Posted in Sein Seit

Purnama Dalam Senandung Hati

Jakarta, 27 Desember 2012

Lantunan ayat-ayat cinta, bersenandung mesra terucap dari hati, anugerah Sang Ilahi..

Fokusku kembali kepada janji hatiku..bukan kepadamu, tapi kepadaNya..

Dengan tekad ku persembahkan Surat Cinta Tuhanku, meski masih ada salah ucap..karena belum lancar..

Lebih baik disetorkan, daripada menghapal sendirian..biar bisa ukur diri, sampai manakah hati ini memenuhi azamnya..

Selipan Surah Al Kahfi, kulantunkan untuk Tuhanku.. bentuk upayaku menjadi ummat RasulNya yang baik..

Untaian tali permohonan terucap dari hati ini, seolah tidak ingin melewatkan peluang waktu ijabahnya permohonan hatiku kepada Sang Pemilik Cinta, takkala diri hendak menunaikan hak sistem pencernaan..

Di malam  terakhirmu.. mungkin aku tak kan bisa memandangmu.. namun sinar sang rembulan menjadi pengobat lara hati.. seolah memberikan harapan.. kan kupandang wajahmu di satu purnama nanti..

Posted in Cerita Hidup, Nasib Gadis di Rantau Orang

Bagaimana Muslimah Menyikapi Perayaan Imlek?

Kata Toleransi terkadang menjadi sebuah kata yang mengaburkan antara sesuatu yang berhubungan dengan akidah.

Imlek kemarin, saya dilanda kebingungan, apakah saya harus mengucapkan selamat dan berpartisipasi dalam perayaannya atau tidak.. Pasalnya lingkungan sekitar saya adalah lingkungan yang merayakan perayaan tersebut. Sayanya juga bersemangat untuk berpartisipasi karena selain saya sedang semangat-semangatnya belajar bahasa mandarin, partisipasi ini saya anggap sebagai bentuk penghormatan saya kepada teman-teman terdekat saya. Saya berpikir bahwa ini gak beda jauh dengan Tahun Baru Islam, Tahun Baru Masehi.

Di pelajaran bahasa mandarin, saya juga mempelajari kebudayaan Tionghoa. Lao shi ingin anak muridnya tidak hanya bisa berbahasa mandarin saja, tetapi juga mengetahui kebudayaan-kebudayaan Tionghoa. Dalam tradisi menuju Imlek biasanya ada ritual-ritual keagamaan, seperti Sembahyang untuk Dewa-dewa, meletakkan persembahan, berkunjung ke sanak keluarga, memakai baju warna cerah dan memberi Hong Bao.

Saya juga sangat bersemangat menghadapi Imlek dengan membeli sejumlah kartu Imlek untuk beberapa sahabat dan orang terdekat saya. Untuk Cici A, Koko A, Ibu A, Lao shi di kantor.. Untuk Cici B, Cici C, dan teman sebelah kamar saya.. Saya beli banyak sekali kartu ucapan. Tapi.. tiba-tiba saya berpikir kembali..apa yang saya lakukan ini secara hukum syari’ahnya bagaimana yah? Secara tradisi, Imlek sudah seperti perayaan tahun baru biasa… tapi kalau diingat-ingat lagi memang ada beberapa ritual keagamaan tertentu yang dilakukan.

Tapi saya masih belum menemukan ide jawaban atas keraguan saya. Sampai suatu hari saya berpapasan dengan salah seorang Ibu Petinggi di kantor yang keturunan Tionghoa. Saya memang cukup akrab dengan beliau. Agak sedikit berbasa basi, saya bertanya beliau mengenai persiapan keluarga menghadapi Imlek. Di luar dugaan, sang Ibu menjawab, “Saya sudah tidak merayakannya, Mbak Kyky. Saya hanya merayakan Natal saja sebagai penganut Nasrani.”  Mendengar jawaban dari Ibu, membuat saya makin ragu dengan rencana Imlek saya.

Perayaan Imlek semakin dekat,,, tapi saya masih ragu apakah saya akan mengirimkan kartu-kartu itu kepada sahabat dan orang terdekat saya.. Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya via SMS ke Ibu Murobbiyah saya dan ini jawaban dari beliau:

“Wa’alaykumsalam wr wb. Kalau menurut ana, ahsannya kita berhati-hati. Ana pikir imlek yang sebenarnya bukan hanya masalah budaya, tapi berkaitan dengan Kong Hu Chu. Ana sendiri berasal dari Keluarga Tionghoa, tapi ana tidak bersengaja untuk mengucapkan Gōng xǐ fā cái. Kakak yang Non Muslim saja tidak ikut-ikutan, karena menurut beliau sudah ada unsur animisme di dalamnya.”

