat berharga baginya ini akan pergi merantau ke negeri orang. Nila bingung akan memberikan apa sebagai bentuk kenang-kenangan dan penghargaan buat orang tersebut. Walau dia seorang pengrajin, tetapi kemampuannya terbatas, pengetahuannyapun gak terlalu luas. Sampai suatu ketika hari dimana orang yang dianggapnya sangat berharga itu pergi. Nila memberanikan diri untuk bertanya apa yang beliau inginkan untuk keperluan beliau di rantau orang. Beliaupun hanya berkata “ndak perlu sesuatu yang mahal, asal itu buatan tangan Nila itu sudah cukup buat saya.” Sampai orang tersebut pergi, Nila tidak berhasil membuat suatu apapun. Dan Nila berjanji kepada dirinya sendiri suatu hari akan mengirimkan hasil karyanya untuk beliau tersebut.

Sampai suatu ketika Nila kepikiran untuk membuat suatu prakarya sulaman. Nila hanya berpikir kalau di negeri orang pasti jauh lebih dingin dari di Indonesia. Terinspirasi dari film-film Korea yang saat itu lagi booming merambah layar kaca. Salah seorang temannyapun bertanya apa yang akan dia buat, dan Nila bilang, “Saya mau buat itu lho, sulaman kayak dipakai di pilem-pilem Korea. Yang dililit-lilit kalau lagi kedinginan..”

Walaupun dia seorang pengrajin, tapi menyulam adalah hal yang baru baginya, jadi butuh proses yang cukup lama untuk membuat sulaman itu menjadi karya yang apik.

Di tengah-tengah Nila sedang bersusah payah menyulam, temannya lagi-lagi nyeletuk, “Emang mau kamu kirim kapan? Jangan-jangan pas kamu kirim, sulamannya gak kepake karena disana udah musim panas!” Mendengar celetukan temennya sambil tertawa. Nila baru nyadar kalau di negeri orang itu gak selamanya dingin.. ada musim kemarau juga yang panas.. yaa mungkin panasnya sebelas duabelas lah sama pesisir pantai.. “Yaaah.. bisa-bisa sulamannya gak bermanfaat sama sekali yah!” keluh Nila. Tapi yaa namanya sudah janji, Nila tetap berusaha menyelesaikan sulamannya tepat waktu.

Hampir selesai sulaman, Nilapun mampir ke Kantor Pos, buat nanya kalau kirim paket berapa harganya. “Astaghfirullah! Hampir satu juta ya, Pak? Gak bisa kurang yah, Pak?” tawar Nila. “Yaah, neng, emangnya ini pasar bisa tawar-tawar… Biaya kirim ke Jakartanya saja sudah mahal, apalagi kirim ke luar negeri…” tutur Bapak Pos. Dengan setengah putus asa, Nila meninggalkan Kantor Pos.

Sedikit demi sedikit Nila mulai menabung… Penghasilan pengrajin dan pekerja seni saja tidak seberapa, hanya cukup untuk makan sehari-hari, itu sudah penuh syukur banget. Tapi karena sudah janji, Nila sedikit demi sedikit mengumpulkan tabungannya agar bisa mengirimkan karyannya untuk orang yang dianggapnya berharga tersebut.

Hari-haripun berlalu, uang yang dikumpulkan mulai terpenuhi. Tetapi Nila tetap belum bisa mengirim karyanya. Hari Raya Idul Adha ternyata tinggal menghitung hari.

Nila mengalami dilema. Dulu sebelum Nila bekerja, dia pernah bernadzar kalau dia sudah bekerja, dia akan berqurban jika Idul Adha tiba. Sebagai bentuk syukurnya sekaligus latihan diri untuk terbiasa menyisihkan penghasilannya, berapapun, untuk berqurban. Sekarang, Idul Adha sebentar lagi, uang yang terkumpul hanya bisa untuk mengirim karya, sedangkan harga 1 ekor Kambing saja sudah mencapai satu juta. Kalau qurban sapi bisa bertujuh orang, tapi kalau dikalkulasi jatuhnya bisa lebih dari harga 1 ekor Kambing.. Sedangkan kalau Kambing hukumnya hanya untuk satu orang, gak bisa bayar cuma setengahnya. Sudah gak punya uang lagi untuk bisa memenuhi dua janji. Kebutuhan sehari-hari dari penghasilan yang ada saja tidak akan bisa memenuhi kebutuhan biaya qurban sekaligus kirim karya. Bingung!

