Posted in kyky belajar, Mari Membaca

DO’A-DO’A

DO’A SETELAH SHALAT TARAWIH

Ya Allah SWT jadikanlah kami sempurna dengan keimanan kami. Melaksanakan kewajiban-kewajiban kami. Memelihara sholat-sholat kami. Senantiasa meminta apa-apa yang Engkau miliki. Berharap terhadap ampunan-Mu. Senantiasa berpegang teguh terhadap petunjuk-Mu dan berpaling terhadap perbuatan sia-sia.

Ya Allah SWT jadikanlah kami orang-orang yang zuhud terhadap dunia. Senang terhadap akhirat. Ridha terhadap ketetapan-Mu. Syukur terhadap segala nikmat. Sabar terhadap semua cobaan, serta ikut di bawah bendera Nabi Muhammad SAW di hari kiamat nanti.

Ya Allah SWT jadikanah kami termasuk orang yang menikmati danau Rasulullah. Orang yang masuk surga. Selamat dari neraka. Menikmati kursi kehormatan di surga. Beristri dengan bidadari-bidadari dan berhias diri dengan emas dan intan permata surga.

Ya Allah SWT jadikan kami orang yang bisa menikmati makanan surga. Meminum susu dan madu jernih. Dengan mangkuk periuk dan gelas dari permata. Bersama orang-orang yang Engkau beri kenikmatan dari para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang syahid dan orang-orang yang sholeh. Mereka itu menjadi sebaik-baik teman. Demikian itu adalah keutamaan dari Allah SWT dan cukuplah bagi Allah SWT Dzat Yang Maha Tahu.

Ya Allah SWT jadikanlah kami di malam yang mulia dan penuh daengan berkah ini menjadi orang yang berbahagia yang diterima segala amalnya. Janganlah Engkau jadikan kami orang yang celaka yang tidak diterima amalnya. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah ke pangkuan junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Keluarganya dan seluruh sahabatnya. Dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Segala puji bagi-Mu, Robb sekalian alam. Aamiin.

 

DO’A SETELAH SHALAT

Dengan nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segala Puji bagi Allah SWT Tuhan seru sekalian alam, yang telah memenuhi dan menyempurnakan segala nikmat-Nya. Ya Allah SWT Tuhan kami, bagi-Mu segala puji yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan kekuasaan-Mu.

Ya Allah SWT, berilah kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi dengan rasa takut itu antara kami dan bermaksiat kepada-Mu. Berilah kami ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami dengannya ke surga-Mu. Berilah kami keyakinan yang dapat meringankan musibah dunia yang menimpa kami.

Ya Allah SWT, berilah kami kepuasan dengan pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami, kekuatan-kekuatan kami selama Engkau memberi hidup kepada kami. Dan jadikanlah semua itu yang mewarisi kami (jangan sampai Kau tinggalkan semua itu sebelum kami meninggal). Balaslah orang yang berbuat aniaya kepada kami, tolonglah kami dalam menghadapi musuh-musuh kami. Dan janganlah Engkau menimpakan cobaan dalam agama kami, janganlah Engkau menjadikan dunia ini menjadi tujuan utama kami dan jangan pula dijadikan puncak pengetahuan kami, serta janganlah Engkau jadikan orang yang tidak mempunyai rasa belas kasihan kepada kami menjadi pemimpin kami. Dengan rahmat Engkau wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ya Allah SWT, satukanlah hati-hati kami. Perbaiki jiwa-jiwa diantara kami. Tunjukkanlah kami jalan-jalan keselamatan. Selamatkan kami dari kegelapan menuju cahaya terang. Jauhkanlah kami dari perbuatan keji baik yang nampak maupun yang tidak nampak darinya. Berkahilah kami dalam pendengaran kami, penglihatan kami, hati-hati kami, istri-istri kami, anak keturunan kami dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang.

Ya Allah SWT, janganlah Engkau kuasakan musuh-musuh itu atas diri kami, dan jadikanlah pembalasan kami atas siapa saja yang menganiaya kami, dan menangkanlah kami atas siapa saja yang memusuhi kami.

 

Selamat beri’tikaf.. ^__^

Posted in kyky belajar, Mari Membaca

HARI RAYA IDUL FITRI

Rangkaian ibadah pada Bulan Ramadhan diakhiri dengan Idul Fitri. Id secara etimologis (bahasa) berarti kembali. Dan fitri berarti terbuka atau fitrah. Sedangkan secara stilah Idul Fitri ialah kembali erbka (makan minum) setelah berpuasa atau kembali kepada fitrah setelah mengalami masa training dan pembersihan selama bulan Ramadhan.

 

HUKUM DAN DISYARATKANNYA “IDUL FITRI”

Hari Raya Idul Fitri disyariatkan pada tahun pertama hijriyah. Seperti dilaporkan Anas ra, adalah mereka (penduduk Madinah) memiliki dua hari raya, hari dimana mereka bermain dan bergembira, sampai Rasulullah bertanya:

Apakah tujuan dan ati dua hari raya ini? Mereka menjawab: pada zaman jahiliyah dulu kmai bermain pada dua hari raya ini. Rasulullah  SAW berkata: Sesungguhnya Allah SWT telah mengganti dua hari raya itu dengan hari raya yanglebih baik, yakni hari raya “ Idul Fitri” dan hari raya “Idul Adha”. (HR Nasai-Ibnu Hibban)

Hukum Shalat Idul Fitri adah Sunnah Mu’akad yaitu sunnah yang sangat dipelihara dan dianjurkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya. Dalil yang menunjukkan atas disyari’atkannya shalat Idul Fitri antara lain:

  1. Al-Qur’an surat Al-Kautsar ayat 2
  2. Hadist Mutawattir, bahwa “Rasulullah SAW shalat Idul Fitri yang pertama pada tahun kedua Hijriah sebagaimana dilaporkan oleh Ibnu Abbas.” (HR Bukhari-Muslim)
  3. Ijma ulama, para ulama disyariatkannya shalat Idul Fitri.

 

WAKTU SHALAT IDU FITRI

Para ulama sependapat bahwa “Waktu shalat Idul Fitri sejak terbit matahari Syawal hingga sebelum Syawal (dzuhur), seperti waktu shalat dhuha. (HR. Ahmad)

“Disunnahkan agar menyegerakan Shalat Idul Adha dan mengakhiri sedikit Shalat Idul Fitri.” (HR Syafi’i)

Hikmahnya untuk shalat Idul Adha agar waktu menyembelih hewan qurban lebih panjang. Sedangkan untuk Idul Fitri waktu menyalurkan zakat lebih luas.

 

TEMPAT SHALAT IDUL FITRI

Para ulama sepakat bahwa tempat shalat Idul Fitri untuk Makkah yang afdhol dilaksanakan di Masjid Al-Haram. Dan untuk luar Makkah, ada dua tempat:

  • Jumhur ulama (kebanyakan ulama) melihat bahwa yang afdhal dilaksanakan di tanah lapang (bukan masjid), kecuali dalam keadaan darurat atau uzur syar’i seperti hujan, maka dilaksanakan di masjid seperti dilaporkan Abu Hurairah (HR Abu Daud dan Al Hakim)
  • Ulama Mahzab Syafi’i, melihat bahwa pelaksanaan shakat Idul Fitri lebih afdal di Masjid, sebab masjid adalah tempat yang paling mulia. Kecuali apabila masjidnya sempit maka yang afdhal di tanah lapang jika ada, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW (HR Bukhari-Muslim)

Dengan tetap menjaga prinsip ukhuwah dan menyadari bahwa kita berada dalam suasana hari raya Idul Fitri masalah perbedaan pendapat tentang pelaksanaan Idul Fitri tidak perlu dipertentangkan, yang menjadi masalah adalah jika ummat Islam tidak melaksanakan shalat Idul Fitri.

 

TATA CARA SHALAT IDUL FITRI

Shalat Idul Fitri terdiri dari dua rakaat. Syarat dan rukun Shalat Id mengikuti syarat dan rukun shalat wajib. Setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Al-Fatihah pada rakaat pertama disunnahkan membaca takbir sebanyak tujuh kali takbir. Dan pada rakaat kedua, lima kali takbir tidak termasuk takbir ketika bangkit dari sujud (rakaat pertama) ke rakaat kedua (takbiratul qiyam) dilakukan dengan mengangkat kedua tangan setiap takbir. Tata cara ini sebagaimana dilaporkan Amar bin Syuaiban (HR. Ahmad, Ibu Majah, Abu Daud, Daruquthi).

