Posted in Melancholische Seite

KepadaMu Kekasihku…

Sholatullah Salamullah ‘ala Thoha Rasulillah
Sholatullah Salamullah ‘ala Yassin Habibillah
Sholatullah Salamullah ‘ala Thoha Rasulillah
Sholatullah Salamullah ‘ala Yassin Habibillah

KepadaMu Kekasihku
Aku tumpahkan cintaku
Hati tulus penuh rindu
Untuk Dunia Akhiratku

Kepadamu Muhammadku
Penyuluh hidup matiku
Aku ikuti langkahmu
Menuju ridho Allahku…

Singer: Novia Kolopaking

Sewaktu kecil suka dengar lagu ini…
lagunya simpel, iramanya enak didengar, sejuk… dan dinyanyikan penyanyi favorit saya..
Sekarang, jika lagu ini didengar kembali, maknanya terasa sekali…
Terasa ada kerinduan yang begitu tinggi,,
Tinggi,, karena kerinduannya ditujukan kepada Yang Maha Tinggi
Tinggi,, karena cinta yang disampaikan tertuju kepada Yang Maha Cinta…
Tinggi,, karena objek cintanya berada di singgasana Arsy yang sangat agung,,berada di langit ke tujuh..
Tinggi,, karena sang  subjek cinta adalah hanyalah seorang hamba…hamba yang tak memiliki dan tak berkuasa apapun…

Merindukan dan mendambakan pertemuan yang indah denganNya
berharap di akhirat kelak diberi kesempatan diperlihatkan cahaya Nur-Nya..
berharap kelak mendapatkan syafaat dari Rasulullah dan berdiri di barisan umatnya…
berharap segala yang dilalui di kehidupan dunia dapat memberikan bekal kehidupan akhirat yang terbaik..aamiin.. 🙂

Posted in Kelakuan Remaja Tua

Aisyah wanna be,, Lara Croft oke juga!

Hmm….kalo dipikir-pikir kehidupan ini unik yah. Kadang sesuatu yang kita rencanakan ke depan terlihat gak nyambung dengan yang dijalani saat ini. kadang (ato sering yah?) cita-cita yang diimpi-impikan gak sesuai jalannya dengan sekarang. tapi bukan mahasiswi ITB namanya kalo gak CERDAS buat mengutak-atik dan menghubung-hubungkannya untuk menjadikan mimpi itu terealisasikan…hehehhee

Kalo diliat-liat, makin kesini alur hidup yang dijalani makin jauh dari cita-cita jadi IBU RUMAH TANGGA. Dengan style rada tomboy, tuntutan karir (ups! akademis maksudnya) yang meminta diri tuk kerja di lapangan, dan minat tuk menjelajahi keindahan alam Indonesia (maklum masih muda,hihihi…), berasa jauh dari kriteria IBU RUMAH TANGGA. walo mulai mengimbangi diri dengan kegiatan-kegiatan yang menjurus pada penambahan skill keibu rumahtanggaan and always trying to be the real akhwat. halaaahh….

Tapi aku gak merasa semua yang dijalani ini sia-sia. banyak yang dipelajari dari semua perjalanan hidup yang udah dilalui. mulai dari seneng-senengnya galih tanah hutan buat nyari cacing, masak mie instant dengan air payau, sampe menderita-menderitanya diserang Macaca satu kelurahan dan bersauna ria seharian di kereta ekonomi tuk kulap ke Bali Barat.

Tapi dari sekian petualangan yang dialami, tetep masih ada ruang besar akan kerinduan rumah yang nyaman, stabil walau terlihat statis, tapi akan dibuat dinamis (maksa nih ceritanya). gak jarang kalo lagi di lapangan ngalamin HOMESICK besar-besaran…

Dari situlah mencoba untuk membuat konsep kehidupan akan datang impian. Perpaduan yang unik dan kebanggan tersendiri buat generasi yang tercipta di masa yang akan datang.

Kalo inget kata-kata dari dua orang teteh tercinta, jadi semangat lagi!
Teh Grace:
“Selalu berusaha menjalani hidup sebagai muslimah sesuai Syariat Islam tanpa mematikan potensi dan karakter dirimu sendiri.”

Teh Nova:
“Model Lara Croft, Fisik tangguh dan okey, Hati tetep wanita.”

