Posted in Melancholische Seite

just write-3

Ketika gelas itu pecah

Yang ku yakini hati ini tidak akan menjadi musyrik

Karena aku punya Allah yang kuasanya meliputi langit dan bumi

Yang Maha Melihat, tak pernah tidur tuk mengawasi hamba-hambaNya

Yang Maha Mendengar, selalu mendengarkan setiap hati yang merintih dan mengiba ampunan dosa

Laa Haula wa laa Quwwata illa billah



	
Posted in Cerita Hidup, Melancholische Seite

Sudirman (jelang) Maghrib

Bangunan itu kian membisu,

meski sekitarnya ditanami pohon-pohonan ridang

Bangunan itu tetap membisu,

meski sekitarnya dihiasi bunga-bunga yang cantik

Bangunan itu selalu saja membisu,

meski di area parkirnya berjejer mobil-mobil mentereng

Bangunan itu akan tetap membisu,

meski ditaburi gemerlap lampu-lampu sorot yang membuatnya semakin terlihat angkuh!

papan-papan reklame yang begitu megah, memamerkan kenikmatan-kenikmatan dunia yang hanya bisa dicicipi oleh kaum borjuis.

Bangunan itu tak bergerak dari kebisuannya!

Menjadi benda mati tak bertuan, hidup tanpa hati, apatis tak peduli!

Meski ada seorang anak pemulung yang sedang termenung..

duduk sendiri memikirkan apa yang akan ia makan nanti…

Posted in Melancholische Seite

just write-2

“Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas keimanan. Keimanan hanya tinggal pemikiran, yang tidak berbekas dalam perbuatan. Banyak orang baik tapi tak berakal, ada orang berakal tapi tak beriman. Ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian. Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi. Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat dan ada yang banyak menangis karena kufur nikmat. Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat dan ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut. Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan dan ada pelacur yang tampil jadi figur. Ada orang punya ilmu tapi tak paham, ada yang paham tapi tak menjalankan. Ada yang pintar tapi membodohi, ada yang bodoh tak tahu diri. Ada orang beragama tapi tak berakhlak dan ada yang berakhlak tapi tak bertuhan. Lalu di antara semua itu dimana aku berada?” (Imam Ali bin Abi Tholib r.a.)

Posted in kyky belajar, Mari Membaca

Tawadhu’

Salah satu sifat utama yang harus melekat pada seorang mukmin adalah sifat tawadhu (rendah hati). Bahkan Allah menyebutkan bahwa hamba-hamba Sang Maha Rahman akan senantiasa berjalan di muka bumi dengan rendah hati tanpa ada rasa congkak dan sombong yang bersarang dalam dada mereka. Allah swt berfirman:

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Furqan [25] : 63)

Tawadhu’ adalah sifat mulia yang menjadikan seseorang tidak merasa lebih besar dari orang lain dan tidak merasa lebih tinggi dari yang lain. Bagi orang-orang yang tawadhu’ manusia lain sama posisinya dengan dirinya walaupun dia sedang berada dalam kedudukan tinggi dalam pandangan manusia. Orang-orang yang tawadhu’ menyadari bahwa kemuliaan seseorang bukan dilihat dari posisi dan jabatannya, bukan dari pangkat dan hartanya, kedudukan mereka di lihat dari ketakwaan yang melekat pada dirinya. Nilai dan kemuliaan seseorang di mata Allah adalah tergantung pada ketinggian takwanya, dan kekokohan imannya. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman-Nya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat [49] : 13)

Ketawadhuaan seseorang tidak akan mengurangi kehormatannya dan tidak pula akan merendahkan kedudukannya. Bahkan sebaliknya, seseorang yang memiliki kedudukan tinggi dan posisi terhormat, kemudian berendah hati maka dia akan menjadi buah bibir di tengah masyarakat karena kerendahan hatinya yang sekaligus mengangkat derajatnya di mata manusia dan manusia tidak akan mendengki dan iri akan kedudukannya. Sebaliknya manusia yang tinggi kedudukannya dan tinggi hati pada manusia lainnya maka akan banyak orang yang iri padanya bahkan mereka menginginkan agar orang yang tinggi hati itu segera dicopot dari posisinya.

