Posted in Berbagi Tidak Merugi, Nasib Gadis di Rantau Orang

Silaturahim-1: Sahabat Mualafku

Kalau Allah belum mengijabah (mengabulkan) doa kita, bisa jadi doa itu diijabah bertahun tahun kemudian.. ada doa yg diijabahnya lama dan membutuhkan proses yang panjang, tapi ada juga doa yang diijabahnya cepet! Kayak “TRING!” Seketika sudah di depan mata. Doa itu insha Allah pasti diijabah,, dan cuma Allah yg tahu kapan waktu yg tepat untuk diijabahnya.. 😊

Terima kasih sudah menjadi sahabat, sosok yg selalu menghidupkan keyakinan bahwa semustahil apapun, doa itu pasti dijawab.. celotehan ABG 17 tahun yg wajahnya selalu ketutupan jilbab tiap mau shooting bola basket , yg sharing jilbab rangkepan tiap pulang sekolah biar sahabatnya bisa masuk kelas bimbel, ternyata dijawab sama Allah 10thn kemudian,, padahal rentang 10thn itu ada setitik hilang asa untuk hidup.. Mungkin aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan ini jika dulu memutuskan untuk gegabah dlm hidup.. mungkin aku tidak akan pernah merasakan duduk disampingmu, mendengarkan ucapan ikrarmu untuk seiman denganku 😊

Terima kasih telah menjadi penguat setiap doa doaku,, penguat keyakinanku bahwa Dia Maha Mendengar permohonan setiap hambaNya,, menjadi sumber optimis hidupku bahwa doa semustahil apapun itu memang akan dijawab.. se-lama menanti ikrar mu,, se-cepat menanti komitmenmu untuk mengenakan jilbab 😊

Terakhir ketemu waktu abis lahiran Hafizah.. skrg bocahnya udh lari sana lari sini 😍
Terakhir ketemu itu pas Steph nyusul ke SCBD sambil bawa2 Hafizah masih bayik dan ibu dari Medan.. trus crita pas ngelahirin Hafizah disuruh banyak doa.. krn stock hapalan doa masih sedikit, jadi nya tanpa sadar keucap DOA MAU MAKAN berulang kali.. pas sadar,, antara pengen ngakak tapi perut sakit krn msh proses kontraksi lahiran 😂😂😂 masha Allah! Maafkan yah krn mbak jilbab abu2nya masih single, jd kaga tau doa2 apa aja kalo lg kontraksi lahiran 😂🙈

Posted in Berbagi Tidak Merugi, Catatan Hati di Setiap Sujudku, Cerita Hidup, Melancholische Seite, Nasib Gadis di Rantau Orang

Tanah Air

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai
Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Video ini disusun oleh salah seorang rekan saya di Relawan #KerjaBakti lebih awal Festival Gerakan Indonesia Mengajar…
Video ini dimunculkan di Upacara Pengibaran dan Penurunan Bendera Festival Gerakan Indonesia Mengajar… sangat mengharukan..
Ingin sekali saya persembahkan untuk orang yang berarti dalam hidup saya.. semoga beliau berkenan.. 🙂

Posted in Berbagi Tidak Merugi, Catatan Hati di Setiap Sujudku, Melancholische Seite

Dakwah Kami Dari Dana Kami Sendiri…

Dari uang-uang lusuh ini kami biayai ide-ide besar kami..

Tak peduli ‘sumur’ kami lagi kering, tetap kami sisih-sisihkan..

Mungkin dari celengan ini tak akan sampai 2T, tapi kami yakin ia bak tongkat Musa..

Allah-lah yg akan mencukupkannya, bukan hanya 2-3T, bahkan seluruh perbendaharaan dunia ini, Dia akan bukakan..

Karena kami juga yakin dakwah ini big boss-nya Allah, kami cuma pelaksana di lapangan, terlalu sering dalam agenda-agenda dakwah kami…

Saat kami kekurangan dana, kami berdoa, “Ya Allah, ini mau ada agenda dakwah, tapi dananya kurang, tolong tambahin Ya Robb.”… Lalu ada saja jalan keluar yang Dia berikan..

Kami ingat wejangan presiden kami, IDE-lah yang melahirkan sumber daya, bukan sebaliknya..

Kepada para penuduh, (baik via media cetak atau elektronik), tolong siapkan bukti-bukti, bila tak selesai di dunia, Allah pastikan selesai kelak di Mahsyar..

Jangan sampai anda wahai penuduh menjadi muflis, pahala habis malah ditambahi dosa mereka yang anda tuduh..

Tapi seperti kata guru kami dalam kumpulan suratnya, kami akan terus berjuang demi kejayaan bangsa ini.. Tak peduli kami terus difitnah dicaci..

Salam Cinta Kerja dan Harmoni..

Amsa AbdaHu

Sumber: Dakwah Kami Dari Dana Kami Sendiri

————————————————————————————————————————————————————–

Waktu saya baca artikel di atas, saya nangis!

Sebenarnya sudah muak denger media berita yang isinya fitnah daripada kebenaran.. bongkar-bongkar urusan pribadi orang, bahkan berani menyimpulkan sesuatu padahal itu masih sebuah prasangka.. TEGA SEKALI!