Di tengah kebingungannya, Nila mengambil Qur’an untuk tilawah.. sejenak menenangkan diri.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Itulah salah satu kutipan ayat yang tak sengaja dia baca ketika sedang dalam kebingungan. Surah Muhammad ayat 7 menjadi pencerah hatinya dan peneguh langkahnya dalam mengambil keputusan. Menolong agama Allah untuk mendapat pertolongan Allah. Dalam Al Fatihah juga dijelaskan,

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (Q.S. Al-Fatihah: 4)

Bahwa menyembah Allah dulu, mengutamakan ibadah terlebih dahulu, mengutamakan agama Allah dulu, baru mengharap pertolongan Allah. Mengutamakan Allah di atas kepentingan pribadi dan duniawi. Akhirnya Nila memutuskan untuk menggunakan uang yang terkumpul untuk memenuhi janjinya ke Allah untuk berqurban. Rencana mengirimkan karyapun dia tangguhkan.

Dengan ringan hati, Nila melangkahkan kakinya menuju salah satu lembaga zakat untuk menyalurkan dana qurbannya. “Hanya satu ekor kambing dengan harga paling murah yang bisa saya berikan, ya Allah.. semoga Engkau ridho dan menerima ibadah saya..” bisik batinnya.

Selang beberapa hari kemudian, Nila dipanggil salah seorang tetangganya yang juga pekerja seni. Ibu Tetangga yang dikenal dengan nama Ibu Sri ini adalah seorang pemilik sanggar kesenian Jawa.“Nduk, kamu mau yaa bantuin aku buat acara pentas nanti di Bank Indonesia..” pinta Ibu Sri. Mendengar permintaan Ibu Sri, Nila menerima tawaran tersebut, apalagi pentasnya di Bank Indonesia.. ke Jakarta berarti itu! Huiih! Jalan-jalan ke Bank Indonesia! Kapan lagi bisa masuk ke Gedung Bank Indonesia?! (karena emang gak ada keperluan sih buat sekedar main kesana buat Nila, hehehe..) “Mau, bu! Saya mau bantu Ibu buat pentas nanti!” jawabnya girang.

Ketika hari keberangkatan menuju Jakarta tiba,  Ibu Sri meminta Nila untuk membantu menyiapkan segala macam keperluan untuk pentas. “Ini aku bekelin uang 5 juta. Kamu berangkat duluan, bareng anak-anak pentas. Aku masih ada keperluan yang harus diurus. Kita ketemu di Gedung Bank Indonesia nanti yaa..” kata Ibu Sri.

“Oiya, jangan lupa KaTePe-KaTePe semua rombongan kamu kumpulin, fotokopi jadi satu, buat data ke panitia di Gedung BI. Disana penjagaannya ketat, jadi ndak bisa slewar slewir sembarangan. Kamu urus semua kebutuhan anak-anak pentas yaa.. makan, jajan, penginapan, pokoknya apa ajalah yang mereka perlu.. tapi harus irit-irit juga lho! Jangan sampe nanti kamu pulang jalan kaki lho! Hihihi..” tambah Ibu Sri.

“Paham, buu…” jawab Nila.

Masuk ke Gedung BI ternyata kudu pake birokrasi yaa.. Kumpulin fotokopi rombongan buat dikasih tunjuk ke Bapak Panitia disana.. Kudu mikirin makan, jajan dan penginapan rombongan.. Mikir makanan apa yang bisa dimakan segala kalangan.. mulai dari anak muda sampe bapak-bapak…Tapi gak papa! Yang penting bisa jalan-jalan! Bisa masuk Gedung BI! Asiiikk! Bismillah…

Ketika hari pementasan, “Waaah.. Gedung BI ini kayak komplek yaa.. bangunannya gede-gedee.. dindingnya ada ukiran-ukirannya.. cantik banget!” cerita Nila. Karena terpesona sama bangunan Gedung BI, Nila tanpa sengaja terpisah dari rombongan. Dia terjebak dalam ruangan dimana pintu keluarnya hanya bisa dibuka oleh pegawai yang memiliki ID Card. Jadi Nila curi-curi ikut keluar saat salah seorang pegawai bank yang mendekat ke pintu keluar dengan menempel ID Cardnya.