Do’a diantara takbir membaca:

Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahummaghfirlii war hamnii

“Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku.”

Namun ingat sekali lagi, bacaannya tidak dibatasi dengan bacaan ini saja. Boleh juga membaca bacaan lainnya asalkan di dalamnya berisi pujian pada Allah Ta’ala. Dalam riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan,

“Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.”

Shalat Idul Fitri dilakukan sebelum khutbah, sebagaimana dilaporkan Ibnu Umar, “Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, Ustman melaksanakan shalat Idul Fitri sebelum Khutbah Idul Fitri.” (HR Bukhari dan Muslim). Riwayat yang sama juga dilaporkan oleh Abu Said.

 

KHUTBAH IDUL FITRI

Pelaksanaan khutbah Idul Fitri setelah shalat Id seperti dilaporkan oleh Ibnu Umar bin Said. (HR. Bukhari- Muslim). Hukum Khutbah ‘Idul Fitri dan mendengarkannya adalah sunnat seperti yang dilaporkan oleh Abdullah bin Said (HR Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah). Dan yang paling afdhal mengikuti seluruh rangkaian shalat/khutbah Idul Fitri dari awal sampai akhir. Dan seperti pada shalat Jum’at, khutbah Idul Fitri terdiri dari dua khutbah.

 

HAL-HAL YANG DISUNNAHKAN PADA WAKTU HARI RAYA

  1. Mengisi malam Idul Fitri dengan ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT, seperti dzikir, shalat, qira’atul Qur’an, tasbih, istighfar dan sebagainya. Lebih afdhal menghidupkan malam Id semalam suntuk, seperti dilaporkan Ubadah bin Shamit (HR Ath-Thahari dan Daruquthni), tentunya kalau kuat, tanpa mengorbankan ibadah-ibadah wajib seperti, shalat isya dan shalat Subuh tepat pada waktunya dengan berjama’ah. Menghindarkan acara hura-hura, takbiran sambil menabuh beduk yang justru mengganggu (tidak khusyu), memutar kaset takbiran sementara orangnya tidur dan lain-lain, yang bertentangan dengan sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW.
  2. Mandi (HR Ibnu Majah), memakai wangi-wangian/parfum (HR Baihaqi), bersiwak (menggosok gigi), memakai sebaik-baik pakaian.
  3. Bersegera (berpagi-pagi) menuju tempat shalat Idul Fitri dengan tenang dan penuh ketulusan. Dan lebih afdhal berjalan kaki sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW seperti dilaporkan oleh Ali bin Abi Tholib (HR Tirmidzi).
  4. Makan (sarapan) sebelum berangkat Idul Fitri.
  5. Membayar zakat fitrah sebelum berangkat shalat Idul Fitri (batas akhir pembayaran zakat fitrah). Sekalipun zakat fitrah boleh saja dibayar beberapa hari sebelum Idul Fitri (HR Abu Daud, Ibnu Majah, Daruqutni, Al-Hakim)
  6. Bergembiralah dan menggembirakan sesama muslim dan lebih mempererat tali ukhuwah di antara kaum muslimin.
  7. Disunnahkan juga agar jalan ketika pergi dan jalan ketika pulang tidak sama. Seperti yang dipraktekkan Rasulullah SAW seperti dilaporkan oleh Jabir (HR Bukhari)

 

IDUL FITRI BAGI KAUM WANITA DAN ANAK-ANAK

Sebagaimana halnya kaum pria, kaum wanita dan anak-anakpun disunnatkan menghadiri shalat Idul Fitri. Begitu halnya orang-orang tua, gadis perawan, wanita-wanita haid dan nifas. Seperti dilaporkan oleh Ummu Athiyah (HR Bukhari-Muslim)

Adalah Rasulullah SAW keluar bersama istri putri-putrinya untuk melaksanakan Idul Fitri dan mendengarkan khutbah. (HR Ibnu Majah, Baihaqi, dan Ibnu Abbas). Adapun untuk wanita haid dan nifas cukup mendengarkan khutbah tidak ikut shalat.

 

ADZAN DAN IQAMAT

Tidak disyariatkan adzan dan iqomat pada waktu Idul Fitri dan Idul Adha seperti dilaporkan Ibnu Abbas dan Jabir. (HR Bukhari-Muslim)

 

SHALAT QABLIYAH DAN BA’DIYAH

Tidak ada satu riwayatpun bahwa Rasulullah dan sahabatnya mengerjakan shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah pada waktu shalat Idul Fitri. (HR Jama’ah dari Ibnu Abbas)

Kecuali kalau shalat Idul Fitri dilaksanakan di masjid, maka tetap disunnahkan tahiyatul masjid.

 

BERGEMBIRA PADA HARI RAYA IDUL FITRI

Ummat Islam disunnahkan untuk bergembira dan menggembirakan orang lain pada Hari Raya Idul Fitri. Dengan memakai pakaian yang terbaik merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat-Nya, makan minum yang halal dan tidak isrof (berlebihan), saling berjabat tangan (kecuali antara pria dan wanita yang bukan muhrim), saling berkunjung, saling memberi/mengirim ucapan selamat (bermaaf-maafan) dan saling bertukar hadiah dalam batas-batas yang wajar. Hal ini menunjukkan hikmah ajaran Islam yang selalu menjaga keseimbangan (tawazun).

 

PASCA RAMADHAN

Ummat Islam hendaknya berupaya melestarikan nilai-nilai dan amaliyah Ramadhan yang telah dibina selama sebulan penuh dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya dengan melaksanakan puasa sunnah selama 6 hari pada bulan Syawal.

Posted in kyky belajar, Mari Membaca

MENGGAPAI LAILATUL QADAR

Diisyaratkannya ibadah shaum (puasa) Ramadhan kepda umat Islam oleh Allah SWT mempunyai tujuan agar umat islam dapat merealisasikan nilai taqwa. Untuk melengkapi nikmat tersebut Allah SWT memberikan kurnia berupa Lailatul Qadar pada satu malam di bulan Ramadhan.

Allah SWT berfirman :

Sesungguhnya kami telah menurunkan AlQuran pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala sesuatu. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS AlQadar: 1-5)

 

KEUTAMAAN LAILATUL QADAR

Ayat di atas jelas menunjukkan nilai utama dari Lailatul Qadar. Mengomentari ayat di atas, Anas bin Malik ra menyebutkan bahwa

“Yang dimaksud dengan keutamaan disitu adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah AlQuran, dan dzikir serta amal sosial seperti shadaqah dan zakat yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa seribu bulan, (tentu di luar malam Lailatul Qadar).

Dalam sebuah riwayat, Anas bin Malik juga menyampaikan keterangan Rasulullah SAW bahwa “Sesungguhnya Allah SWT mengaruniakan LAILATUL QADAR untuk umatku, dan tidak memberikan kepada umat-umat sebelumnya.

Berkenaan dengan ayat 4 surat Al-Qadar, Abdullah bin Abbas ra menyampaikan sabda Rasulullah, bahwa pada saat terjadinya Lailatul Qadar, para malaikat turun ke bumi menghampiri hamba-hamba Allah SWT yang sedang qiyamul lail atau melakukan dzikir dan malaikat mengucapkan salam kepada mereka. Pada malam itu pintu-pintu langit dibuka dan Allah SWT menerima taubat dari hamba-hambaNya yang bertaubat.

Dalam riwayat Abu Hurairah ra seperti dilaporkan oleh Bukhari, Muslim dan Baihaqi, Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan:

Barangsiapa yang shalat pada malam Lailatul Qadar, karena iman dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni semua dosa yang telah lalu.” (HR Bukhari)

Demikian banyaknya keutamaan Lailatul Qadar, Ibnu Al Syaibah pernah mengungkapkan Hasan Al Bahri, katanya “Saya tidak pernah tau adanya hari atau malam lebih utama di malam yang lainya, karena lailaul qadar lebih utama dari (amalan) seribu bulan.”

