Posted in Cerita Hidup, Nasib Gadis di Rantau Orang

Our Lunch Today: Kami (Tidak) Berbeda-2

Sampai di dalam restoran, Bapak Sekretaris Perusahaan memesan tempat untuk 10 orang. Di luar dugaan tiba-tiba salah satu Direktur Perusahaan datang dan bergabung. Waduh! Salah rombongan nih saya! >_<

Suasana tiba-tiba mendadak resmi. Semua orang pada megang Gadget masing-masing. Begitu pula saya yang lagi keki, jadinya ikutan sok sibuk dengan handphone. Karena semua orang ‘sibuk’, tiba-tiba Pak Direktur nyeletuk, “Yaudah kita makan di meja masing-masing saja! Masak satu meja makan semuanya sibuk sama handphone!” Gara-gara ditegur gitu, kami semua serempak menyimpan gadget kami masing-masing, hehe..

Kemudian kami memesan makanan kepada pelayan restoran. Seperti biasa, Cici Sari memberikan notifikasi paling panjang kepada pelayan restoran. “Gak pake MSG, gak pake kaldu, gak pake bawang, dan gak pake bakso, sosis, kornet, sarden, apapun yang mengandung unsur hewani!” Karena kami semua di meja sudah sering sekali makan dengan Cici Sari, kami pun sudah hapal apa saja yang akan dinotifikasikan Cici Sari kepada pelayan restoran. Dan seperti biasa, Pak Direktur dan Pak Sekretaris Perusahaan ngegoda pesanannya Cici Sari. Kemudian Bapak Direktur cerita banyak tentang petualangan beliau waktu muda. Dan suasana meja makanpun menjadi hangat kekeluargaannya.

Hampir semua makanan yang dipesan sudah keluar, tetapi tinggal pesanan saya yang belum keluar. Sayapun masih sabar menunggu makanan saya keluar. Tiba-tiba Cici Sari memanggil pelayan restoran dan menanyakan makanan pesanan saya. Karena terlalu lama, akhirnya Bapak Direktur nanya,

Pak Direktur: “Kamu orang pesan makan apa sih?”

Saya: “Pesan nasi goreng teri medan, Pak!”

Pak Direktur: “Makanya kalau pesan itu tanya menu yang paling laris apa, biasanya itu stoknya paling banyak dan paling fresh.”

Saya: “Iya nih, Pak! Salah strategi. Terinya masih beli di Medan soalnya, ehehehe..”

Pak Direktur: “Salah! Karena pesanan kamu orang gak laris, jadi mereka taruh bahan bakunya di freezer paling bawah. Mereka masih ngubek-ngubek freezernya! hahahaa… Hati-hati lho manatau udah kadaluarsa! :p ”

Saya: “Yee..bapak! Emangnya restoran gak punya sistem cek stok gudang!” (protes, karena saya dulu manager restoran :p )

Karena sudah sering dicerewetin sama Cici Sari, akhirnya pelayan restorannya mengeluarkan pesanan makanan saya.😄

Saat saya mau makan, Bapak Sekretaris Perusahaan nanya, “Teri medannya ada gak, Ky?” Dengan senyum sumeringah saya jawab, “Ada, Pak! Hehe..”

Setelah hampir semua penghuni meja selesai makan, tiba-tiba datang dua orang penting di Grup, yang pastinya belum saya kenal. Mereka ikut gabung makan bersama kami. Salah satunya saya familiar, pernah papasan di lift kantor. Agak membuat saya minder pas satu lift waktu itu. Eee..ini malah satu meja makan sekarang!😄

Selesai makan, Bapak Direktur beranjak duluan dari meja dan menuju kasir. Ternyata makan siang hari ini ditraktir Pak Direktur! Alhamdulillaaaah…. ^__^v

Bapak Direktur, Bapak Sekretaris Perusahaan dan dua orang penting di Grup tadi duluan meninggalkan restoran. Tinggal Saya, Cici Sari, Cici Yulia, Koko Rully dan Edward yang belakangan meninggalkan restoran. Dan kami sempat foto-foto dulu ^__^v

Ci Yulia-Aku-Ci Sari

Ci Yulia-Aku-Ci Sari-Koko Rully

Edward-Ci Yulia-Aku-Ci Sari

Dalam perjalanan kembali ke kantor, ketika kami berada di beranda Pacific Place Jakarta, banyak sekali kaum ekspatriat. Di beranda Pacific Place, angin berhembus kencang sekali, sehingga orang yang mengenakan rok harus memegangi roknya. Di depan saya ada Wanita bule yang memakai rok mini dan roknya tiba-tiba berkibar ke atas. Spontan saya teriak,“KOKO TUTUP MATA!” dan jawabannya Koko, “Aku gak perlu tutup mata kali!” (sambil masang tampang bete)

Koko: “Aku kan gak perlu naik haji. Jadi boleh donk liat!”

Saya: “Ya Allah! Aku lupa! Maaf yaa, Ko! Kita beda agama yah? hiii hiii hiiii” (sambil nyengir)

Koko: (-__-“)

Saya: “Yaa..tapi kan Ko, bukan yang naik haji aja kali yang gak bole liat.. yang belum naik haji juga gak bole liat..ehehe..”

Koko: (-__-“)

Mungkin karena tiap hari saya bersama Cici Sari, Cici Yulia dan Koko Rully jadi kami semua tidak merasa kalau kami berbeda. Pernah waktu itu saya bahas kalau saya berbeda dengan mereka semua. Baik ras, agama, maupun penampilan, karena hari itu banyak orang yang ngeliatin kami. Tapi setelah itu saya ditegur Koko. Koko bilang tidak ada yang beda dan tidak ada yang membeda-bedakan. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi menyinggung masalah itu kalau-kalau kami diliatin orang lagi.

Author:

Life is adventure, fun and fabulous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s