Posted in Cerita Hidup, Nasib Gadis di Rantau Orang

Suasana Imlek ala Kantor

Lampion-lampion di sepanjangย  lorong lift Gedung Artha Graha

Pohon Mei Hua dengan gantungan Hong bao, tapi sayang Hong bao-nya g ada isinya, hihihi…

Pohon-pohon sepanjang jalan masuk Gatot Subroto via SCBD dipasang lampion-lampion. Ada juga di jalan masuk Sudirman via SCBD.

Paket bingkisan dan kartu Imlek untuk Lao shi Wang hasil udunan rame-rame ๐Ÿ˜€

Mejeng dulu sebelum pulang kerja, hehehe… :p

Dapet Kue Keranjang dari Cici Dokter Perusahaan ๐Ÿ™‚

Kue Keranjang dari Cici Dokter Perusahaan ๐Ÿ™‚

Hong Bao dari Ibu Wang dan Lao shi ๐Ÿ˜€

Foto bareng kelas mandarin PT. Danayasa Arthatama, Tbk bersama Lao shi Wang (tengah)

Posted in Mari Membaca

Just write-7

Diantara orang yang aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku di hari kiamat adalah orang yang baik akhlaknya. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di hari kiamat adalah ats-Tsartsarun (orang yang memaksakan diri untuk memperbanyak perkataan), al-Mutasyaddiqun (orang yang bicaranya kesana-kemari tanpa kehati-hatian) dan al-Mutafayqihun (orang yang sengaja memperluas cakupan pembicaraan dan membuka mulut mereka dalam pembicaraan tersebut serta memfasih-fasihkan/membagus-baguskan bahasanya dalam pembicaraan). (Muttafaqโ€˜alaih)

Posted in kyky belajar, Mari Membaca

Cerdas Dalam Berdzikir

Sumber: Era Muslim

Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ memerintahkan hamba-hambaNya agar memperbanyak dzikir. Memperbanyak mengingat-Nya. Barangsiapa mencintai Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ niscaya dengan senang hati ia memperbanyak mengingat Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ . Betapa tidak, Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ merupakan Dzat Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidak sepantasnya seorang yang mengaku beriman kepada Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ lalu menjadi orang yang malas dan enggan mengingat-Nya.

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุงุฐู’ูƒูุฑููˆุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุฐููƒู’ุฑุงู‹ ูƒูŽุซููŠุฑุงู‹

โ€œHai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (ingatlah) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.โ€ย (QS. Al-Ahzab [33] : 41)

Bahkan Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ menggambarkan bahwa orang-orang yang menggunakan akalnya dan rajin merenung adalah mereka yang mengingat Allah dalam setiap gerak hidupnya, baik saat berdiri, duduk maupun berbaring.

ุฅูู†ูŽู‘ ูููŠ ุฎูŽู„ู’ู‚ู ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ุฃูŽุฑู’ุถูย ูˆูŽุงุฎู’ุชูู„ุงูŽูู ุงู„ู„ูŽู‘ูŠู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู†ูŽู‘ู‡ูŽุงุฑู ู„ุขูŠูŽุงุชู ู„ูู‘ุฃููˆู’ู„ููŠ ุงู„ุฃู„ู’ุจูŽุงุจูย ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุฐู’ูƒูุฑููˆู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ูŽ ู‚ููŠูŽุงู…ุงู‹ ูˆูŽู‚ูุนููˆุฏุงู‹ย ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ูŽ ุฌูู†ููˆุจูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุชูŽููŽูƒูŽู‘ุฑููˆู†ูŽย ูููŠ ุฎูŽู„ู’ู‚ู ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ุฃูŽุฑู’ุถู

โ€œSesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.โ€ย (QS. Ali Imran [3] : 190-191)

 

Salah satu ciri khas masyarakat jahiliyah, di zaman kapanpun dan di negeri manapun, ialah lalai dalam mengingat Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ . Mereka tidak memandang perlu menjadikan Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ sebagai fokus perhatian dalam hidupnya. Mereka menyangka bahwa segala gerak-gerik hidupnya dapat diatur oleh dirinya sendiri dan menurut nilai-nilai, aturan dan hukum bikinannya sendiri. Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ hanyalah tempat meminta saat sedang menghadapi kesulitan. Tapi secara umum mereka memandang bahwa Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰, nilai-nilai dien-nya, aturan-Nya apalagi hukum-Nya tidak perlu โ€œdilibatkanโ€ di dalam kehidupan mereka. Sungguh sombong sekali sikap kaum jahiliyah itu.