 

HUKUM MENGGAPAI LAILATUL QADAR

Memperhatikan pada arahan (taujih) Rasulullah SAW, serta contoh yang beliau tampilkan dalam upaya “menggapai” Lailatul Qadar “Barangsiapa mencari Lailatul Qadar, hendaklah dia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh” (HR Ahmad). Para ulama berkesimpulan bahwa berupaya menggapai Lailatul Qadar hukumnya sunnah.

 

KAPANKAH TERJADINYA LAILATUL QADAR

Sesuai dengan fiman Allah SWT pada awal surat Al Qadar, serta pada ayat 185 surat Al Baqarah, dan hadis Rasulullah SAW maka para ulama bersepakat bahwa lilatul qadar terjadi pada malam bulan Ramadhan. Bahkan seperti diriwayatkan oleh Ibnu umar, Abu Dzar dan Abu Hurairah, Lailatul Qadar bukan sekali terjadi pada masa Rasulullah SAW saja, tetapi terus berlangsung pada setiap bulan Ramadhan dan untuk umat Muhammad SAW terjadi sampai hari kiamat.

Adapun tentang penentuan kapan terjadinya Lailatul Qadar, para ulama berbeda pendapat disebutkan disebabkan beragamnya informasi hadist Rasullullah serta pemahaman para sahabat tentang hal tersebut.

“Lailatul Qadar pada malam 17 Ramadhan malam diturunkannya Al-Qur’an.

Hal ini disampaikan oleh Zaid bin Arqam dan Abdullah bin Zubair ra (HR Ibnu Asy Syaibah, Baihaqi dan Bukhari dalam Tarikh)

  1. Lailatul Qadar terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh Aisyah ra dari sabda Rasulullah SAW: “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan(HR Bukhari, Muslim dan Baihaqi)
  2. “Lalilatul Qadar terjadi pada malam tanggal 21 bulan Ramdhan, berdasarkan hadist riwayat Abi Said al Khudri yang diaporkan oleh Bukhori dan Muslim.
  3. “Lailatul Qadar terjadi pada malam tanggal 23 Ramadhan, berdasarkan hadist riwayat Abdullah bin Unais al Juhany, seperti dilaporkan Bukhari dan Muslim.
  4. “Lailatul Qadar terjadi pada malam 27 bulan Ramadhan, berdasarkan hadist riwayat Ibnu Umar, seperti dikutip oleh Ahmad. Dan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Syaibah, bahwa Umar bin Khatab, Hudzaifah serta sekumpulan besar sahabat mengatakan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam 27 Ramadhan. Rasulullah SAW seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, juga pernah menyampaikan kepada sahabat yang lebih tua, lemah, tak mampu qiyam berlama-lama meminta nasehat kepada beliau, kapan ia bisa mendapatkan Lailatul Qadar? Rasulullah kemudian menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 bulan Ramadhan (HR Thabrani dan Baihaqi)
  5. Seperti dipahami dari riwayat Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim, terjadinya Lailatul Qadar mungkin berpindah-pindah pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Sesuai dengan informasi terakhir poin f dan karena langkas serta pentingnya Lailatul Qadar, maka selayaknya setiap muslim berupaya selalu mendapatkan Lailatul Qadar pada sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

 

TANDA-TANDA TERJADINYA LAILATUL QADAR

Seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Rasulullah pernah bersabda;

Pada saat terjadinya Lailatul Qadar itu, malam terasa jernih terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas, tidak juga dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan terang benderang tanpa tertutup sesuatu awan.”

 

APA YANG PERLU DILAKUKAN PADA LAILATUL QADAR AGAR DAPAT MENGGAPAI LAILATUL QADAR

  1. Lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari Ramadhan, menjauhkan diri keseriusan beribadah. Dalam beribadah hendaknya mengikutsertakan keluarga. Hal itu yang dahulu dicontohkan Rasulullah SAW.
  2. Melakukan I’tikaf dengan sekuat tenaga.
  3. Melakukan qiyamullail berjama’ah, sampai dengan rakaat terakhir yang dilakukan imam.
  4. Memperbanyak do’a memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah SWT dengan lafal

Allahumma Innaka ‘afwa tuhibul afwa fa’fuanni

“Ya Allah ya Tuhan kami, Engkau adalah Maha Pengampun, Mencintai Ampunan, maka ampunilah diri saya.”

Hal inilah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah ra ketika beliau bertanya:

Wahai Rasulullah, bila aku mengetahui kedatangan Lailatul Qadar, apa yang mesti aku ucapkan? Rasulullah bersabda: “ Allahumma Innaka ‘afwa tuhibul afwa fa’fuanni”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

 

MENGGAPAI “LAILATUL QADAR” BAGI MUSLIMAH

Sebagaimana tersirat dari dialog Rasulullah dengan istri beliau Aisyah ra, maka dapat disimpulakn bahwa kaum muslimah pun disyariatkan melakukan optimalisasi ibadah yang memang diperbolehkan untuk dilakukan seorang muslimah.

Posted in kyky belajar, Mari Membaca

I’TIKAF

Diantara rangkaian ibadah-ibadah dalam bulan suci Ramadhan yang sangat dipelihara sekaligus diperintahkan/disunnahkan oleh Rasulullah SAW adalah I’tikaf. Setiap muslim dianjurkan (disunnahkan) untuk beri’tikaf di masjid, terutama sepuluh hari terakhir Ramadhan. I’tikaf merupakan sarana meningkatkan kualitas ketaqwaan yang sangat efektif bagi muslim dalam memelihara keislaman, khususnya dalam era globalisasi, materialisasi dan informasi saat ini. Pengembaraan rohani akan menjadi sempurna apabila telah kita tinggalkan segala urusan dunia, kita isi ruhani kita dengan berbagai aktivitas ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sedekat-dekatnya.

DEFINISI I’TIKAF

Para ulama telah berijma (bersepakat) mendefinisikan I’tikaf yaitu BERDIAM atau tinggal di masjid dengan adab-adab tertentu, pada masa tertentu dengan niat ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT. Ibnu Hazm berkata:

“I’tikaf adalah berdiam di masjid dengan niat taqarrub kepada Allah SWT pada waktu tertentu pada siang atau malam hari.” (Al Muhalla V/179)

HUKUM I’TIKAF

Para ulama telah berijma bahwa I’tikaf khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Aisyah, Ibnu Abbas dan Anas ra meriwayatkan:

“Aisyah ra berkata Rasulullah beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Bulan Ramadhan hingga ia meninggal dunia. Kemudian istri-istri beliau juga beri’tikaf setelah wafatnya.” (HR Bukhari-Muslim)

Hal ini dilakukan oleh beliau hingga wafat, kecuali pada tahun wafatnya, beliau beri’tikaf selama 20 hari. Demikian halnya para shahabat dan istri beliau senantiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini.

MACAM-MACAM I’TIKAF

I’tikaf yang disyariatkan ada dua macam:

a.       I’tikaf Sunnah

I’tikaf Sunnah yaitu yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk bertaqarrub kepada Allah SWT seperti I’tikaf 10 hari bulan Ramadhan.

b.      I’tikaf Wajib

I’tikaf yang wajib yaitu yang didahului dengan nadzar Ganjil, seperti: “Kalau Allah SWT menyembuhkan sakitku ini, maka aku akan beri’tikaf.”

WAKTU I’TIKAF

Untuk I’tikaf wajib tergantung pada beberapa lama waktu yang dinadzarkan, sedangkan I’tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu kapan saja pada malam atau siang hari, waktunya bisa lama dan juga bisa singkat. Ya’la bin Umayyah berkata: “Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk I’tikaf.”

SYARAT-SYARAT I’TIKAF

Orang yang I’tikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:

  1. Muslim
  2. Berakal
  3. Suci dari janabah, haid, dan nifas

Oleh karena itu tidak boleh bagi orang kafir, anak yang belum mumayyiz (mampu membedakan), orang junub, wanita haid, nifas.

RUKUN-RUKUN I’TIKAF

  1. Niat I’tikaf
  2. Berdiam di masjid

Ada dua pendapat tentang masjid tempat I’tikaf :

  1. I’tikaf dilaksanakan pada masjid yang dilaksanakan sholat berjama’ah 5 waktu. Hal ini dalam rangka menghindari seringnya keluar dan untuk menjaga pelaksanaan sholat 5 waktu.
  2. Agar I’tikaf itu dilaksanakan di masjid yang dipakai untuk melaksanakan sholat Jumat, sehingga orang yang itikaf tidak perlu meninggalkan tempat I’tikafnya menuju masjid lain untuk Sholat Jumat. Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi’iyah bahwa yang afdal yaitu I’tikaf di Masjid Jami karena Rasulullah SAW I’tikaf di Masjid Jami. Lebih afdal di tiga masjid. Masjid Al Haram, Masjid An Nabawi dan Masjid Al Aqsa.

