Posted in Catatan Hati di Setiap Sujudku, Cerita Hidup, Pulang ke Rumah Allah, Sein Seit

Tiga Hari Bersama Rasulullah #1

Madinah, 27 April 2011

Ketika langkah kaki pertama menjejak di Tanah Kota Rasulullah, rasa syukur yang tiada terkira, ucapan tasbih, hamdalah, dan takbir tidak lepas dari bibir… “Ya Allah, hamba benar-benar Kau panggil pulang! Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar!” Pukul 21.00 waktu Madinah kami rombongan Umroh Raihan tiba di Tanah Madinah.

Setiba di bandara, rasanya deg-degan sekali melalui pemeriksaan imigrasi, khawatir tidak diperbolehkan memasuki Kota Madinah karena masalah mahram atau gak boleh masuk karena mungkin kebanyakan dosa kali,hahaha.. yaa wallahu’alam siapa tahu bapak petugas imigrasinya tahu yang mana orang yang banyak dosanya, trus gak dibolehin masuk Tanah Madinah, heehee… tapi yang paling deg-degan yaa masalah mahram, karena aku berangkat tanpa disertai Papa maupun Akang. Aku dan adikku yang dimahramkan kepada Ustadz Abu Rabbani selalu membuntuti Ustadz selama mengantri di ruang pemeriksaan imigrasi. Di lempar kesana, di lempar kesini pun kami tetap membuntuti Ustadz. Karena kendala bahasa dan paspor kami yang dipegang Ustadz juga sih jadinya gak berani jauh-jauh dari Ustadz 😀 Akhirnya pemeriksaan dilewati dengan pemisahan antara Ikhwan dan Akhwat, dengan pemeriksaan ikhwan yang paling lama.. Alhamdulillah semua prosesi pemeriksaan dilalui dengan lancar.

Kemudian kami masuk ke dalam bus yang disediakan Tim Travel Raihan dengan seorang pemandu pria yang sedang bersekolah disana yang bernama Firdaus Arneli. Sebenarnya bingung mau manggil beliau apa, karena beliau muda sekali, tapi saya yakin saya yang lebih muda, hehehe… Tapi setelah berkonsultasi dengan Teh Iie, salah seorang jama’ah rombongan kami, ternyata beliau usianya di atas saya setahun dan beliau orang Padang… karena beliau orang Padang, jadi Teh Iie meminta saya untuk memanggil Uda kepada sang pemandu.

Saat Uda berkata, “Selamat datang jama’ah tamu Allah sekalian…” ya Allah…rasanya campur aduk! sambil sembunyi-sembunyi aku mengeluarkan air mata sebagai luapan rasa haru, syukur tiada terkira buat Allah SWT. “Yaah…resmi sudah menjadi tamu Allah di Tanah Sucinya Allah.. siap menerima segala sesuatu yang Allah kasih disini..” ucapku dalam hati. 🙂

Sepanjang perjalanan menuju hotel, rasa gak percaya, kagum, dan syukur mewarnai suasana hati.. Kagum melihat suasana Madinah yang kami susuri. Saat aku sedang asyik menikmati suasana Madinah, tiba-tiba Teh Lenny yang duduk tepat disebelahku berkata, “Ky…kita sekarang satu kota sama Rasul! Alhamdulillah yaa..! Aku seneng banget!” dan akupun mengungkapkan rasa senangku juga pada Teh Lenny.

Sekitar pukul 22an, kami tiba di Hotel Aramas. Berhubung sudah malam dan kondisi fisik yang lelah, Ustadz Abu Rabbani menyarankan kami untuk sholat Maghrib-Isha di hotel saja, biar fisiknya fit untuk Sholat Tahajud dan Subuh di Masjid Nabawi. Begitu tiba di kamar hotel, beberes, dan sholat, aku sisipkan sujud syukurku atas nikmat yang tiada terkira ini. 🙂

Pukul 03 Pagi waktu Madinah, aku, mama, dan Indita sudah siap untuk pergi ke Masjid Nabawi. Di lobby hotel kami berkumpul dan berangkat ke Masjid Nabawi bersama.