Lebih tega lagi ketika mempermasalahkan DANA DAKWAH.. andai mereka tahu kalau memang setiap agenda dakwah yang kami selenggarakan menggunakan uang-uang hasil keringat kami sendiri.. uang-uang lusuh yang kami kumpulkan dalam sunduk.. bahkan ada yang rela memberikan uang lima puluh ribunya untuk masuk ke dalam sunduk, padahal dikantong tersisa lima ribu rupiah untuk makan hari itu.

Itu semua bukan karena hipnotis, bukan karena dalam kondisi tidak sadar.. tapi karena kesadaran penuh diri yang rendah ini bahwa amalan kebaikan kami dicatat Allah! sadar penuh bahwa Allah Maha Adil dalam timbangan keadilan!

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (Q.S. Al Anbiya: 47)

Sadar penuh bahwa bekal kami untuk akhirat masihlah sedikit…

Hanya berharap penuh Allah ridho dengan apa yang kami lakukan.. hanya berharap penuh akan ampunan dan rahmat dari Allah SWT..

Bukan karena siapa, bukan karena apa lembaganya, tetapi karena hati-hati kami yang terpaut kepada Allah SWT.

Ya.. itu saja.. hanya itu saja…

 

Posted in Berbagi Tidak Merugi, Mari Membaca

Kisah Seorang Pengrajin Seni

Cerita ini diinspirasi oleh kisah nyata seorang gadis, sebut saja namanya Nila. Cerita bagaimana sebuah nadzar yang ia ambil untuk berqurban di tengah-tengah keterbatasan ekonomi yang ia miliki menjadi penolong jalan hidupnya.

Keseharian Nila bekerja sebagai seorang pengrajin dan pekerja seni. Dia ingin sekali memberikan sesuatu kepada orang yang dianggapnya sangat berharga. Karena dia seorang pengrajin, maka dia ingin memberikan suatu karya dari tangannya sendiri untuk orang tersebut. Orang yang dianggap sangat berharga baginya ini akan pergi merantau ke negeri orang. Nila bingung akan memberikan apa sebagai bentuk kenang-kenangan dan penghargaan buat orang tersebut. Walau dia seorang pengrajin, tetapi kemampuannya terbatas, pengetahuannyapun gak terlalu luas. Sampai suatu ketika hari dimana orang yang dianggapnya sangat berharga itu pergi. Nila memberanikan diri untuk bertanya apa yang beliau inginkan untuk keperluan beliau di rantau orang. Beliaupun hanya berkata “ndak perlu sesuatu yang mahal, asal itu buatan tangan Nila itu sudah cukup buat saya.” Sampai orang tersebut pergi, Nila tidak berhasil membuat suatu apapun. Dan Nila berjanji kepada dirinya sendiri suatu hari akan mengirimkan hasil karyanya untuk beliau tersebut.

Sampai suatu ketika Nila kepikiran untuk membuat suatu prakarya sulaman. Nila hanya berpikir kalau di negeri orang pasti jauh lebih dingin dari di Indonesia. Terinspirasi dari film-film Korea yang saat itu lagi booming merambah layar kaca. Salah seorang temannyapun bertanya apa yang akan dia buat, dan Nila bilang, “Saya mau buat itu lho, sulaman kayak dipakai di pilem-pilem Korea. Yang dililit-lilit kalau lagi kedinginan..”

Walaupun dia seorang pengrajin, tapi menyulam adalah hal yang baru baginya, jadi butuh proses yang cukup lama untuk membuat sulaman itu menjadi karya yang apik.

Di tengah-tengah Nila sedang bersusah payah menyulam, temannya lagi-lagi nyeletuk, “Emang mau kamu kirim kapan? Jangan-jangan pas kamu kirim, sulamannya gak kepake karena disana udah musim panas!” Mendengar celetukan temennya sambil tertawa. Nila baru nyadar kalau di negeri orang itu gak selamanya dingin.. ada musim kemarau juga yang panas.. yaa mungkin panasnya sebelas duabelas lah sama pesisir pantai.. “Yaaah.. bisa-bisa sulamannya gak bermanfaat sama sekali yah!” keluh Nila. Tapi yaa namanya sudah janji, Nila tetap berusaha menyelesaikan sulamannya tepat waktu.

Hampir selesai sulaman, Nilapun mampir ke Kantor Pos, buat nanya kalau kirim paket berapa harganya. “Astaghfirullah! Hampir satu juta ya, Pak? Gak bisa kurang yah, Pak?” tawar Nila. “Yaah, neng, emangnya ini pasar bisa tawar-tawar… Biaya kirim ke Jakartanya saja sudah mahal, apalagi kirim ke luar negeri…” tutur Bapak Pos. Dengan setengah putus asa, Nila meninggalkan Kantor Pos.

Sedikit demi sedikit Nila mulai menabung… Penghasilan pengrajin dan pekerja seni saja tidak seberapa, hanya cukup untuk makan sehari-hari, itu sudah penuh syukur banget. Tapi karena sudah janji, Nila sedikit demi sedikit mengumpulkan tabungannya agar bisa mengirimkan karyannya untuk orang yang dianggapnya berharga tersebut.