AWAL DAN AKHIR ITIKAF

Khusus I’tikaf Ramadhan waktunya dimulai sebelum terbenam matahari maalm ke 21. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Barangsiapa yang mau itikaf 10 hari terakhir Ramadhan.” (HR Bukhari)

Keterangan: 10 disini adalah jumlah malam,sedangkan malam pertama dari 10 itu adalah ke 20 atau 21.

Adapun waktu keluar atau berakhirnya, kalau I’tikaf dialkukan pada waktu 10 malam terakhir yaitu setelah terbenam matahari, hari terakhir Bulan Ramadhan. Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustajab (disenangi) adalah menunggu sampai Ied.

 

HAL-HAL YANG DISUNNAHKAN WAKTU ITIKAF

Agar orang yang I’tikaf memperbanyak ibadah dari taqarrub kepada Allah SWT seperti shalat, membaca Al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi SAW, do’a dsb. Termasuk di dalamnya pengajian, ceramah, ta’lim, diskusi ilmiah, telaah buku tafsir, hadits, sirah (sejarah) dsb. Namun, yang menjadi prioritas utama adalah ibadah-ibadah mahdhah. Bahkan sebagian ulama meninggalkan segala aktivitas lainya dan berkonsentrasi penuh pada ibadah-ibadah mahdhah.

 

HAL-HAL YANG DIBOLEHKAN BAGI MU’TAKIF (ORANG YANG BERITIKAF)

  1. Keluar dari tempat I’tikaf untuk mengantar istri sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW terhadap isterinya Shafiyah ra.” (HR Bukhari-Muslim)
  2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan kotoran tubuh dan bau badan.
  3. Keluar dari tempat karena ada keperluan yang harus dipenuhi seperti membuang air besar dan kecil dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid. Tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluanya.
  4. Makan, minum dan tidur di masjid dengan senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

 

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN I’TIKAF

  1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan walaupun sebentar karena meninggalkan salah satu rukun I’tikaf yaitu berdiam diri di masjid.
  2. Murtad (keluar dari agama islam)
  3. Hilangnya akal karena gila atau mabuk
  4. Haid
  5. Nifas
  6. Berjima (melakukan hubungan suami istri) QS Al-Baqarah: 187. Akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan istri-istrinya.
  7. Pergi shalat jumat (bagi mereka yang membolehkan I’tikaf di mushala yang tidak dipakai shalat Jumat)

 

I’TIKAF BAGI WANITA MUSLIMAH

I’tikaf disunnahkan bagi wanita sebagaimana disunnahkan bagi pria. Selain ayat-ayat yang disebutkan tadi, I’tikaf bagi kaum wanita harus memenuhi syarat-sayarat antara lain :

  1. Mendapat izin suami atau orangtua. Hal itu disebabkan karena ketinggian hak suami bagi istri yang wajib ditaati dan juga dalam rangka menghindari fitnah yang mungkin terjadi.
  2. Agar tempat I’tikaf wanita memenuhi kriteria syari’at. Kita telah mengetahui bahwa salah satu rukun atau syari’at I’tikaf adalah masjid. Untuk kaum wanita, ulama sedikit berbeda pendapat tentang masjid yang dapat dipakai I’tikaf. Tetapi yang lebih afdhal adalah tempat shalat di rumahnya. Oleh karena itu bagi wanita tempat shalat di rumahnya lebih afdhal dari masjid wilayahnya. Dan masjid wilayahnya lebih afdhal dari masjid raya. Selain lebih seiring dengan tujuan umum syari’at Islamiyah hal tersebut untuk menghindarkan wanita semaksimal mungkin dari tempat keramaian kaum pria seperti tempat ibadah di masjid. Itulah sebabnya wanita tidak diwajibkan shalat Jumat dan shalat jama’ah di masjid. Dan seandainya ke masjid ia harus berada di belakang. Kalau demikian, maka I’tikaf yang justru membutuhkan waktu yang lama di masjid, seperti tidur, makan, minum dsb telah dipertimbangkan.

Ini tidak berarti I’tikaf bagi wanita di masjid tidak dibolehkan. Wanita bisa saja I’tikaf di masjid dan bahkan lebih afdal bila masjid tersebut aman bagi wanita itu sendiri maupun bagi orang lain, misalnya masjid tersebut menempel dengan rumahnya atau jama’ahnya hanya wanita dsb.

Posted in kyky belajar, Mari Membaca

SHALAT TARAWIH

PENGERTIAN SHALAT TARAWIH

Tarawih berarti QIYAMU RAMADHAN di awal malam. Ada yang mengatakan tarawih di Bulan Ramadhan, karena orang-orang beristirahat di antara setiap dua salam. Pada Hadist Aisyah ra, dia pernah bertanya:

“Bagaimana shalat Rasulullah SAW pada Bulan Ramadhan?” Dia menjawab: “ Pada Bulan Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya, Rasulullah SAW tidak pernah mengerjakan lebih dari sebelas rakaat: beliau mengerjakan shalat empat rakaat, dan jangan tanyakan baik dan panjangnya, kemudian beliau mengerjakan empat rakaat lagi, dan jangan tanyakan tentang baik dan panjangnya, dan setelah itu mengerjakan tiga rakaat…” (Muttafaqun’alaih)

Dalam hadist di atas menunjukkan ada perbedaan antara empat rakaat pertama dan empat rakaat kedua serta tiga rakaat terakhir. Beliau mengucapkan salam pada keempat rakaat itu di setiap dua rakaat. Hadist Aisyah ra, dia bercerita:

“Rasulullah SAW pernah mengerjakan shalat pada suatu malam dengan sebelas rakaat yang ditutup dengan shalat witir satu rakaat.”

Dalam lafadz Muslim disebutkan: “Beliau mengucapkan salam setiap dua rakaat dan mengerjakan shalat witir satu rakaat.” (HR Muslim)

HUKUM SHALAT TARAWIH

Dari Abu Hurairah ra, dia bercerita, Rasulullah SAW menganjurkan para sahabat untuk melakukan qiyamul lail tanpa menyuruh mereka dengan keharusan. Beliau bersabda:

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, dia akan diberi ampunan atas dosa-dosanya yang telah berlalu.” (Muttafaqun’alaih)

Imam Nawawi mengatakan: Para ulama telah sepakat untuk menyunahkan shalat tarawih, yakni Sunnah Mu’akad.

KEUTAMAAN SHALAT TARAWIH

Jika seorang Muslim melakukan Qiyam Ramadhan dengan keyakinan bahwa hal itu sebagai suatu kewajiban yang disyariatkan oleh Allah sembari membenarkan apa yang disabdakan Rasulullah SAW serta apa yang dibawanya, dibarengi dengan harapan memperoleh pahala seraya berharap qiyamul lail yang dilakukannya itu benar-benar tulus ikhlas karena Allah SWT dengan tujuan mencari keridhaan Allah dan ampunan-Nya, niscaya pahala yang besar itu dia dapatkan.

DISYARIATKAN BERJAMA’AH DALAM MENUNAIKAN SHALAT TARAWIH DAN QIYAMU RAMADHAN SERTA MENEMANI IMAM SAMPAI PULANG

Dari Abu Dzar ra, dia bercerita, Rasulullah berkata:

“Sesungguhnya barangsiapa melakukan qiyamul lail bersama imam sampai imam itu pulang, maka Allah akan menetapkan baginya qiyam satu malam penuh.”

