Posted in Cerita Hidup, Melancholische Seite, Nasib Gadis di Rantau Orang

Untuk Saudariku tersayang…

Saat aku terjatuh, terhempas ke dalam jurang kefuturan, kamu datang tuk mengulurkan tangan agar aku tidak terjatuh semakin dalam..

Saat aku tidak bisa berpikir jernih, putus asa, terpuruk, tak berdaya, bahkan terpikir untuk mengakhiri segalanya, kamu mengingatkanku akan siksa kubur.. “Pede banget! Udah banyak yah bekel pulangnya?” “Mau jawab apa ke Malaikat Munkar Nakir?” dan itu yang membuatku berpikir berjuta-juta kali.

Kamu hadir saat aku kesepian, butuh saudara.. bukan saudara yang mengasihani.. bukan saudara yang hanya bisa berkata “sabar yaa..” karena kamu tahu kalau aku pasti akan melakukan itu.. Tapi kamu hadir untuk membuatku berpikir,,, berpikir jauuuuh ke depan… bukan berpikir tentang apa yang aku dapatkan di dunia.. tapi berpikir apa yang aku bawa di akhirat.. Yaa.. kamu yang mengajakku berpikir tentang kehidupan akhirat yang akan aku jalani.. Cita-cita akhirat yang membuat hancur ambisi-ambisi nafsu dunia.. Kamu yang menyadarkan aku kalau hidup ini hanya mencari ridho Allah.. bukan harta dan kedudukan dunia.

Saat aku menghadapi kepergian Emak (nenek) yang bersamaan dengan masuknya papa ke rumah sakit karena penyakit jantung, kamu salah satunya yang memberiku kekuatan.. Kuat untuk menjalani setiap detik takdir yang Allah berikan. Tetap berpikir jernih,, dan tegar untuk tidak terlalu banyak menangis, karena kehidupan masih harus terus berlanjut…

Percaya atau tidak, cuma dengan kamu,, hanya sama kamu, aku bisa bertukar pikiran tentang cita-cita akhirat. Ingin seperti apa ketika dibangkitkan nanti? Ingin berbaris di golongan umat mana nanti? Ingin seperti apa di Yaumul Hisab nanti? Apakah akan mendapatkan syafa’at Rasulullah SAW nanti? Itu yang membuat kita saling mendoakan, saling menguatkan saat salah satu dari kita mulai melabil.

Dan ketika sudah kembali kuat, kekuatan itulah yang menjadi bahan bakar semangat untuk melakukan segala sesuatu yang terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia. Sama-sama mencari ridho Allah dengan mengarungi takdir sebagai Gadis Rantau. Bukan dunia yang kita kejar, tapi ridho Allah dan akhiratlah yang kita kejar..

Mendapati berita kepulangan Ayahmu secara tiba-tiba, hatiku hancur.. tapi tentu saja hatimu jauh lebih hancur, saudariku..

Menjadi gadis rantau di tengah kepulangan Ayahmu tentu bukan perkara mudah! Tapi, diujung telepon sana, aku masih mendengar suaramu yang  biasa-biasa saja.. kamu bilang, “Gak perlu terlalu banyak menangis, yang penting saat ini adalah doa.” Subhanallah.. bukan hati yang terluka dan dirundung duka yang kutemui, tapi hati yang penuh keikhlasan dan ketegaran di tengah kesibukanmu mencari tiket pesawat Medan menuju Bandung.

Saudariku… aku sangat bangga padamu. Kamu memberikan panutan hidup yang baik untukku. Panutan hidup bagaimana menjadi seorang muslimah tangguh, tegar dan shalihah. Akhlaqmu adalah cermin bagaimana Ayah mendidikmu. Aku sangat yakin, insha Allah, Allah memberikan tempat istirahat yang sangat nyaman untuk ayah.. Yakin, insha Allah, Ayah akan mudah menjawab semua pertanyaan-pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir… Karena aku tahu, Beliau memiliki seorang putri yang  hebat.. Putri yang shalihah, yang akan selalu mendoakan Ayahnya dan akan menjadi pendamping terbaik untuk Ibunya di dunia.

Saudariku, aku mencintaimu karena Allah…

Dedicated to

Rahmania Budiharjo

Author:

Life is adventure, fun and fabulous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s