Hari-haripun berlalu, uang yang dikumpulkan mulai terpenuhi. Tetapi Nila tetap belum bisa mengirim karyanya. Hari Raya Idul Adha ternyata tinggal menghitung hari.

Nila mengalami dilema. Dulu sebelum Nila bekerja, dia pernah bernadzar kalau dia sudah bekerja, dia akan berqurban jika Idul Adha tiba. Sebagai bentuk syukurnya sekaligus latihan diri untuk terbiasa menyisihkan penghasilannya, berapapun, untuk berqurban. Sekarang, Idul Adha sebentar lagi, uang yang terkumpul hanya bisa untuk mengirim karya, sedangkan harga 1 ekor Kambing saja sudah mencapai satu juta. Kalau qurban sapi bisa bertujuh orang, tapi kalau dikalkulasi jatuhnya bisa lebih dari harga 1 ekor Kambing.. Sedangkan kalau Kambing hukumnya hanya untuk satu orang, gak bisa bayar cuma setengahnya. Sudah gak punya uang lagi untuk bisa memenuhi dua janji. Kebutuhan sehari-hari dari penghasilan yang ada saja tidak akan bisa memenuhi kebutuhan biaya qurban sekaligus kirim karya. Bingung!

Di tengah kebingungannya, Nila mengambil Qur’an untuk tilawah.. sejenak menenangkan diri.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Itulah salah satu kutipan ayat yang tak sengaja dia baca ketika sedang dalam kebingungan. Surah Muhammad ayat 7 menjadi pencerah hatinya dan peneguh langkahnya dalam mengambil keputusan. Menolong agama Allah untuk mendapat pertolongan Allah. Dalam Al Fatihah juga dijelaskan,

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (Q.S. Al-Fatihah: 4)

Bahwa menyembah Allah dulu, mengutamakan ibadah terlebih dahulu, mengutamakan agama Allah dulu, baru mengharap pertolongan Allah. Mengutamakan Allah di atas kepentingan pribadi dan duniawi. Akhirnya Nila memutuskan untuk menggunakan uang yang terkumpul untuk memenuhi janjinya ke Allah untuk berqurban. Rencana mengirimkan karyapun dia tangguhkan.

Dengan ringan hati, Nila melangkahkan kakinya menuju salah satu lembaga zakat untuk menyalurkan dana qurbannya. “Hanya satu ekor kambing dengan harga paling murah yang bisa saya berikan, ya Allah.. semoga Engkau ridho dan menerima ibadah saya..” bisik batinnya.

Selang beberapa hari kemudian, Nila dipanggil salah seorang tetangganya yang juga pekerja seni. Ibu Tetangga yang dikenal dengan nama Ibu Sri ini adalah seorang pemilik sanggar kesenian Jawa.“Nduk, kamu mau yaa bantuin aku buat acara pentas nanti di Bank Indonesia..” pinta Ibu Sri. Mendengar permintaan Ibu Sri, Nila menerima tawaran tersebut, apalagi pentasnya di Bank Indonesia.. ke Jakarta berarti itu! Huiih! Jalan-jalan ke Bank Indonesia! Kapan lagi bisa masuk ke Gedung Bank Indonesia?! (karena emang gak ada keperluan sih buat sekedar main kesana buat Nila, hehehe..) “Mau, bu! Saya mau bantu Ibu buat pentas nanti!” jawabnya girang.

Ketika hari keberangkatan menuju Jakarta tiba,  Ibu Sri meminta Nila untuk membantu menyiapkan segala macam keperluan untuk pentas. “Ini aku bekelin uang 5 juta. Kamu berangkat duluan, bareng anak-anak pentas. Aku masih ada keperluan yang harus diurus. Kita ketemu di Gedung Bank Indonesia nanti yaa..” kata Ibu Sri.

“Oiya, jangan lupa KaTePe-KaTePe semua rombongan kamu kumpulin, fotokopi jadi satu, buat data ke panitia di Gedung BI. Disana penjagaannya ketat, jadi ndak bisa slewar slewir sembarangan. Kamu urus semua kebutuhan anak-anak pentas yaa.. makan, jajan, penginapan, pokoknya apa ajalah yang mereka perlu.. tapi harus irit-irit juga lho! Jangan sampe nanti kamu pulang jalan kaki lho! Hihihi..” tambah Ibu Sri.

“Paham, buu…” jawab Nila.

Masuk ke Gedung BI ternyata kudu pake birokrasi yaa.. Kumpulin fotokopi rombongan buat dikasih tunjuk ke Bapak Panitia disana.. Kudu mikirin makan, jajan dan penginapan rombongan.. Mikir makanan apa yang bisa dimakan segala kalangan.. mulai dari anak muda sampe bapak-bapak…Tapi gak papa! Yang penting bisa jalan-jalan! Bisa masuk Gedung BI! Asiiikk! Bismillah…

Ketika hari pementasan, “Waaah.. Gedung BI ini kayak komplek yaa.. bangunannya gede-gedee.. dindingnya ada ukiran-ukirannya.. cantik banget!” cerita Nila. Karena terpesona sama bangunan Gedung BI, Nila tanpa sengaja terpisah dari rombongan. Dia terjebak dalam ruangan dimana pintu keluarnya hanya bisa dibuka oleh pegawai yang memiliki ID Card. Jadi Nila curi-curi ikut keluar saat salah seorang pegawai bank yang mendekat ke pintu keluar dengan menempel ID Cardnya.

