Posted in Melancholische Seite

mengapa saya diam…?

Diam itu emas…

yah, tampaknya kalimat itu adalah kalimat tepat yang menggambarkan diri ini. Lebih banyak diam dan melakukan banyak amal dan aktivitas.

Diam itu menenangkan… Diam itu menguatkan…

Dalam diam, hati diajak untuk berpikir ketika akan melontarkan sesuatu. Berpikir baik buruk dari apa yang ia lontarkan.. karena ia sadar bahwa setiap pola tingkah lakunya akan dia pertanggung jawabkan di hari akhir nanti…

Aaah.. berbicara tentang hari akhir.. saya jadi teringat salah seorang sahabat saya.. Nia namanya. Hubungan kami selama ini tergolong dekat, namun ternyata bisa jauh lebih dekat setelah kami sama-sama menyadari ada hal yang sama dalam cara berpikir kami. Kami yang terbiasa menjadi tempat curahan hati sahabat-sahabat kami, ternyata tidak selalu menjadi orang yang mudah untuk membicarakan isi hati kami. Banyak hal yang dipertimbangkan… banyak pertimbangan, tapi kami yakin, itulah yang harus kami lakukan.

Mulanya saya berpikir hanya aku yang tergolong “aneh”, mengaitkan semua kejadian hidup dengan hari akhir. Selalu berpikir bahwa sesuatu terjadi karena ada sebab dan akibat yang akan dihadapi. Sebab yang mungkin dimunculkan pada saat di dunia, akibat yang mungkin akan muncul juga di dunia dan pasti terjadi di akhirat, tapi ternyata.. Nia juga🙂🙂🙂

Setiap akan melakukan sesuatu, sadar.. bahwa akan berakibat sesuatu, tahu bahwa ada konsekwensi yang akan diambil… tinggal uji ketahanan dan keimanan saja yang harus dijalani. Dalam suatu ujian, kami tahu bahwa ujian itu bisa saja memang menjadi sesuatu hal yang baru, tapi bisa saja ujian itu muncul karena sesuatu di masa lalu dan menjadi sebuah pengingat untuk diri kita. Namun yang jelas, ujian adalah sebuah proses kenaikan tingkat keimanan (menurut pandangan saya).

Setiap suatu tindakan dari luar yang diterima, sadar.. bahwa tindakan itu muncul mungkin memang Allah sedang menguji saja, tapi bisa jadi tindakan dari luar yang diterima adalah sebuah pengingat dari Allah akan suatu kekhilafan di masa lalu… beruntunglah bukan menjadi hamba Allah yang Istiradj… terlena dalam suatu hal, tidak sadar bahwa dirinya sedang diuji. Kategori terlena pun bukan berarti suatu kesenangan, tetapi meratap berkepanjangan, menyalahkan sesuatu bisa termasuk dalam kategori terlena.

Hati-hati dalam melakukan tindakan baru dalam menghadapi ujian… banyak sekali pertimbangan yang harus dipikirkan benar-benar.. apa baiknya untuk kehidupan dunia, apa baiknya untuk kehidupan akhirat. Bisa saja melawan dan menuntut sesuatu sesuai dengan keinginan dan kehendak kita, semau kita.. dan kemungkinan untuk mendapatkan kepuasan juga besar.. tetapi itu hanya kepuasan di dunia… apakah sehat untuk kehidupan akhirat kita? Wallahu’alam…

Misalnya saja mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkan dari orang lain. Di mata manusia jelas tidak beranggapan bahwa itu bukan hal yang baik, tapi apakah di mata Allah sama dengan kita? Bisa jadi Allah ingin menunjukkan suatu hal yang lain kepada kita. Dan ketika kita terburu oleh nafsu untuk melawan sesuatu yang dirasa tidak adil itu, apa yang didapat? lelah? pasti! musuh? pasti! kepuasan diri? tentu saja!

Berkeluh kesah dengan orang banyak. Awalnya hanya sekedar curhat, lama-lama malah jadi ghibah, membuka aib orang, padahal Allah Maha Menutupi Aib-aib hambaNya, mengubah mindset orang, penilaian orang terhadap suatu hal…mending kalau semakin suka, kalau malah menjadi benci? Seolah-olah kita adalah seorang provokator ulung yang sedang menghembus-hembuskan rasa benci ke setiap hati orang terdekat kita… Puas? pasti!

Semuanya dinilai dan dirasakan di dunia.. tetapi, bagaimanakah kehidupan akhirat kita? Bisa jadi di dunia kita berpuas diri, tetapi ternyata di akhirat kita malah menderita, malah bermusuhan dengan orang-orang yang sebenarnya di dunia kita sayangi, mendapat azab dari Allah, ga dapet syafa’at dari Rasulullah, amal ibadah yang  dilakukan di dunia ga mampu menutupi dosa yang kita perbuat… Naudzubillahi mindzalik.

Allah telah berfirman:

“Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain) dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah slah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulahkamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al Hujuraat:12)

 

Bukan berarti mengajarkan diri untuk pasrah dan menerima sesuatu dengan begitu saja tanpa suatu perjuangan.. tapi memang jauh lebih baik bila bertindak dengan memikirkan apa konsekwensi yang akan diterima di kehidupan akhirat. Hanya menyerahkan segala dinamika kehidupan kepada Allah semata. Biarlah Allah Yang Mengatur Segalanya… kita hanya hadapi saja,, sembari tetap ikhlas dan tawakkal kepadaNya…  Sembari bermuhasabah diri, berharap Allah masih memberikan usia untuk memperbaiki diri.

Diam… jalan itulah yang saya pilih… :):)

Author:

Life is adventure, fun and fabulous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s