Padahal di dalam ajaran Islam Rasulullah Muhammad ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… mengajarkan kepada ummatnya agar tidak sekedar rajin memperbanyak dzikrullah. Tapi hendaknya berdzikrullah dengan cerdas. Artinya kita disuruh memilih dan mengamalkan dzikir mengingat Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ yang efisien. Jumlah sepertinya tidak terlalu banyak tetapi bobotnya berat di sisi Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ dan RasulNya ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… . Salah satu contohnya ialah yang dijelaskan melalui hadits shahih di bawah ini:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽย ุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ู…ูู†ู’ ุนูู†ู’ุฏูู‡ูŽุง ุจููƒู’ุฑูŽุฉู‹ ุญููŠู†ูŽ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ุตูู‘ุจู’ุญูŽย ูˆูŽู‡ููŠูŽ ูููŠ ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูู‡ูŽุง ุซูู…ูŽู‘ ุฑูŽุฌูŽุนูŽย ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽุถู’ุญูŽู‰ ูˆูŽู‡ููŠูŽ ุฌูŽุงู„ูุณูŽุฉูŒย ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุง ุฒูู„ู’ุชู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุญูŽุงู„ู ุงู„ูŽู‘ุชููŠย ููŽุงุฑูŽู‚ู’ุชููƒู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู†ูŽุนูŽู…ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽย ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ู‚ูู„ู’ุชูย ุจูŽุนู’ุฏูŽูƒู ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽ ูƒูŽู„ูู…ูŽุงุชู ุซูŽู„ูŽุงุซูŽ ู…ูŽุฑูŽู‘ุงุชูย ู„ูŽูˆู’ ูˆูุฒูู†ูŽุชู’ ุจูู…ูŽุง ู‚ูู„ู’ุชู ู…ูู†ู’ุฐู ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ู„ูŽูˆูŽุฒูŽู†ูŽุชู’ู‡ูู†ูŽู‘ย ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุจูุญูŽู…ู’ุฏูู‡ู ุนูŽุฏูŽุฏูŽ ุฎูŽู„ู’ู‚ูู‡ูย ูˆูŽุฑูุถูŽุง ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ูˆูŽุฒูู†ูŽุฉูŽ ุนูŽุฑู’ุดูู‡ู ูˆูŽู…ูุฏูŽุงุฏูŽ ูƒูŽู„ูู…ูŽุงุชูู‡ู

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan ‘Amru An Naqid dan Ibnu Abu ‘Umar -dan lafadh ini milik Ibnu Abu ‘Umar- mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Muhammad bin ‘Abdurrahman -budak- keluarga Thalhah dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas dari Juwairiyah bahwasanya Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… keluar dari rumah Juwairiyah pada pagi hari usai shalat Subuh dan dia tetap di tempat shalatnya. Tak lama kemudian Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… kembali setelah terbit fajar (pada waktu dhuha), sedangkan Juwairiyah masih duduk di tempat shalatnya. Setelah itu, Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… menyapanya: “Ya Juwairiyah, kamu masih belum beranjak dari tempat shalatmu?” Juwairiyah menjawab; ‘Ya. Saya masih di sini, di tempat semula ya Rasulullah.’ Kemudian Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… berkata: ‘Setelah keluar tadi, aku telah mengucapkan empat rangkaian kata-kata -sebanyak tiga kali- yang kalimat tersebut jika dibandingkan dengan apa yang kamu baca seharian tentu akan sebanding, yaitu:

ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุจูุญูŽู…ู’ุฏูู‡ู ุนูŽุฏูŽุฏูŽ ุฎูŽู„ู’ู‚ูู‡ูย ูˆูŽุฑูุถูŽุง ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ูˆูŽุฒูู†ูŽุฉูŽ ุนูŽุฑู’ุดูู‡ู ูˆูŽู…ูุฏูŽุงุฏูŽ ูƒูŽู„ูู…ูŽุงุชูู‡ู