Karena masalah keuangan yang dipegang sudah selesai, Nilapun bingung mau kerja apa. Sampai ada salah seorang kru pentas yang bilang, “Eh, cyiin.. bantuin eyke dandan doonk..” Astaghfirullah! Orang yang minta dibantuin dandan adalah kru pentas Waria! Jadilah Nila didaulat menjadi Make-up Artis dadakan.

“Mbaknya, eh, maaf, maksud saya Masnya pake foundationnya sendiri aja dulu.. nanti saya tambahin bedak pake spons bedak..” pinta Nila yang lagi kikuk ndandanin Waria.

Bermodal nekat dan memanfaatkan daya imajinasi, Nila mulai mendandani ‘mbak-mbak’ yang mau pentas. Alhamdulillah ‘mbak-mbak’nya suka dengan hasil dandanannya. Tapi ada satu masalah yang muncul. Ketika Sang Aktor utama merasa tidak puas didandani oleh Make-up artis yang lain. “Mosok sampeyan ndak tahu bentuk jambang dan kumis yang saya maksud! Piye tho?!” ambek Sang Aktor Utama. “Maaf, Pak.. saya ndak tahu tokoh yang bapak perankan itu seperti apa..” jawab Mbak-mbak Make Up Artis tersebut. “Punten, Pak.. ada yang bisa saya bantu?” tawar Nila. “Sampeyan, sini! Tolong bikin kumis dan jambang buat saya. Mosok dia ndak bisa lukis muka saya! Saya ini yang meranin tokoh SAKERAH!” tukas Pak Aktor.

“Waduh! Sakerah? Tokoh yang gimana yah? Aduh! Kayak pernah denger, tapi gak tahu wujudnya gimana…!!” batin Nila.

“Punten, Pak.. Bapak mau dibagaimanakan wajahnya?” tanya Nila perlahan,, takut kena damprat juga,, maklum Nila yang orang aseli Singaparna-Sumedang gak tahu tokoh yang dimaksud itu gimana wujudnyaaa..

“Saya mau kumisnya agak panjang dan dibikin pelintir di ujungnya, jambangnya tebal tapi gak tebal-tebal banget, sesuaikan dengan bentuk saya juga, bagian dagu ada jenggot sedikit.” Kata Pak Aktor.

“Aduh!” Makin bingung Nila. Tapi dia coba juga untuk melukis wajah Pak Aktor. Bismillah..

Nila menggunakan daya imajinasinya dan mulai melukis wajah Sang Aktor.. Nila hanya bisa menangkap tokoh Pak Raden dalam serial Unyil yang suka dia tonton waktu kecil di TVRI.. Pak Raden kumisnya tebal, suka melintir-lintir ujung kumisnya, jadi terlihat kesan pelintir di ujung kumis.. Waktu melukis jambang, dia juga masih hanya bisa menangkap jambang tokoh Pak Raden dan dia coba aplikasikan ke wajah Pak Aktor yang wajahnya lonjong, bukan bulat.. Dan bagian jenggot, disesuaikan dengan permintaan dan wajah Pak Aktor.. Bagian alis Pak Aktor agak dibikin sedikit hidup dan hasilnya.. “Ini, Pak cerminnya.. silakan dilihat bisi ada yang kurang..” kata Nila perlahan karena takut kena damprat.

“Nah ini yang saya mau!” jawab Sang Aktor puas. Alhamdulillaaaah… dan belakangan Nila baru tahu kalau Sakerah itu salah seorang Tokoh Pahlawan dari Madura.

Setelah itu pentas dimulai. Semua penonton puas dengan pentas yang diselenggarakan dari sanggar Ibu Sri.

Usai pentas, panitia dari Gedung BI langsung memberikan bayaran kepada Ibu Sri dalam bentuk tunai. “Empat puluh lima juta, tunai. Tolong dihitung kembali, bu.” Kata panitia Gedung BI.

“Waduh.. banyak juga yah empat puluh lima juta itu kalau dikasih tunai.” Kata Ibu Sri. “Nduk, kamu bantu hitung yaa..” pinta Ibu Sri.

Memegang uang bergepok-gepok sejumlah EMPAT PULUH LIMA JUTA.. uangnya merah semua, masih licin, tajam, kayaknya abis dipotong-potong di percetakan uang. “Ini uang semua, bu?? Banyak yaaa…” seloroh Nila.

Nilapun mulai menghitung satu gepok demi satu gepok dengan hati-hati.. khawatir uangnya ada yang nyelip sehingga kurang, atau malah berantakan karena deg-degan megang uang merah bergepok-gepok. “Kalau gak mau susah, mbak bisa lihat nomor serinya aja.. nomor seri belakang dikurangi nomor seri depan..” kata Bapak Panitia Gedung BI.

Selesai bertransaksi dengan panitia gedung BI, Sang Ibu Sri meminta Nila untuk memegang uang tersebut dan mendistribusikan sesuai fee masing-masing pemain pentas. “Ya Allah… empat puluh lima juta ada di tangan saya.. ya Allah, lindungi saya dari keteledoran, agar saya amanah..” batin Nila.