Subhanallah.. sekali lagi jawaban dari beliau memberi pencerahan untuk saya. Dari balasan sms tersebut saja Ibu Murobbiyah memberi gambaran kepada saya bahwa memberi ucapan Imlek itu tidak berbeda dengan memberi ucapan Selamat untuk perayaan hari keagamaan yang lain. Walau terlihat seperti suatu Kebudayaan, tetapi di dalamnya sudah berhubungan dengan Kepercayaan dan itu mendekati sesuatu hal yang Musyrik, menyinggung masalah akidah.

Ibu Murobbiyah juga memberi gambaran kepada saya bagaimana menjaga identitas diri sebagai muslimah di tengah kehidupan diri sebagai minoritas, tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka. Dan inti yang paling penting dari balasan tersebut adalah kaum Non Muslim saja tidak Tasyabuh, masa’ kita yang muslim saja tidak bisa melakukannya? 😀

Subhanallah sekali saya memiliki Ibu Murobbiyah yang benar-benar bisa memberikan jawaban yang luwes, sopan, tetapi tegas. Kalau kata salah satu sahabat saya, “Allah itu selalu kasih kamu medan perang sepaket dengan amunisi dan senapannya!” Kalau diartikan saat ini Allah memberi saya Ibu Murobbiyah yang tepat,, bisa menjadi tempat saya bertanya banyak hal mengenai kehati-hatian dalam bermuamalah,, apa yang dibolehkan dalam Islam, apa yang tidak boleh,,, mana yang hitam, mana yang putih,, ketika semuanya tampak abu-abu di mata saya. Dan yang paling penting adalah beliau menjadi role model untuk saya menjalani hidup di Jakarta ini. 🙂 🙂 🙂

Tanpa sedikitpun mengurangi rasa hormat kepada teman-teman terdekat, tidak berperilaku Tasyabuh menjadi poin penting dalam menjalani hidup bermuamalah, namun berperilaku yang menunjukkan Akhlaqul Karimah bisa menjadi alternatif untuk tetap menjalin silaturahim dengan teman-teman yang merayakannya. Bukankah Islam mengajarkan bahwa kita wajib berperilaku baik kepada sesama manusia? 😉

 

**Dan akhirnya… kartu-kartu Imlek saya, saya simpan kembali di atas meja tulis kamar.. 🙂

Posted in Sein Seit

5 Cara Cerdas Batasi Asupan Gula dalam Diet Anak

gambar-kartun-anak-lelaki-dengan-es-krimJakarta, Sekitar 25 persen anak-anak usia 2-5 tahun telah mengalami masalah berat badan atau
kegemukan, yang biasanya dipicu oleh konsumsi gula yang berlebihan dalam makanan. Orang tua harus lebih memperhatikan makanan atau minuman apa yang dimakan oleh anaknya untuk mencegah kegemukan.

Menurut sebuah survei, anak-anak prasekolah mengonsumsi rata-rata 10 sampai 12 sendok teh  gula setiap hari. Di mana jumlah tersebut 3 sampai 4 kali lipat melebihi batas yang direkomendasikan oleh American Heart Association.

Jika si kecil menggemari makanan yang manis-manis, berikut ini ada 5 cara untuk mengurangi  asupan gula pada anak, seperti dilansir whattoexpect, Sabtu (15/12/2012) antara lain:

1. Jangan membawa pulang junkfood
Anak akan penasaran dan menginginkan makanan apa saja yang dimakan oleh orangtuanya,  sehingga usahakan jangan membawa pulang makanan yang tidak sehat seperti junkfood. Selain itu, jangan mengisi kulkas dengan makanan manis seperti muffin, permen, kue kering, roti panggang, donat, atau sereal yang banyak mengandung gula.

Sebaliknya, bawalah pulang makanan sehat dan isi kulkas dengan makanan seperti buah-buahan,  biskuit gandum, dan popcorn, dengan catatan bahwa anak berusia lebih dari 3 tahun. Anak mungkin akan rewel karena tidak mendapatkan camilan yang biasanya, tetapi lama kelamaan anak akan dapat membiasakan diri dengan perubahan tersebut.

2. Letakkan camilan sehat dalam jangkuan anak Anda
Ngemil baik untuk balita dan anak prasekolah untuk mempromosikan kualitas gizi yang baik,  sehingga orangtua harus mampu memilah-milah mana camilan yang baik untuk anak. Pilih camilan sehat yang tidak terlalu banyak mengandung gula dan garam.