Marilah kita sama-sama menyimak dengan seksama sabda Nabi Muhammad Saw berikut:

“Sedekah itu tidak mengurangi harta, dan tidaklah seseorang itu suka memberi maaf kecuali Allah angkat dia menjadi mulia, dan tidaklah seseorang berendah hati kecuali Allah akan angkat derajatnya.” (HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Gambaran berikut akan memperjelas bagaimana sikap rendah itu mengangkat derajat seseorang. Adalah Khalifah Umar bin Khattab, pada suatu hari dia berjalan di tengah terik matahari sambil menutupkan selendangnya di kepalanya.

Saat itu lewatlah seorang anak muda yang menunggang seekor keledai. Berkatalah Umar padanya, “Wahai anak muda bawalah aku bersamamu!” Maka turunlah anak muda itu dari keledainya dengan melompat seraya berkata, “Naiklah wahai Amirul mukminin!”

Melihat anak muda itu turun dari keledainya dan mempersilahkan dirinya naik sementara dia harus berjalan maka Umar berkata, ”Tidak! Naiklah engkau, dan bawalah aku di belakangmu. Apakah engkau akan membawaku di tempat yang empuk sementara engkau berjalan di atas tanah yang kasar?” Maka anak muda tadi menaiki keledainya dan memasuki Madinah sementara Umar berada di belakangnya dan penduduk Madinah melihat mereka.

Sebuah ketawadhu’an yang sangat dramatis, indah dan mengagumkan. Ketawadhu’an inilah yang kemudian menjadi cerita yang ditulis dengan tinta emas oleh para sejarawan setelah Umar meninggal ratusan tahun lamanya. Namanya tetap wangi semerbak karena sikapnya yang tawadhu’ ini.

Tapi lihatlah Fir’aun, Abu Jahal, Abu Lahab yang juga berkedudukan tinggi di masanya, namun mereka kini menjadi cibiran bangsa-bangsa dan ummat manusia hingga akhir zaman. Mereka Allah rendahkan kedudukannya karena mereka meninggikan diri di hadapan manusia.

Kisah ini juga akan memberikan pelajaran bagi kita. Dalam sebuah riwayat yang dilansir oleh Ibnu Saad dari Tsabit dia berkata, “Pada saat Salman menjadi Gubernur Madain ada seseorang yang datang dari wilayah Syam dari kalangan Bani Tamim dengan membawa buah tiin. Sementara Salman memakai celana yang biasa dipakai orang non Arab dan sebuah baju panjang. Orang itu berkata kepada Salman, dan dia tidak mengetahuinya, ‘Tolong bawakah ini,’—dia mengira bahwa Salman seorang tulang panggul. Maka Salman al-Farisi membawakan untuknya buah tiin itu sementara manusia manusia melihat dan mengenalinya seraya berkata, ‘Ini gubernur kita’.”

Kedua orang sahabat Rasulullah saw yang meneguk ajaran sang Nabi itu sangat mengerti makna hidup rendah hati pada manusia lainnya termasuk pada rakyatnya dengan sepenuh hati dan jiwa. Mereka tidak pernah minta dinomersatukan, tidak pula ingin dipuja-puja, tidak minta untuk dikenal, tidak minta di kursi paling depan kalau ada pertemuan. Namun manusia tetap memberikan rasa hormat padanya karena memang mereka pantas untuk mendapat kehormatan itu. Mereka memiliki inner power yang menjadi magnet pribadinya.

Kisah Al-Makmun khalifah Nabi Abbas yang cerdas, rasanya pantas pula kita jadikan pelajaran bagaimana Al-Makmun memaknai kedudukannya sebagai abdi rakyat yang sebenarnya. Suatu hari Yahya bin Aktsam menjadi tamu Al-Makmun. Kemudian Al-Makmun berdiri untuk mengambilkan air baginya. Yahya kaget melihat apa yang dilakukan oleh khalifah kaum muslimin paling disegani di zamannya itu sambil bergumam bagaimana mungkin seorang Amirul Mukminin datang dengan membawakan air baginya sementara dia duduk di tempatnya. Melihat gelagat rasa tidak enak pada Yahya dan tanda tanya di mukanya Al-Makmun berkata, “Pemimpin sebuah kaum itu adalah pelayan mereka!” Indah sekali, bagaikan legenda. Namun itu kisah nyata.