‘SUBHAANALLOOHI WABIHAMDIHI, ‘ADA KHOLQIHI WARIDHOO NAFSIHI WAZINATA ‘ARSYIHI WAMIDAADA KALIMAATIHI.”Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya sebanyak hitungan makhluk-Nya, menurut keridlaan-Nya, menurut arasy-Nya dan sebanyak tinta kalimat-Nya.’ย (Hadits Shahih Muslim No. 4905)

Subhanallah…!ย Bayangkan, selama Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… keluar rumah sesudah sholat subuh sampai beliau kembali di waktu dhuha Juwairiyah berada di atas sajadahnya berdzikir mengingat Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ . Dan sesudah Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… pulang, beliau mengatakan bahwa selama sedang keluar itu ada suatu amalan dzikrullah yang dibacanya sebanyak tiga kali yang bobotnya setara dengan dzikrullah Juwairiyah selama duduk di atas sejadahnya. Inilah dzikrullah yang cerdas, efisien namun berat bobotnya di sisi Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ dan sisi RasulNya ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… .

Semoga Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ tanamkan ketekunan di dalam diri dan keluarga kita untuk cerdas dalam berdzikir mengingat Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆ ุชุนุงู„ู‰ . Salah satunya ialah dengan membaca setiap pagi dan petang hari sebanyak tiga kali kalimat berikut:

ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุจูุญูŽู…ู’ุฏูู‡ู ุนูŽุฏูŽุฏูŽ ุฎูŽู„ู’ู‚ูู‡ูย ูˆูŽุฑูุถูŽุง ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ูˆูŽุฒูู†ูŽุฉูŽ ุนูŽุฑู’ุดูู‡ู ูˆูŽู…ูุฏูŽุงุฏูŽ ูƒูŽู„ูู…ูŽุงุชูู‡ู

———————————————————————————————————————————————————————–

Waah… ini kan ada di Dzikir Al Matsurat Pagi dan Petang… Subhanallah! ^__^

Posted in Sein Seit

Bila Hati Sebening Embun

Sumber: Era Muslim

olehย Ineu

Rasa takjub kerap menjalari hati setiap kulihat air bening itu berkilauan di dedaunan atau rerumputan saat matahari mulai menyapa pagi. Biasanya segera kuhampiri benda-benda dimana bulir memukau itu berada. Kutatap lama atau terkadang muncul isengku, menepuknya. Bersorak riang hati bila si bulir bening bernama embun itu kutemukan menempel di daun talas. Rasa heran sering melingkupi lipatan-lipatan otakku saat melihat daun talas yang tetap terlihat kering walau disinggahi sang embun. Kugerak-gerakkan daun talas itu, dan sang embun mengikuti gerakan itu dengan lincah.

Selarik memori di masa kecil kala kulihat embun, ternyata tak berubah hingga kini. Sang embun selalu berhasil memukau mataku. Entahlah, keberadaannya di antara dedaunan, bunga maupun rerumputan selalu mengalirkan kesejukan di mataku dan kilau beningnya yang memantulkan cahaya sebagaimana cermin, menghadirkan rasa takjub memenuhi rongga hati.

Saudaraku, adakah engkau pun mengalami hal yang sama dengan yang kurasakan kala memandangi embun? Kalau ternyata engkau belum pernah memperhatikannya, cobalah sekali waktu. Engkau bisa menemukan wajah sang embun di pagi hari atau bisa saja dengan browsing foto-fotonya, dan rasakanlah sensasinya.

Bila kita perhatikan bagaimana embun terbentuk, kurasa ada sesuatu yang menarik untuk kita pelajari darinya. Embun biasanya terbentuk dengan baik pada malam hari yang cerah dan tenang. Menurut teorinya, embun terbentuk ketika udara yang berada di dekat permukaan tanah menjadi dingin mendekati titik dimana udara tidak dapat lagi menahan semua uap air. Kelebihan uap air itu kemudian berubah menjadi embun di atas benda-benda di dekat tanah. Embun juga terbentuk dengan baik ketika kelembaban tinggi.