Letakkan toples berisi camilan pada tempat-tempat yang mudah dijangkau oleh anak, sehingga  anak tidak lagi memerlukan bantuan orangtua untuk meraihnya. Isilah toples camilan dengan irisan apel atau pir, kismis, kacang-kacangan, dan buah-buahan kering yang disesuaikan dengan usia anak untuk menghindari tersedak.

3. Sajikan minuman sehat
Di usianya yang masih balita, anak-anak biasanya akan tergoda dengan minuman kemasan yang  beraneka rasa, padahal dalam sebotol minuman saja dapat mengandung lebih dari 27 sendok teh tambahan gula. Hal inilah yang menyebabkan minuman manis dianggap sebagai salah satu kontributor utama obesitas.

Menurut sebuah studi dalam jurnal Pediatrics, setiap minuman manis yang dikonsumsi oleh  anak dapat meningkatkan risiko obesitas hingga 60 persen. Tetapi kenyataannya, sekitar 44 persen dari balita usia 18 sampai 24 bulan dan 70 persen dari anak-anak usia 2 sampai 5 tahun sering minum minuman manis.

Pastikan untuk memberikan minuman sehat bagi anak seperti air putih dan susu atau jus yang  rendah gula untuk mencegah obesitas dan mungkin juga diabetes di kemudian hari.

4. Batasi pemberian jus pada anak
Jus buah memang baik untuk anak, tetapi buah itu sendiri juga mengandung gula. Kandungan  gula dalam secangkir jus lebih terkonsentrasi daripada dalam sepotong buah utuh, sehingga anak akan lebih banyak mengonsumsi gula alami dari buah jika berbentuk jus.

Namun, American Academy of Pediatrics merekomendasikan bahwa setengah cangkir jus buah  sehari untuk usia anak-anak 1 sampai 6 tahun. Untuk mengurangi gula, Anda dapat mengencerkan jus buah dengan menambahkan lebih banyak air.

5. Menetapkan waktu khusus untuk makanan manis
Anda mungkin perlu menetapkan waktu khusus bagi anak untuk menikmati makanan manis kegemarannya agar dirinya tidak kehilangan momen menyenangkan di masa kecil akibat peraturan orangtua yang terlalu ketat.

Selain itu, anak biasanya akan merengek minta permen atau makanan manis lainnya ketika  berada di swalayan, atasi hal ini dengan cara mengingatkan anak akan waktu khusus yang dimilikinya. Anak akan lebih memilih makan makanan kegemarannya dan berhenti merengek.

Sumber: Detik Health

Posted in Cerita Hidup, Nasib Gadis di Rantau Orang

Tuntutlah Ilmu Hingga ke Negeri Cina (beneran)

Hari ini saya dapet teman baru, namanya Agnes, kerja di bank milik grup perusahaan tempat saya bekerja. Agnes asli Palangkaraya, tapi besar di Surabaya.

Awalnya saya pede jaya manggil dia “cici”.. abisnya perawakannya kurang lebih seperti saya, yaa paling seusia atau di atas dikit. Tapi ternyata salah, sodara-sodara! Hahaha.. Dia 2 tahun lebih muda dari saya!! *tepok jidat!

Hari ini saya, cici, dan Agnes pergi makan siang bareng. Kami banyak ngobrol-ngobrol. Tapi agak lebih sebal kalau tiba-tiba cici dan Agnes berbahasa mandarin ria.. huwee.. saya roaming internsional, bo!

Abis makan kami jalan-jalan bentar liat pakaian.. ups! Ketauan deh kalo makannya di Pacific Place *basement :p

Cici dan Agnes lagi cari baju untuk acara “过年” (Guo Nian). “Hah, Apaan tuh Guo Nian?” Tanya saya. Dan cici pun bilang, ” Lu orang jangan kasitau kyky, nes! Biar dia orang cari sendiri artinya.” *maaaak!!

**setelah saya cari tau, ternyata Guo Nian itu Tahun Baru. 过 (guo) artinya terlewat atau terdahulu. 年 (nian) itu tahun. 过年 jadi tahun yg sudah lewat yaa alias Tahun Baru.

Cici: “Lu cari tau lah artinya apaan.. nanti gw kasitau penulisannya.. biar lu orang belajar.”