Maka benarlah apa yang pernah dikatakan seorang penyair:

Berendah hatilah engkau bagaikan bintang yang ada di dalam bayangan air
Padahal sebenarnya dia berada di angkasa nan tinggi
Dan janganlah engkau jadi laksana asap yang membubung sendiri
Di atas awan, sementara sesungguhnya dia adalah rendah sekali

Suatu ketika Ali bin Abi Thalib membeli daging seharga satu dirham. Kemudian dia membawanya dalam bungkusan. Salah seorang sahabatnya berkata padanya, “Aku saja yang membawanya wahai Amirul Mukminin!” Namun Ali bin Abi Thalib dengan santun berkata, “Jangan! Sebab orang tua dalam keluarga itulah yang paling pantas membawakan itu!” Ali menegaskan bahwa tidaklah berkurang kesempurnaan seseorang karena membawakan barang milik keluarganya.

Maka marilah kita belajar dari orang-orang besar dengan jiwa besar itu. Mereka besar karena memiliki kepribadian yang besar, memiliki hati yang lapang dan paradigma yang benar tentang makna hidup manusia yang sesungguhnya. Saatnya kita belajar dari mereka tatkala negeri ini sedang membutuhkan peminpin dengan jiwa besar, dengan pikiran besar, dengan hati yang besar, dengan visi dan misi besar yang terbungkus rapi dalam ketawadhu’an yang sempurna.

Semoga kita bisa. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Sumber: Tawadhu’ Itu Penting

Posted in kyky belajar, Mari Membaca

Karunia Ramadhan bagi Wanita Haid dan Nifas

Meski Ramadhan udah lewat, tapi bacaan di bawah ini bermanfaat sekali buat teman-teman yang belum jelas mengenai qadha’ shaum Ramadhan.

Semoga bermanfaat! 😉

 

Shaum Ramadhan salah satu ibadah yang tata cara pelaksanaannya sudah ditentukan Allah SWT dan diajarkan Rasulullah SAW (bersifat tauqifiyah).  Kaum muslim diperintahkan untuk melaksanakannya tanpa mengurangi dan menambahnya.  Manusia tidak boleh mencari-cari hikmah dan manfaat ataupun alasan di balik pelaksanaan ibadah tersebut, kecuali apa yang telah disebutkan di dalam nash-nash Syara.  Oleh karena itu,  kaum muslim wajib mengikuti semua bentuk perincian ibadah Shaum dengan mengacu pada al-Qur’an maupun as-Sunnah. Dan bilamana hal itu dilaksanakan dengan benar dan hanya mengharapkan ridha Allah SWT maka Shaumnya akan meningkatkan derajat ketaqwaannya.

Shaum Wanita Haid dan Nifas

Islam membedakan persoalan ibadah shalat dengan ibadah shaum bagi wanita haid dan nifas.  Dalam perkara shalat, Allah SWT telah mengangkat kewajiban tersebut dari keduanya.  Oleh karena itu, mereka tidak diperintahkan mengqadha (mengganti) shalat selepas masa haid dan nifasnya.  Namun, tidak demikian dengan Shaum.  Allah SWT tidak mengangkat taklif Shaum dari keduanya.  Allah SWT hanya mengundurkan waktu pelaksanaannya hingga selesai masa haid dan nifasnya.  Oleh karena itu, wanita haid dan nifas wajib mengqadha Shaum saat masa haid dan nifasnya telah selesai.  Mengapa terdapat perbedaan seperti itu?

Shaum maupun shalat merupakan bagian dari ibadah.  Dalam hal ibadah, Allah SWT tidak memberikan ‘illat atas bentuk pelaksanaannyaDalam persoalan ini pun, tidak ada satu pun nash yang menunjukkan atas ‘illat tentang perbedaan masalah tersebut.  Oleh karena itu, selayaknya kita tidak perlu mencari-cari sebab mengapa aturan keduanya berbeda.  Dari Muadzah ia berkata : “Bagaimana orang haid harus mengqadha Shaum sedangkan ia tidak harus mengqadha shalat?  Aisyah bertanya: Apakah engkau seorang Khawarij Haruriyah?  Aku berkata: Aku bukan seorang Haruriyah, tetapi aku sekedar bertanya.  Aisyah berkata: Kami pernah mengalami hal itu, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha Shaum dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat”. (HR. Muslim, Bukhari, Abu Daud, an Nasai dan Tirmidzi)

