Posted in Berbagi Tidak Merugi, Mari Membaca

Kisah Seorang Pengrajin Seni

Cerita ini diinspirasi oleh kisah nyata seorang gadis, sebut saja namanya Nila. Cerita bagaimana sebuah nadzar yang ia ambil untuk berqurban di tengah-tengah keterbatasan ekonomi yang ia miliki menjadi penolong jalan hidupnya.

Keseharian Nila bekerja sebagai seorang pengrajin dan pekerja seni. Dia ingin sekali memberikan sesuatu kepada orang yang dianggapnya sangat berharga. Karena dia seorang pengrajin, maka dia ingin memberikan suatu karya dari tangannya sendiri untuk orang tersebut. Orang yang dianggap sangat berharga baginya ini akan pergi merantau ke negeri orang. Nila bingung akan memberikan apa sebagai bentuk kenang-kenangan dan penghargaan buat orang tersebut. Walau dia seorang pengrajin, tetapi kemampuannya terbatas, pengetahuannyapun gak terlalu luas. Sampai suatu ketika hari dimana orang yang dianggapnya sangat berharga itu pergi. Nila memberanikan diri untuk bertanya apa yang beliau inginkan untuk keperluan beliau di rantau orang. Beliaupun hanya berkata “ndak perlu sesuatu yang mahal, asal itu buatan tangan Nila itu sudah cukup buat saya.” Sampai orang tersebut pergi, Nila tidak berhasil membuat suatu apapun. Dan Nila berjanji kepada dirinya sendiri suatu hari akan mengirimkan hasil karyanya untuk beliau tersebut.

Sampai suatu ketika Nila kepikiran untuk membuat suatu prakarya sulaman. Nila hanya berpikir kalau di negeri orang pasti jauh lebih dingin dari di Indonesia. Terinspirasi dari film-film Korea yang saat itu lagi booming merambah layar kaca. Salah seorang temannyapun bertanya apa yang akan dia buat, dan Nila bilang, “Saya mau buat itu lho, sulaman kayak dipakai di pilem-pilem Korea. Yang dililit-lilit kalau lagi kedinginan..”

Walaupun dia seorang pengrajin, tapi menyulam adalah hal yang baru baginya, jadi butuh proses yang cukup lama untuk membuat sulaman itu menjadi karya yang apik.

Di tengah-tengah Nila sedang bersusah payah menyulam, temannya lagi-lagi nyeletuk, “Emang mau kamu kirim kapan? Jangan-jangan pas kamu kirim, sulamannya gak kepake karena disana udah musim panas!” Mendengar celetukan temennya sambil tertawa. Nila baru nyadar kalau di negeri orang itu gak selamanya dingin.. ada musim kemarau juga yang panas.. yaa mungkin panasnya sebelas duabelas lah sama pesisir pantai.. “Yaaah.. bisa-bisa sulamannya gak bermanfaat sama sekali yah!” keluh Nila. Tapi yaa namanya sudah janji, Nila tetap berusaha menyelesaikan sulamannya tepat waktu.

Hampir selesai sulaman, Nilapun mampir ke Kantor Pos, buat nanya kalau kirim paket berapa harganya. “Astaghfirullah! Hampir satu juta ya, Pak? Gak bisa kurang yah, Pak?” tawar Nila. “Yaah, neng, emangnya ini pasar bisa tawar-tawar… Biaya kirim ke Jakartanya saja sudah mahal, apalagi kirim ke luar negeri…” tutur Bapak Pos. Dengan setengah putus asa, Nila meninggalkan Kantor Pos.

Sedikit demi sedikit Nila mulai menabung… Penghasilan pengrajin dan pekerja seni saja tidak seberapa, hanya cukup untuk makan sehari-hari, itu sudah penuh syukur banget. Tapi karena sudah janji, Nila sedikit demi sedikit mengumpulkan tabungannya agar bisa mengirimkan karyannya untuk orang yang dianggapnya berharga tersebut.

Hari-haripun berlalu, uang yang dikumpulkan mulai terpenuhi. Tetapi Nila tetap belum bisa mengirim karyanya. Hari Raya Idul Adha ternyata tinggal menghitung hari.