Satu per satu amplop untuk fee dari masing-masing pemain didistribusikan oleh Nila hari itu juga. Agar berkurang bebannya dalam memegang uang dan agar semua urusan keuangan selesai hari itu juga. Sisa uang yang ada kemudian Nila laporkan kepada Ibu Sri. “Sisanya ada 20 juta, bu.. bisa ibu hitung lagi..” kata Nila. “Sudah, saya percaya saja sama kamu. Oiya, bagianmu sudah diambil?” tanya Ibu Sri. “Bagian, Bu?” tanya Nila memastikan apa yang dimaksud bagian adalah….. “Iyaa, bagianmu.. Samakan saja dengan Bapak Dalang.. Kamu sudah bantu saya, yaa kamu pantas dapat bagian dari pentas ini..” jawab Ibu Sri.

Mendengar kalimat terakhir dari Ibu Sri rasanya bikin hati Nila gak karuan. Asalnya Nila hanya ingin membantu Ibu Sri, sudah diajak jalan-jalan saja sudah senang banget. Sekarang malah dikasih bayaran sama Ibu Sri yang nominalnya setara dengan pemain Dalang.. Nominal itu sangat cukup untuk membayar kiriman karyanya yang tertunda. Subhanallah…

Hikmah yang saya ambil dari cerita di atas, Allah itu Luarr Biasa yaaa… Kalau manusia mau hitung-hitungan sama Allah, hitungan Allah amat sangatlah sempurna. Apalagi kalau hambaNya gak hitung-hitungan, Allah kasih lebih dari cukup. Karena Janji Allah adalah yang paling benar.

Allah telah membuktikan kepada hambaNya bahwa Siapa saja yang menolong agama Allah, Allah akan tolong dia dengan pertolongan di luar dugaannya. Kesulitan, kesempitan hidup, ekonomi yang tidak memadai Allah kasih kemudahan buat hamba-hambaNya yang minimal ingat Allah dalam kondisi seperti itu. Apalagi berkorban harta dan jiwanya di jalan Allah,, Allah kasih lebih, lebih dan lebih lagi..

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar!

Dan akhirnya hasil kerja Nila dari sanggar seni, dipakai untuk mengirimkan sulamannya sebagai janji yang harus dia tunaikan.

Ketika berjanji kepada Allah dan kita berusaha keras menunaikan janji itu, maka Allah akan menunaikan janjinya pula untuk menolong hambaNya itu untuk menunaikan janjinya kepada sesama hambaNya.

Kalau boleh mengutip tulisannya Mbak Asma Nadia dari buku Catatan Hati di Setiap Sujudku, “Allah, bersamamu tidak ada jalan buntu..” 🙂

Posted in Berbagi Tidak Merugi, Cerita Hidup, Nasib Gadis di Rantau Orang

Kakek Manis Di Penghujung Tahun 2011

Jakarta, 31 Desember 2011

Hari ini adalah hari libur sebelum esok akan menjalani hari kerja (karena piket) di hari pertama di tahun 2012. Agenda hari ini adalah liqo mandiri di Masjid Agung Sunda Kelapa. Seperti biasa, ritual pagi sebelum pergi adalah mencuci pakaian terlebih dahulu dengan harapan pakaian akan kering ketika pulang nanti.

Suasana kosan yang sepi membuatku leluasa untuk menggunakan kamar mandi berlama-lama untuk mencuci. Maklum, penghuninya sebagian besar adalah Non Muslim sedang libur panjang, hehe.. Aku kira hari ini matahari akan bersinar benderang terang, ternyata pagi ini dimulakan dengan gerimis rintik-rintik yang aku temui saat menjemur pakaian.

“Waduw! Udah jam 10 ajah!” Pikirku aku akan datang terlambat tampaknya. Mana PR hapalan hadist belum disiapkan pula! “Masha Allah!!!” *tepokjidat!

Setelah mencuci, bergegas aku siap-siap berangkat liqo. Naik busway tampak lebih baik mengingat aku gak hapal jalan-jalan di Ibukota. Berdasarkan petunjuk salah seorang saudari se-liqo-an, aku turun di Halte Halimun. Duduk manis, kadang berdiri merapat di tiang bus, mulutku komat kamit sambil membaca buku kecil Hadist Arba’in.

Sesampai di Halte Halimun, aku masih harus berjalan kaki menuju Masjid Agung Sunda Kelapa. Di dalam suasana kota yang cukup lenggang, di bawah gerimis hujan yang membasahi Ibukota *mulai lebay.. :p aku harus berjalan di atas jalan yang becek dan membasahi sepatuku yang mulai usang karena aku ajak berlari mengejar Kopaja setiap hari…“Aduuh! kotor nih kaus kakinya! andai aja boleh bawa mobil ke Jakarta, pasti aku gak perlu jalan berbecek-becek ria disini!” gerutuku. Tapi bersyukur juga sih karena kaus kakinya warna hitam, jadi gak keliatan kotor karena becek, hehehe…

Di tengah perjalanan dengan suasana hati yang menggerutu, aku lihat di depanku ada sosok kaki yang jauh lebih kotor dari kakiku. Kaki yang penuh dengan guratan, mengenakan sendal jepit, dan bagian belakang celana panjang yang kotor karena cipratan sendal jepit. Kaki itu berjalan penuh semangat walau lambat, menopang tubuh yang sedang memanggul dua bakul yang berisi Tahu… Yaah, di depanku adalah seorang kakek pedagang Tahu Gejrot.