Wanita haid dan nifas diharamkan berShaum selama darah masih mengalir di masa haid atau nifasnya.  Apabila haid atau nifas keluar meski sesaat sebelum maghrib, ia wajib membatalkan Shaumnya dan mengqadhanya pada waktu yang lain.  Apabila darahnya terhenti pada malam hari (sebelum terbit fajar), maka Shaum pada hari itu wajib atasnya dan sah, walaupun ia mandi setelah terbit fajar.  Sebab, yang menjadi penentu adalah mengalir atau tidaknya darah.  Sementara mandi adalah perkara yang lain.  Oleh karena itu, seorang wanita -jika telah terhenti darah haid atau nifasnya- maka wajib atasnya Shaum Ramadhan.  Jika hal ini terjadi pada siang hari maka ia wajib berShaum saat itu juga meski harus mengqadha di waktu yang lain.  Hal ini dikarenakan ia tidak memulai Shaumnya sejak terbit fajar.  Hal ini sebagaimana orang yang terlambat mendapatkan khabar datangnya bulan Ramadhan pada siang hari, ia wajib berShaum pada sisa waktu (hari) yang ia dapati tetapi mengqadha pada hari yang lain.

Qadha Shaum

Mengqadha Shaum sah dilakukan secara berturut-turut atau berselang-seling tanpa ada pengutamaan salah satu dari keduanya.  Mengqadha Shaum Ramadhan juga sah dilakukan secara langsung setelah hari raya Idul Fitri (mulai tanggal 2 Syawal).  Demikian pula, qadha sah dilakukan meski diakhirkan hingga bulan Sya’ban, beberapa saat sebelum datangnya Ramadhan berikutnya.  Dalil atas masalah ini adalah keumuman ayat :

“..Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berShaum) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain..” (TQS. Al Baqarah [2]: 184)

Ayat tersebut menetapkan qadha Shaum secara mutlak tanpa batasan (taqyid) dan pengkhususan (takhsis).  Hal ini menunjukkan adanya keluasan waktu mengqadhaShaum hingga sebelum datang Ramadhan berikutnya.  Dalam hal ini para fuqoha telah bersepakat. Dalil lainnya adalah dari Aisyah ra, ia berkata :

“Aku tidak mengqadha hutang Shaum Ramadhan-ku kecuali pada bulan Sya’ban hingga Rasulullah Saw dimakamkan”. (HR. Ibnu Khuzaemah, Tirmidzi, dan Ahmad)

Jika seseorang -tanpa udzur- melalaikan qadha Shaum hingga melewati Ramadhan berikutnya, maka ia dipandang sudah melalaikan kewajiban (al-mufarrith).  Namun demikian para ulama berbeda pendapat tentang apakah ia harus membayar fidyah(sebagai kafarat) atas Shaum yang ditinggalkannya ataukah tidak.

Abu Hanifah dan para shahabatnya, Ibrahim An-Nakha’i, al Hasan al Bashri, al Muzani dan Dawud bin Ali berpendapat bahwa orang tersebut hanya wajib qadha saja.  Sedangkan jumhur ulama berpendapat orang tersebut wajib mengqadha Shaum dan membayarfidyah (yaitu memberi makan orang miskin dari setiap hari Shaumnya).

Pendapat seperti ini diriwayatkan berasal dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Abu Hurairah ra.  Bukhari berkata: “….Ibrahim berkata: jika seseorang melalaikan qadha hingga tiba Ramadhan berikutnya, maka ia harus berShaum mengqadhanya tanpa perlu memberi makan.  Tetapi ada riwayat dari Abu Hurairah secara mursal, dan dari Ibnu Abbas, bahwa orang tersebut harus memberi makan.”

Pendapat yang lebih kuat adalah yang disampaikan oleh ulama Hanafiyah.  Hal ini dikarenakan kewajiban membayar fidyah bagi orang yang melalaikan kewajiban qadhamemerlukan nash Syara.  Sementara tidak ada satu pun nash Syara yang datang dalam masalah ini.  Sehingga pensyariatan hukum seperti itu tidak sah.  Memang ada pernyataan yang dinukil at Thahawi dari Yahya bin Aktsam: Aku menemukan pendapat tentang fidyah ini dari enam orang shahabat dan aku tidak mengetahui orang yang menyalahi mereka dalam masalah ini. Ternyata semua riwayat yang berasal dari sahabat ini tidak terbukti kuat, karena diriwayatkan melalui jalur-jalur yang dhaif sehingga harus ditolak dan tidak boleh diikuti.