Karena masalah keuangan yang dipegang sudah selesai, Nilapun bingung mau kerja apa. Sampai ada salah seorang kru pentas yang bilang, “Eh, cyiin.. bantuin eyke dandan doonk..” Astaghfirullah! Orang yang minta dibantuin dandan adalah kru pentas Waria! Jadilah Nila didaulat menjadi Make-up Artis dadakan.

“Mbaknya, eh, maaf, maksud saya Masnya pake foundationnya sendiri aja dulu.. nanti saya tambahin bedak pake spons bedak..” pinta Nila yang lagi kikuk ndandanin Waria.

Bermodal nekat dan memanfaatkan daya imajinasi, Nila mulai mendandani ‘mbak-mbak’ yang mau pentas. Alhamdulillah ‘mbak-mbak’nya suka dengan hasil dandanannya. Tapi ada satu masalah yang muncul. Ketika Sang Aktor utama merasa tidak puas didandani oleh Make-up artis yang lain. “Mosok sampeyan ndak tahu bentuk jambang dan kumis yang saya maksud! Piye tho?!” ambek Sang Aktor Utama. “Maaf, Pak.. saya ndak tahu tokoh yang bapak perankan itu seperti apa..” jawab Mbak-mbak Make Up Artis tersebut. “Punten, Pak.. ada yang bisa saya bantu?” tawar Nila. “Sampeyan, sini! Tolong bikin kumis dan jambang buat saya. Mosok dia ndak bisa lukis muka saya! Saya ini yang meranin tokoh SAKERAH!” tukas Pak Aktor.

“Waduh! Sakerah? Tokoh yang gimana yah? Aduh! Kayak pernah denger, tapi gak tahu wujudnya gimana…!!” batin Nila.

“Punten, Pak.. Bapak mau dibagaimanakan wajahnya?” tanya Nila perlahan,, takut kena damprat juga,, maklum Nila yang orang aseli Singaparna-Sumedang gak tahu tokoh yang dimaksud itu gimana wujudnyaaa..

“Saya mau kumisnya agak panjang dan dibikin pelintir di ujungnya, jambangnya tebal tapi gak tebal-tebal banget, sesuaikan dengan bentuk saya juga, bagian dagu ada jenggot sedikit.” Kata Pak Aktor.

“Aduh!” Makin bingung Nila. Tapi dia coba juga untuk melukis wajah Pak Aktor. Bismillah..

Nila menggunakan daya imajinasinya dan mulai melukis wajah Sang Aktor.. Nila hanya bisa menangkap tokoh Pak Raden dalam serial Unyil yang suka dia tonton waktu kecil di TVRI.. Pak Raden kumisnya tebal, suka melintir-lintir ujung kumisnya, jadi terlihat kesan pelintir di ujung kumis.. Waktu melukis jambang, dia juga masih hanya bisa menangkap jambang tokoh Pak Raden dan dia coba aplikasikan ke wajah Pak Aktor yang wajahnya lonjong, bukan bulat.. Dan bagian jenggot, disesuaikan dengan permintaan dan wajah Pak Aktor.. Bagian alis Pak Aktor agak dibikin sedikit hidup dan hasilnya.. “Ini, Pak cerminnya.. silakan dilihat bisi ada yang kurang..” kata Nila perlahan karena takut kena damprat.

“Nah ini yang saya mau!” jawab Sang Aktor puas. Alhamdulillaaaah… dan belakangan Nila baru tahu kalau Sakerah itu salah seorang Tokoh Pahlawan dari Madura.

Setelah itu pentas dimulai. Semua penonton puas dengan pentas yang diselenggarakan dari sanggar Ibu Sri.