Kalo quote dari aku sendiri: “Aisyah wanna be, Lara Croft oke juga!” ^____^v

 

 

 

 

 

 

=== tulisan ini repost dari notifikasi fb tanggal 13 Oktober 2008 ===

Posted in Mari Membaca, Melancholische Seite

Mengabadikan Cinta

KATA-KATA tertulis membekukan momen-momen cinta; bergejolak penuh harap atau menyerah kalah. Ketika penyair Roma, Ovid, menjalani masa pembuangan di Tomis, Laut Hitam, karena dianggap membahayakan moral bangsa Roma, surat cintanya bagi istri ketiganya penuh nada penyesalan dan kerinduan:

“Semoga Tuhan mengizinkanku kembali melihatmu. Jika itu terjadi, aku akan mencium kedua pipimu; dan memeluk tubuhmu yang menjadi kurus sambil berkata, “ini semua akibat kegelisahan, yang aku sebabkan,” serta menangis tersedu-sedu mengingat kembali semua kesedihanku langsung di hadapanmu…”

Surat Ovid tersebut kelak menjadi bagian dari kumpulan puisinya, Tristia (Kesedihan), yang dipublikasikan tahun 8 Masehi. Dia meninggal sembilan tahun kemudian tanpa bersua lagi dengan sang istri.

Pengabdian sekaligus pengorbanan adalah isi surat cinta Abelard dan Heloise di Prancis pada abad ke-12. Peter Abelard, seorang intelektual berusia 37 tahun di bidang filosofi dan teologi, jatuh hati dengan seorang gadis 19 tahun bernama Heloise. Selain terpaut jarak usia, cinta mereka juga terhalang karier Abelard di Gereja Katolik yang mengharuskannya selibat. Ketika dia hamil, Heloise sempat menolak ajakan Abelard untuk menikah kendati akhirnya setuju dengan tetap merahasiakan pernikahan mereka. Ketika rahasia ini terungkap, sejumlah tukang pukul sewaan paman Heloise, seorang petinggi Katedral Notre Dame, menciderai Abelard. Tak kuasa menanggung malu, Abelard memutuskan menjadi biarawan dan mengajak Heloise mengikuti jejaknya.

Lebih dari sepuluh tahun kemudian mereka kembali berhubungan lewat surat. Kali ini Abelard meminta Heloise mengalihkan cintanya kepada Tuhan, meski mereka sama-sama tak bahagia dengan kehidupan biara. Heloise berusaha mengikuti keinginan Abelard walau bertentangan dengan isi hatinya.

Surat Abelard kepada Heloise: “Melupakan, dalam hal cinta, adalah suatu upaya penebusan dosa yang setimpal dan tersulit…“

Surat Heloise kepada Abelard: “Engkau akan selalu mendapatkanku siap mengikutimu. Aku akan lebih senang membaca surat-surat yang akan kau tulis mengenai manfaat nilai-nilai kebaikan daripada membaca surat-suratmu dulu yang penuh gairah meracuni.”

Selang tujuh kali bersuratan, Abelard meninggal dunia pada 1142 dan Heloise pada 1163. Terjemahan surat cinta mereka dalam bahasa Prancis dan Inggris terbit pada abad ke-17. Seorang penyair Inggris, Alexander Pope, menarasikan kegundahan Heloise dalam tiga surat balasannya kepada Abelard lewat puisi “Eloisa to Abelard” pada 1716.

Dalam artikel “Letter Writing and Vernacular Literacy in Sixteenth Century England”, Webster Newbold menyebutkan tiga manual penulisan surat, yang memuat teknis dan panduan menulis surat cinta, bagi masyarakat kalangan atas Inggris masa itu. Ketiga manual tersebut adalah The Enemy of Idleness (1568) oleh William Fullwood, A Panophy of Epistles (1576) oleh Abraham Fleming, dan The English Secretary (1586) oleh Angel Day.

Di antara ketiga manual, The English Secretary menurut Newbold memuat panduan surat cinta paling menarik. Panduan ini dimulai dengan parameter relasi lelaki dan perempuan, “…surat dengan kelembutan dari seorang lelaki kepada perempuan.” Lalu Angel Day menengahkan dua skenario surat cinta. Pertama, sang lelaki memohon, sang perempuan merespon dan diakhiri dengan jawaban sang lelaki. Kedua, sang lelaki menyatakan cinta dan sang perempuan menjawab.