BERSUNGGUH-SUNGGUH MELAKUKAN QIYAMUL LAIL PADA 10 HARI TERAKHIR DI BULAN RAMADHAN

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa berpuasa pada Bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosanya yang telah berlalu. Dan barangsiapa bangun pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosanya tang telah berlalu.” (Muttafaqun’alaih)

Dari Aisyah ra, dia bercerita:

“Jika masuk sepuluh hari terakhir, Rasulullah SAW menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan memperkuat ikatan kain.” (Muttafaqun’alaih)

Dalam Hadist Abu Dzar ra, disebutkan: “Pada malam kedua puluh tujuh, Rasulullah SAW mengumpulkan keluarga dan istri-istrinya serta orang-orang, lalu beliau melakukan qiyamul lail bersama mereka.” (HR Ahmad-Abu Dawud)

 WAKTU SHALAT TARAWIH

Waktu Shalat Tarawih adalah setelah Shalat Isya’ dan Shalat Sunnah Rawatibnya.

RAKAAT SHALAT TARAWIH

Rasulullah SAW bersabda: “Shalat malam itu dikerjakan dua rakaat dua rakaat. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara kalian takut datangnya waktu Subuh, maka kerjakanlah satu rakaat saja sebagai Witir bagi shalat yang telah dikerjakan.” (Muttafaqun’alaih)

Jika seseorang mengerjakan shalat dua puluh rakaat dengan tiga rakaat shalat witir, atau tiga puluh enam rakaat dengan tiga rakaat shalat witir, atau empat puluh satu rakaat, semua boleh dilakukan. Tapi, lebih baik adalah yang dikerjakan Rasulullah SAW, yaitu tiga belas rakaat atau sebelas rakaat. Hal ini berdasarkan Hadist Ibnu Abbas, dia bercerita:

“Rasulullah SAW pernah mengerjakan shalat pada suatu malam sebanyak tiga belas rakaat.” (HR Muslim)

“Hadist Aisyah ra, dia bercerita: “Rasulullah SAW tidak pernah lebih dari sebelas rakaat, baik pada Bulan Ramadhan, maupun bulan-bulan lainnya.” (Muttafaqun’alaih)

Posted in kyky belajar, Mari Membaca

PUASA DALAM ISLAM

Fiqh Shiyam (Puasa) adalah ilmu yang mempelajari tentang hukum-hukum Islam berkaitan dengan Shiyam (Puasa). Fiqh Shiyam penting untuk kita pelajari agar ibadah puasa kita mendapat pahala dan mendapat sasaran yang diinginkan yaitu meningkatkan kualitas iman serta taqwa berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

DEFINISI PUASA

  1. Menurut bahasa, Puasa adalah MENAHAN sesuatu, baik makanan, minuman, kata-kata atau gerakan.
  2. Menurut istilah, Puasa adalah MENAHAN DIRI dari hal-hal yang membatalkan puasa baik dari makan, minum, hubungan suami istri; dengan disertai niat; mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

 

PERINTAH WAJIBNYA PUASA

Firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

“Bulan Ramadhan bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil) maka barangsiapa mendapatkannya hendaklah ia puasa.” (QS Al-Baqarah: 185)

 

KEDUDUKAN NIAT DALAM PUASA

  1. Niat menurut bahasa adalah KEHENDAK
  2. Niat menurut istilah adalah berkehendak menjalankan sesuatu untuk beribadah kepada Allah SWT
  3. Kedudukan niat

Niat wajib dilakukan dari malam hari dalam puasa fardhu dan tidak wajib dalam puasa sunnah. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.” (HR Abu Dawud, Tirmdzi)

Tentang puasa sunnah, Aisyah ra meriwayatkan: “Pada suatu hari Rasulullah SAW masuk ke rumahku, beliau berkata: “Adakah engkau memiliki sesuatu (makanan)? “Saya berkata: “Tidak, ya Rasulullah.” Maka beliau berkata: “Jika demikian saya berpuasa.” (HR Muslim)

 

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

Ada beberapa hal yang dapat membatalkan puasa apabila dilanggar oleh orang yang berpuasa, yaitu:

  1. Masuknya benda cair atau padat ke dalam perut, baik itu lewat mulut, telinga, hidung, dan kemaluan.
  2. Keluarnya air mani dengan sengaja.
  3. Muntah yang disengaja.
  4. Makan, minum, atau jima’ walaupun dalam keadaan dipaksa.
  5. Makan, minum, atau jima’, karena mengira bahwa waktu berbuka telah tiba, yang kemudian terbukti bahwa waktu berbuka belum tiba.
  6. Tidak berniat puasa.
  7. Haid dan nifas walau di akhir waktu.
  8. Murtad

 

YANG MEMBATALKAN PAHALA PUASA

Disamping hal-hal yang membatalkan puasa tersebut di atas, ada beberapa hal lain yang apabila dilanggar, pahala puasa akan menjadi gugur, jadi puasa yang dilakukan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja, sementara pahala besar yang dijanjikan Allah SWT sama sekali tidak bisa diraih. Diantara hal-hal yang membatalkan pahala puasa tersebut bisa dilihat dalam beberapa hadist Rasulullah SAW berikut:

“Banyak orang puasa yang tidak dapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar. Dan banyak orang shalat malam tidak mendapat apa-apa dari shalatnya kecuali begadang.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah)

“Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta (dalam berpuasa) dan tetap melakukannya, maka Allah SWT tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari)

“Puasa bukanlah hanya meninggalkan makan dan minum, akan tetapi yang dimaksud puasa adalah menghindarkan diri dari kata-kata yang tidak berguna dan dusta. Maka jika ada orang yang mencelamu atau usil kepadamu, katakanlah saya sedang puasa, saya sedang puasa.” (HR Ibnu Majah, Ibnu Hiban, Hakim)

 

KERINGANAN-KERINGANAN YANG DIBERIKAN ALLAH SWT DALAM PUASA

a. MAKAN DAN MINUM KARENA LUPA

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa lupa sedang ia dalam keadaan puasa, maka ia makan atau minum, hendaklah ia menyempurnakan puasanya, sebab Allah SWT telah member kepadanya makan dan minum.” (HR Bukhari-Muslim)

 

b. ORANG HAMIL DAN MENYUSUI

Orang hamil dan menyusui jika mereka mengkhawatirkan anak yang dikandungnya atau diri mereka, maka mereka boleh berbuka, sebab hukum mereka sebagaimana hukum orang sakit. Hadist Rasulullah SAW : “Allah SWT melepaskan untuk orang musafir berpuasa dan separuh dari shalatnya dan untuk orang hamil dan menyusui puasanya.” (HR.Al-Khamsah)

Masalah yang diperselisihkan adalah tentang qadha dan membayar fidyah:

  • Imam Syafi’i dan Ahmad berpendapat, jika yang ia khawatirkan adalah anaknya saja maka wajib baginya qadha dan membayar fidyah. Jika yang ia khawatirkan adalah dirinya atau diri dan anaknya, maka cukup baginya mengqadha puasa.
  • Imam Abu Hanafiah berpendapat, yang wajib bagi mereka hanyalah mengqadha saja.
  • Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, mereka berpendapat bahwa “Jika yang dikhawatirkan adalah diri dan anak mereka maka mereka cukup membayar fidyah saja.” (HR.Abu Dawud, Daruquthni, Malik dan Baihaki)

 

c. HAID DAN NIFAS

Wanita yang sedang haid dan nifas, wajib bagi mereka berbuka kemudian mengqadhanya di hari lain, walau haid itu datangnya menjelang waktu maghrib. Diriwayatkan dari Aisyah ra beliau berkata: “Kami mengalami haid di zaman Rasulullah SAW, kemudian kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.”

