Posted in Catatan Hati di Setiap Sujudku, Cerita Hidup

Pertemuan Terakhirku dengan Emak

Balikpapan, 8 Juli 2011

Aku pergi ke Balikpapan, bersama mama, papa dan adikku Indita. Ntah dalam rangka apa kami sekeluarga pergi ke Balikpapan. Disana tentu saja kami menginap di rumah emak dan kebetulan akang (kakak laki-laki) tinggal bersama emak.

Dalam suatu momen, “muka ayu (aku) kok keliatan lelah banget? Banyak kerjaan kah?” kata akang. Dan sku hanya tersenyum ke akang. Ntah apa arti senyuman yang aku berikan ke akang. Seolah-olah ada suatu cerita yang tidak bisa aku ungkapkan.

Kunjungan ke Balikpapan tidak berlangsung lama. Kami keluarga di Bandung harus segera pulang. Saat berpamitan ke emak, selalu saja menjadi momen menyedihkan buat kami. Saat itu mama bilang, “Insha Allah nanti kita ketemu sama emak lagi yah..kita kumpul seperti dulu..” sambil memeluk emak dan bercucuran air mata.

Aku, selalu saja seperti ini… ketika mama menangis, aku selalu saja mengambil sikap untuk menjadi orang yang paling tegar di sisi mama. Gak berani nangis, apalagi menunjukkan rasa sedih yang sama di depan mama.

Begitu giliranku pamitan ke emak,, sambil tersenyum emak memelukku erat dan aku membalasnya dengan tidak kalah eratnya (subhanallah…senyuman itu!). Dalam pelukkan emak, ada hati yang seolah-olah yang tidak dapat terbendung lagi rasanya. Ada luapan cinta dan rindu yang gak bisa aku tampung dalam bendungan hati. Aku yang tadinya menahan tangis, akhirnya menangis dalam pelukkan emak. Tangis yang pelan dan lama kelamaan menjadi tangis isak. Aku tahu, ini adalah pertemuan terakhirku dengan emak. Aku menangis terisak-isak dan tidak mau melepaskan pelukanku dengan emak,, isakan tangis yang sama yang aku berikan saat memeluk mama di depan Multazam Ka’bah awal Mei kemarin. Luapan perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan, hanya bisa aku tunjukkan lewat air mata.

Semua orang sekitarku memintaku melepaskan pelukkanku ke emak. Semua orang memintaku pulang. Semakin banyak yang memintaku pulang, semakin besar isakan tangisku, seperti anak kecil yang gak mau ditinggal sama ibunya. Segera aku tersadar.. aku memang harus melepaskan pelukan ini. Masih banyak amanah di punggung yang harus aku tunaikan. Belum saatnya untuk tinggal berlama-lama dengan emak. Dan muncul keyakinanku bahwa suatu hari aku akan berkumpul kembali dengan emak. Dalam suatu kehidupan yang begitu indah. Ntah kenapa ada pikiran itu dalam benakku. Akhirnya aku melepaskan pelukanku… sambil menatap emak, aku tuangkan kerinduanku yang selama ini aku simpan dan emak pun tersenyum manis sambil memperlihatkan gigi palsunya yang rapi.. Subhanallah… senyum  itu… senyum yang aku rindukan selama ini… senyum yang selalu membuatku merasa tenang.. dan gigi itu.. gigi yang pernah kami jahili dulu.. yang membuat emak melepaskannya untuk membersihkan permen karet yang menempel saat kami cucu-cucunya iseng memberikan permen karet ke emak… oh Allah.. aku lemas!

Pelukan terlepas, saatnya aku pulang…dan….

“hiks, hiks, hiks..” aku terbangun karena merasakan ada air mata hangat mengalir dari mataku. Yah.. aku kembali ke kamar kosan.. kamar ukuran 3×4.. sambil mengusap air mata, aku berpikir apa yang menyebabkan aku menangis dalam tidur.. dan.. yah.. aku ingat.. aku mimpi bertemu emak..

Allah sekali lagi memberikan aku hadiah, pertemuan indah bersama emak. Hadiah yang diberikan karena aku (dan adikku) adalah cucu yang tidak hadir dalam pemakaman emak karena kondisi yang tidak memungkinkan… saat emak meninggal, papa masuk rumah sakit di Cirebon.. jadi aku bertukar peran
dengan mama. Mama pergi ke Balikpapan, aku merawat papa di Cirebon, adikku menjaga rumah di Bandung.. (karena itu juga, sering aku merasa tidak percaya kalau emak sudah tiada)

Hadiah yang teramat sangat indah..karena mimpi itu diberikan pada hari yang sama saat emak meninggal dunia… Hari Jum’at.

Hadiah yang teramat sangat indah, walau hadiah ini sebenarnya yang aku minta ketika aku berada di depan Ka’bah…meminta pertemuan dengan nenekku di rumah suciNya..

Hadiah yang teramat sangat indah.. karena mimpi itu diberikan jelang 100 hari kepergian emak…

“Ya Allah..muliakan emak disisiMu.. bahagiakan beliau dan kumpulkanlah kembali beliau dengan bapak.. Jadikan beliau pasangan hidup dunia akhirat untuk bapak.. terangkanlah alam quburnya, sejukkanlah alam quburnya.. kurangilah siksa quburnya.. izinkan kami bertemu kembali di akhirat kelak, dalam suatu pertemuan yang indah dalam kehidupan indah yang kekal abadi. Aamiin!” (do’a yang sama untuk bapak, abah, emak ndut, dan kakek-nenekku yang lain)

-Emak-

P.S.

– Hari ini tepat 100 hari kepergian emak.. Yah.. Aku ikhlas melepas kepergian emak..

– Alhamdulillah akhirnya bisa juga menuliskan cerita ini tanpa pingsan.. ntah kenapa akhir-akhir ini kalau nangis, berujung pada pingsan di tempat😀

Author:

Life is adventure, fun and fabulous

3 thoughts on “Pertemuan Terakhirku dengan Emak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s