Day juga mengingatkan bahwa menulis surat cinta, seperti halnya interaksi sosial lainnya, mewajibkan si penulis mengikuti tata krama sesuai status penerima surat. “Jika seseorang menulis dengan kalimat-kalimat tinggi, maka sebaiknya objek cintanya seorang yang pantas menerimanya, dari segi keturunan, pendidikan, maupun kondisi lain.”

Namun ekspresi cinta melalui surat tak hanya milik kalangan berpendidikan yang membaca manual. Dalam bukunya The Pen and The People: English Letters Writers 1660-1880, Susan Whyman mengulas sejumlah dokumen surat-menyurat kaum awam di Inggris dan menyimpulkan kehadiran kantor pos sebagai salah satu faktor penyebarluasan kebiasaan menulis surat pada berbagai lapisan masyarakat. Kantor pos di Inggris, yang berawal pada 1635, berkembang dari sistem pengantaran surat oleh tukang pos dengan kereta kuda pada 1784.

Perkembangan alat-alat menulis pun mempengaruhi kebiasaan menulis surat. Jika pada masa Ovid surat cinta ditulis dalam panel kayu dengan lapisan lilin, sejak abad ke-16 perkembangan teknologi dan akses akan kertas mendukung kebiasaan menulis surat. Tradisi membubuhkan minyak wangi pada tinta, mengikatkan pita, membubuhkan minyak wangi pada lembar kertas, serta menempel lilin penyegel amplop menjadi tak terpisahkan dari kebiasaan menulis surat cinta pada abad ke-18-19 di Eropa.

Ungkapan cinta dalam surat juga tak selalu berawal dari sang lelaki, atau antara lelaki dan perempuan, sesuai standar berbagai manual penulisan surat.

“Aku tidak akan hidup. Aku seorang perempuan yang janggal dan aku takkan mampu mempertahankan hidup ini… Bawalah aku bersamamu, aku tak akan mengganggumu. Aku akan tidur sepanjang hari. Di sore hari engkau dapat mengizinkanku ke teater; dan pada malam hari engkau dapat melakukan apapun yang kau mau denganku,” tulis sosialita penghibur Marie Duplessis kepada komposer Hungaria, Franz Liszt dalam Grandes Horizontales oleh Virginia Rounding.

Duplessis, yang kecantikan dan ketenarannya mengilhami Alexandre Dumas menulis Lady of the Camellias, sedang sekarat akibat tuberkulosis ketika menyurati Liszt pada 1845. Dia meninggal setahun kemudian, tanpa kehadiran Liszt yang berjanji untuk berada di sisinya.

Hubungan sesama pria pada masa itu juga terekam lewat surat cinta, termasuk antara penulis Oscar Wilde dan Lord Alfred Douglas atau Bosie.

“London adalah sebuah gurun tanpa langkah kakimu yang anggun… kuberikan semua cintaku –sekarang dan selamanya, selalu dan dengan pengabdian– namun aku kehilangan kata mengungkapkan bagaimana aku mencintaimu. Tertanda, Oscar.”

Hubungan cinta mereka membuat ayah Bosie, Marques of Queensberry, murka. Ketegangan antara Marquess dan Wilde memuncak dengan proses pengadilan bagi Wilde atas tuduhan sodomi dan tindakan homoseksual yang berujung hukuman penjara selama dua tahun bagi sang penulis (1895-1897). Wilde meninggal dunia tiga tahun kemudian setelah bebas.

“Tak dapat dipungkiri, ada kaitan erat antara hukuman penjara dan kematiannya yang prematur. Namun, kondisi Oscar memburuk bukan karena dipenjara, melainkan karena kesempatan menulis dan bersuaranya dirampas,” ujar Merlin Holland, cucu Wilde, dalam wawancara dengan The Telegraph, 30 Mei 2009. Surat-surat Oscar kepada Bosie kini menjadi bagian dari arsip British Literary Manuscripts Online circa 1660-1900.

Ahli etiket Amerika awal abad ke-20, Emily Post menulis tiga bagian khusus tentang panduan surat-menyurat bagi lelaki dan perempuan dalam bukunya Etiquette in Society, in Business, in Politics and at Home pada 1922.