 

d. ORANG SAKIT

Sakit apakah yang diperbolehkan berbuka ? Jumhur ulama mengatakan : sakit yang membahayakan jiwa atau menambah cidera atau dikhawatirkan memperlambat kesembuhan. Alasan mereka adalah:

Firman Allah SWT : “Allah SWT menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesusahan bagimu “ (Q.S.Al Baqarah 184)

 

e. LANJUT USIA

Bagi orang yang berusia lanjut dan tidak mampu berpuasa, maka cukup baginya untuk memberi makan setiap hari 1 orang miskin, berdasarkan pandangan Imam Bukhari dan Ibnu Abbas dalam memahami ayat: “Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya, maka ia membayar fidyahnya yaitu memberi makan satu orang miskin.” (QS: AlBaqarah 184)

 

JANJI-JANJI ALLAH SWT BAGI ORANG-ORANG YANG BERPUASA

Dengan rahmat dan kasih sayangNya, Allah SWT mendorong kita untuk berbuat baik dan beribadah dengan sungguh-sungguh, Allah SWT memberikan janji-janji yang sangat menggiurkan bagi orang-orang yang beriman. Diantara janji-janji tersebut adalah:

Tiada seorang hamba yang berpuasa di jalan Allah, kecuali Allah SWT akan menjauhkan dia di hari itu tujuh puluh tahun dari neraka.” (HR.Bukhari-Muslim)

Setiap amal anak Adam akan dilipatgandakan, setiap kebaikan sepuluh kalilipat hingga tujuh ratus kali lipat. Allah SWT berfirman, kecuali puasa ia adalah untukKu, Akulah yang akan membalasnya, ia tinggalkan nafsunya, makannya, karena Aku.” (HR.Bukhari)

Barangsiapa puasa di Bulan Ramadhan, ia tahu larangan-larangannya, ia juga menjaga apa yang harus dijaga, akan dihapuskan semua dosanya yang telah lalu.(HR.Ibnu Hibban)

Barang siapa puasa karena iman dan mengharap pahala dari Allah SWT, ia akan diampuni semua dosanya yang telah lalu.(HR.Bukhari Muslim)

Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut “Rayyan”, akan masuk dari pintu ini di hari kiamat semua orang yang puasa, dan tidak yang lain. Jika mereka telah masuk, pintu akan ditutup, dan tidak akan masuk kedalamannya seorangpun. (HR.Bukhari-Muslim)

 

ANCAMAN BAGI ORANG-ORANG YANG TIDAK BERPUASA RAMADHAN

Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa merupakan identitas bagi kaum Muslimin. Puasalah yang membedakan antara kita dan orang-orang kafir. Puasa juga tidak bisa digantikan pahalanya dengan puasa yang lain walupun dengan puasa seumur hidup sekalipun. Berikut ini adalah beberapa peringatan yang diberikan oleh Rasulullah SAW.

Barangsiapa berbuka sehari di Bulan Ramadhan tanpa adanya rukhsoh(keringanan) yang diinginkan Allah SWT kepadanya, puasa itu tidak akan bisa diganti dengan puasa satu tahun walaupun ia puasa terus menerus.” (HR.Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Tali (pengikat) Islam dan tiang-tiang agama ada tiga, diatasnya Islam didirikan. Barangsiapa meninggalkan satu diantaranya, ia telah kafir dan halal darahnya. Tiga itu adalah, dua kalimah syahadat,shalat fardhu dan puasa Ramadhan.” (HR.Abu Ya’la,Dailami, disahkan Adz Dzahabi)

 

LAILATUL QADAR DI BULAN RAMADHAN

Lailatul Qadar adalah malam yang paling mulia, dia adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Mayoritas ulama mengatakan bahwa Lailatul Qadar diturunkan oleh Allah SWT pada bulan Ramadhan di malam ganjil pada sepuluh (10) malam terakhir. Berikut ini adalah beberapa nash tentang Lailatul Qadar tersebut:

“Sesungguhnya kami telah menurunkan Al Quran pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu ?  Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikatJibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala sesuatu. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS.Al Qadar 1-5)

Barangsiapa yang shalat pada malam Lailatul Qadar, karena iman dan mengharap pahala dari Allah SWT, akan diampuni dosa yang telah lalu.(HR.Bukhari)

 

AMALAN-AMALAN SUNNAH DALAM RAMADHAN

Disamping ibadah wajib Puasa Ramadhan, kita juga sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah sunnah. Sebab nilai ibadah sunnah di bulan Ramadhan bagaikan ibadah wajib dalam bulan-bulan lain. Diantara ibadah sunnah yang dianjurkan adalah :

a. SIKAP KEDERMAWANAN

Hadist Rasulullah SAW: Rasulullah yang sangat dermawan dan beliau lebih dermawan lagi ketika beliau berada di Bulan Ramadhan, ketika beliau bertemu dengan Jibril. Dan beliau bertemu dengan Jibril tiap malam di Bulan Ramadhan untuk mengulang-ulang Al Quran kepadanya. Rasulullah SAW lebih dermawan dengan kebaikan dari angin yang sedang berhembus.(HR.Bukhari)

 

b. MAKAN SAHUR

Makan sahur adalah makan yang diberkahi Allah SWT, jadi kita disunnahkan untuk makan sahur. Disamping itu, makan sahur yang paling baik adalah makan sahur yang diakhirkan. Rasulullah SAW bersabda: Bersahurlah sesungguhnya di dalam sahur itu ada barokah.” (HR.Bukhari-Muslim)

Makan sahur adalah makan yang penuh dengan berkah,jadi kita disunnahkan untuk makan sahur walaupun dengan seteguk air.

 

c. MEMPERBANYAK DO’A

Hadist Rasulullah SAW: Tiga orang yang do’anya tidak ditolak oleh Allah SWT, orang puasa hingga berbuka,imam yang adil dan orang yang teraniaya.(HR.Tirmidzi)

 

d. CEPAT BERBUKA JIKA WAKTUNYA SUDAH TIBA

Hadist rasulullah SAW: Orang-orang muslim selalu dalam kebaikan, selagi mereka cepat-cepat berbuka.” (HR.Bukhari)

 

e. BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM BERIBADAH PADA SEPULUH MALAM YANG TERAKHIR

Rasulullah SAW jika telah masuk hari sepuluh yang terakhir di Bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya (dengan banyak beribadah), membangunkan keluarganya, mengencangkan ikat pinggangnya.(HR Bukhari Muslim)

 

f. MENAHAN DIRI DARI HAL-HAL YANG MERUSAK PAHALA PUASA

Puasa yang bisa meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan adalah puasa yang dilakukan dengan benar dan menjaga rambu-rambunya. Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa puasa bulan Ramdhan, ia tahu larangan-larangannya, ia jaga apa yang harus dijaga, akan dihapuskan semua dosanya yang telah lalu.(HR Ibnu Hibban)

 

g. I’TIKAF

Hadist Rasulullah SAW: Aisyah ra berkata Rasulullah beritikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari Bulan Ramadhan hingga ia meninggal dunia. Kemudian istri-istri beliau juga beri’tikaf setelah wafatnya.(HR Bukhari Muslim)

 

h. MEMPERBANYAK MEMBACA AL QURAN DAN HADIST RASULULLAH SAW

Puasa dan Al Quran, keduanya akan memberi syafaat di hari Kiamat. Puasa berkata ya Allah SWT aku telah mencegahnya dari makan dan nafsunya siang hari, maka berikan syafaatku padanya. Al Quran berkata, aku telah mencegah tidur di malam hari, berikanlah syafaatku kepadanya. Maka diterimalah syafaat keduanya.(HR.Ahmad)

 

MENGQADHA PUASA

Haruskah mengqadha puasa Ramadhan itu dengan berturut-turut? Pendapat yang paling kuat membolehkan tidak berturut-turut. Dengan dalil firman Allah SWT : “Maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari-hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS AlBaqarah: 184)

Adapun orang yang meninggal dunia dan ia mempunyai tanggungan puasa maka walinya yang mengqadha puasa itu. Hadist Rasulullah SAW : “Barang siapa meninggal dunia dan ia mempunyai tanggungan puasa maka walinya yang berpuasa untuknya.

 

PUASA BAGI ORANG MUSAFIR

Berbuka bagi orang musafir/bepergian merupakan rukhsoh/keringanan yang diberikan Allah SWT.Allah SWT berfirman : “Barangsiapa siapa yang sakit atau bepergian, maka dihitung (puasanya) pada hari yang lain.” (QS Al-Baqarah: 185)

Mana yang lebih utama berbuka atau puasa bagi mereka? Imam Syafi’i, Malik, dan Abu Hanifah menyatakan bahwa puasa adalah lebih baik apabila mereka mampu (tidak dirasa memberatkan) mereka berhujjah dengan firman Allah SWT: “Dan puasa lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 184)

Akan tetapi jika mereka tidak mampu maka berbuka adalah lebih baik baginya. Allah SWT berfirman : “Allah SWT menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS Al-Baqarah: 185)

Adapun jarak safar yang diperbolehkan untuk berbuka, Imam Syafi’i,Ahmad dan Imam Malik berpendapat bahwa batas paling dekat dimana seorang musafir diperbolehkan berbuka adalah 48 mil atau 84 km.