Sejumlah ahli fiqh juga telah keliru tentang pernyataan shahabat: “Sesungguhnya orang yang sakit jika tidak berShaum Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya, maka hendaknya ia berShaum Ramadhan dan memberi makan pengganti Ramadhan yang luput kepada seorang miskin dari setiap harinya”. Pernyataan tersebut tertukar dengan riwayat-riwayat dhaif di atas sehingga mereka mewajibkan fidyah secara mutlak.  Padahal yang benar, bagi orang yang sakit sedangkan ia tidak mampu mengqadha sepanjang tahun maka ia diwajibkan membayar fidyah saja (sebagaimana yang dinyatakan di dalam Al Quran).

Adapun bagi orang yang lalai mengqadha Shaum hingga beberapa Ramadhan maka kewajiban qadhanya tetap berlaku.  Ia tidak cukup hanya mengqadha Ramadhan yang terakhir saja.  Ini dikarenakan qadha Shaum Ramadhan tidak gugur dengan lewatnya waktu lebih dari satu tahun.  Dengan melalaikannya (mengakhirkannya) maka ia telah berdosa, dan ia tetap terkena beban untuk mengqadha seluruh Shaum yang pernah ditinggalkannya.

Amalan Lain bagi Wanita Haid dan Nifas

Meski tidak berShaum, wanita yang sedang haid dan nifas masih mempunyai kesempatan untuk meraih kemuliaan Ramadhan.  Mereka harus bisa mengoptimalkan berbagai amalan yang berfungsi sebagai ‘pengganti’ amal Shaum Ramadhan.  Untuk itu, mereka dianjurkan untuk lebih meningkatkan berbagai amalan, diantaranya :

  1. Berdzikir dan berdoa memohon ampunan Allah SWT
  2. Bersedekah
  3. Memberi makan orang yang berbuka Shaum
  4. Meringankan pekerjaan orang yang berShaum
  5. Menimba ilmu untuk meraih ketaatan yang lebih tinggi kepada Allah SWT
  6. Beramar makruf nahi munkar
  7. Melaksanakan berbagai ketaatan sekaligus meminimalisir kemaksiyatan, karena setiap amal kebaikan di bulan Ramadhan dilipat gandakan pahalanya.
  8. Dan lain-lain

Oleh karena itu, selayaknya muslimah yang sedang haid atau nifas tidak menghabiskan waktu dan energinya untuk sesuatu yang sia-sia.  Sesungguhnya Bulan Ramadhan penuh dengan kemuliaan dan keberkahan.  Tak seharusnya mereka jauh atau kosong dari suasana ruhiyyah Ramadhan.  Banyak hal yang bisa dilakukannya.  Dan jika hal itu mampu mereka optimalkan sesungguhnya Allah SWT Maha Memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya yang sungguh-sungguh mencari karunia-Nya.

Rujukan utama :

Kitab “Al-Jaami’ li al-ahkami ash-shiyaam” (terj.) karya Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, 2001

Sumber: Karunia Ramadhan bagi Wanita Haid dan Nifas

Posted in kyky belajar, Mari Membaca

Mewarnai Puasa Dengan Kesabaran

Allah SWT telah menyiapkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang menghiasi dirinya dengan berbagai sifat yang baik, di antaranya: “Orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan orang. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (TQS. Ali Imran [3] : 134). Dalam firman-Nya ini, Allah SWT memuji mereka yang mampu menahan amarahnya, dan mema’afkan orang, padahal ia mampu membalasnya jika ia mau. Kemudian setelah itu diikuti dengan sebuah khabar bahwa Allah SWT mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. Hal ini menjadi isyarat bahwa kedua amal tersebut: menahan amarah dan mema’afkan orang, maka kedua perbuatan termasuk di antara perbuatan ihsân (baik).