“Jika kamu bertunangan, tentu kamu sebaiknya menulis surat cinta –ini adalah salah satu hal terindah yang dapat kamu lakukan. Namun hindari menulis dalam bahasa ‘bayi’ atau hal-hal bodoh lainnya yang hanya akan membuatmu merasa dungu jika surat tersebut jatuh ke tangan orang asing,” demikian salah satu anjurannya.

Dalam berkorespondensi, Post menyarankan tak menulis dengan pensil (“kecuali jika kamu menulis untuk sanak saudara di dalam kereta atau tak berhasil mencari tinta atau sakit hingga harus berbaring”); berhati-hati menggunakan garis bawah dan P.S.; serta tak menebarkan kata-kata asing dalam teks surat kecuali tak ada padanan kata (“selain tak menunjukan keunggulan, penggunaan kata-kata asing membuktikan ketakpedulianmu terhadap bahasa sendiri).

Menulis surat cinta kini seolah menjadi peninggalan waktu. Komunikasi email, IM, ponsel menggerus kebiasaan menulis surat cinta. Tanpa surat cinta, lenyap pula dokumentasi keindahan perjalanan emosi manusia. Sifat instan teknologi mempersingkat cara manusia berinteraksi, sehingga tak mampu merekam segala nuansa perasaan layaknya selembar surat. [MIRA RENATA/KONTRIBUTOR]

sumber: http://www.majalah-historia.com/majalah/historia/berita-435-mengabadikan-cinta.html

P.S.

Itulah kenapa sepucuk surat cinta jauh lebih berarti dari sebuah pesan singkat SMS atau email.. Karena setiap tekanan dari setiap huruf yang diukir sarat akan makna cinta.. dan kumpulan surat cinta disimpan dalam sebuah box khusus, bagai meletakkan barang paling berharga dalam hidup sang Perempuan… 🙂

Kalau perempuannya seorang Grapholog, Surat Cinta bisa membuat dia mengetahui bagaimana karakter sang Pujaan Hatinya ini, sehingga dia tahu bagaimana perlakuan yang terbaik sebagai ungkapan cinta kepada sang Pujaan Hati… 🙂

*maksud saya ke suami 😀

Posted in Kelakuan Remaja Tua

48 jam pengamatan perdanaku ^__<

24 jam pertama:

Dari pada gak mulai-mulai, lebih baik langsung melakukan metode yang gampang dulu…yups! Metode scan sampling tampaknya yang paling menyenangkan..hehehe
24 jam pengamatan perdana ditemani oleh 3 pria Nymphaea: Bokir kahimku, Agung sang Presiden PSIK, dan Rizal pengantar pulang terbaik (soalnya cuma dia yang berhasil mengikuti angkot kyky kalo pulang malam,heuheu…) kata anak-anak tumben kyky akur sama mereka. Secara kalo di kampus apalagi kalo bahas kemahasiswaan kita gak pernah akur dan selalu berantem. Makanya aku diketawain sama anak-anak,heuheuheu….sudahlah! yang penting bala bantuan datang.huehehehe..

Ternyata kyky kedatangan tamu yang tepat buat dijadiin partner TA. Persiapan mereka lebih yahut dari kyky, apalagi Agung, dia bawa peralatan tempur macam golok, tenda darurat, dan ponco. Bahkan waktu nemu bamboo nganggur ajah, Agung langsung ngeluarin goloknya trus dipotong buat jadi tiang penyanggah tenda darurat buat pengamatan…”hwaa….terharu…..kayaknya tanpa mereka, pengamatan akan berjalan di bawah payung besar dengan terpaan angin pantai yang dahsyat dan berakhir dengan masuk angin! Hahahahha…..” :p

Pengamatan dimulai pada pukul 15.00 di lapangan Hotel Badeto, tepatnya di tempat penampungan sampah yang rame.

Awalnya pengamatan dilakukan dengan interval 5 menit sekali. Cuma…lama-lama bergeser jadi 10 menit sekali karena Rusanya makin banyaaaak! Secara babeh mintanya ngesyut semua hewan dan di zoom satu per satu. Hweleh,hweleeeh……

Malam pun datang dan lapangan yang tadinya rame jadi sepi, tinggal kita berempat yang nenda disana bagai korban pengungsian bencana alam.hihihi…

Semakin malaaam…. “kruyuk,kruyuk…LAPAAAARR…….” Ditunjuklah Bokir dan agung yang menjadi seksi konsumsi…konsumsi selama pengamatan meliputi nasi goreng, kopi nestle, milo, biskuit-biskuit, bir bintang (cuma Agung yang minum dan belinya pake duit Agung sendiri.. karena perjanjian awal kyky gak mau uangnya kepake buat beli konsumsi yang gak halal ^___^v ), sampe ice cream Cornetto. Sempat terjadi adu argumen antara Agung dan kita bertiga tentang asal usul Cornetto. Agung kekeuh kalo Cornetto itu memang punya Walls, tapi kita bertiga kekeuh kalo Cornetto itu dulu punya Campina….hwalaaaaah…….debat Cornetto kok pas lagi pengamatan toooh!!!!

