Posted in Cerita Hidup

nostalgia akhwat siyasi-2010

Hari ini aku diundang untuk mengisi suatu acara informal untuk 2010. Yaa.. agendanya hanya silaturahim antara adik-adik 2010 yang beraktivitas di kemahasiswaan dengan para dedengkotnya, hehehe… dan dapat ditebak, akulah yang paling  tua disana, hehehe…

Alumni dan calon alumni yang datang ada aku, Dinda, Agtri, dan Mira. Acara ini diinisiasi oleh adik-adik 2007. Disana, kami ditodong untuk bercerita tentang pengalaman kami masing-masing saat berkecimpung di dunia kemahasiswaan. Berasa nostalgia masa-masa muda dulu, hehehe…

Seperti biasa, selalu yang paling tua yang didahulukan untuk bercerita, kemudian dilanjutkan oleh Dinda, Agtri dan yang terakhir adalah Mira,heuheuheu..

Waah..seneng banget bisa berbagi pengalaman sekaligus dengerin pengalaman dari adik-adik 2005 ku yang ternyata perjuangan mereka gak kalah seru  dan ternyata kita punya dilematis yang sama saat menjadi akhwat kemahasiswaan, dan lebih membagakan lagi ketika kami bisa berbagi hikmah dari setiap perjuangan yang dialami.. Yaah, perjuangan adalah proses kehidupan untuk menjadi manusia yang pastinya berharap menjadi sosok yang terbaik.

Dari berbagi cerita tersebut, aku jadi ngerasa “waah, Allah..adik-adik 2005 ternyata subhanallah yaah!” merasa menemukan sisi lain yang selama ini tidak aku ketahui dari mereka. Selama ini kami dekat, namun ternyata aku tidak tahu kisah perjuangan mereka.

Siapa yang nyangka salah satu dari mereka baru belajar mengenal Islam dan langsung diberikan amanah sebagai seorang Ketua Kemuslimahan Gamais. Kemudian kecebur di dunia kemahasiswaan pusat yang bertolak belakang dengan aktivitasnya sebelumnya. Merelakan kelulusan demi melaksanakan amanah yang diberikan padanya, dan akhirnya Selasa 15 Maret ini dia akan melaksanakan sidang kelulusan S1nya. (Semoga Allah memperlancar proses kelulusannya, aamiin)

Siapa yang nyangka dibalik ketegasan, kecuekan, aksi protes, dan kecomelan salah satu dari mereka ternyata menyimpan suatu kebanggaan bahwa dia adalah seorang anak seorang petani yang memiliki semangat juang yang tinggi. Berjuang untuk bangga di mata orang tua dalam menjaga amanah kuliah, namun tidak menyurutkan langkahnya untuk menegakkan syariat Islam di tengah-tengah dunia hedonisme jurusan. Berjuang melawan segala bentuk ketakutan untuk menghadapi swasta-swasta ketika menanyakan sesuatu yang tidak dia mengerti, yang tidak sesuai dengan hati nurani, didekati swasta untuk diajak diskusi, hingga terlibat dalam pembuatan GDK himpunan. Dibalik perjuangan itu, dia rela meninggalkan gelar cumlaude dan menghadapi ujian kehilangan ayahanda tercinta di kampung.

Adal lagi kisah yang gak kalah unik, tadinya dia kecebur di dunia Gamais dan MATA’, meminta untuk masuk ke dunia kemahasiswaan. Maksud hati untuk dilibatkan di himpunan oleh seorang teteh, malah diceburin ke kemahasiswaan terpusat dan akhirnya dia memulai perjuangannya di kemahasiswaan terpusat.🙂

Menjadi seorang akhwat yang memiliki amanah beraktivitas di kemahasiswaan, banyak ujiannya, banyak tantangannya, karena lahan da’wahnya yang heterogen. Kadang merasa minder ketika berjumpa dengan sahabat-sahabat akhwat yang beraktivitas di Salman. Mereka terlihat santun, lemah lembut, bahkan lingkunganpun sangat mendukung mereka untuk tetap terjaga, menjadi seorang Akhwat yang berakhlaq amat cantik. Kadang merasa iri. Kondisi aktivitas yang heterogen mengharuskan menghadapi 2 pilihan: terwarnai atau mewarnai lingkungan sekitar. Kadang merasa minder karena sedikit kehilangan kelembutan sosok wanita, manakala harus bersikap keras bahkan jutek kepada orang lain. (hehehe..rata-rata karakternya seperti itu :p ) tapi, mau bagaimana lagi?? lingkungan yang membentuk sedemikian rupa, selain untuk menjaga diri sendiri, juga menjaga teman-teman ammah dan saudara-saudara ikhwan.