Di tengah perjalanan menuju Masjid, Ustadz memberikan beberapa cerita dan masukan selama kami menjalani prosesi Umroh nanti.. Sambil mendengarkan, mataku terpanah pada sebuah Kubah Hijau yang ukurannya tidak terlalu besar, tepat di hadapan. Entah kenapa mata ini tak ingin lepas menatap Kubah itu. Rasanya ada gejolak yang aku sendiri gak tahu apa artinya. Seperti sebuah rindu karena lama terpisah yang membuatku tak ingin melepaskan tatapanku dari Kubah itu. Tiba-tiba Ustadz jalan mendekat ke arahku sambil berkata, “ Itu Kubahnya Rasul, ky.. tepat di bawah kubah itu ada Rasulullah disana.. memandangnya sama dengan memandang Rasul…” Begitu Ustadz berkata seperti itu, haaaaa…rasanyaaa…(susah buat diketik :D) blaaasss…setetes demi setetes air mata jatuh dari pelupuk mata. Seketika aku menundukkan pandangan dari kubah itu… rasanya malu sekali..

“Duh Gusti… hamba malu sekali, ada Rasul di hadapan hamba…dan hamba tadi dengan beraninya menatap beliau tanpa hamba ketahui siapa beliau… Duh Gusti.. hamba penuh dengan dosa…rasanya gak pantas berdiri disini.. berhadapan dengan seorang Ayah, Kakek, Pemimpin Kaum Muslimin yang mulia ini… berhadapan dengan seseorang yang bahkan di detik-detik akhir hayatnya, beliau masih memikirkan hamba.. menyebut-nyebut hamba..mengkhawatirkan hamba… Annisa… Ummatii… dan sekarang hamba yang penuh dosa ini berada di hadapan beliau..dan tatapan tadi, perasaan yang tadi…subhanallah.. ya Allah.. gak tahu harus gimanaaa…” batinku.

Sepanjang perjalanan menuju Masjid Nabawi, khayalku diiringi lagu di bawah ini.

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya surga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terpera
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya surga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

dan engkaupun benar-benar di sini, ya Rasul… 🙂

-to be continued-

Posted in Melancholische Seite

Renungan Pintu Gerbang Ramadhan

Gak kerasa Bulan Ramadhan tinggal menghitung hari… tapi masih bingung akan diisi dengan apakah Ramadhan tahun ini… Entah kenapa berasa kehabisan tenaga sama sekali, padahal justru perang baru akan dimulai!

Bulan Ramadhan tinggal menghitung hari… Sampai detik ini masih menjadi pertanyaan besar, apakah diri ini akan berjumpa dengannya, sedangkan saya masih berdiri di depan pintu gerbangnya… Kalo mengutip kata Ustadz Hilman Rosyad saat manasik Umroh kemarin, “kita ini masih calon… kalau belum benar-benar masuk ke dalamnya yaa namanya masih calon tamu…” walo konten waktu itu adalah calon tamu Allah, dan sekarang kontennya adalah calon penghuni Ramadhan..

Bulan Ramadhan tinggal menghitung hari… Dan saya masih bertanya apakah usia saya sampai pada perjumpaan dengan Ramadhan.. sedangkan kemarin saya dihadapkan dengan berita kepulangan salah seorang kerabat bapak HRD di kantor, pulang ke sisi Allah… Ya Allah…padahal Ramadhan udah di depan mata.. masih ada hambaMu yang Engkau panggil untuk pulang?? dan rasanya saya ingin teriak… Astaghfirullah..!

Bulan Ramadhan tinggal menghitung hari… Dan saya masih bertanya apakah usia saya sampai pada perjumpaan dengan Ramadhan.. sedang ketika saya akan memasukinya nanti, saya menyadari bahwa orang yang paling saya cintai di dunia telah tiada… yaa..ini Ramadhan pertama saya lalui tanpa kehadiran Emak di sisi.. Tanpa ada ritual sungkeman di kakinya, tanpa ada ritual kesibukan menyiapkan hadiah Ramadhan untuknya, dan tanpa ada ritual pulang ke tanah kelahiran.. saya tahu, ini akan menjadi Ramadhan paling sulit yang akan saya lalui…

Bulan Ramadhan tinggal menghitung hari… Dan saya masih bertanya apakah usia saya sampai pada perjumpaan dengan Ramadhan.. Begitu juga dengan pertanyaan apa yang akan saya bawa saat saya dipanggil olehNya…

Ya Allah..sampaikan usia ini padanya, agar hamba bisa membenahi Ramadhan hamba yang telah lalu, agar hamba bisa lebih memperbanyak sujud hamba kepada Engkau, memohon suatu pengampunan atas diri ini dan orang yang hamba cintai, agar bertambah tingkat taqwa hamba, agar bekal hamba lebih siap ketika suatu hari Engkau memanggil hamba pulang..aamiin!