Demi membunuh nyamuk, Agung memasang obat nyamuk bakar di dalam tenda. Demi membunuh ngantuk, Bokir dan Rizal bernyanyi…dari lagu anak-anak sampai lagu dangdut, lalu dihubungkan antara anak-anak dan dangdut… “hwaaa…..” gak lama Agung dan Bokir beraksi dengan menyanyikan lagu Slow Rock Malaysia, “TIDAAAAAAKK…….kok selera kita sama sih? hahahhaha….” :p

Makin larut malam makin gak kobe..jadinya gantian pengamatannya…Agung-Rizal trus Bokir-Kyky..kadang tuker partner pengamatan…sampe pagi…..i,i,i,i…

=== tulisan ini repost dari notifikasi fb tanggal 26 Oktober 2008 ====

Posted in Cerita Hidup

nostalgia akhwat siyasi-2010

Hari ini aku diundang untuk mengisi suatu acara informal untuk 2010. Yaa.. agendanya hanya silaturahim antara adik-adik 2010 yang beraktivitas di kemahasiswaan dengan para dedengkotnya, hehehe… dan dapat ditebak, akulah yang paling  tua disana, hehehe…

Alumni dan calon alumni yang datang ada aku, Dinda, Agtri, dan Mira. Acara ini diinisiasi oleh adik-adik 2007. Disana, kami ditodong untuk bercerita tentang pengalaman kami masing-masing saat berkecimpung di dunia kemahasiswaan. Berasa nostalgia masa-masa muda dulu, hehehe…

Seperti biasa, selalu yang paling tua yang didahulukan untuk bercerita, kemudian dilanjutkan oleh Dinda, Agtri dan yang terakhir adalah Mira,heuheuheu..

Waah..seneng banget bisa berbagi pengalaman sekaligus dengerin pengalaman dari adik-adik 2005 ku yang ternyata perjuangan mereka gak kalah seru  dan ternyata kita punya dilematis yang sama saat menjadi akhwat kemahasiswaan, dan lebih membagakan lagi ketika kami bisa berbagi hikmah dari setiap perjuangan yang dialami.. Yaah, perjuangan adalah proses kehidupan untuk menjadi manusia yang pastinya berharap menjadi sosok yang terbaik.

Dari berbagi cerita tersebut, aku jadi ngerasa “waah, Allah..adik-adik 2005 ternyata subhanallah yaah!” merasa menemukan sisi lain yang selama ini tidak aku ketahui dari mereka. Selama ini kami dekat, namun ternyata aku tidak tahu kisah perjuangan mereka.

Siapa yang nyangka salah satu dari mereka baru belajar mengenal Islam dan langsung diberikan amanah sebagai seorang Ketua Kemuslimahan Gamais. Kemudian kecebur di dunia kemahasiswaan pusat yang bertolak belakang dengan aktivitasnya sebelumnya. Merelakan kelulusan demi melaksanakan amanah yang diberikan padanya, dan akhirnya Selasa 15 Maret ini dia akan melaksanakan sidang kelulusan S1nya. (Semoga Allah memperlancar proses kelulusannya, aamiin)

Siapa yang nyangka dibalik ketegasan, kecuekan, aksi protes, dan kecomelan salah satu dari mereka ternyata menyimpan suatu kebanggaan bahwa dia adalah seorang anak seorang petani yang memiliki semangat juang yang tinggi. Berjuang untuk bangga di mata orang tua dalam menjaga amanah kuliah, namun tidak menyurutkan langkahnya untuk menegakkan syariat Islam di tengah-tengah dunia hedonisme jurusan. Berjuang melawan segala bentuk ketakutan untuk menghadapi swasta-swasta ketika menanyakan sesuatu yang tidak dia mengerti, yang tidak sesuai dengan hati nurani, didekati swasta untuk diajak diskusi, hingga terlibat dalam pembuatan GDK himpunan. Dibalik perjuangan itu, dia rela meninggalkan gelar cumlaude dan menghadapi ujian kehilangan ayahanda tercinta di kampung.