Kaki yang kotor, celana yang kotor, kaki dengan sendal jepit… mengingatkanku pada sosok Bapak (Kakek). Dulu, sering banget menemukan Bapak dengan kaki yang kotor berlumuran lumpur dan celana panjang hitamnya yang usang karena bapak bekerja sebagai pedagang ikan dengan kolam miliknya. Setiap aku menemui beliau, setiap aku mencium tangan beliau, tercium wangi ikan di tangan yang keras dan kasar karena kapalan… “Ya Allah.. rindu sekali momen-momen itu… Aku rindu mencium tangan itu.. tangan yang kasar, namun lembut ketika membelai wajahku… tangan yang keras, namun lembut saat memperbaiki gayaku membawa Al Qur’an…. Kaki yang kasar dan penuh kapalan, namun sigap setiap adzan berkumandang… Kira-kira Bapak lagi apa yah sekarang? Hanya berharap Engkau memberikan kehidupan yang bahagia untuk beliau bersama Emak disana, ya Allah…” tak terasa air mataku meleleh.

Duh! Jadi ingat kaki! Ketemu Kakek Pedagang Tahu Gejrot! Kufur nikmat banget yah aku! Astaghfirullah! >_<

Apa yah yang dapat dilakukan untuk sosok kakek di depan? Jadi tergoda untuk melakukan sesuatu yang membahagiakan hati… Ingin sekali membasuh kaki beliau yang kotor dengan tissue yang kupunya.. tapi nanti kotor lagi! Memberi sedekah dengan cuma-cuma, beliau bukan pengemis, Kynoy! Gak liat apa bakul segede-gede gaban yang beliau panggul?! “krucuk,krucuk..” (suara perut yang lapar krn belum makan) Ahaa! Beli Tahu Gejrotnya ajaaaa!!! ^__^v

Dengan semangat’45 aku bergegas menghampiri Kakek Pedagang Tahu Gejrot tersebut. “Kakek, aku boleh beli Tahunya gak?” kataku. “Oh, boleh…” kata Kakek, sambil mengarahkan ke tempat yang kering yang terlindungi pohon. Senyumnya mengembang sumringah, manis sekali! Kayaknya gak ada yang bisa ngalahin senyum manis Sang Kakek… Cowok Cakep? Lewat daaahh!! hihihihi.. XD

Sambil duduk di trotoar usang, aku menunggu kakek yang sedang asik meracik bahan Tahu Gejrot sambil mengajak ngobrol beliau.

Kakek, sudah tua, tapi semangat juang hidupnya masih terpancar hebat.. semangat nyari rizkinya juga hebat! “Usia seperti ini seharusnya istirahat di rumah, menikmati suasana teduh dari gerimis hujan, menikmati teh hangat.. Tapi kakek… disini sama aku di pinggir jalan, melayaniku dengan Tahu Gejrotnya di bawah pohon di tengah gerimis hujan..” pikirku menerawang sambil menatap Sang Kakek.

Kakek yang semangat, walau geraknya melambat, tapi tetap semangat! Sejenak aku terhanyut dengan gerak gerik Sang Kakek.. Tangan beliau gemetaran karena usia.. Bahkan ketika mengambil cabe rawit saja gemetaran dan ups! satu cabe jatuh di jalan. Ntah knapa aku sedih banget pas cabenya jatuh.. Bagiku, cabe segitu gak ada artinya, tapi bagi Kakek itu adalah modal dagangnya… “Ya Allah.. gantikan 1 cabe itu dengan berjuta-juta rizki untuk Kakek…” tak terasa air mata meleleh lagi *cengeng banget yak?! hehehe…

Tangannya kembali gemetaran saat meracik bumbu, mengambil air gula dalam botol-botol yang sudah beliau kemas, memotong tahu satu demi satu dan memasukkannya ke dalam plastik. Ada sedikit guratan kecewa saat beliau tahu aku hanya membeli satu porsi, namun kecewa itu tak tampak jika dilihat sekilas, karena beliau tetap tersenyum. Dan karena ingin sekali melihat senyum beliau yang paling manis sekali lagi, gak ada salahnya kan memberikan kebahagiaan rizki yang tak diduga untuk Sang Kakek?! ^___^

Katakanlah “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki diantara hamba-hamba-Nya.” Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yan terbaik. (Q.S Saba: 39)

Hanya berharap Allah selalu melindungi dan membahagiakan Sang Kakek, layaknya Allah melimpahkan kasih sayangNya untuk Bapak…

Dan akupun bergegas meluncur ke Masjid Sunda Kelapa…. ^___^

Posted in Berbagi Tidak Merugi, kyky belajar, Mari Membaca

Membiasakan Bersedekah

Kisah yang sangat inspiratif… aplikasinya bisa dilakukan sejak sekarang, pola mendidiknya bisa jadi bekal untuk rumah tangga nanti..

