Posted in Catatan Hati di Setiap Sujudku, Cerita Hidup, Pulang ke Rumah Allah, Sein Seit

Tiga Hari Bersama Rasulullah #1

Madinah, 27 April 2011

Ketika langkah kaki pertama menjejak di Tanah Kota Rasulullah, rasa syukur yang tiada terkira, ucapan tasbih, hamdalah, dan takbir tidak lepas dari bibir… “Ya Allah, hamba benar-benar Kau panggil pulang! Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar!” Pukul 21.00 waktu Madinah kami rombongan Umroh Raihan tiba di Tanah Madinah.

Setiba di bandara, rasanya deg-degan sekali melalui pemeriksaan imigrasi, khawatir tidak diperbolehkan memasuki Kota Madinah karena masalah mahram atau gak boleh masuk karena mungkin kebanyakan dosa kali,hahaha.. yaa wallahu’alam siapa tahu bapak petugas imigrasinya tahu yang mana orang yang banyak dosanya, trus gak dibolehin masuk Tanah Madinah, heehee… tapi yang paling deg-degan yaa masalah mahram, karena aku berangkat tanpa disertai Papa maupun Akang. Aku dan adikku yang dimahramkan kepada Ustadz Abu Rabbani selalu membuntuti Ustadz selama mengantri di ruang pemeriksaan imigrasi. Di lempar kesana, di lempar kesini pun kami tetap membuntuti Ustadz. Karena kendala bahasa dan paspor kami yang dipegang Ustadz juga sih jadinya gak berani jauh-jauh dari Ustadz😀 Akhirnya pemeriksaan dilewati dengan pemisahan antara Ikhwan dan Akhwat, dengan pemeriksaan ikhwan yang paling lama.. Alhamdulillah semua prosesi pemeriksaan dilalui dengan lancar.

Kemudian kami masuk ke dalam bus yang disediakan Tim Travel Raihan dengan seorang pemandu pria yang sedang bersekolah disana yang bernama Firdaus Arneli. Sebenarnya bingung mau manggil beliau apa, karena beliau muda sekali, tapi saya yakin saya yang lebih muda, hehehe… Tapi setelah berkonsultasi dengan Teh Iie, salah seorang jama’ah rombongan kami, ternyata beliau usianya di atas saya setahun dan beliau orang Padang… karena beliau orang Padang, jadi Teh Iie meminta saya untuk memanggil Uda kepada sang pemandu.

Saat Uda berkata, “Selamat datang jama’ah tamu Allah sekalian…” ya Allah…rasanya campur aduk! sambil sembunyi-sembunyi aku mengeluarkan air mata sebagai luapan rasa haru, syukur tiada terkira buat Allah SWT. “Yaah…resmi sudah menjadi tamu Allah di Tanah Sucinya Allah.. siap menerima segala sesuatu yang Allah kasih disini..” ucapku dalam hati.🙂

Sepanjang perjalanan menuju hotel, rasa gak percaya, kagum, dan syukur mewarnai suasana hati.. Kagum melihat suasana Madinah yang kami susuri. Saat aku sedang asyik menikmati suasana Madinah, tiba-tiba Teh Lenny yang duduk tepat disebelahku berkata, “Ky…kita sekarang satu kota sama Rasul! Alhamdulillah yaa..! Aku seneng banget!” dan akupun mengungkapkan rasa senangku juga pada Teh Lenny.

Sekitar pukul 22an, kami tiba di Hotel Aramas. Berhubung sudah malam dan kondisi fisik yang lelah, Ustadz Abu Rabbani menyarankan kami untuk sholat Maghrib-Isha di hotel saja, biar fisiknya fit untuk Sholat Tahajud dan Subuh di Masjid Nabawi. Begitu tiba di kamar hotel, beberes, dan sholat, aku sisipkan sujud syukurku atas nikmat yang tiada terkira ini.🙂

Pukul 03 Pagi waktu Madinah, aku, mama, dan Indita sudah siap untuk pergi ke Masjid Nabawi. Di lobby hotel kami berkumpul dan berangkat ke Masjid Nabawi bersama.

Di tengah perjalanan menuju Masjid, Ustadz memberikan beberapa cerita dan masukan selama kami menjalani prosesi Umroh nanti.. Sambil mendengarkan, mataku terpanah pada sebuah Kubah Hijau yang ukurannya tidak terlalu besar, tepat di hadapan. Entah kenapa mata ini tak ingin lepas menatap Kubah itu. Rasanya ada gejolak yang aku sendiri gak tahu apa artinya. Seperti sebuah rindu karena lama terpisah yang membuatku tak ingin melepaskan tatapanku dari Kubah itu. Tiba-tiba Ustadz jalan mendekat ke arahku sambil berkata, “ Itu Kubahnya Rasul, ky.. tepat di bawah kubah itu ada Rasulullah disana.. memandangnya sama dengan memandang Rasul…” Begitu Ustadz berkata seperti itu, haaaaa…rasanyaaa…(susah buat diketik :D) blaaasss…setetes demi setetes air mata jatuh dari pelupuk mata. Seketika aku menundukkan pandangan dari kubah itu… rasanya malu sekali..

“Duh Gusti… hamba malu sekali, ada Rasul di hadapan hamba…dan hamba tadi dengan beraninya menatap beliau tanpa hamba ketahui siapa beliau… Duh Gusti.. hamba penuh dengan dosa…rasanya gak pantas berdiri disini.. berhadapan dengan seorang Ayah, Kakek, Pemimpin Kaum Muslimin yang mulia ini… berhadapan dengan seseorang yang bahkan di detik-detik akhir hayatnya, beliau masih memikirkan hamba.. menyebut-nyebut hamba..mengkhawatirkan hamba… Annisa… Ummatii… dan sekarang hamba yang penuh dosa ini berada di hadapan beliau..dan tatapan tadi, perasaan yang tadi…subhanallah.. ya Allah.. gak tahu harus gimanaaa…” batinku.

Sepanjang perjalanan menuju Masjid Nabawi, khayalku diiringi lagu di bawah ini.

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya surga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terpera
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya surga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

dan engkaupun benar-benar di sini, ya Rasul…🙂

-to be continued-

Author:

Life is adventure, fun and fabulous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s