 

Posted in Catatan Hati di Setiap Sujudku, Melancholische Seite

DenganMu aku hidup, denganMu aku mati…

DenganMu aku hidup

DenganMu aku mati

Hanyalah padaMu

Hanyalah untukMu

hidup kan dijalani…

 

PadaMu ku berserah

PadaMu ku berpasrah

Hanyalah padaMu

Hanyalah untukMu

hidup kan dijalani…

 

Allah…jika sampai saat ini aku masih hidup,

Jika sampai detik ini aku masih berdiri tegak,

Hanyalah padaMu

Hanyalah untukMu

hidup kan dijalani…

 

Sebagaimanapun ujian hidup yang aku jalani saat ini,

seberat apapun beban hidup yang ditanggung di pundak ini,

Meski aku harus merangkak karena tak sanggup berdiri dalam menjalani takdir
yang Engkau ridhoi,

aku hanya berkata Hanyalah padaMu, Hanyalah untukMu hidup kan di jalani…

 

Izinkan aku untuk tetap menjadi hambaMu yang bertaqwa,

Izinkan aku untuk tetap menjadi hambaMu yang berserah,

Izinkan aku untuk tetap menjadi hambaMu yang bersyukur

karena hanya untukMu lah hidup kan dijalani…

 

Hanya berharap ridhoMu

Hanya berharap kasih sayangMu

Hanya berharap pengampunanMu

Agar berkurang siksa akhiratku…

Aamiin.

 

P.S.

Terinspirasi dari lagu Opick – DenganMu ku hidup

Posted in Cerita Hidup, kyky belajar, Mari Membaca

Malam Nishfu Sya’ban Menurut Perspektif Hasan Al Banna

Menjelang Malam Nishfu Sya’ban, mulai bingung mesti ngapain… Kemarin sih denger ceramah salah seorang Ustadz di TV, katanya ada beberapa ibadah yang dilakukan di Malam Nishfu Sya’ban dan pas hari Nishfu Sya’bannya.. cuma kan dalam beribadah harus tahu dasar hukumnya.. ada gak di Al Qur’an atau Hadistnya? Kalaupun Hadistnya ada, statusnya apa? Shahih atau Dhoif nih?

Trus, akhirnya browsing-browsing di internet.. makin bingung karena banyak pendapat. Jadi khawatir kalau salah melakukan ibadah, takutnya dianggap bid’ah lagi.. Kemudian tercetuslah ide untuk mengirimkan email salah seorang Ustadz yang kebetulan pembimbing Umroh sekaligus kakak kelas di SMA,hehehe.. Dari Ustadz Abu Robbani, saya dikasih link tulisan yang mengulas mengenai Malam Nishfu Sya’ban Menurut Perspektif Hasan Al Banna

Berikut uraian lengkap dari link tersebut:

Tulisan ini merupakan salah satu karya Imam Hasan Al Banna yang sampai saat ini masih diabadikan. Dalam tulisan ini beliau mengulas tentang beberapa permasalahan, diantaranya adalah Merayakan malam nishfu Sya’ban, membaca doa dan shalat pada malam tersebut, serta menjelaskan tentang hukum syariat terkait dengan permasalahan yang telah disebut diatas. Beliau menuliskan pandangannya dengan ilmiyah namun sedarhana dan mudah untuk dipahami. Tulisan ini juga memperlihatkan kematangan beliau dalam ilmu tafsir, hadis, fikih, dan ushul fikih.

Setelah itu beliau menjelaskan tentang kondisi riil kaum muslimin; ada diantara mereka yang keliru dan berlebihan dalam menyikapi malam nisfu sya’ban. Melalui tulisan ini beliau ingin mengembalikan mereka agar kembali kepada pemahaman yang benar tentang malam nisfu sya’ban. Bahkan dalam pembahasan fikih yang dalam, Imam Al Banna memberikan trik dan cara dalam menghadapi kemunkaran dan kekeliruan yang sering terjadi dikalangan masyarakat awam pada saat malam nisfu sya’ban. Namun ada satu hal yang menarik dalam tulisan Imam Al Banna ini, beliau tetap menerapkan kaidah “Alla Yuaddi Inkarul Munkar Ilaa Munkari Akbar” (Melarang yang munkar jangan sampai menimbulkan kemunkaran yang lebih besar) dalam merubah pandangan masyarakat awam. Menerapkan amar ma’ruf harus dengan cara yang baik. Kaidah ini sering dilalaikan oleh para dai dalam melakukan dakwah di masyarakat.

Bismillahirrahminirrahim

Makalah ini pertama kali di terbitkan di surat kabar “Ikhwanul Muslimun” edisi 20 tahun I (1352 H). Kemudian diterbitkan kembali pada surat kabar yang sama di bulan sya’ban tahun 1353 H.