Nila mengalami dilema. Dulu sebelum Nila bekerja, dia pernah bernadzar kalau dia sudah bekerja, dia akan berqurban jika Idul Adha tiba. Sebagai bentuk syukurnya sekaligus latihan diri untuk terbiasa menyisihkan penghasilannya, berapapun, untuk berqurban. Sekarang, Idul Adha sebentar lagi, uang yang terkumpul hanya bisa untuk mengirim karya, sedangkan harga 1 ekor Kambing saja sudah mencapai satu juta. Kalau qurban sapi bisa bertujuh orang, tapi kalau dikalkulasi jatuhnya bisa lebih dari harga 1 ekor Kambing.. Sedangkan kalau Kambing hukumnya hanya untuk satu orang, gak bisa bayar cuma setengahnya. Sudah gak punya uang lagi untuk bisa memenuhi dua janji. Kebutuhan sehari-hari dari penghasilan yang ada saja tidak akan bisa memenuhi kebutuhan biaya qurban sekaligus kirim karya. Bingung!

Di tengah kebingungannya, Nila mengambil Qur’an untuk tilawah.. sejenak menenangkan diri.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Itulah salah satu kutipan ayat yang tak sengaja dia baca ketika sedang dalam kebingungan. Surah Muhammad ayat 7 menjadi pencerah hatinya dan peneguh langkahnya dalam mengambil keputusan. Menolong agama Allah untuk mendapat pertolongan Allah. Dalam Al Fatihah juga dijelaskan,

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (Q.S. Al-Fatihah: 4)

Bahwa menyembah Allah dulu, mengutamakan ibadah terlebih dahulu, mengutamakan agama Allah dulu, baru mengharap pertolongan Allah. Mengutamakan Allah di atas kepentingan pribadi dan duniawi. Akhirnya Nila memutuskan untuk menggunakan uang yang terkumpul untuk memenuhi janjinya ke Allah untuk berqurban. Rencana mengirimkan karyapun dia tangguhkan.

Dengan ringan hati, Nila melangkahkan kakinya menuju salah satu lembaga zakat untuk menyalurkan dana qurbannya. “Hanya satu ekor kambing dengan harga paling murah yang bisa saya berikan, ya Allah.. semoga Engkau ridho dan menerima ibadah saya..” bisik batinnya.

Selang beberapa hari kemudian, Nila dipanggil salah seorang tetangganya yang juga pekerja seni. Ibu Tetangga yang dikenal dengan nama Ibu Sri ini adalah seorang pemilik sanggar kesenian Jawa.“Nduk, kamu mau yaa bantuin aku buat acara pentas nanti di Bank Indonesia..” pinta Ibu Sri. Mendengar permintaan Ibu Sri, Nila menerima tawaran tersebut, apalagi pentasnya di Bank Indonesia.. ke Jakarta berarti itu! Huiih! Jalan-jalan ke Bank Indonesia! Kapan lagi bisa masuk ke Gedung Bank Indonesia?! (karena emang gak ada keperluan sih buat sekedar main kesana buat Nila, hehehe..) “Mau, bu! Saya mau bantu Ibu buat pentas nanti!” jawabnya girang.

Ketika hari keberangkatan menuju Jakarta tiba,  Ibu Sri meminta Nila untuk membantu menyiapkan segala macam keperluan untuk pentas. “Ini aku bekelin uang 5 juta. Kamu berangkat duluan, bareng anak-anak pentas. Aku masih ada keperluan yang harus diurus. Kita ketemu di Gedung Bank Indonesia nanti yaa..” kata Ibu Sri.

“Oiya, jangan lupa KaTePe-KaTePe semua rombongan kamu kumpulin, fotokopi jadi satu, buat data ke panitia di Gedung BI. Disana penjagaannya ketat, jadi ndak bisa slewar slewir sembarangan. Kamu urus semua kebutuhan anak-anak pentas yaa.. makan, jajan, penginapan, pokoknya apa ajalah yang mereka perlu.. tapi harus irit-irit juga lho! Jangan sampe nanti kamu pulang jalan kaki lho! Hihihi..” tambah Ibu Sri.

“Paham, buu…” jawab Nila.