 

MENCIUM ISTRI SAAT BERPUASA

Mencium istri disaat berpuasa boleh bagi yang mampu mengendalikan nafsunya. Riwayat dari Aisyah ra: “Rasulullah SAW mencium padahal beliau berpuasa, beliau menyentuk padahal berpuasa akan tetapi Rasulullah SAW orang yang paling bisa mengendalikan nafsunya.” (HR Bukhari-Muslim)

 

HUBUNGAN SUAMI ISTRI DI SIANG HARI SAAT BULAN RAMADHAN

Barangsiapa yang melakukan hubungan suami istri di siang hari pada Bulan Ramadhan, maka puasanya batal dan ia wajib membayar denda dengan urut seperti berikut ini: memerdekakan budak, apabila tidak mampu maka wajib berpuasa dua bulan berturut-turut. Dan apabila tidak mampu, ia wajib memberi makan 60 orang miskin. Sebagaimana hadist Abu Hurairah ra yang artinya:

“Ketika kami duduk di samping Nabi Muhammad SAW datanglah seorang lelaki seraya berkata: Wahai Rasulullah saya telah binasa! Nabi bersabda: “Apa yang membinasakanmu? Ia menjawab, saya telah menggauli istri saya padahal saya dalam keadaan berpuasa”. Nabi bersabda: Apakah kamu mampu memerdekakan budak? Ia menjawab: tidak! Nabi berkata: Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut? Ia menjawab: tidak! Nabi berkata: Apakah kamu mampu memberi makan 60 orang miskin? Ia menjawab: tidak! Lalu ia duduk. Kemudian datanglah satu orang yang membawa wadah berisi kurma untuk Nabi. Maka Nabi bersabda shodaqohkanlah ini. Ia menjawab: Apakah kepada orang yang lebih miskin dari saya? Karena tidak ada dua batu hitamnya rumah ini yang butuh dari saya. Maka Nabi kemudian tertawa dan berkata pergilah dan berikan kepada keluargamu.” (HR Bukhari-Muslim)

 

JENIS PUASA SUNNAH DI LUAR PUASA RAMADHAN

a. Puasa Hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi orang yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Sabda Rasulullah SAW: “Puasa Arafah menghapus dosa satu tahun, tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. Dan puasa Muharram menghapus dosa satu tahun yang lalu. (HR Muslim)

b. Puasa 10 Muharram sebagaimana hadist di atas.

c. Puasa enam hari di Bulan Syawal

Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa puasa di bulan Ramadhan dan diikuti puasa enam hari di bulan syawal maka ia bagaikan puasa satu tahun.” (HR Muslim)

d. Puasa pada Bulan Sya’ban

Hadist Rasulullah SAW: “Tidak pernah saya melihat Rasulullah puasa satu bulan kecuali bulan puasa, dan tidak pernah saya melihat beliau memperbanyak puasa satu bulan, selain Bulan Sya’ban.” (HR Bukhari-Muslim)

e. Puasa bulan purnama, 3 hari setiap bulan Hijriah yaitu tanggal 13, 14, dan 15

Hadist Rasulullah SAW: “Rasulullah menyuruh kami untuk berpuasa tiap bulan tiga hari saat terang bulan yaitu tanggal 13, 14, dan 15. Beliau berkata ia adalah seperti puasa satu tahun. (HR Nasai)

f. Puasa Dawud yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka

Hadist Rasulullah SAW: “Puasa yang paling disenangi Allah SWT adalah puasa Dawud, shalat yang disenangi Allah SWT adalah shalat Dawud, beliau tidur separuh malam, bangun sepertiganya, dan tidur lagi seperenamnya, beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (HR Bukhari-Muslim)

g. Puasa Hari Senin dan Hari Kamis

Hadist Rasulullah SAW: “Rasulullah SAW memperbanyak puasa pada Hari Senin dan Hari Kamis, kemudian beliau berkata, sesungguhnya amal-amal itu dilaporkan setiap Hari Senin dan Hari Kamis, maka Allah SWT akan mengampuni setiap muslim atau mu’min kecuali mereka yang saling memutuskan tali persaudaraan, maka Allah SWT berkata, akhirkan mereka. (HR Ahmad)

 

PUASA BAGI ORANG YANG BELUM MAMPU MENIKAH

Hadist Rasulullah SAW:

“Barangsiapa telah mempunyai bekal maka kawinlah, karena kawin itu lebih menjaga pandangan dan kemaluan. Tapi jika belum mampu maka puasalah karena ia adalah obatnya.”(HR Bukhari)

 

PUASA-PUASA YANG DILARANG

a. Puasa hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha)

“Ada dua hari Rasulullah SAW telah melarang puasa pada keduanya, hari raya Idul Fitri dan hari raya yang lain dimana engkau memakan hewan sembelihannya. (HR Bukhari-Muslim)

 

b. Puasa sunnah tanpa seizin suami

Seorang istri tidak diperbolehkan puasa sunnah ketika suaminya berada di rumah tanpa seizing suami tersebut. Hadist Rasulullah SAW: “Janganlah seorang perempuan berpuasa sedangkan suaminya berada di rumah.” (HR Bukhari)

 

c. Hari Tasyrik

“Bahwasanya Rasulullah SAW mengutus Abdullah bin Hudzaifah berkeliling di Mina untuk mengumumkan agar tidak puasa pada hari ini, sebab ia adalah hari-hari untuk makan, minum, dan dikir kepada Allah SWT.

 

d. Hanya mengkhususkan Hari Jum’at

Larangan di sini hanya larangan makruh, kecuali jika hari itu bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan, atau karena ada sunnah yang lain. Hadist Rasulullah SAW: “Janganlah puasa pada Hari Jum’at kecuali didahului dengan puasa sebelumnya atau ditambah sehari sesudahnya.” (HR Bukhari)

 

e. Hari yang diragukan

Hadist Rasulullah SAW: “Janganlah sekali-kali di antara kamu mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya kecuali jika seseorang itu telah terbiasa di hari itu maka puasalah pada hari itu.” (HR Bukhari-Muslim)

 

f. Puasa Dahri (puasa tiap hari tanpa berbuka)

Hadist Rasulullah SAW: “Tidak dinamakan puasa orang yang berpuasa terus menerus.” (HR Bukhari)

 

DO’A BERBUKA PUASA

Urutan yang tepat untuk do’a ketika berbuka adalah:

  1. Membaca basmalah sebelum makan kurma atau minum (berbuka).
  2. Mulai berbuka
  3. Membaca do’a berbuka: Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu…dst.

Ibnu Umar ra mengatakan, jika RasulullahSAW buka puasa, beliau membaca:

Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah

“Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.” (HR Abu Daud, Ad-Daruquthni, Al-Bazzar, dan Al-Baihaqi. Hadis ini dinilai hasan oleh Al-Albani)

 

KAPAN DO’A INI DIUCAPKAN

Dilihat dari arti do’a di atas, dzahir menunjukkan bahwa do’a ini dibaca setelah orang yang berpuasa itu berbuka. Syiakh Ibnu Utsaimin menegaskan:

“Hanya saja, terdapat do’a dari Nabi SAW, jika do’a ini shahih, bahwa do’a ini dibaca setelah berbuka. Yaitu do’a: Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu…dst. do’a ini tidak dibaca kecuali setelah selesai berbuka.”

 

ANJURAN MEMPERBANYAK DO’A KETIKA BERBUKA PUASA

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, dan do’a orang yang didzalimi, Allah angkat di atas awan pada hari kiamat.” (HR At-Tirmidzi, Thabrani).

Hadis di atas menunjukkan anjuran bagi orang yang sedang puasa untuk memperbanyak berdo’a sebelum dia berbuka. Sebagian ulama menegaskan bahwa hadis ini tidak ada hubungannya dengan berdo’a ketika berbuka. Karena teks hadis ini bersifat umum, bahwa orang yang sedang berpuasa memiliki peluang dikabulkan do’anya di setiap waktu dan setiap kesempatan, sebelum dia berbuka.

Abdullah bin Amr bin Ash ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki do’a yang tidak akan ditolak ketika berbuka.” (HR Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Sunni, dan At-Thayalisi)

Do’a-do’a kebaikan selayaknya dibaca sebelum memulai berbuka. Karena ketika belum berbuka, seseorang masih dalam kondisi puasa, dan bahkan di puncak puasa, sehingga dia lebih dekat dengan Allah Ta’ala.