Adal lagi kisah yang gak kalah unik, tadinya dia kecebur di dunia Gamais dan MATA’, meminta untuk masuk ke dunia kemahasiswaan. Maksud hati untuk dilibatkan di himpunan oleh seorang teteh, malah diceburin ke kemahasiswaan terpusat dan akhirnya dia memulai perjuangannya di kemahasiswaan terpusat. 🙂

Menjadi seorang akhwat yang memiliki amanah beraktivitas di kemahasiswaan, banyak ujiannya, banyak tantangannya, karena lahan da’wahnya yang heterogen. Kadang merasa minder ketika berjumpa dengan sahabat-sahabat akhwat yang beraktivitas di Salman. Mereka terlihat santun, lemah lembut, bahkan lingkunganpun sangat mendukung mereka untuk tetap terjaga, menjadi seorang Akhwat yang berakhlaq amat cantik. Kadang merasa iri. Kondisi aktivitas yang heterogen mengharuskan menghadapi 2 pilihan: terwarnai atau mewarnai lingkungan sekitar. Kadang merasa minder karena sedikit kehilangan kelembutan sosok wanita, manakala harus bersikap keras bahkan jutek kepada orang lain. (hehehe..rata-rata karakternya seperti itu :p ) tapi, mau bagaimana lagi?? lingkungan yang membentuk sedemikian rupa, selain untuk menjaga diri sendiri, juga menjaga teman-teman ammah dan saudara-saudara ikhwan.

Kalau mau ditelaah yaa, dimanapun kita beraktivitas, pasti memiliki ujian tersendiri, baik beraktivitas di “zona nyaman” maupun “zona abu-abu”. Gak selalu yang beraktivitas di “zona abu-abu” memiliki tantangan dan ujian yang lebih besar dari “zona nyaman”, karena “zona nyaman” itu sendiri memiliki tantangan dan ujian yang luar biasa untuk tetap menjadi zona yang  nyaman untuk tempat orang-orang di zona abu-abu ini pulang dan merecharge diri, menghadapi tantangan untuk berda’wah ke sesama umat Muslim yang notabene juga sama besar ujiannya dengan yang berafiliasi di zona abu-abu. Dan tantangan mereka terberat adalah bagaimana mengemas da’wah Islam dalam suatu kemasan yang cantik, sehingga saudara-saudara sesama muslim lainnya tertarik untuk mendalami Islam.

Di sesi curhat, lagi-lagi kepentok sama kendala PULANG MALAM! hihihihi… tampaknya ini selalu menjadi permasalahan yang gak akan pernah habisnya disinggung buat akhwat. ^__^

Pulang malam? hhmm…kalau boleh aku bilang, dapat dipastikan ketika akhwat pulang malam, ada alasan yang kuat dan gak selamanya dijudge, kemudian diomelin, dimusuhi tanpa mendengarkan alasan mereka terlebih dahulu. Dulu, sewaktu masih jadi bocah (tingkat 2), pernah ditegur sama salah seorang kakak Presiden KM ITB. Sebegitu beliau khawatir dengan adik-adik akhwatnya, sampai-sampai beliau neleponin teman-temannya yang punya mobil untuk mengantar kami pulang, walau akhirnya kami pulang sendiri. Kebetulan masih sekitar Isya’ pada saat itu.

Lain lagi cerita waktu punya amanah sebagai Sekretaris Kabinet.. Kalau udah maghrib, biasanya Bapak Direktur PSDM sengaja berdiri di pintu sekre atau di dekat tangga sambil ngeliatin adik-adik akhwat (perempuan) yang masih beraktivitas di sekre. Pernah waktu itu iseng nanya, “Kakak kenapa masih berdiri disini? kan udah maghrib?” Lalu Bapak Direktur PSDM berkata, “Untuk memastikan adik pulang!” weew… tegas sekali beliau. Pulang termalam ketika jadi Sekretaris Kabinet adalah pada saat LPJ Akhir Kabinet 2006-2007. Agenda deadline yang diberikan Kongres untuk menerima salinan LPJ adalah pukul 23.59, sedangkan ada beberapa departemen yang belum mengumpulkan LPJ Akhirnya, yang menyebabkan tugas Sekretaris Kabinet semakin menumpuk dan terpaksa pulang pukul 23.00. Alhamdulillahnya waktu itu salah seorang Sekretarisnya ada yang bawa mobil, jadi kami pulang bareng-bareng.

