Posted in Cerita Hidup, Nasib Gadis di Rantau Orang

Dilema Yang (tidak perlu) Diperpanjang

Pagi ini saya menemukan meja kantor saya terdapat setumpuk kartu ucapan untuk perayaan salah satu Agama. Kemudian saya tanyakan maksud adanya tumpukan kartu tersebut ke bagian administrasi departemen saya. Kata bapak admin, saya harus tanda tangan di kartu-kartu tersebut sebagai partisipasi dari departemen. Hhmm… saya terdiam..

Sebenarnya gak susah sih cuma tanda tangan doank.. toh saya gak perlu ngapa-ngapain, gak perlu ngomong juga.. (gak bisa ngomong banyak-banyak juga sih, karena suara saya masih hilang, hihihi) Tapi… hhmm..

Akhirnya gak butuh waktu yang lama, gak perlu mikir panjang, saya bilang, “Saya gak ikut tanda tangan gak papa ya, pak!” ^__^

“Kalaupun ini wajib dari departemen, saya bersedia untuk menjelaskannya..” ^__^ tambah saya.

Bapak admin departemenpun mengerti kenapa saya memilih untuk tidak ikut tanda tangan dan mengembalikan tumpukan kartu tersebut ke meja beliau. Alhamdulillah, tanpa perlu banyak keharusan untuk menjelaskan kartu-kartu tersebut lewat begitu saja dari meja saya..

Dilema ini sempat menimpa saya di minggu-minggu kemarin. Sejak saya mendalami ilmu kristologi, saya memilih untuk tidak memberi ucapan sebagai bentuk penghormatan kepada teman-teman saya yang non muslim. Yang saya yakini adalah “Untukmu agamamu, untukku agamaku..” tertera jelas dalam QS. Al Kafirun. Sebelumnya, tantangan yang saya hadapi adalah ketika bekerja dengan dosen Non Muslim, tapi lingkungan sekitar saya masih kondusif… Alhamdulillah Allah memberi kemudahan dengan melaluinya dengan mudah karena dosen saya punya rasa toleransi yang tinggi. Dan sekarang tantangan besar di hadapan saya. Lingkungan kantor dan kosan yang menjadikan saya minoritas membuat saya sempat bingung. Apakah saya harus melonggarkan apa yang saya pegang selama ini atau tidak. Masalahnya waktu lebaran, teman-teman Non Muslim saya memberikan ucapan..

Saya sempat berdiskusi dengan 2 Murobbiyah saya, Bandung dan Jakarta. Keduanya memberikan kekuatan saya untuk tidak memberi ucapan. Dan Subhanallah-nya lagi, Ibu Murobbiyah saya yang di Jakarta memberikan solusi yang mantap, yakni dengan tetap menjaga silaturahim saya dengan baik seperti menanyakan perihal mudik, rencana acara keluarga, rencana liburan untuk rekan-rekan saya yang Non Muslim… Bisa juga dengan bantu-bantu packing temen-temen Non Muslim di kosan yang mau mudik atau berbagi obat atau minyak angin buat temen Non Muslim yang lagi flu,,, kan sekarang lagi musim sakit flu tuh! Biar dia pas di hari perayaan agamanya bisa fit lagi.. ^__^

Maha Suci Engkau, Allah… Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang..
DenganMu, segala masalah di dunia ini akan teratasi dengan sempurna..
Dengan tetap berjalan di bawah ridhoMu, semua urusan dunia dapat dihadapi..
Kesempurnaan hanyalah milikMu, Allah..

NB:
Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada teman-teman Non Muslim, maaf, saya Muslim ^_^v

Author:

Life is adventure, fun and fabulous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s