Dan di antara contoh ideal terkait potret kesabaran adalah kesabaran Ahnaf bin Qais. Ia ditanya dari siapa Anda belajar kesabaran? Ia menjawab: Saya belajar kesabaran dari Qais bin Ashim al-Minqari. Suatu hari aku mendatanginya ketika ia yang sedang duduk memeluk lutut dengan punggung dan kedua kakinya diikat serban. Kemudian orang-orang datang membawa putranya yang terbunuh dan sepupunya yang diikat erat dengan tali. Mereka berkata bahwa keponakanmu ini telah membunuh putramu. Mendengar dan melihat hal itu ia tetap diam dan tidak beridiri dari tempatnya, namun ia menoleh pada salah seorang putranya, lalu berkata: Hai putraku, berdirilah, lepaskan sepupumu, kebumikan saudaramu, dan berikan seratus onta pada ibu dari anak yang terbunuh itu, karena ia akan merasa kehilangan, semoga dengannya ia terhibur.

Dalam hal ini, mungkin orang yang paling membutuhkan kesabaran adalah oarang yang sedang berpuasa. Sebab ada di antara manusia yang tidak tahan merasakan lapar dan haus dalam waktu yang lama, sehingga kami mendapatinya begitu cepat marah. Oleh karena itu, Rasulullah Saw berwasiat agar orang yang berpuasa itu ingat selalu bahwa dirinya sedang berpuasa, agar hal itu dapat mencegahnya dari marah, dan mencegah dari membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jika salah seorang dari kalian suatu hari berpuasa, maka jangan mengeluarkan kata-kata kotor, dan jangan pula marah. Jika salah seorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, maka katakan: “Sungguh saya seorang yang sedang berpuasa….” (HR. Bukhari).

Namun, puasa bagi orang yang berpuasa bukan alasan (dalil) ia tidak melakukan kejahatan atau membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama. Sebab terkait hal ini ada dalilnya sendiri.

Mungkin seorang yang sedang berpuasa itu mengatakan bahwa ia sulit untuk mengendalikan dirinya pada saat berpuasa, dan mencegahnya dari kemarahan. Kami jawab bahwa, “Kesabaran itu terbentuk hanya dengan berusaha sabar, innamâ al-hilmu bit-tahallumi“. Artinya, barangsiapa yang membiasakan dirinya bermurah hati, maka ia akan menjadi seorang yang pemurah hati. Dan barangsiapa yang membiasakan dirinya bersabar, maka ia akan menjadi seorang yang penyabar.

Dengan demikian, bagi seseorang, khususnya yang sedang berpuasa wajib berusaha sabar dan menahan diri ketika marah, bahkan untuk itu ia harus memaksa dirinya. Memang memulai kebaikan seperti sangat berat. Namun perlu diingat bahwa barangsiapa membiasakan dirinya dengan sesuatu, maka sesuatu itu akan menjadi mudah dan membantunya untuk terus melakukan. Al-Bushiri berkata dalam qasidahnya yang memuji kebaikan akhlak Rasulullah Saw: “Jiwa itu seperti anak kecil. Sehingga jika ia dibiarkan terus menyusu, maka hingga tumbuh dewasa ia akan tetap senang menyusu. Sebaliknya jika ia disapih, maka ia akan berhenti menyusu.

Rasulullah Saw adalah orang yang paling penyabar, paling mampu menahan diri, dan paling mampu untuk tidak marah. Namun jika ada pelanggaran terhadap apa-apa yang diharamkan Allah, maka tampak merah wajahnya karena marah, sebab adalanya pelanggaran terhadap apa-apa yang diharamkan Allah. Bahkan berulang kali Rasulullah Saw berwasiat kepada para sahabatnya yang mulia: “Jangan marah, jangan marah.

Siapakah yang lebih utama dari orang yang berpuasa dengan kesabaran, menahan amarah, dan mema’afkan orang, apalagi semua itu diperintahkan? Apakah ia akan membiarkan dirinya melampaui batas kemarahan, dan membalas keburukan dengan keburukan yang sama? Ataukah tidak lebih utama jika ia mengumpulkan keutamaan (fadhilah) puasa, keutamaan mema’afkan orang, keutamaan menahan amarah, dan keutamaan sabar? Semoga Allah menguatkan kita untuk bisa mengumpulkan semua itu dalam diri kita.

Wallahu’alam

Sumber: Mewarnai Puasa Dengan Kesabaran

Kalau lagi menahan marah saat puasa, segera sholat dan nangis sepuasnya dalam sujud.. Insha Allah setelah itu perasaan jadi lega 🙂