Usai pentas, panitia dari Gedung BI langsung memberikan bayaran kepada Ibu Sri dalam bentuk tunai. “Empat puluh lima juta, tunai. Tolong dihitung kembali, bu.” Kata panitia Gedung BI.

“Waduh.. banyak juga yah empat puluh lima juta itu kalau dikasih tunai.” Kata Ibu Sri. “Nduk, kamu bantu hitung yaa..” pinta Ibu Sri.

Memegang uang bergepok-gepok sejumlah EMPAT PULUH LIMA JUTA.. uangnya merah semua, masih licin, tajam, kayaknya abis dipotong-potong di percetakan uang. “Ini uang semua, bu?? Banyak yaaa…” seloroh Nila.

Nilapun mulai menghitung satu gepok demi satu gepok dengan hati-hati.. khawatir uangnya ada yang nyelip sehingga kurang, atau malah berantakan karena deg-degan megang uang merah bergepok-gepok. “Kalau gak mau susah, mbak bisa lihat nomor serinya aja.. nomor seri belakang dikurangi nomor seri depan..” kata Bapak Panitia Gedung BI.

Selesai bertransaksi dengan panitia gedung BI, Sang Ibu Sri meminta Nila untuk memegang uang tersebut dan mendistribusikan sesuai fee masing-masing pemain pentas. “Ya Allah… empat puluh lima juta ada di tangan saya.. ya Allah, lindungi saya dari keteledoran, agar saya amanah..” batin Nila.

Satu per satu amplop untuk fee dari masing-masing pemain didistribusikan oleh Nila hari itu juga. Agar berkurang bebannya dalam memegang uang dan agar semua urusan keuangan selesai hari itu juga. Sisa uang yang ada kemudian Nila laporkan kepada Ibu Sri. “Sisanya ada 20 juta, bu.. bisa ibu hitung lagi..” kata Nila. “Sudah, saya percaya saja sama kamu. Oiya, bagianmu sudah diambil?” tanya Ibu Sri. “Bagian, Bu?” tanya Nila memastikan apa yang dimaksud bagian adalah….. “Iyaa, bagianmu.. Samakan saja dengan Bapak Dalang.. Kamu sudah bantu saya, yaa kamu pantas dapat bagian dari pentas ini..” jawab Ibu Sri.

Mendengar kalimat terakhir dari Ibu Sri rasanya bikin hati Nila gak karuan. Asalnya Nila hanya ingin membantu Ibu Sri, sudah diajak jalan-jalan saja sudah senang banget. Sekarang malah dikasih bayaran sama Ibu Sri yang nominalnya setara dengan pemain Dalang.. Nominal itu sangat cukup untuk membayar kiriman karyanya yang tertunda. Subhanallah…

Hikmah yang saya ambil dari cerita di atas, Allah itu Luarr Biasa yaaa… Kalau manusia mau hitung-hitungan sama Allah, hitungan Allah amat sangatlah sempurna. Apalagi kalau hambaNya gak hitung-hitungan, Allah kasih lebih dari cukup. Karena Janji Allah adalah yang paling benar.

Allah telah membuktikan kepada hambaNya bahwa Siapa saja yang menolong agama Allah, Allah akan tolong dia dengan pertolongan di luar dugaannya. Kesulitan, kesempitan hidup, ekonomi yang tidak memadai Allah kasih kemudahan buat hamba-hambaNya yang minimal ingat Allah dalam kondisi seperti itu. Apalagi berkorban harta dan jiwanya di jalan Allah,, Allah kasih lebih, lebih dan lebih lagi..

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar!

Dan akhirnya hasil kerja Nila dari sanggar seni, dipakai untuk mengirimkan sulamannya sebagai janji yang harus dia tunaikan.

Ketika berjanji kepada Allah dan kita berusaha keras menunaikan janji itu, maka Allah akan menunaikan janjinya pula untuk menolong hambaNya itu untuk menunaikan janjinya kepada sesama hambaNya.

Kalau boleh mengutip tulisannya Mbak Asma Nadia dari buku Catatan Hati di Setiap Sujudku, “Allah, bersamamu tidak ada jalan buntu..” 🙂