Masuk ke Gedung BI ternyata kudu pake birokrasi yaa.. Kumpulin fotokopi rombongan buat dikasih tunjuk ke Bapak Panitia disana.. Kudu mikirin makan, jajan dan penginapan rombongan.. Mikir makanan apa yang bisa dimakan segala kalangan.. mulai dari anak muda sampe bapak-bapak…Tapi gak papa! Yang penting bisa jalan-jalan! Bisa masuk Gedung BI! Asiiikk! Bismillah…

Ketika hari pementasan, “Waaah.. Gedung BI ini kayak komplek yaa.. bangunannya gede-gedee.. dindingnya ada ukiran-ukirannya.. cantik banget!” cerita Nila. Karena terpesona sama bangunan Gedung BI, Nila tanpa sengaja terpisah dari rombongan. Dia terjebak dalam ruangan dimana pintu keluarnya hanya bisa dibuka oleh pegawai yang memiliki ID Card. Jadi Nila curi-curi ikut keluar saat salah seorang pegawai bank yang mendekat ke pintu keluar dengan menempel ID Cardnya.

Karena masalah keuangan yang dipegang sudah selesai, Nilapun bingung mau kerja apa. Sampai ada salah seorang kru pentas yang bilang, “Eh, cyiin.. bantuin eyke dandan doonk..” Astaghfirullah! Orang yang minta dibantuin dandan adalah kru pentas Waria! Jadilah Nila didaulat menjadi Make-up Artis dadakan.

“Mbaknya, eh, maaf, maksud saya Masnya pake foundationnya sendiri aja dulu.. nanti saya tambahin bedak pake spons bedak..” pinta Nila yang lagi kikuk ndandanin Waria.

Bermodal nekat dan memanfaatkan daya imajinasi, Nila mulai mendandani ‘mbak-mbak’ yang mau pentas. Alhamdulillah ‘mbak-mbak’nya suka dengan hasil dandanannya. Tapi ada satu masalah yang muncul. Ketika Sang Aktor utama merasa tidak puas didandani oleh Make-up artis yang lain. “Mosok sampeyan ndak tahu bentuk jambang dan kumis yang saya maksud! Piye tho?!” ambek Sang Aktor Utama. “Maaf, Pak.. saya ndak tahu tokoh yang bapak perankan itu seperti apa..” jawab Mbak-mbak Make Up Artis tersebut. “Punten, Pak.. ada yang bisa saya bantu?” tawar Nila. “Sampeyan, sini! Tolong bikin kumis dan jambang buat saya. Mosok dia ndak bisa lukis muka saya! Saya ini yang meranin tokoh SAKERAH!” tukas Pak Aktor.

“Waduh! Sakerah? Tokoh yang gimana yah? Aduh! Kayak pernah denger, tapi gak tahu wujudnya gimana…!!” batin Nila.

“Punten, Pak.. Bapak mau dibagaimanakan wajahnya?” tanya Nila perlahan,, takut kena damprat juga,, maklum Nila yang orang aseli Singaparna-Sumedang gak tahu tokoh yang dimaksud itu gimana wujudnyaaa..

“Saya mau kumisnya agak panjang dan dibikin pelintir di ujungnya, jambangnya tebal tapi gak tebal-tebal banget, sesuaikan dengan bentuk saya juga, bagian dagu ada jenggot sedikit.” Kata Pak Aktor.

“Aduh!” Makin bingung Nila. Tapi dia coba juga untuk melukis wajah Pak Aktor. Bismillah..

Nila menggunakan daya imajinasinya dan mulai melukis wajah Sang Aktor.. Nila hanya bisa menangkap tokoh Pak Raden dalam serial Unyil yang suka dia tonton waktu kecil di TVRI.. Pak Raden kumisnya tebal, suka melintir-lintir ujung kumisnya, jadi terlihat kesan pelintir di ujung kumis.. Waktu melukis jambang, dia juga masih hanya bisa menangkap jambang tokoh Pak Raden dan dia coba aplikasikan ke wajah Pak Aktor yang wajahnya lonjong, bukan bulat.. Dan bagian jenggot, disesuaikan dengan permintaan dan wajah Pak Aktor.. Bagian alis Pak Aktor agak dibikin sedikit hidup dan hasilnya.. “Ini, Pak cerminnya.. silakan dilihat bisi ada yang kurang..” kata Nila perlahan karena takut kena damprat.

“Nah ini yang saya mau!” jawab Sang Aktor puas. Alhamdulillaaaah… dan belakangan Nila baru tahu kalau Sakerah itu salah seorang Tokoh Pahlawan dari Madura.