Pada saat itu datang seorang ikhwah dari Propinsi Daqahlia untuk menanyakan tentang hadis yang terkait dengan nisfu sya’ban, kebiasaan masyarakat yang melakukan doa dan sejenisnya pada malam itu.

Insya Allah pertanyaan ini akan kami jawab sesuai dengan kemampuan kami berdasarkan pada referensi yang ada pada kami dan berlandaskan nash-nash yang ada yang kami ketahui. Namun kami tidak menolak apabila ada dalil lain yang berbeda dari apa yang kami jelaskan pada tulisan ini. Kami akan sangat berterima kasih bila ada hujjah lain yang berbeda yang dapat diberikan kepada kami. kebenaran harus berada diatas segala dan menjadi tujuan utama para tholibul ilmi. Wallahul Musta’an

Pembahasan tentang Malam Nisfu Sya’ban akan kita bagi menjadi tiga; Pembahasan hadis-hadis yang terkait dengan malam nisfu sya’ban; kedua, kebenaran dan kekeliruan yang di yakini masyarakat awam tentang malam nisfu sya’ban; ketiga, hukum berdoa sebagaimana doa yang sudah dikenal oleh masyarakat luas.
Pertama, Dalil-dali Yang Terkait dengan Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban

Firman Allah dalam surat Ad Dukhan:

﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ* فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ﴾ (الدخان: 3، 4)

Ulama berbeda pendapat tentang kata “Malam” yang terdapat pada ayat diatas.

Pendapat pertama:
bahwa yang dimaksud dengan “Malam” pada ayat diatas adalah malam lailatul qadar, yaitu malam yang terdapat pada bulan Ramadhan.

Pendapat kedua:
bahwa yang dimaksud dengan “Malam” pada ayat tersebut adalah malam nisfu sya’ban.

Pendapat ketiga:
Ulama yang berpendapat bahwa, bisa jadi malam lailatul qadar terjadi pada pertengahan bulan sya’ban.

Pendapat ketiga ini ingin memadukan dua pendapat sebelumnya, namun pendapat ini sangat lemah sekali. Sehingga tidak ada alasan yang kuat untuk mempertahankan pendapat ketiga.

Sekarang kita akan fokuskan pembahasan pada dua pendapat pertama secara ringkas. Pendapat pertama yang menyebutkan bahwa ayat tersebut berbicara tentang lailatul qadar lebih rajih (kuat) dikalangan mayoritas ulama tafsir dan ulama pentahqiq.

Berikut adalah dalil dan hujjah yang menyatakan bahwa malam tersebut adalah malam lailatul qadar lebih kuat dari malam nisfu sya’ban.

– قال الألوسي في تفسيره عند قوله تعالى: ﴿فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِين﴾: “هي ليلة القدر على ما روى ابن عباس وقتادة وابن جبير ومجاهد وابن زيد والحسن، وعليه أكثر المفسرين والظواهر معهم، وقال عكرمة وجماعة: هي ليلة النصف من شعبان”.
Artinya:
“Telah berkata Al Alusi dalam Tafsirnya pada saat membahas ayat:
(فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِين) , bahwa yang dimaksud adalah lailatul qadar, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Abbas, Qatadah, Ibnu Jubair, Mujahid, Ibn Zaid, dan Al Hasan. Pendapat ini adalah pendapat kebanyakan ahli tafsir, termasuk Az Zawahiri didalamnya. Sedangkan Ikrimah dan Jamaah berpendapat, bahwa malam itu adalah malam nisfu sya’ban”.

وقال الطبري في تفسيره عن هذه الآية الكريمة: واختلف أهل التأويل في تلك الليلة، أي ليلة من ليالي السنة هي؟ فقال بعضهم: هي ليلة القدر، ثم ذكرهم، وقال بعد سردهم: “وقال آخرون: بل هي ليلة النصف من شعبان، ولم يذكرهم”، ثم قال: “والصواب في ذلك قول من قال هي ليلة القدر؛ لأن الله- جل ثناؤه- أخبر أن ذلك كذلك”، وقد أُكد هذا المعنى في ذلك البحث نفسه.
Artinya:
At Thabari mengatakan dalam tafsirnya tentang ayat yang mulia ini. Telah berbeda pendapat para ahlu ta’wil tentang makna “Malam” pada ayat tersebut. Apakah malan tersebut bagian dari malam-malam dalam satu tahun? Sebagian orang mengatakan, “Malam itu adalah malam lailatul Qadar. Kemudian mereka menjelaskan alasannya.
Sedangkan yang lainnya mengatakan, “Bahwa malam itu adalah malam nisfu sya’ban. Namun tidak mereka tidak menjelaskan alasannya. Kemudian At Thabari berkata, “Yang benar adalah mereka yang mengatakan bahwa malam itu adalah malam lailatul qadar. Karena Allah telah mengabarkan tentang hal tersebut. Penegasan makna tersebut telah ditegaskan dalam pembahasan tersebut”.