Coba kita perhatikan lagi, jika kita ibaratkan kehidupan embun itu pada manusia, kita bisa menemukan orang-orang yang menyejukkan hati kita biasanya bisa dipastikan orang tersebut memiliki hati sebening embun. Dia dapat kita pastikan adalah orang-orang yang sanggup mengendalikan hatinya untuk selalu dalam โ€œsuhu yang dinginโ€ alias tenang dalam menghadapi segala hal. Dia akan selalu berusaha mengendalikan suhu hatinya itu lebih dingin dari keadaan yang berkecamuk di sekitarnya sehingga hatinya bening bagai embun..

Kebeningan hatinya ibarat cermin yang memantulkan cahaya-Nya. Tutur kata dan tingkah laku orang-orang demikian biasanya tak beranjak dari lingkar kebaikan yang tak dapat terbendung lagi pada pribadinya sendiri sehingga orang-orang di sekitarnya akan merasakan kesejukan dari kebeningan embun hatinya. Seperti dikatakan Imam Ghazali, bahwa hati manusia ibarat cermin, sedangkan petunjuk Tuhan bagaikan nur atau cahaya. Dengan demikian jika hati manusia benar-benar bersih niscaya ia akan bisa menangkap cahaya petunjuk Ilahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya.

Orang-orang berhati sebening embun, mereka akan mampu melihat dunia dengan terang benderang karena di anugerahi bashirah (pandangan hati) yang selalu menuntunnya berbuat kebajikan. Dan bashirah akan memunculkan sifat : keberanian, murah hati, penolong, menahan nafsu, sabar, penyantun, konsisten, suka memaafkan, gembira, senang bekerja sama dengan orang lain, tenang, dan sifat-sifat mulia serta terhormat lainnya.

***

Menjadi pribadi berhati sebening embun bukanlah suatu hal yang mudah. Diperlukan riyadhah/latihan yang terus menerus untuk menempa diri dan mengendalikan suasana hati ketika berhadapan dengan berbagai persoalan hidup serta mengendalikan gejolak jiwa saat berhadapan dengan godaan nafsu. Tetapi yakinlah saudaraku, bila tempaan demi tempaan itu membuat hati kita menjadi sebening embun yang dirasakan sejuknya oleh sekitar, maka bisa jadi akhir hidup kita bisa seindah muslimah tersebut.

Posted in Nasib Gadis di Rantau Orang

Liqo Mandiri di Akhir Tahun

Jakarta, 31 Desember 2011

(kelanjutan cerita Kakek Manis Di Penghujung Tahun 2011)

Setiba di Masjid Sunda Kelapa, aku bertemu dengan saudari-saudariku yang Subhanallah! Subhanallah, karena mereka semua adalah peneguh langkahku untuk tetap bertahan di kerasnya, ganasnya, glamournya kehidupan Ibukota.. xD ย  ย Perbedaan status pekerjaan, gak membuat mereka mengasingkanku ataupun aku memandang mereka sebelah mata. PNS vs SWASTA.. yaaa.. masing-masing pasti punya amanah dan tanggung jawab yang yakin Allah SWT sudah menempatkan pada takaran yang tepat.. Walau sesekali juga saling sirik-sirikan, hehehe… :p

Sesuai amanah Ibu Murobbiyah kami, liqo mandiri kali ini adalah setor PR! Setor hapalan Hadist dan Kultum tentang Tayamum yang dibawakan oleh Wanti. Kultum udah berasa materi, soalnya kalau ada yang belum dimengerti pasti dibahas, dan masing-masing memberikan pendapat, dan itu menjadi ragam ilmu pengetahuan yang berarti sekali buat kami. Walau ilmu terbatas, tapi setidaknya kami saling sharing ilmu yang kami punya mengenai Tayamum.. Dan intinya adalah Subhanallah! Allah memberikan begitu banyak kemudahan untuk kita dalam menjalankan Ibadah, dalam menjalankan amanah sebagai seorang hamba… Bodoh sekali jika hati ini masih bermalas-malasan untuk beribadah untuk Dia Yang Maha Pemberi Kenikmatan..

