Posted in Pulang ke Rumah Allah

Tiga Hari Bersama Rasulullah #3

“Allah, aku ingin bertemu Emak di RumahMu nanti.. bahkan kalau bisa bertemu nenek-nenekku yang lain juga”

Itulah pintaku ke Allah ketika akan berangkat Umroh.

Sejak Emak meninggal, entah kenapa aku selalu menghibur diri dengan keyakinan kalau Emak masih hidup. Bahkan ketika berangkat Umroh tanpa Emak, aku beranggapan Emak sudah berangkat duluan.. Pakai kendaraan yang super cepat, yang khusus Allah sediakan buat Emak. Makanya aku dengan optimisnya meminta ke Allah agar bertemu dengan Emak disana.🙂

Saat memasuki masjid menuju Raudhoh, aku sempet bingung mau ngapain. Namanya juga bertamu, harus ada kesan khusus buat pemilik rumah, apalagi yang punya rumah adalah seorang Rasul.🙂

Suasana menuju Raudhoh padat orang. Jama’ah wanitapun dibagi berdasarkan Negara (kalau aku bilang sih ras,hehehe). Mungkin demi kenyamanan ketika beribadah di Raudhoh nanti. Kasian juga kalau ras melayu yang kecil-kecil dibarengin sama jama’ah timur tengah yang badannya gede-gede,hehe.. Jadi rombongan kami berkumpul di kelas Jama’ah melayu, bareng dengan saudari-saudari yang berasal dari Malaysia dan Singapura.

Sambil menunggu giliran, aku isi dengan sholat Tahiyatul Masjid dan baca buku pinjaman milik Ibu Sarah (salah satu jama’ah travel Raihan). Baca bareng dengan Teh Lenny dan Ibu Santi. Setelah itu kami menyusun strategi dan antisipasi jikalau nanti di dalam rombongan kami terpisah.

Raudhoh hanya dibatasi dengan karpet berwarna hijau, tempatnya gak terlalu luas, makanya masuknya digilir. Begitu giliran jama’ah melayu diperbolehkan masuk, kami langsung mengambil posisi, mencari karpet warna hijau. Karena begitu kita menginjakkan kaki ke karpet warna hijau, berarti udah masuk Raudhoh.🙂

Saat masuk Raudhoh, rasanya… “haaa…. Susah nulisnya!” $^$%^#$%#%#$^

Kayaknya kalau digambarkan, gini yah rasanya hati lagi dicuci. Dada kerasa sesak, kek ada sesuatu yang dicabut dari dada. Mendadak gak bisa ngomong apa-apa, padahal sebelumnya udah dipikirkan doa apa saja yang akan diucapkan saat masuk Raudhoh. Tapi ini bener-bener speechless! Mendadak gagap! Cuma bisa ngeluarin air mata dan nangis terisak-isak.

Akhirnya setelah bisa menstabilkan diri, baru bisa berdoa, “Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui apa saja yang ada dalam diriku, apa saja yang aku alami, apa saja yang ada dalam hatiku, bahkan Engkau paling memahami diriku.. Aku pasrah ya Allah.. Aku Tawakkal kepadaMu. Hanya memohon ampunan dariMu, hanya memohon keridhoanMu atas diriku, ampunilah aku dan orang yang aku cintai, jangan jatuhkan aku lagi dalam kehinaan, dan berikan hari akhir yang Khusnul Khatimah” batinku.

(Kalau aku gak sadar, kalau gak ingat ada mama dan ade yang harus dijaga dalam desak-desakan di Raudhoh, mungkin aku udah pingsan saat itu😀 )

Alhamdulillah Allah masih memberi kesadaran untukku. Kemudian aku, mama dan Indita bergantian sholat sunnah 2 rakaat di Raudhoh. Khawatir kepala mama terinjak, maka aku dan Indi bikin border buat jaga mama yang sedang sholat.

saat sedang memborder mama, tiba-tiba…. “Akhirnya saya ketemu kamu juga!” ucap seorang nenek jama’ah asal Indonesia yang tiba-tiba menggenggam lenganku dengan erat. “Saya dari tadi nyariin kamu, tapi kamu gak ada.” Kata nenek tersebut. Terkejutnya aku saat sang nenek berkata sambil menggenggam erat lenganku. Sambil berpikir keras, “Ini neneknya siapaa?? Ketemu dimana pula?? Perasaan di jama’ah Raihan gak ada nenek ini deh!” batinku.

Karena takut salah, aku bertanya balik ke nenek, “Nenek tadi datang ke sini sama siapa?”

“Tadi bareng jama’ah ke sini.. kita satu rombongan kan?!” jawab nenek optimis. Denger jawaban optimis nenek, aku makin bingung. Sempet kepikiran “Apa aku yang lupa ingatan yah kalau nenek ini emang salah satu jama’ah Raihan.. tapi, jama’ah Raihan yang berangkat cuma 21 orang dan cuma ada 2 nenek disana dan gak ada nenek ini di rombonganku.” batinku.

Posisiku bener-bener membingungkan. Satu sisi lagi jaga mama yang sedang sholat, satu sisi sang Nenek masih memegang lenganku dengan erat dan berharap kalau aku benar-benar rombongannya dan kami bisa kembali ke rombongan bersama-sama (padahal seingatku kami gak serombongan.. kami beda travel). Untuk memastikan kembali apakah nenek ini satu jama’ah denganku atau tidak, aku menanyakan apa ada ID card atau tanda jama’ah milik nenek. Dan ternyata sang nenek gak memakai atribut jama’ahnya.. ya Allah… makin bingung deh! Akhirnya pertanyaan pamungkasku adalah menanyakan hotel tempat nenek menginap. Begitu nenek menyebutkan nama hotelnya, ternyata hotel yang berbeda denganku. Dengan penuh kehati-hatian dan berusaha supaya nenek gak kecewa, akhirnya aku bilang kalau kami beda rombongan. Aku minta agar nenek mengingat lagi atribut apa yang dikasih dari travel nenek, kemudian lihat siapa tahu ada jama’ah yang memakai atribut yang dimaksud. Dengan berat hati aku bilang gak bisa antar nenek untuk cari, karena aku sedang memborder mama dan khawatir makin menyesatkan nenek karena aku gak tau kota Madinah selain masjid dan hotelku. Mendengar kalimatku, kemudian nenek melepaskan genggamannya perlahan dan pergi. Aku melihat guratan kekecewaan di wajahnya… bisa jadi kecewa karena aku bukan rombongan travelnya, bisa jadi juga karena aku tidak bisa antar beliau mencari rombongannya. “Ya Allah, mudahkanlah sang nenek untuk bertemu dengan rombongannya.” pintaku di Raudhoh.🙂

Di Raudhoh, aku ulangi lagi permohonanku “Allah…aku ingin ketemu Emak di rumahMu..”

Author:

Life is adventure, fun and fabulous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s