وقال النيسابوري في تفسير الآية الكريمة أيضًا: وأكثر المفسرين على أنها ليلة القدر لقوله تعالى: ﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ﴾ (القدر:1)، وليلة القدر عند الأكثر في رمضان.. ثم نقل كلام الطبري وقال بعده: وزعم بعضهم كعكرمة وغيره أنها ليلة النصف من شعبان، وما رأيت لهم دليلاً يعول عليه، فها أنت ترى من أقوال هؤلاء الأعلام أن الآية الكريمة لا تصلح أن تكون دليلاً في فضل ليلة النصف من شعبان.

Artinya:

An Naisaburi berkata dalam tafsirnya tentang makna ayat tersebut. Kebanyakan mufassirin mengatakan bahwa malam itu adalah malam lailatul qadar, berdasarkan firman Allah surat Al-Qadar : 1 إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. Sedangkan menurut mayoritas ulama, malam lailatul qadar terjadi pada bulan ramadhan…. kemudian Naisaburi menukil perkataan At Thabari, dan memberikan komentar setelahnya: “Sebagian orang seperti Ikrimah dan yang lainnya menyangka bahwa malam itu adalah malam nisfu sya’ban. Saya tidak mendapati dalil yang mereka gunakan. Apakah anda juga menemukan dari perkataan para ulama tersebut yang layak dijadikan dalil bahwa ayat tersebut dapat menjadi dalil/hujjah untuk menyatakan keutamaan malam nisfu sya’ban.

Kedua, Hadis-hadis yang Yang Terkait dengan Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban

أ- ما أخرجه بن ماجه والبيهقي في شعب الإيمان عن علي- كرم الله وجهه- قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم: “إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها، وصوموا نهارها، فإن الله ينزل فيها لغروب الشمس إلى سماء الدنيا، فيقول: ألاَ من مستغفر لي، فأغفر له! ألا مسترزق فأرزقه! ألا مبتلىً فأعافيه! ألا كذا ألا كذا حتى يطلع الفجر”.

Artinya:

Rasulullah Saw bersabda, “Jika malam nisfu sya’ban, maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasa pada siangnya. Karena sesungguhnya Allah turun pada saat menjelang terbenam matahari ke langit yang paling terdekat. Lalu Allah menyeru, ‘Siapa orang yang beristighfar kepadaKU maka akan AKU ampuni. Siapa yang meminta rizki, maka AKU akan memberikan rizki. Siapa yang sakit, maka akan AKU sembuhkan! Siapa yang begini, siapa yang begini…dan seterusnya hingga terbit fajar” HR. Ibnu Majah, Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Imam Ali karamahullahu Wajhahu

ب- ومنها: ما أخرجه الترمذي وابن أبي شيبة والبيهقي وابن ماجه عن عائشة قالت:  فقال: “إن الله- عز وجل- ينزل في ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا، فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم بني كلب”.

Artinya
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah turun pada malam nisfu sya’ban ke langit terdekat. Memberikan pengampunan lebih banyak dari jumlah bulu domba Bano Kalb”. HR. Tirmidzi, Ibnu Abi Syaibah, Al Baihaqi, dan Ibnu Majah dari Aisyah.

ج- ومنها ما أخرجه أحمد بن حنبل في المسند عن عبدالله بن عمرو بن العاص أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: “يطلع الله- عز وجل- إلى خلقه ليلة النصف من شعبان، فيغفر لعباده إلا اثنين: مشاحن، وقاتل نفس”.

Artinya
Allah menemui hamba-Nya pada malam nisfu sya’ban dan memberikan ampunan kepada hamba-Nya kecuali dua orang; yang suka bertengkar dan melakukan bunuh diri” HR. Ahmad bin Hanbal dalam Musnad dari Abdullah bin Amr bin Ash

jika hadis hadis tersebut diatas kedudukannya kuat dan selamat dari penyakit hadis, maka akan menjadi dalil dan hujjah bagi keutamaan malam nisfu sya’ban. Namun sangat disayangkan, ternyata hadis-hadis tersebut mendapatkan komentar dari para ulama hadis dan mereka melemahkannya. Sebagian dari muhadisin mengatakan bahwa hadis pertama sanadnya adalah dhaif (lemah), diantara mereka adalah Al Iraqi. Sedangkan Al Hafiz Al Mundziri berkomentar bahwa hadis yang ketiga sanadnya “Layyin” (lembek). Bahkan Al Hafiz Abu Bakar Al Araby mengakatakan, “Tidak ada yang shahih tentang Nisfu Sya’ban”.