Semoga bermanfaat! ^__^

———————————————————————————————————————————————-

Oleh Abi Sabila

Hasan, bocah lima tahun yang baru duduk di kelas TK, merasa heran dengan kebiasaan Bundanya, mengumpulkan uang pecahan seribu, lima ribu dan sepuluh ribuan. Uang-uang itu disimpan di sela-sela buku, di halaman yang terpisah. Tidak seperti kebiasaan Bunda menyimpan uang, buku tersebut sepertinya sengaja Bunda simpan di tempat yang mudah untuk mengambilnya sewatku-waktu. Karena penasaran, Hasan pun bertanya.

“Bunda, untuk apa uang-uang itu? Kok, dipisah-pisah?”

“Ini untuk bekal kita di akhirat, sayang!” jawab Bunda sambil sekali lagi memastikan jumlah uang di tangannya. Tiga puluh satu lembar pecahan seribu, empat lembar pecahan lima ribu dan dua lembar pecahan sepuluh ribu. Pas. Bunda terlihat lega.

“Bekal di Akhirat? Memangnya kapan kita ke Akhirat, Bunda?”

Belum sempat Bunda menjawab, dengan polos Hasan kembali bertanya.

“Akhirat itu di dekat Mekkah ya, Bunda?”

Mendengar pertanyaan sang buah hati, Bunda tersenyum. Anaknya memang kritis, sekaligus menggemaskan. Bunda meraih putra tunggalnya, mendudukan di pangkuannya dan mencium kepalanya dengan penuh kasih sayang. Harum wangi shampoo balita tercium dari rambut sang bocah yang masih agak basah.

“Sayang…Akhirat itu bukan dekat Mekkah. Akhirat itu tidak di dunia ini. Alam Akhirat itu akan kita jumpai setelah kita mati.” Bunda mencoba memberi penjelasan yang bisa dipahami oleh bocah lima tahun itu.

“Kata Pak Ustadz, orang mati nda mbawa bekal apa-apa selain amal, Bunda! Untuk apa Bunda nyiapin uang-uang ini?” Hasan memprotes, menuntut penjelasan yang lebih bisa ia pahami.

“Betul sayang. Yang dibawa orang meninggal hanyalah amal. Seluruh harta, keluarga dan juga jabatan ia tinggalkan. Dan uang-uang ini tidak akan kita bawa kecuali setelah kita sedekahkan. Pahala dari sedekah inilah yang akan kita jadikan bekal nantinya.”

Hasan terlihat antusias mendengarkan penjelasan Bunda. Perlahan ia turun dari pangkuan Bundanya. Ia duduk tepat di sebelah Bunda, menunggu penjelasan berikutnya.

“Sebenarnya ini ide Ayah, sayang. Berawal dari membaca sebuah tulisan, Ayah kemudian mengajak Bunda untuk mempraktekan, menyisihkan sebagian dari rezeki yang Ayah dapatkan untuk diberikan kepada mereka yang hidupnya kurang beruntung.”

“Jadi Bunda memisah-misahkan uang ini untuk disedekahkan?” Hasan mulai paham. Kedua matanya terlihat berbinar-binar.

“Betul! Sebelum Bunda membagi-bagi uang yang Ayah berikan, Ayah selalu mengingatkan agar selain memisahkan anggaran untuk kita makan, bayar sekolah, bayar listrik, beli pulsa, dan lain-lain, termasuk juga uang jajan kamu, Bunda juga harus menyiapkan anggaran untuk kita sedekahkan. Mengikuti contoh yang diberikan dalam tulisan itu, Ayah dan Bunda sepakat untuk memisahkan uang-uang ini untuk sedekah harian, mingguan dan bulanan. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi setidaknya Ayah dan Bunda belajar untuk membiasakan bersedekah, setiap hari.”

“Aku nda pernah lihat ada orang minta-minta datang ke rumah kita, Bunda?”

“Ya, mungkin saja. Kamu sekarang kan sudah sekolah, jadi tidak tahu kalau ada peminta datang ke sini. Atau, kalaupun kamu di rumah, mungkin mereka datang saat kamu sedang tidur. Tapi yang jelas, Ayah dan Bunda berusaha untuk membiasakan bersedekah. Bisa kepada pengemis yang datang ke rumah, pengamen ataupun anak jalanan yang Bunda temui di jalan saat akan dan dari pasar atau mengantar jemput kamu ke sekolah.”

“Uang ini diberikan kepada mereka semua, Bunda?”

“Ya, tapi tidak sekaligus. Kan tadi Bunda sudah bilang, ada anggaran untuk sedekah harian, biasanya Bunda berikan kepada orang yang pertama kali datang atau Bunda temui di jalan. Kemudian sedekah mingguan, ini kalau kita sedang mengikuti pengajian setiap Minggu pagi. Biasanya Bunda atau Ayah akan memberi sedekah kepada lebih dari satu orang. Kamu ingat kan, banyak orang yang tidak memiliki penghasilan tetap yang memanfaatkan pengajian untuk mencari penghasilan. Tapi kita tidak perlu mempermasalahkan, bagaimanapun itu ladang amal buat kita. Dan yang terakhir, anggaran sedekah bulanan biasanya Ayah atau Bunda serahkan kepada majelis taklim atau mushola, tergantung kira-kira mana yang lebih membutuhkan. Atau kadang juga Ayah dan Bunda membaginya sama, untuk majelis taklim dan juga mushola” panjang lebar Bunda menjelaskan. Dari matanya yang berbinar, Bunda yakin buah hatinya bisa menerima penjelasannya.