Lebih berbeda lagi ketika dapat amanah jadi Senator, Kongres KM ITB. Bukan pulang  malam lagi yang jadi kendala, tapi pulang pagi! Tuntutan melaksanakan forum massa, LPJ 3 bulanan, dan Sidang Istimewa Kongres, membuat jumlah SKS kemahasiswaan lebih besar dari SKS perkuliahan. Karena basis keterwakilan senator saat ini adalah berbasis lembaga, maka tugas Senator Himpunan semakin berat. Gak hadir, yaa hilanglah suara lembaganya.. Untuk itulah kenapa aku punya perjanjian dengan Senator Senior (Teh Sri Aktaviani) mengenai agenda pulang malam. Pulang malam akan terpaksa dilakukan jika dan hanya jika: (1) Forum yang dihadiri adalah forum pengambilan suara atau Laporan Pertanggung Jawaban, (2) Forum yang dihadiri mengancam legitimasi Kongres di kemahasiswaan KM ITB, (3) Sidang Istimewa, dan itu harus sepengetahuan Mas’ul atau ketua masing-masing di lembaga dan kondisi pulang terjamin.

Untuk akhwat, sebenarnya pulang malam itu tergantung dari merekanya sendiri. Sebenarnya bisa menegaskan kepada lembaga perihal “menghindari” aktivitas malam di kemahasiswaan dengan cara mengkomunikasikannya dengan Ketua lembaga, sehingga dapat dicari solusi terbaik agar akhwatnya tetap bertanggung jawab dengan amanahnya dan kebutuhan lembaga terpenuhi. Kalaupun terdesak pulang malam, kembali lagi komunikasikan perihal kepulangan akhwat, jangan sampai akhwat malah mendzolimi diri sendiri. Jadi, Tegaslah! ^__^

Beraktivitas itu yang paling berat adalah menjaga keikhlasannya. Ikhlas dalam mengemban amanah yang dipercayakan dan ikhlas menerima segala konsekwensi yang mengikutinya. Ikhlas hanya punya waktu yang lebih sedikit dari teman-teman yang tidak beraktivitas di organisasi. Padahal Allah memberikan waktu yang sama antara kita dengan teman-teman tersebut, 24 jam per harinya. Ikhlas dalam menerima amanah yang beban kerjanya lebih besar atau lebih banyak dari orang lain. Ikhlas bahwa kapasitas fisik yang dimiliki tidak sebesar semangat juang yang membara. Ikhlas dalam menjaga kestabilan hati ketika amanah yang diberikan itu adalah posisi prestisius, sehingga tidak timbul rasa riya di hati. Ikhlas untuk menerima partner kerja dengan karakter apapun, gender apapun, dengan tetap menjaga stabilitas kerja, berusaha untuk tetap profesional, dan menjaga aib dari partner kerja kita tersebut (terutama yang dapat amanah menjadi orang kepercayaan seorang mas’ul atau pemimpin). Ikhlas ketika pekerjaan yang kita lakukan berpayah-payah dipandang sebelah mata oleh orang lain, oleh orang-orang terdekat kita, bahkan oleh orang yang kita sayangi dan cintai. Ketika rasa ikhlas itu terpelihara dalam diri, yang ada hati ini hanya mengharapkan penilaian dari Allah semata. Dan ketika mendapatkan penilaian dari manusia, hati ini akan ikhlas dalam menerima penilaian itu, karena hati sudah terkondisikan untuk berharap penilaian terbaik dari Allah. 🙂 (sebenarnya gak cuma di dunia organisasi aja sih, tapi berlaku juga di dunia kehidupan sosial lainnya, karena ruang da’wah itu luas ^___^ )

Dalam beraktivitas baik di kemahasiswaan maupun di Salman, hal yang paling penting yang harus dijaga adalah komunikasi. Karena komunikasi itulah yang menjaga kita dari kefuturan ditengah-tengah banyaknya amanah yang sedang dijalani. Yang paling kerasa adalah ketika kita berkomunikasi dengan Allah, berkomunikasi dengan Murabbiyah kita, dan berkomunikasi dengan sahabat yang dapat dipercaya untuk saling menjaga, saling mengingatkan satu sama lain..