Adapun saya berkeyakinan bahwa hadis-hadis ini memang dhaif, namun kita tidak bisa mengingkari bahwa malam nisfu sya’ban memiliki keutamaan daripada malam-malam lainnya di bulan ini. Bila ingin melakukan shalat malam, maka lakukanlah shalat yang disyariatkan dan bila ingin melakukan shaum di siang harinya, maka lakukanlah shaum yang disyariatkan. Demikian pula melakukan hal-hal yang mustahabbat pada hari-hari tersebut, sesuai dengan kaidah mengamalkan hadis dhaif dalam fadhail amal. Namun dengan syarat, tidak menganggap sebagai ibadah. sebab tidak ada dalil dalam hal tersebut

Kedua, Keyakina Masyarakat Awam dan Ibadah di Malam Harinya
1. Ada yang berkayakinan bahwa malam ini adalah malam diangkatnya amalan. Sebelumnya sudah kita bahas, bahwa malam tersebut bukan malam nisfu sya’ban, tapi malam lailatul qadar sebagaimana pendapat yang rajih

2. Keyakinan bahwa barangsiapa yang hadir pada saat berdoa di masjid selepas shalat magrib dan melaksanakan shalat sebagaimana yang disebutkan, maka ia tidak akan mati pada tahun tersebut. Padahal sudah jelas, bahwa Allah lah yang menentukan ajal. Mereka akan merasa menyesal apabila tidak bisa berkumpul malam ini. Hal-hal yang seperti ini adalah keyakinan yang batil dan tidak ada landasannya

3. Membaca surat yasin pada malam nisfu sya’ban. mereka berkumpul dan membaca doa dengan cara tertentu. Mengenai hal ini saya belum pernah menemukan dalilnya. Karena sesungguhnya membaca Al Quran sangat disukai pada setiap waktu. Namun bila mengkhususkan hanya pada malam tersebut untuk membaca surat yang khusus, maka hal itu tidak pernah disebutkan dalam dalil apapun. Saya belum mendapatkan dalilnya tentang bolehnya hal tersebut, bila anda memilikinya, silahkan sampaikan ke saya.

4. Mereka mengatakan bahwa ada shalat khusus pada malam tersebut, yaitu 100 rakaat. Setiap rakaat setelah fatihah membaca QUL HUWALLAHU AHAD sebanyak 11 kali. Jika tidak sanggup, maka shalat 10 rakaat, setiap rakaat membaca 100 x QUL HUWALLAHU AHAD setelah Al Fatihah. Hal tersebut disebutkan oleh imam Al Gazali dalam kita Ihya Ulumuddin. Al Gazali berkata, “Dahulu para salaf melaksanakan shalat ini dan mereka menyebutnya dengan sebutan shalat kheir. Mereka melaksanakannya secara berjamaah.

Diriwayatkan dari Al Hasan bahwasanya ia berkata, “Telah mengabari kepadaku 30 sahabat nabi, bahwasanya barangsiapa yang melaksanakan shalat ini di malam ini, maka allah akan memandangkan dengan 70 kali pandangan. dan setiap pandangan akan dikabulkan 70 permintaan. yang paling sedikit adalah mendapatkan ampunan. Demikian Imam Al Gazali di kitab Ihya Ulumuddin.

Al Hafiz Al Iraqi telah membantah itu semua dengan mengatakan bahwa hadis tentang shalat pada malam nisfu sya’ban adalah hadis yang batil. Pendapat tersebut adalah pendapat mayoritas ulama. Dalilnya adalah, hadis-hadis yang disebutkan tidak tercantum dalam kitab para huffaz yang terpercaya. Kalaupun ada, tidak ada periwayat dari kalangan sahabat yang dikenal, sanadnya tidak ada yang sampai kepada rasulullah saw. Sebagaimana diketahui bersama, bahwa pengkhususan suatu ibadah butuh kepada dalil syar’i yang kuat. Sedangkan pada persoalan terkait tidak ada dalil yang menjelaskan tentang shalat tersebut.

5. Berkayakinan dengan doa yang susunan sudah kita ketahui bersama. untuk hal ini pembahasan khusus, karena banyak perbedaan dikalangan masyarakat.

Kesimpulan

Jika disimpulkan, maka:
1. Malam nisfu Sya’ban adalah malam yang memiliki fadhilah (keutamaan). Menghidupkannya dengan bentuk ketaatan kepada allah atau shaum pada hari tersebut adalah suatu yg sukai

2. Mengkhususkan dengan ibadah tertentu seperti membaca yasin, shalat kheir, dan doa-doa khusus adalah sesuatu yang tidak ada dalilnya dan tidak memiliki tuntutan dari syariat.

