Posted in Cerita Hidup, Nasib Gadis di Rantau Orang

Bagaimana Muslimah Menyikapi Perayaan Imlek?

Kata Toleransi terkadang menjadi sebuah kata yang mengaburkan antara sesuatu yang berhubungan dengan akidah.

Imlek kemarin, saya dilanda kebingungan, apakah saya harus mengucapkan selamat dan berpartisipasi dalam perayaannya atau tidak.. Pasalnya lingkungan sekitar saya adalah lingkungan yang merayakan perayaan tersebut. Sayanya juga bersemangat untuk berpartisipasi karena selain saya sedang semangat-semangatnya belajar bahasa mandarin, partisipasi ini saya anggap sebagai bentuk penghormatan saya kepada teman-teman terdekat saya. Saya berpikir bahwa ini gak beda jauh dengan Tahun Baru Islam, Tahun Baru Masehi.

Di pelajaran bahasa mandarin, saya juga mempelajari kebudayaan Tionghoa. Lao shi ingin anak muridnya tidak hanya bisa berbahasa mandarin saja, tetapi juga mengetahui kebudayaan-kebudayaan Tionghoa. Dalam tradisi menuju Imlek biasanya ada ritual-ritual keagamaan, seperti Sembahyang untuk Dewa-dewa, meletakkan persembahan, berkunjung ke sanak keluarga, memakai baju warna cerah dan memberi Hong Bao.

Saya juga sangat bersemangat menghadapi Imlek dengan membeli sejumlah kartu Imlek untuk beberapa sahabat dan orang terdekat saya. Untuk Cici A, Koko A, Ibu A, Lao shi di kantor.. Untuk Cici B, Cici C, dan teman sebelah kamar saya.. Saya beli banyak sekali kartu ucapan. Tapi.. tiba-tiba saya berpikir kembali..apa yang saya lakukan ini secara hukum syari’ahnya bagaimana yah? Secara tradisi, Imlek sudah seperti perayaan tahun baru biasa… tapi kalau diingat-ingat lagi memang ada beberapa ritual keagamaan tertentu yang dilakukan.

Tapi saya masih belum menemukan ide jawaban atas keraguan saya. Sampai suatu hari saya berpapasan dengan salah seorang Ibu Petinggi di kantor yang keturunan Tionghoa. Saya memang cukup akrab dengan beliau. Agak sedikit berbasa basi, saya bertanya beliau mengenai persiapan keluarga menghadapi Imlek. Di luar dugaan, sang Ibu menjawab, “Saya sudah tidak merayakannya, Mbak Kyky. Saya hanya merayakan Natal saja sebagai penganut Nasrani.”  Mendengar jawaban dari Ibu, membuat saya makin ragu dengan rencana Imlek saya.

Perayaan Imlek semakin dekat,,, tapi saya masih ragu apakah saya akan mengirimkan kartu-kartu itu kepada sahabat dan orang terdekat saya.. Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya via SMS ke Ibu Murobbiyah saya dan ini jawaban dari beliau:

“Wa’alaykumsalam wr wb. Kalau menurut ana, ahsannya kita berhati-hati. Ana pikir imlek yang sebenarnya bukan hanya masalah budaya, tapi berkaitan dengan Kong Hu Chu. Ana sendiri berasal dari Keluarga Tionghoa, tapi ana tidak bersengaja untuk mengucapkan Gōng xǐ fā cái. Kakak yang Non Muslim saja tidak ikut-ikutan, karena menurut beliau sudah ada unsur animisme di dalamnya.”

Subhanallah.. sekali lagi jawaban dari beliau memberi pencerahan untuk saya. Dari balasan sms tersebut saja Ibu Murobbiyah memberi gambaran kepada saya bahwa memberi ucapan Imlek itu tidak berbeda dengan memberi ucapan Selamat untuk perayaan hari keagamaan yang lain. Walau terlihat seperti suatu Kebudayaan, tetapi di dalamnya sudah berhubungan dengan Kepercayaan dan itu mendekati sesuatu hal yang Musyrik, menyinggung masalah akidah.

Ibu Murobbiyah juga memberi gambaran kepada saya bagaimana menjaga identitas diri sebagai muslimah di tengah kehidupan diri sebagai minoritas, tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka. Dan inti yang paling penting dari balasan tersebut adalah kaum Non Muslim saja tidak Tasyabuh, masa’ kita yang muslim saja tidak bisa melakukannya?😀

Subhanallah sekali saya memiliki Ibu Murobbiyah yang benar-benar bisa memberikan jawaban yang luwes, sopan, tetapi tegas. Kalau kata salah satu sahabat saya, “Allah itu selalu kasih kamu medan perang sepaket dengan amunisi dan senapannya!” Kalau diartikan saat ini Allah memberi saya Ibu Murobbiyah yang tepat,, bisa menjadi tempat saya bertanya banyak hal mengenai kehati-hatian dalam bermuamalah,, apa yang dibolehkan dalam Islam, apa yang tidak boleh,,, mana yang hitam, mana yang putih,, ketika semuanya tampak abu-abu di mata saya. Dan yang paling penting adalah beliau menjadi role model untuk saya menjalani hidup di Jakarta ini.🙂🙂🙂

Tanpa sedikitpun mengurangi rasa hormat kepada teman-teman terdekat, tidak berperilaku Tasyabuh menjadi poin penting dalam menjalani hidup bermuamalah, namun berperilaku yang menunjukkan Akhlaqul Karimah bisa menjadi alternatif untuk tetap menjalin silaturahim dengan teman-teman yang merayakannya. Bukankah Islam mengajarkan bahwa kita wajib berperilaku baik kepada sesama manusia?😉

 

**Dan akhirnya… kartu-kartu Imlek saya, saya simpan kembali di atas meja tulis kamar..🙂

Author:

Life is adventure, fun and fabulous

4 thoughts on “Bagaimana Muslimah Menyikapi Perayaan Imlek?

    1. ya Allah, saya baru baca komen yang ini karena udah lama g ngeblog.. bu hao yi si… maafkan, baru saya balas 3 tahun kemudian..😀
      twitter saya @chiezworld .. saya udah hampir 5 tahun g fb an, hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s