Kalau mau ditelaah yaa, dimanapun kita beraktivitas, pasti memiliki ujian tersendiri, baik beraktivitas di “zona nyaman” maupun “zona abu-abu”. Gak selalu yang beraktivitas di “zona abu-abu” memiliki tantangan dan ujian yang lebih besar dari “zona nyaman”, karena “zona nyaman” itu sendiri memiliki tantangan dan ujian yang luar biasa untuk tetap menjadi zona yang  nyaman untuk tempat orang-orang di zona abu-abu ini pulang dan merecharge diri, menghadapi tantangan untuk berda’wah ke sesama umat Muslim yang notabene juga sama besar ujiannya dengan yang berafiliasi di zona abu-abu. Dan tantangan mereka terberat adalah bagaimana mengemas da’wah Islam dalam suatu kemasan yang cantik, sehingga saudara-saudara sesama muslim lainnya tertarik untuk mendalami Islam.

Di sesi curhat, lagi-lagi kepentok sama kendala PULANG MALAM! hihihihi… tampaknya ini selalu menjadi permasalahan yang gak akan pernah habisnya disinggung buat akhwat. ^__^

Pulang malam? hhmm…kalau boleh aku bilang, dapat dipastikan ketika akhwat pulang malam, ada alasan yang kuat dan gak selamanya dijudge, kemudian diomelin, dimusuhi tanpa mendengarkan alasan mereka terlebih dahulu. Dulu, sewaktu masih jadi bocah (tingkat 2), pernah ditegur sama salah seorang kakak Presiden KM ITB. Sebegitu beliau khawatir dengan adik-adik akhwatnya, sampai-sampai beliau neleponin teman-temannya yang punya mobil untuk mengantar kami pulang, walau akhirnya kami pulang sendiri. Kebetulan masih sekitar Isya’ pada saat itu.

Lain lagi cerita waktu punya amanah sebagai Sekretaris Kabinet.. Kalau udah maghrib, biasanya Bapak Direktur PSDM sengaja berdiri di pintu sekre atau di dekat tangga sambil ngeliatin adik-adik akhwat (perempuan) yang masih beraktivitas di sekre. Pernah waktu itu iseng nanya, “Kakak kenapa masih berdiri disini? kan udah maghrib?” Lalu Bapak Direktur PSDM berkata, “Untuk memastikan adik pulang!” weew… tegas sekali beliau. Pulang termalam ketika jadi Sekretaris Kabinet adalah pada saat LPJ Akhir Kabinet 2006-2007. Agenda deadline yang diberikan Kongres untuk menerima salinan LPJ adalah pukul 23.59, sedangkan ada beberapa departemen yang belum mengumpulkan LPJ Akhirnya, yang menyebabkan tugas Sekretaris Kabinet semakin menumpuk dan terpaksa pulang pukul 23.00. Alhamdulillahnya waktu itu salah seorang Sekretarisnya ada yang bawa mobil, jadi kami pulang bareng-bareng.

Lebih berbeda lagi ketika dapat amanah jadi Senator, Kongres KM ITB. Bukan pulang  malam lagi yang jadi kendala, tapi pulang pagi! Tuntutan melaksanakan forum massa, LPJ 3 bulanan, dan Sidang Istimewa Kongres, membuat jumlah SKS kemahasiswaan lebih besar dari SKS perkuliahan. Karena basis keterwakilan senator saat ini adalah berbasis lembaga, maka tugas Senator Himpunan semakin berat. Gak hadir, yaa hilanglah suara lembaganya.. Untuk itulah kenapa aku punya perjanjian dengan Senator Senior (Teh Sri Aktaviani) mengenai agenda pulang malam. Pulang malam akan terpaksa dilakukan jika dan hanya jika: (1) Forum yang dihadiri adalah forum pengambilan suara atau Laporan Pertanggung Jawaban, (2) Forum yang dihadiri mengancam legitimasi Kongres di kemahasiswaan KM ITB, (3) Sidang Istimewa, dan itu harus sepengetahuan Mas’ul atau ketua masing-masing di lembaga dan kondisi pulang terjamin.