Selesai pembahasan dalam liqo, kami membahas tentang resolusi tahun 2012. Awalnya masing-masing masih agak malu mengungkapkan cita-citanya untuk tahun depan… tapi lama-lama.. lho? kok? hahahahaa.. ternyata sama semuaaa!!! xD ย Yaa.. sudah dapat ditebak sodara-sodara apa cita-cita gadis-gadis kelahiran tahun 1986 dan 1987 di era masa kini dengan potensi diri yang sudah dapat mencukupi hidup sendiri namun masih hidup sendiri… hihihi… :”>

Berhubung di Masjid, jadilah kami banyak-banyak berdoa, semoga Allah berkenan mengabulkan permohonan kami yang seragam ini, aamiin! aamiin! aamiin yaa robbal’alamiin… :”> *hihihi.. standar gadis-gadis pengajian banget yah! :”> xD

Ngomong-ngomong tentang bahasan di atas.. tiba-tiba jadi nelangsa ajah.. Jadi inget nasihat dari Teteh Murobbiyahku yang di Bandung. Teteh Murobbiyahku memberi nasehat, “Kita adalah Muslimah, berbeda dengan perempuan yang lain. Dalam perihal pasangan hidup, kita tentu saja harus berupaya dan berusaha sebagai wujud keseriusan kita memohon kepada Allah. Kita adalah Muslimah, usaha yang kita lakukan adalah dengan BEBENAH DIRI, PERCANTIK AKHLAQ, dan MENAMBAH ILMU PENGETAHUAN. BEBENAH DIRI dengan memberikan hak fisik untuk tampil sehat, bersih, dan bugar. PERCANTIK AKHLAQ dengan memberikan hak hati untuk hidup sehat dengan perilaku keseharian kita yang mencerminkan seorang muslimah. Dan MENAMBAH ILMU PENGETAHUAN adalah hal yang paling penting, karena kelak kita adalah Madrasah bagi putra-putri yang diamanahkan oleh suami kita dan terutama Allah. Cerdas menjadi Istri, cerdas menjadi Ibu. Tanggung jawab seorang Ibu Rumah Tangga bukan sebuah hal yang sepele, Ibu Rumah Tangga itu adalah pengkader umat, Pengkader putra putrinya untuk menjadi manusia yang taat kepada Allah dan Rasul serta memberi manfaat untuk umat.”

“Bukan bersolek berlebihan, bukan berpenampilan berlebihan, bukan bertindak berlebihan.. Karena kita adalah Muslimah…” begitu nasehat Teteh Murobbiyah..

Inget nasehat ini, jadi ingat sebuah tulisan dari Era Muslim.. Menggelitik, karena ada ungkapan “memang jodoh di tangan Allah, tapi kalo nggak kita ambil, ya dia akan tetap berada di tangan Allah..”, hihihi… Tapi, Eits! Tunggu dulu! kelanjutan bahasan dari tulisannya adalah Bagaimana Amal Kebaikan dan Akhlaq yang Mulia menghantarkan kita kepada jodoh yang Allah takdirkan.

Perbanyak amal kebaikan, percantik Akhlaq, serta tetap Tawakkal kepada Allah akan menghantarkan kita kepada jodoh terbaik. Ingat ukhti-ukhtiku yang sholihah… Kita adalah Muslimah… Muslimah yang berjuang di tengah-tengah arus kehidupan Kota Jakarta… Muslimah yang terdidik dan terkader oleh hidup… Dimanapun kita berpijak dan berkarya, kita adalah Muslimah… ๐Ÿ™‚

Kualitas kedekatan hati-hati kita dengan sesama Muslim berbanding lurus dengan kualitas kedekatan hati kita dengan Allah.. ๐Ÿ™‚

Setelah membahas resolusi, kembali ke alam nyata.. Liqo ditutup dengan rencana-rencana belanja, hihihi! Emang yah! Mental Ibu-ibu.. jelang akhir bulan..hihihi… Yang satu ingin ngerasain gimana pasar rakyat, yang satu ingin ngerasain gimana masuk Mall yang berkelas! ย Lucu juga mendengar salah seorang saudariku berceletuk dengan logat Jawanya, “Eh, katanya kalau masuk ke Mall kayak Grand Indonesia gitu harus pakai pakaian terbagus yang kita punya yah?” Lalu aku jawab, “Gak juga tuh! Aku pede-pede ajah masuk Pasific Place ย pulang kerja dengan wajah capek, muka kucel, dan kadang pake sendal jepit, hehehe..” “Lho? kok bisa tho?” sambungnya. “Yaa bisalaah.. wong kantorku di depan Pasific Place, hihihihi… Aah! sudah-sudah! ngapain juga mikirin kudu berpakaian berkelas kalau mau ke Mall.. Masuk mall mah masuk aja! Yang penting ada yang bisa dibeli opo nda disana?! Wis ah! Temeni aku ke Pasar Senen! Aku butuh pasar rakyat, yang mensejahterakan hidup dan dompetku!” kataku. hihihihi….