 

DO’A APA YANG BISA DIBACA KETIKA HENDAK (MENJELANG) BERBUKA

Do’a yang berkaitan dengan kehidupan dunia maupun di akhirat. Karena waktu menjelang berbuka adalah waktu yang mustajab. Ibnu Abi Mulaikah (salah seorang tabiin), beliau menceritakan: Aku mendengar Abdullah bin Amr ketika berbuka membaca do’a:

Allahumma Inni As-Aluka bi Rahmatika Al-Latii Wasi’at Kulla Syai-in An Taghfira Lii

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku.” (HR Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)

Posted in kyky belajar, Mari Membaca

MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan berkah, bulan yang sangat diistimewakan oleh Allah SWT, di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, di dalamnya penuh dengan rahmah, ampunan, dan pembebasan dari api neraka, bulan yang dirindukan kedatangannya dan ditangisi kepergiannya oleh orang-orang yang sholeh. Pada Bulan Ramadhan inilah kaum muslimin seharusnya melakukan pengembaraan rohani dengan mengekang nafsu syahwat dan mengisi dengan amal-amal yang mulia. Semua itu merupakan momen dan sekaligus sarana yang baik untuk mencapai puncak ketaqwaan. Dosa dan kekhilafan juga merupakan sasaran yang akan kita hapuskan dalam Bulan Ramadhan ini.

Untuk mendekatkan sasaran tersebut, kiranya perlu menyambut tamu Allah SWT yang agung ini dengan mengadakan pembekalan ruhani dan pengetahuan tentang Bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Diantara bekal-bekal yang harus dimiliki dalam menyongsong bulan mulia ini adalah:

 

MEMPERSIAPKAN PERSEPSI YANG BENAR TENTANG BULAN RAMADHAN

Untuk memberikan motivasi beribadah di Bulan Ramadhan dengan optimal, sebelum Ramadhan datang Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabatnya guna memberikan persepsi yang benar dan mengingatkan betapa mulianya Bulan Ramadhan. Dalam sebuah Hadist yang panjang Rasulullah SAW bersabda:

“Dari Salman ra. Beliau berkata: Rasulullah berkhutbah ditengah-tengah kami pada akhir Sya’ban, Rasulullah bersabda: Hai manusia, telah menjelang kepada kalian bulan yang sangat agung, penuh dengan barokah, di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan dimana Allah SWT telah menjadikan puasa di dalamnya sebagai puasa wajib, qiyamul lailnya sunnah, barangsiapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan amalan wajib tujuh puluh kali pada bulan lainnya… dst.” (HR Ibnu Huzaimah, beliau berkaya: hadist ini adalah hadist shahih)

 

MEMBEKALI DIRI DENGAN ILMU YANG CUKUP

Sasaran dari ibadah puasa adalah untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita. Untuk itu, ibadah puasa harus dilakukan dengan tata cara yang benar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Banyak orang berpuasa yang tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar, dan banyak orang shalat malam, tidak mendapat apa-apa dari shalatnya kecuali begadang.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah)

“Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta (dalam berpuasa) dan tetap melakukannya, maka Allah SWT tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari)

Dari dua hadist di atas bisa disimpulkan bahwa membekali diri dengan segala ilmu yang berkaitan dengan puasa Ramadhan akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan kita melalui Bulan Ramadhan yang mulia ini.

 

MELAKUKAN PERSIAPAN JASMANI DAN RUHANI

Sebelum masuk Bulan Ramadhan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar banyak melakukan ibadah puasa di Bulan Sya’ban. Dengan banyak berpuasa di Bulan Sya’ban berarti kita telah mengkondisikan diri, baik dari sisi ruhiyah maupun jasadiyah. Kondisi ini akan sangat positif pengaruhnya dan akan mengantarkan kita dalam menyambut Ramadhan dengan berbagai ibadah dan amalan yang disunnahkan. Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak fisik dan proses penyesuaian terlalu lama seperti banyak terjadi pada orang yang pertama kali berpuasa, misalnya lemas, badan terasa panas, tidak bersemangat, banyak mengeluh, dsb.

 

MEMAHAMI KEUTAMAAN-KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

Bulan Ramadhan diciptakan Allah SWT penuh dengan keutamaan dan kemuliaan. Maka mempelajari dan memahami keutamaan dan kemuliaan tersebut akan memotivasi kita untuk lebih meningkatkan amal ibadah kita. Diantara keuramaan dan kemuliaan Bulan Ramadhan adalah

a. BULAN KADERISASI TAQWA DAN BULAN DITURUNKANNYA AL-QUR’AN

Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

“Bulan Ramadhan bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil) maka barangsiapa mendapatkannya hendaklah ia puasa.” (QS Al-Baqarah: 185)

 

b. BULAN PALING UTAMA, BULAN PENUH BERKAH

Rasulullah SAW bersabda:

“Bulan yang paling utama adalah Bulan Ramadhan, dan hari yang paling mulia dalah Hari Jum’at.”

Dari Ubaidah bin Shamit, bahwa ketika Ramadhan tiba, Rasulullah bersabda: “Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada bulan itu Allah SWT akan memberikan naungan-Nya kepada kalian, Dia turunkan rahmat-Nya. Dia hapuskan kesalahan-kesalahan dan Dia kabulkan do’a. Pada bulan itu Allah SWT akan melihat kalian berlomba melakukan kebaikan. Allah SWT akan membanggakan kalian di depan malaikat. Maka perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah SWT, sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat rahmat Allah SWT.” (HR Tabrani)

 

c. BULAN AMPUNAN DOSA, BULAN PELUANG EMAS MELAKUKAN KETAATAN

Rasulullah SAW bersabda:

“Antara shalat lima waktu dari Hari Jum’at sampai Jum’at lagi, dari Ramadhan ke Ramadhan, dapat menghapuskan dosa-dosa kecil apabila dosa-dosa besar dihindarkan.” (HR Muslim)

“Barangsiapa puasa karena iman dan mengharap pahala dari Allah SWT, ia akan diampuni semua dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari-Muslim)

“Apabila Bulan Ramadhan telah datang pintu surge dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu.” (HR Bukhari-Muslim)

 

d. BULAN DILIPATGANDAKANNYA AMAL SHALIH

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan menjadi sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, Allah SWT berfirman: “Kecuali puasa, puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Ia tinggalkan nafsu syahwat dan makanannya semata-mata karena Aku.” Orang yang berpuasa mendapat dua kebahagiaan ketika berbuka, dan ketika berjumpa Rabb-nya. Bau mulut orang yang berpuasa disisi Allah SWT lebih wangi daripada bau parfum misik.” (HR Muslim)

Rabb-mu berkata: “Setiap perbuatan baik (di Bulan Ramadhan) dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Puasa untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai dari api neraka, bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah SWT lebih wangi dari parfum misik. Apabila orang bodoh berlaku jahil kepada seseorang diantara kamu yang sedang berpuasa, maka hendaklah kamu katakan: “Saya sedang puasa.” (HR Tirmidzi)

 

e. BULAN JIHAD DAN KEMENANGAN

Sejarah telah mencatat, bahwa pada bulan suci Ramadhan beberapa kesuksesan dan kemenangan besar diraih Ummat Islam. Ini membuktikan bahwa Bulan Ramadhan bukan merupakan bulan malas dan bulan lemah, tapi Bulan Ramadhan adalah bulan jihad dan kemenangan.

Perang Badar yang diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai YAUMUL FURQAN. Ummat Islam meraih kemenangan besar pada tanggal 17 Ramadhan tahun 10 Hijriah dan saat itu juga gembong kebathilan Abu Jahal terbunuh. Pada Bulan Ramadhan, FATHU MAKKAH (Pembebasan Kota Mekkah) yang diabadikan oleh Al-Qur’an sebagai FATHAN MUBINA, terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 Hijriah.

Perang Ain Jalut menakhlukkan tentara Mongol terjadi pada Bulan Ramadhan, tepatnya pada tanggal 25 Ramadhan tahun 658 Hijriah. Andalusia (Spanyol) ditakhlukkan oleh tentara Islam dibawah pimpinan Tariq bin Ziyad juga terjadi pada Bulan Ramadhan, yaitu pada tanggal 28 Ramadhan tahun 92 Hijriah.