Untuk akhwat, sebenarnya pulang malam itu tergantung dari merekanya sendiri. Sebenarnya bisa menegaskan kepada lembaga perihal “menghindari” aktivitas malam di kemahasiswaan dengan cara mengkomunikasikannya dengan Ketua lembaga, sehingga dapat dicari solusi terbaik agar akhwatnya tetap bertanggung jawab dengan amanahnya dan kebutuhan lembaga terpenuhi. Kalaupun terdesak pulang malam, kembali lagi komunikasikan perihal kepulangan akhwat, jangan sampai akhwat malah mendzolimi diri sendiri. Jadi, Tegaslah! ^__^

Beraktivitas itu yang paling berat adalah menjaga keikhlasannya. Ikhlas dalam mengemban amanah yang dipercayakan dan ikhlas menerima segala konsekwensi yang mengikutinya. Ikhlas hanya punya waktu yang lebih sedikit dari teman-teman yang tidak beraktivitas di organisasi. Padahal Allah memberikan waktu yang sama antara kita dengan teman-teman tersebut, 24 jam per harinya. Ikhlas dalam menerima amanah yang beban kerjanya lebih besar atau lebih banyak dari orang lain. Ikhlas bahwa kapasitas fisik yang dimiliki tidak sebesar semangat juang yang membara. Ikhlas dalam menjaga kestabilan hati ketika amanah yang diberikan itu adalah posisi prestisius, sehingga tidak timbul rasa riya di hati. Ikhlas untuk menerima partner kerja dengan karakter apapun, gender apapun, dengan tetap menjaga stabilitas kerja, berusaha untuk tetap profesional, dan menjaga aib dari partner kerja kita tersebut (terutama yang dapat amanah menjadi orang kepercayaan seorang mas’ul atau pemimpin). Ikhlas ketika pekerjaan yang kita lakukan berpayah-payah dipandang sebelah mata oleh orang lain, oleh orang-orang terdekat kita, bahkan oleh orang yang kita sayangi dan cintai. Ketika rasa ikhlas itu terpelihara dalam diri, yang ada hati ini hanya mengharapkan penilaian dari Allah semata. Dan ketika mendapatkan penilaian dari manusia, hati ini akan ikhlas dalam menerima penilaian itu, karena hati sudah terkondisikan untuk berharap penilaian terbaik dari Allah.🙂 (sebenarnya gak cuma di dunia organisasi aja sih, tapi berlaku juga di dunia kehidupan sosial lainnya, karena ruang da’wah itu luas ^___^ )

Dalam beraktivitas baik di kemahasiswaan maupun di Salman, hal yang paling penting yang harus dijaga adalah komunikasi. Karena komunikasi itulah yang menjaga kita dari kefuturan ditengah-tengah banyaknya amanah yang sedang dijalani. Yang paling kerasa adalah ketika kita berkomunikasi dengan Allah, berkomunikasi dengan Murabbiyah kita, dan berkomunikasi dengan sahabat yang dapat dipercaya untuk saling menjaga, saling mengingatkan satu sama lain..

Dimanapun kita beraktivitas dan diberikan amanah, yakinlah pada saat itu Allah menempatkan kita sesuai dengan kapasitas yang  kita miliki. Coba cek deh di Q.S. Al- Baqarah ayat terakhir. Ketika diri merasa letih, lemah, bingung, merasa kehilangan arah dan udah gak sanggup lagi dengan amanah yang diemban, mintalah kepada Allah.. minta diberi kekuatan, minta diberi kesabaran, minta diberi jalan keluar, dan minta diberi keikhlasan dalam melalui semuanya. Kenapa? Karena Allahlah sumber kekuatan kita… ^__^

Kalau lihat dari tulisan di atas, saya jadi teringat pesan dari teteh-teteh biologi saya tercinta yang juga aktif di kemahasiswaan terpusat (Teh Grace Monica, Teh Novasyurahati, Teh Sri Aktaviani), “Jangan pernah mematikan potensi dan karakter yang Allah anugerahkan buat kamu. Kamu adalah kamu dan tidak akan pernah bisa menjadi orang  lain. Yang benar adalah senantiasa berusaha untuk tetap berjalan dalam koridor syar’i. Ketika mulai merasa berjalan keluar dari koridor itu, segera perbaiki jalanmu. Allah Maha Pengampun dan Allah Sumber Kekuatan Hamba-hambaNya”🙂

Wallahu’alam..
senang banget bisa berbagi dan bernostalgia dengan adik-adik 2010… senang juga jadi lebih akrab dengan adik-adik 2005 ^__^
Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari api neraka dan menghimpun kembali kita di SurgaNya kelak, yaaa… aamiin…
Semangat berjuang dan belajar di dunia kampus, adik-adikku…. \ ^ o ^ /

=== momen tanggal 13 Maret 2011 ===

Author:

Life is adventure, fun and fabulous

2 thoughts on “nostalgia akhwat siyasi-2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s