Karena masih berdebat masalah pasar dan bingung masalah jalan, akhirnya rencana belanja gagal total! Jadinya kami memutuskan untuk menunggu kajian akhir tahun Masjid Agung Sunda Kelapa yang diadakan ba’da ashar..

Yaaah.. beginilah sodara-sodara.. standar gadis-gadis pengajian banget yah! hihihihi… xD

Dedicated to my beloved sisters: Nenden, Dwi Resmiyarti, Sofia, Wanti, Deta, Tika, dan Citra

Posted in Berbagi Tidak Merugi, Cerita Hidup, Nasib Gadis di Rantau Orang

Kakek Manis Di Penghujung Tahun 2011

Jakarta, 31 Desember 2011

Hari ini adalah hari libur sebelum esok akan menjalani hari kerja (karena piket) di hari pertama di tahun 2012. Agenda hari ini adalah liqo mandiri di Masjid Agung Sunda Kelapa. Seperti biasa, ritual pagi sebelum pergi adalah mencuci pakaian terlebih dahulu dengan harapan pakaian akan kering ketika pulang nanti.

Suasana kosan yang sepi membuatku leluasa untuk menggunakan kamar mandi berlama-lama untuk mencuci. Maklum, penghuninya sebagian besar adalah Non Muslim sedang libur panjang, hehe.. Aku kira hari ini matahari akan bersinar benderang terang, ternyata pagi ini dimulakan dengan gerimis rintik-rintik yang aku temui saat menjemur pakaian.

“Waduw! Udah jam 10 ajah!” Pikirku aku akan datang terlambat tampaknya. Mana PR hapalan hadist belum disiapkan pula! “Masha Allah!!!” *tepokjidat!

Setelah mencuci, bergegas aku siap-siap berangkat liqo. Naik busway tampak lebih baik mengingat aku gak hapal jalan-jalan di Ibukota. Berdasarkan petunjuk salah seorang saudari se-liqo-an, aku turun di Halte Halimun. Duduk manis, kadang berdiri merapat di tiang bus, mulutku komat kamit sambil membaca buku kecil Hadist Arba’in.

Sesampai di Halte Halimun, aku masih harus berjalan kaki menuju Masjid Agung Sunda Kelapa. Di dalam suasana kota yang cukup lenggang, di bawah gerimis hujan yang membasahi Ibukota *mulai lebay.. :p aku harus berjalan di atas jalan yang becek dan membasahi sepatuku yang mulai usang karena aku ajak berlari mengejar Kopaja setiap hari…“Aduuh! kotor nih kaus kakinya! andai aja boleh bawa mobil ke Jakarta, pasti aku gak perlu jalan berbecek-becek ria disini!” gerutuku. Tapi bersyukur juga sih karena kaus kakinya warna hitam, jadi gak keliatan kotor karena becek, hehehe…

Di tengah perjalanan dengan suasana hati yang menggerutu, aku lihat di depanku ada sosok kaki yang jauh lebih kotor dari kakiku. Kaki yang penuh dengan guratan, mengenakan sendal jepit, dan bagian belakang celana panjang yang kotor karena cipratan sendal jepit. Kaki itu berjalan penuh semangat walau lambat, menopang tubuh yang sedang memanggul dua bakul yang berisi Tahu… Yaah, di depanku adalah seorang kakek pedagang Tahu Gejrot.