——-
Setelah membaca ini, saya jadi paham apa yang harus saya lakukan, khususnya untuk Bulan Sya’ban ini.
Semoga kita bukan termasuk golongan hamba Allah yang bid’ah dalam beribadah, aamiin! 🙂
P.S.
Semoga ulasan di atas bermanfaat buat yang membaca ^___^
Posted in Catatan Hati di Setiap Sujudku, Cerita Hidup

Pertemuan Terakhirku dengan Emak

Balikpapan, 8 Juli 2011

Aku pergi ke Balikpapan, bersama mama, papa dan adikku Indita. Ntah dalam rangka apa kami sekeluarga pergi ke Balikpapan. Disana tentu saja kami menginap di rumah emak dan kebetulan akang (kakak laki-laki) tinggal bersama emak.

Dalam suatu momen, “muka ayu (aku) kok keliatan lelah banget? Banyak kerjaan kah?” kata akang. Dan sku hanya tersenyum ke akang. Ntah apa arti senyuman yang aku berikan ke akang. Seolah-olah ada suatu cerita yang tidak bisa aku ungkapkan.

Kunjungan ke Balikpapan tidak berlangsung lama. Kami keluarga di Bandung harus segera pulang. Saat berpamitan ke emak, selalu saja menjadi momen menyedihkan buat kami. Saat itu mama bilang, “Insha Allah nanti kita ketemu sama emak lagi yah..kita kumpul seperti dulu..” sambil memeluk emak dan bercucuran air mata.

Aku, selalu saja seperti ini… ketika mama menangis, aku selalu saja mengambil sikap untuk menjadi orang yang paling tegar di sisi mama. Gak berani nangis, apalagi menunjukkan rasa sedih yang sama di depan mama.

Begitu giliranku pamitan ke emak,, sambil tersenyum emak memelukku erat dan aku membalasnya dengan tidak kalah eratnya (subhanallah…senyuman itu!). Dalam pelukkan emak, ada hati yang seolah-olah yang tidak dapat terbendung lagi rasanya. Ada luapan cinta dan rindu yang gak bisa aku tampung dalam bendungan hati. Aku yang tadinya menahan tangis, akhirnya menangis dalam pelukkan emak. Tangis yang pelan dan lama kelamaan menjadi tangis isak. Aku tahu, ini adalah pertemuan terakhirku dengan emak. Aku menangis terisak-isak dan tidak mau melepaskan pelukanku dengan emak,, isakan tangis yang sama yang aku berikan saat memeluk mama di depan Multazam Ka’bah awal Mei kemarin. Luapan perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan, hanya bisa aku tunjukkan lewat air mata.

Semua orang sekitarku memintaku melepaskan pelukkanku ke emak. Semua orang memintaku pulang. Semakin banyak yang memintaku pulang, semakin besar isakan tangisku, seperti anak kecil yang gak mau ditinggal sama ibunya. Segera aku tersadar.. aku memang harus melepaskan pelukan ini. Masih banyak amanah di punggung yang harus aku tunaikan. Belum saatnya untuk tinggal berlama-lama dengan emak. Dan muncul keyakinanku bahwa suatu hari aku akan berkumpul kembali dengan emak. Dalam suatu kehidupan yang begitu indah. Ntah kenapa ada pikiran itu dalam benakku. Akhirnya aku melepaskan pelukanku… sambil menatap emak, aku tuangkan kerinduanku yang selama ini aku simpan dan emak pun tersenyum manis sambil memperlihatkan gigi palsunya yang rapi.. Subhanallah… senyum  itu… senyum yang aku rindukan selama ini… senyum yang selalu membuatku merasa tenang.. dan gigi itu.. gigi yang pernah kami jahili dulu.. yang membuat emak melepaskannya untuk membersihkan permen karet yang menempel saat kami cucu-cucunya iseng memberikan permen karet ke emak… oh Allah.. aku lemas!

Pelukan terlepas, saatnya aku pulang…dan….

“hiks, hiks, hiks..” aku terbangun karena merasakan ada air mata hangat mengalir dari mataku. Yah.. aku kembali ke kamar kosan.. kamar ukuran 3×4.. sambil mengusap air mata, aku berpikir apa yang menyebabkan aku menangis dalam tidur.. dan.. yah.. aku ingat.. aku mimpi bertemu emak..