Setelah itu pentas dimulai. Semua penonton puas dengan pentas yang diselenggarakan dari sanggar Ibu Sri.

Usai pentas, panitia dari Gedung BI langsung memberikan bayaran kepada Ibu Sri dalam bentuk tunai. “Empat puluh lima juta, tunai. Tolong dihitung kembali, bu.” Kata panitia Gedung BI.

“Waduh.. banyak juga yah empat puluh lima juta itu kalau dikasih tunai.” Kata Ibu Sri. “Nduk, kamu bantu hitung yaa..” pinta Ibu Sri.

Memegang uang bergepok-gepok sejumlah EMPAT PULUH LIMA JUTA.. uangnya merah semua, masih licin, tajam, kayaknya abis dipotong-potong di percetakan uang. “Ini uang semua, bu?? Banyak yaaa…” seloroh Nila.

Nilapun mulai menghitung satu gepok demi satu gepok dengan hati-hati.. khawatir uangnya ada yang nyelip sehingga kurang, atau malah berantakan karena deg-degan megang uang merah bergepok-gepok. “Kalau gak mau susah, mbak bisa lihat nomor serinya aja.. nomor seri belakang dikurangi nomor seri depan..” kata Bapak Panitia Gedung BI.

Selesai bertransaksi dengan panitia gedung BI, Sang Ibu Sri meminta Nila untuk memegang uang tersebut dan mendistribusikan sesuai fee masing-masing pemain pentas. “Ya Allah… empat puluh lima juta ada di tangan saya.. ya Allah, lindungi saya dari keteledoran, agar saya amanah..” batin Nila.

Satu per satu amplop untuk fee dari masing-masing pemain didistribusikan oleh Nila hari itu juga. Agar berkurang bebannya dalam memegang uang dan agar semua urusan keuangan selesai hari itu juga. Sisa uang yang ada kemudian Nila laporkan kepada Ibu Sri. “Sisanya ada 20 juta, bu.. bisa ibu hitung lagi..” kata Nila. “Sudah, saya percaya saja sama kamu. Oiya, bagianmu sudah diambil?” tanya Ibu Sri. “Bagian, Bu?” tanya Nila memastikan apa yang dimaksud bagian adalah….. “Iyaa, bagianmu.. Samakan saja dengan Bapak Dalang.. Kamu sudah bantu saya, yaa kamu pantas dapat bagian dari pentas ini..” jawab Ibu Sri.

Mendengar kalimat terakhir dari Ibu Sri rasanya bikin hati Nila gak karuan. Asalnya Nila hanya ingin membantu Ibu Sri, sudah diajak jalan-jalan saja sudah senang banget. Sekarang malah dikasih bayaran sama Ibu Sri yang nominalnya setara dengan pemain Dalang.. Nominal itu sangat cukup untuk membayar kiriman karyanya yang tertunda. Subhanallah…

Hikmah yang saya ambil dari cerita di atas, Allah itu Luarr Biasa yaaa… Kalau manusia mau hitung-hitungan sama Allah, hitungan Allah amat sangatlah sempurna. Apalagi kalau hambaNya gak hitung-hitungan, Allah kasih lebih dari cukup. Karena Janji Allah adalah yang paling benar.

Allah telah membuktikan kepada hambaNya bahwa Siapa saja yang menolong agama Allah, Allah akan tolong dia dengan pertolongan di luar dugaannya. Kesulitan, kesempitan hidup, ekonomi yang tidak memadai Allah kasih kemudahan buat hamba-hambaNya yang minimal ingat Allah dalam kondisi seperti itu. Apalagi berkorban harta dan jiwanya di jalan Allah,, Allah kasih lebih, lebih dan lebih lagi..

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar!

Dan akhirnya hasil kerja Nila dari sanggar seni, dipakai untuk mengirimkan sulamannya sebagai janji yang harus dia tunaikan.

Ketika berjanji kepada Allah dan kita berusaha keras menunaikan janji itu, maka Allah akan menunaikan janjinya pula untuk menolong hambaNya itu untuk menunaikan janjinya kepada sesama hambaNya.

Kalau boleh mengutip tulisannya Mbak Asma Nadia dari buku Catatan Hati di Setiap Sujudku, “Allah, bersamamu tidak ada jalan buntu..”🙂

Author:

Life is adventure, fun and fabulous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s