“Kalau misal dalam sehari ada dua pengemis datang, bagaimana Bunda?” bocah kecil nan mengemaskan itu kembali bertanya, tanpa Bunda duga sebelumnya.

“Kalau ada, Bunda kasih dua-duanya. Terkadang dalam sehari tidak ada pengemis yang datang. Juga Bunda tidak pergi ke pasar sementara kamu berangkat sekolah ikut Ayah, jadi uang hari ini dikumpulkan untuk hari berikutnya. Ketika ada dua orang atau lebih yang Bunda temui, uang itu Bunda berikan. Tapi kalau Bunda sedang tidak ada uang receh, sementara ada peminta yang datang lagi, Bunda akan bilang baik-baik, minta maaf. Tapi setidaknya untuk hari itu kita sudah bersedekah. Selagi belum bisa menambah jumlah yang akan disedekahkan, minimal kita berusaha untuk istiqomah bersedekah.”

“Kata Pak Ustadz, kalau kita rajin bersedekah rejeki kita akan bertambah ya, Bunda?”

“Ya, betul! Bertambah jumlahnya, terutama juga barokahnya. Amin, insya Allah!”

“Kapan-kapan, aku saja yang ngasih sedekahnya ya, Bunda?” pinta Hasan. Kedua matanya berbinar, terlihat bersemangat.

“Insya Allah!” jawab Bunda sambil kembali memeluk dan mencium buah hatinya dengan penuh kasih sayang.

Sumber: Membiasakan Bersedekah

Posted in Berbagi Tidak Merugi, Mari Membaca

8 Dirham Penuh Berkah

Pagi itu Rasulullah SAW nampak sibuk memperhatikan bajunya dengan cermat, baju yang tinggal satu-satunya itu ternyata sudah usang. Dengan rizki uang delapan dirham, beliau segera menuju pasar untuk membeli baju.

Di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan seorang wanita yang sedang menangis. Ternyata ia kehilangan uangnya. Dengan kemurahan hati, beliau memberikan 2 dirham untuknya. Tidak hanya itu, beliau juga berhenti sejenak untuk menenangkan wanita itu.

Setelah itu, Rasulullah SAW lalu melangkah ke pasar. Beliau langsung mencari barang yang diperlukannya. Dibelinya sepasang baju dengan harga 4 dirham lalu bergegas pulang. Di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan seorang tua yang telanjang. Dengan iba, orang itu memohon sepotong baju yang baru dibelinya. Karena tidak tahan melihatnya, beliau langsung memberikan baju itu. Maka kembalilah beliau ke pasar untuk membeli baju lagi dengan uang tersisa 2 dirham, tentu saja kualitasnya lebih kasar dan jelek dari sebelumnya.

Ketika hendak pulang lagi, Rasulullah SAW kembali bertemu dengan wanita yang menangis tadi. Wanita itu nampak bingung dan gelisah. Ia takut pulang karena khawatir dimarahi majikannya akibat sudah terlambat. Dengan kemuliaan hati beliau, Rasul langsung menyatakan kesanggupan untuk mengantarkannya.

”Assalamu’alaikum warahmatullah”, sapa Rasulullah SAW ketika sampai rumah majikan wanita itu. Mereka yang di dalam semuanya terdiam, padahal mendengarnya. Ketika tak terdengar jawaban, Rasulullah SAW memberi salam lagi dengan keras. Tetap tak terdengar jawaban. Rasul pun mengulang untuk yang ketiga kalinya dengan suara lantang, barulah mereka menjawab dengan serentak.

Rupanya hati mereka diliputi kebahagiaan dengan kedatangan Nabi. Mereka menganggap salam Rasulullah SAW sebagai berkah dan ingin terus mendengarnya. Rasulullah SAW lalu berkata,”Pembantumu ini terlambat dan tidak berani pulang sendirian. Sekiranya dia harus menerima hukuman, akulah yang akan menerimanya”. Mendengar ucapan itu, mereka kagum akan akan budi pekerti beliau. Mereka akhirnya menjawab, “Kami telah memaafkannya, dan bahkan membebaskannya.”

Budak itu bahagia tak terkira, tak terhingga rasa terima kasihnya kepada Rasul. Lalu ia bersyukur atas karunia Allah SWT atas kebebasannya. Rasulullah SAW pulang dengan hati gembira karena satu perbudakan telah terbebaskan dengan mengharap ridha Allah SWT. Beliau pun berujar,”Belum pernah kutemui berkah 8 dirham sebagaimana hari ini. Delapan dirham yang mampu menenteramkan seseorang dari ketakutan, memberi 2 orang yang membutuhkan serta memerdekakan seorang budak”.

Demikian kisah Rasulullah dengan 8 dirhamnya yang menjadi berkah. Meski hidup sederhana, beliau sangat murah hati dan banyak bersedekah. Suatu sikap mulia dan semoga kita bisa berusaha meneladaninya.

Sumber: 8 Dirham Penuh Berkah