Allah sekali lagi memberikan aku hadiah, pertemuan indah bersama emak. Hadiah yang diberikan karena aku (dan adikku) adalah cucu yang tidak hadir dalam pemakaman emak karena kondisi yang tidak memungkinkan… saat emak meninggal, papa masuk rumah sakit di Cirebon.. jadi aku bertukar peran
dengan mama. Mama pergi ke Balikpapan, aku merawat papa di Cirebon, adikku menjaga rumah di Bandung.. (karena itu juga, sering aku merasa tidak percaya kalau emak sudah tiada)

Hadiah yang teramat sangat indah..karena mimpi itu diberikan pada hari yang sama saat emak meninggal dunia… Hari Jum’at.

Hadiah yang teramat sangat indah, walau hadiah ini sebenarnya yang aku minta ketika aku berada di depan Ka’bah…meminta pertemuan dengan nenekku di rumah suciNya..

Hadiah yang teramat sangat indah.. karena mimpi itu diberikan jelang 100 hari kepergian emak…

“Ya Allah..muliakan emak disisiMu.. bahagiakan beliau dan kumpulkanlah kembali beliau dengan bapak.. Jadikan beliau pasangan hidup dunia akhirat untuk bapak.. terangkanlah alam quburnya, sejukkanlah alam quburnya.. kurangilah siksa quburnya.. izinkan kami bertemu kembali di akhirat kelak, dalam suatu pertemuan yang indah dalam kehidupan indah yang kekal abadi. Aamiin!” (do’a yang sama untuk bapak, abah, emak ndut, dan kakek-nenekku yang lain)

-Emak-

P.S.

– Hari ini tepat 100 hari kepergian emak.. Yah.. Aku ikhlas melepas kepergian emak..

– Alhamdulillah akhirnya bisa juga menuliskan cerita ini tanpa pingsan.. ntah kenapa akhir-akhir ini kalau nangis, berujung pada pingsan di tempat 😀

Posted in Cerita Hidup, Nasib Gadis di Rantau Orang

Stupid question

Sore hari, di ruangan Ibu AsMan Lingkungan Hidup

Ibu Atasan: “Aduuuh… ini nambah-nambah kerjaan ajah! Disuruh baca Majalah Asian Property lagi! Mana pake Bahasa Inggris segala! Heuh!” (sangking lagi pusingnya si ibu)

Aku: (sambil lihat isi Asian Property) “Whooo… pantesan disuruh baca, bu.. Isinya ada Pak Direktur Utama sih! hehehe..”

Ibu Atasan: “Hee..iye tuh!”

Aku: “Bu kenapa sih kita kok berkiblatnya ke Cina?”

Ibu Atasan: “Yee.. Bos lu orang Cina. Kalo Bos lu orang bule mah kita pasti kiblatnya ke barat.” (-___-“)

Aku: “Hehehe..bener juga yah, bu!” (sambil cengengesan) XD

Posted in Catatan Hati di Setiap Sujudku, Melancholische Seite

Makna Al Ikhlas untukku

Setiap membaca Surah Al Ikhlas, terutama ketika memasuki bacaan ayat ke-2, rasanya mau pingsan!

Ya Allah…tanpa Engkau, tidak akan mungkin diri ini masih bertahan hidup dan berdiri tegar di tengah samudra kehidupan seperti saat ini.

Sungguh Allah, bukan dunia yang aku kejar, hanya mengharap kehidupan akhirat yang bahagia.

Di sisa hidupku, aku hanya mengharapkan keridhoanMu atas kehidupan yang aku jalani. Inilah ragaku, aku hanya sanggup untuk menghadapinya, namun aku tak sanggup untuk menjalaninya tanpaMu, tak sanggup mengatasinya tanpa Kau di sisiku.

Engkaupun tahu bagaimana sifat pemaluku.. Malu saat meminta sesuatu kepadaMu, bahkan malu ketika aku memohon ampun kepadaMu atas dosa-dosa yang sudah sangat menggunung ini. Tapi kepada siapa lagi aku mencurahkan isi hatiku.. kepada siapa lagi aku memohon ampunan selain kepada Engkau..

Kepada kedua orang tuaku sendiripun aku malu untuk meminta sesuatu, apalagi kepada diriMu, ya Allah… Tapi kepada siapa lagi aku harus meminta? Sedangkan diri ini sepenuhnya sadar bahwa aku adalah milikMu..

Berharap Kau tetap menjaga lisanku, menjaga perilakuku, menjaga akhlaqku hingga akhir hayatku,aamiin!

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. Al Ikhlas: 2)

 

P.S.

Pesan dari salah seorang Nenek: “saat kamu merasa takut, banyak-banyak baca Al Ikhlas. 🙂 “