Dimanapun kita beraktivitas dan diberikan amanah, yakinlah pada saat itu Allah menempatkan kita sesuai dengan kapasitas yang  kita miliki. Coba cek deh di Q.S. Al- Baqarah ayat terakhir. Ketika diri merasa letih, lemah, bingung, merasa kehilangan arah dan udah gak sanggup lagi dengan amanah yang diemban, mintalah kepada Allah.. minta diberi kekuatan, minta diberi kesabaran, minta diberi jalan keluar, dan minta diberi keikhlasan dalam melalui semuanya. Kenapa? Karena Allahlah sumber kekuatan kita… ^__^

Kalau lihat dari tulisan di atas, saya jadi teringat pesan dari teteh-teteh biologi saya tercinta yang juga aktif di kemahasiswaan terpusat (Teh Grace Monica, Teh Novasyurahati, Teh Sri Aktaviani), “Jangan pernah mematikan potensi dan karakter yang Allah anugerahkan buat kamu. Kamu adalah kamu dan tidak akan pernah bisa menjadi orang  lain. Yang benar adalah senantiasa berusaha untuk tetap berjalan dalam koridor syar’i. Ketika mulai merasa berjalan keluar dari koridor itu, segera perbaiki jalanmu. Allah Maha Pengampun dan Allah Sumber Kekuatan Hamba-hambaNya” 🙂

Wallahu’alam..
senang banget bisa berbagi dan bernostalgia dengan adik-adik 2010… senang juga jadi lebih akrab dengan adik-adik 2005 ^__^
Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari api neraka dan menghimpun kembali kita di SurgaNya kelak, yaaa… aamiin…
Semangat berjuang dan belajar di dunia kampus, adik-adikku…. \ ^ o ^ /

=== momen tanggal 13 Maret 2011 ===

Posted in Melancholische Seite

kembalikan senyumku. .

 

ayo kyky..kembalikan senyummu yang indah seperti dulu!

karena senyummu itu bukan hanya milik satu orang,, tapi milik semua orang yang sayang sama kamu..!

sudah, tinggalkan semua pengap yang menyesak di dada

lepaskan luka yang teramat dalam itu

kembalilah tersenyum…

kembalilah seperti kyky yang dulu…

*monolog*

Posted in Cerita Hidup

moral seorang anak jalanan

GAK BERMORAL!!!
GAK BERETIKA!!!
Bagaimana bisa menuntut etika dan moral pada seorang anak jalanan?
Di jalanan, mana ada mata pelajaran etika dan moral?!
mereka saja adalah korban dari ketidakmoralan kaum-kaum borjuis
miskin! lapar! tergusur! terbuang! mana sempat mereka berpikir apa itu moral, apa itu etika!
yang ada di otak mereka hanyalah bagaimana bisa bertahan hidup untuk hari ini! titik!

Sia-sia rasanya menuntut sebuah etika dari seorang pengemis jalanan.
mereka sendiri adalah korban etika dari kaum elit yang menjunjung tinggi etika!
apa itu etika?
kaum elit hanya bisa menterjemahkan dari kalangan mereka saja!
pernahkan terbesit untuk beretika di luar kelompok mereka?
membungkukkan badan saat melewati pengemis tua saja tidak mau! apalagi memberikan seberkas senyuman?!
congkak! angkuh! sombong!

Rindu rasanya diri ini untuk kembali ke jalan..
merasakan indahnya suara klakson mobil, menghitung batu jalanan yang ditemukan saat menyusuri jalan, menguak misteri kejujuran dan kebohongan kehidupan jalanan.

Rindu rasanya diri ini untuk kembali ke jalan..
menikmati setiap canda tawa anak pengemis jalanan,,yang masih bisa tertawa lepas tanpa beban, walau mereka tidak tahu akan makan apakah di hari itu.

Rindu rasanya diri ini untuk kembali ke jalan..
mengajarkan hitungan dan qur’an…merasa diri ini jauh lebih terpelajar,,padahal dia sedang belajar dari mereka, tentang bagaimana mensyukuri sebuah kehidupan

*merenung dari kejadian kaca mobilku dihantam pengemis jalanan.*