Saya: “Lhaa..cici kan tau sendiri aku udah semangat belajar, tp sekarang ga bisa belajar lagi karena ada kendala, bla bla bla…”

Sepanjang cuci mata di mall, saya ngobrol sama Agnes. Agnes ambil sekolah bahasa 1 tahun di Cina. Kemudian ambil kuliah bisnis di Cina juga. Dia bilang dia suka dengan kebudayaan Cina, makanya dia mau pas ditawarin orang tuanya sekolah disana.

Menarik! Sekolah bahasa di Cina. Bahasa sastra tentunya. Saya jadi ingat beberapa teman saya yang keturunan Tionghoa juga sengaja belajar bahasa disana. Semester awal 老师 (Laoshi)-nya masih pake pengantar bahasa Inggris, sisanya full Mandarin… *tepok jidat!
Info dari Agnes sih habis 30 juta untuk sekolah saja, belum living cost-nya. Hhmmm…..

Mendengar hal itu, cici semangat banget nyuruh saya sekolah kesana.

Saya:”haaa?? Begimana aku bisa hiduup cii?? Bahasa mandarin aja masih anak Play Group gini!”

Agnes: “Tenang..aku juga waktu kesana ga bisa sama sekali malah..tapi masih idup tuh..” 😛

Cici: “Kan ada gw! Gw pengen belajar akupuntur disana.. lu pergi sama gw aja..”

Saya: “Trus, makan, belanja aku gimana?”

Cici: “Kan lu sama gw, kyky!”

Saya: “oiya yah! ” *nyengir
kalo tinggal sama Cici pasti aman.. makan juga aman.. pan Cici aku vegetarian.. pasti kaga makan yang macem-macem, hehe..

Laluuu…..
Saya: “Trus kalo aku kesana, aku kapan nikahnya???????” XD

Cici dan Agnes: “Yaa cari orang Cina laaaaahh!!!” *kompak

Saya: (-__-“)
Emang rada susah ya kalo udah deket banget, kadang mereka suka lupa kalo saya Muslim.. huwaaa.. gimana nyarinyaa?? Indonesia aja belum dapet apalagi di Cinaa!! :((

Posted in Catatan Hati di Setiap Sujudku, Melancholische Seite

Andai Rasulullah Di Sini..

Ketika diri merasa tidak diperlakukan secara adil, pasti rasanya kecewa, merasa di-anakti tiri-kan, memberontak, “kenapa saya diperlakukan seperti ini?” Padahal kita sudah melakukan sesuatu yang baik dan benar. Rasa kecewa yang mendalam, memendam rasa dendam.. muncul penyakit hati.

Kalau boleh bercermin ke belakang, coba kita lihat apa yang Rasulullah lakukan? Beliau dicaci, dimaki, dilempari kotoran, bahkan nyawa beliau terancam..!! Apa yang beliau lakukan??

Ketika beliau dilempari kotoran oleh seorang Yahudi, beliau datang menjenguk ketika Yahudi yang melemparinya kotoran tidak lagi melakukannya karena sakit keras. Bahkan Fatimah menangis sambil membersihkan kotoran tersebut yang melekat di pakaian Ayahandanya..

Ketika beliau dicaci dan dihinakan oleh seorang Yahudi yang tidak dapat melihat (maaf, buta), apa yang beliau lakukan? Beliau tetap menyuapi Yahudi tersebut sambil melumatkan makanan tersebut agar mudah dikunyah oleh Yahudi tersebut.. hingga Yahudi tersebut sadar bahwa selama ini Rasulullah lah yang menyuapinya takkala Abu Bakar ra menggantikan tugas Rasulullah sepeninggalannya..

Hei! Beliau itu Rasul! Rasul kita itu manusia biasa! Masa kita ga bisa meneladaninya?! Akhlaq yang sungguh mulia.. cerminan akhlaq seorang Mu’min yang hatinya senantiasa tawakkal kepada Rabbnya..

Haaa… rasanya ingin sekali Rasul ada disini.. pasti sudah menangis di hadapan beliau.. rasa iri di hati melanda kepada para Shohabiyah ketika mereka dibela Rasulullah karena tidak mendapatkan keadilan atau perlakukan yang tidak semestinya..

Tapi, bukankah umat yang mulia adalah umat sepeninggalan Rasul? Yang dapat meneladani akhlaq Rasul tanpa bertatap langsung dengan Rasul..? Yang hatinya taat dan berusaha menjalankan sunnah-sunnah Rasul tanpa bertatap langsung dengan beliau..??

Huff!! Lelah pasti! Tapi pasti bisa! Biar bisa berbaris di barisan Umat Rasulullah di Yaumul Hisab nanti..!!

Semangat, semangat, semangat!!

Allahumma sholii’alaa Muhammad..