Kaki yang kotor, celana yang kotor, kaki dengan sendal jepit… mengingatkanku pada sosok Bapak (Kakek). Dulu, sering banget menemukan Bapak dengan kaki yang kotor berlumuran lumpur dan celana panjang hitamnya yang usang karena bapak bekerja sebagai pedagang ikan dengan kolam miliknya. Setiap aku menemui beliau, setiap aku mencium tangan beliau, tercium wangi ikan di tangan yang keras dan kasar karena kapalan… “Ya Allah.. rindu sekali momen-momen itu… Aku rindu mencium tangan itu.. tangan yang kasar, namun lembut ketika membelai wajahku… tangan yang keras, namun lembut saat memperbaiki gayaku membawa Al Qur’an…. Kaki yang kasar dan penuh kapalan, namun sigap setiap adzan berkumandang… Kira-kira Bapak lagi apa yah sekarang? Hanya berharap Engkau memberikan kehidupan yang bahagia untuk beliau bersama Emak disana, ya Allah…” tak terasa air mataku meleleh.

Duh! Jadi ingat kaki! Ketemu Kakek Pedagang Tahu Gejrot! Kufur nikmat banget yah aku! Astaghfirullah! >_<

Apa yah yang dapat dilakukan untuk sosok kakek di depan? Jadi tergoda untuk melakukan sesuatu yang membahagiakan hati… Ingin sekali membasuh kaki beliau yang kotor dengan tissue yang kupunya.. tapi nanti kotor lagi! Memberi sedekah dengan cuma-cuma, beliau bukan pengemis, Kynoy! Gak liat apa bakul segede-gede gaban yang beliau panggul?! “krucuk,krucuk..” (suara perut yang lapar krn belum makan) Ahaa! Beli Tahu Gejrotnya ajaaaa!!! ^__^v

Dengan semangat’45 aku bergegas menghampiri Kakek Pedagang Tahu Gejrot tersebut. “Kakek, aku boleh beli Tahunya gak?” kataku. “Oh, boleh…” kata Kakek, sambil mengarahkan ke tempat yang kering yang terlindungi pohon. Senyumnya mengembang sumringah, manis sekali! Kayaknya gak ada yang bisa ngalahin senyum manis Sang Kakek… Cowok Cakep? Lewat daaahh!! hihihihi.. XD

Sambil duduk di trotoar usang, aku menunggu kakek yang sedang asik meracik bahan Tahu Gejrot sambil mengajak ngobrol beliau.

Kakek, sudah tua, tapi semangat juang hidupnya masih terpancar hebat.. semangat nyari rizkinya juga hebat! “Usia seperti ini seharusnya istirahat di rumah, menikmati suasana teduh dari gerimis hujan, menikmati teh hangat.. Tapi kakek… disini sama aku di pinggir jalan, melayaniku dengan Tahu Gejrotnya di bawah pohon di tengah gerimis hujan..” pikirku menerawang sambil menatap Sang Kakek.

Kakek yang semangat, walau geraknya melambat, tapi tetap semangat! Sejenak aku terhanyut dengan gerak gerik Sang Kakek.. Tangan beliau gemetaran karena usia.. Bahkan ketika mengambil cabe rawit saja gemetaran dan ups! satu cabe jatuh di jalan. Ntah knapa aku sedih banget pas cabenya jatuh.. Bagiku, cabe segitu gak ada artinya, tapi bagi Kakek itu adalah modal dagangnya… “Ya Allah.. gantikan 1 cabe itu dengan berjuta-juta rizki untuk Kakek…” tak terasa air mata meleleh lagi *cengeng banget yak?! hehehe…

Tangannya kembali gemetaran saat meracik bumbu, mengambil air gula dalam botol-botol yang sudah beliau kemas, memotong tahu satu demi satu dan memasukkannya ke dalam plastik. Ada sedikit guratan kecewa saat beliau tahu aku hanya membeli satu porsi, namun kecewa itu tak tampak jika dilihat sekilas, karena beliau tetap tersenyum. Dan karena ingin sekali melihat senyum beliau yang paling manis sekali lagi, gak ada salahnya kan memberikan kebahagiaan rizki yang tak diduga untuk Sang Kakek?! ^___^

Katakanlah “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki diantara hamba-hamba-Nya.โ€ Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yan terbaik. (Q.S Saba: 39)

Hanya berharap Allah selalu melindungi dan membahagiakan Sang Kakek, layaknya Allah melimpahkan kasih sayangNya untuk Bapak…

Dan akupun bergegas meluncur ke Masjid Sunda Kelapa…. ^___^