27 Tahun – Kontempelasi Diri

27 tahun telah berlalu…

27 tahun mengarungi bahtera biduk kehidupan…

Jalan yang bergelombang, berkerikil, terjal, landai, tak lepas dari pandangan.. namun jalan yang rimbun, penuh dengan pepohonan yang menyajikan udara segar, hamparan bunga warna warnipun telah Allah berikan…

27 tahun… garis hidup yang telah dilalui, dan semuanya telah tercatat di Lauh Mahfudz-Nya,,

Jalan mana yang akan ditempuh, peristiwa apa yang akan dihadapi, takdir apa yang akan dimiliki, semua telah Dia ketahui dengan sifat Kemaha Luasan yang Ia miliki…

Setiap kedipan mata, setiap helaan nafas, setiap detak jantung ini berdegup,,

Setiap tawa bahagia yang dilepas, setiap tetes air mata yang mengalir, setiap goresan luka hati yang dimiliki,,

Jalan mana yang akan hamba pilih, setiap amal kebaikan yang dilakukan, setiap kesalahan dan kekhilafan yang dilakukan, setiap sujud syukur yang dilakukan, setiap permohonan ampunan yang diucapkan,, telah Ia diketahui dengan sifat Kemaha Luasan-Nya.

Takdir lahir, takdir rizki, takdir kematian semua semua telah tercatat di Lauh Mahfudz-Nya… bahkan apakah diri ini akan dipertemukan dengan pendamping hidup di dunia ataupun di akhirat kelak, semua telah Engkau catat di Lauh Mahfudz takdir hamba..

Allah.. yang hamba yakini adalah hamba hanya tinggal menjalani ini semua.. yang hamba yakini hamba harus mengarungi ini semua.. yang hamba yakini hamba harus menghadapi ini semua.. hanya tinggal menjalani ini semua.. berbekal ikhlas, tawakkal, dan sabar yang Rasulullah ajarkan kepada hamba.

Rasa bahagia, rasa senang, rasa suka, rasa duka, rasa lelah, penat, letih pun tak lepas dari perjalanan hamba.. hanya berharap Engkau tidak pernah meninggalkan hamba, berharap ridho Engkau tidak pernah putus, sepanjang perjalanan hidup hamba..

Allah,, yang hamba imani, ketika Sang Sakakala ditiupkan, semua makhlukMu akan sibuk dengan dirinya masing-masing.. Seorang Ibu akan melepaskan anaknya, seorang ayah akan meninggalkan keluarganya,, karena semua sibuk dengan bekalnya masing-masing.. bekal yang dibawa untuk menghadapi Yaumul Hisab nanti.. dan hambapun akan sibuk dengan diri hamba sendiri..

Untuk itulah hamba yang penuh dengan hina ini meminta lebih awal.. Jika di Padang Mashar nanti Engkau perlihatkan seluruh peristiwa hidup hamba di hadapan dunia,, jika Engkau mentakdirkan hamba untuk menerima konsekuensi atas apa yang hamba alami selama hidup di dunia,, jika itu sebuah konsekuensi untuk membersihkan diri hamba dari perbuatan dosa, hamba hanya minta agar semua peristiwa itu tidak Engkau perlihatkan kepada kedua orang tua hamba yang hamba cintai dan kedua orang tua lain yang cintanya hamba untuk beliau berdua tidak kurang, bahkan sama seperti hamba mencintai kedua orang tua hamba.. betapa hamba mencintai beliau berempat, hancur hati hamba jika melihat beliau semua sedih.. bahagiakan beliau berempat dunia akhirat, Husnul Khatimahkan kelak, jauhkan dari siksa qubur, dan lapangkan alam quburnya kelak…

Allah.. Memandang wajahMu lah yang hamba idamkan… berharap takdir itu telah tertera pula dalam Lauh Mahfudz hamba..

berharap usia ini berkah, berharap hidup ini selalu dalam naungan ridhoMu, berharap dapat menjadi muslimah sholihah yang letak baktinya ada di tangan imam hidup dan orang tua, letak ketaatan hanya ada di tanganMu, diberi keturunan sholih dan sholihah kelak, dan hari akhir kelak adalah Husnul Khatimah, aamiin yaa robbal’alamiin.

Jakarta, 17 Oktober 2013

Kontempelasi diri menuju tujuan akhir, Allah..

-Rizky Ayu Maulani Y.-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s